
“Maaf Pak”
Plok plok plok!
“Sungguh Rud, saya tidak pernah menyangka ini dari kamu” ucap Adnan dengan santai, tapi tidak bagi Rudi, itu serasa menikamnya secara perlahan bahkan tanpa menyentuh, sekuat itu kharisma atasannya.
“Dan, teruntuk Paman yang terhormat, anda ingin mengambil perusahaan ini bukan? Silahkan ambil!” kini Seno dibuat terdiam juga, meski hal ini memang yang ia inginkan, tapi respon Adnan yang pasrah dan seolah tidak tersiksa sedikit mengecewakannya.
Adnan berjalan ke mejanya, tidak, mantan mejanya, tangannya meraih pigora berisi potret Anum, juga hasil USG bayi-bayinya.
Setelah itu ia berjalan keluar, menyisakan dua orang yang masih kebingungan dengan yang terjadi, harusnya Adnan marah, dari track record yang ada harusnya Adnan mengamuk, menghancurkan segalanya, atau paling tidak memukul salah seorang diantara dua pengkhianat itu.
Tapi itu tidak terjadi.
Adnan mencengkeram pigura itu sangat kencang, buliran merah perlahan berjatuhan, sekuat tenaga Adnan menguasai emosinya, ia tidak lagi ingin meledak-ledak seperti biasanya, Adnan tidak ingin itu.
Brak!!
Mobil Adnan melaju cepat, tangannya kembali mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih bercampur dengan darah dari luka itu.
Bukan rumah tujuannya, Adnan tidak ingin amarahnya ini malah meledak di rumah, hingga saat ini Adnan paling anti menyakiti Anum, sudah cukup perbuatannya yang lalu, meskipun Anum tidak pernah mempermasalahkannya.
Adnan tetap merasa bertanggungjawab atas luka yang ia sudah berikan pada Anum.
Komplek pemakaman itu sepi, jelas saja, tidak ada yang mau berkunjung saat matahari sedang menampakkan sinar penuhnya.
Dengan sedikit tertatih Adnan berjalan, bahkan jika Adnan menutup mata ia tetap bisa sampai ke tujuannya.
Raihan Al-Fatih.
“Papa” Adnan terduduk, badannya bergetar, setelahnya badan itu berusaha tegak, tangannya sibuk memukul dada yang terasa sesak.
“Adnan sudah ingin membunuhnya, Adnan sudah ingin membalaskan kematian Mama dan Papa” ungkapnya terisak.
“Tapi Papa melarangnya, bahkan disaat terakhir hanya itu yang Papa inginkan dari Adnan, kenapa Pa?” dengan kasar Adnan mengusap air mata itu kasar, membuat tatapannya bisa dengan jelas memandang kedua nisan itu.
Sejenak Adnan tertawa “Adnan tau, hanya karena dia adik kesayangan Papa?” kepala Adnan memutar kepingan memori itu.
Dimana semuanya masih baik-baik saja.
Adnan, cucu pertama yang mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari orangtua, kakek-neneknya, juga dua pamannya.
__ADS_1
“Adik kesayangan Papa itu kembali berulah, harus Adnan lagi yang mengalah kan Pa?” tanya Adnan yang sarat akan kecewa.
“Apa yang harus Adnan katakan pada menantu Papa, Adnan sudah tidak memiliki apa-apa sekarang, apa dia akan bertahan Pa? Atau juga pergi meninggalkan Adnan seperti Mama dan Papa?”
Sungguh pikiran Adnan sangatlah kacau sekarang.
***
Anum berjalan gelisah menunggu kedatangan suaminya, ini sudah jam sembilan dan suami tersayangnya itu belum juga pulang.
Senyuman itu terbit saat suara mobil Adnan tertangkap rungunya.
Dengan langkah sedikit cepat wanita hamil itu berjalan keluar, pelukan erat itu ia terima begitu tubuhnya bertabrakan dengan milik sang suami.
Anum mengusap pelan punggung Adnan dengan teratur.
“Mas sudah tidak punya apapun Num” mata Anum membola seketika, kini ia baru menyadari bahwa ada sesuatu besar yang terjadi.
Adnan merenggangkan pelukannya saat tidak ia dapati respon sang istri.
“Kamu dengar? Mas sudah tidak punya apapun” selanjutnya Adnan dibuat heran saat Anum malah mengusap dahinya lembut.
“Tidak, semuanya sudah diambil Pamanku, kamu pasti tau siapa yang kumaksud” ada setitik keterkejutan di benak Anum, tapi ia bersikap biasa, tidak ingin Adnan akan semakin kalut melihat responnya.
“Lalu?”
“Sebenarnya apa maksud kamu Num?” kesal Adnan sementara Anum tertawa mendengar nada putus asa suaminya.
Dengan gemas Anum membingkai wajah tampan itu, “Lantas, Mas merasa tidak punya apapun lagi karena itu?” bagaikan hipnotis Adnan mengangguk.
Senyuman Anum semakin merekah, yang terlihat sangat kontras dengan wajah datar pria itu.
“Mas punya Anum, ada anak-anak kita, Mas sehat, Anum sehat, kita semua sehat, itu apa-apa yang tidak Mas anggap” rasa hangat menjalar di hati Adnan saat suara lembut itu melontarkan kalimat yang penuh makna di dalamnya.
“Setelah ini kita tidak akan bisa seperti sebelumnya Num, aku bahkan tidak punya uang untuk sekedar membayar asisten rumah tangga”
“Lalu kenapa Mas? Kamu pikir aku tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga?” Adnan meraup wajahnya frustasi sedangkan wanita di hadapannya sudah dalam mode perang.
“Kamu tau betul bukan itu maksud Mas”
Sadar kondisi suaminya yang sedang tidak baik, Anum menekan hormon marah-marahnya.
__ADS_1
“Dengarkan ini ya Suaminya Anum, aku berasal dari panti asuhan yang semuanya serba terbatas mas, kamu ajak hidup di kolong jembatan berdua pun aku tidak masalah, asal itu denganmu” jelas Anum diakhiri kedipan mata berniat menggoda Adnan.
Senyum itu terbit di wajah kusut Adnan, beban yang menghimpit dadanya perlahan terangkat.
“Aku sudah biasa dengan itu” ucap Anum pelan, tapi masih mampu didengar oleh telingan Adnan.
“Harta bukan segalanya Mas” Adnan mengangguk setuju, beberapa waktu lalu ia sudah terlalu dunia hingga berpikir semuanya akan berakhir saat semua yang ia miliki diambil begitu saja.
“Kamu tidak akan meninggalkan Mas yang sudah bangkrut ini?” dengan tegas Anum menggeleng.
Terlampau terharu Adnan mengamit tangan Anum, di kecupnya tangan itu lama, aroma tubuh Anum selalu bisa menenangkannya.
“Terimakasih” ucap Adnan parau, netranya menatap Anum yang masih saja tersenyum, hal itu membuatnya kembali berkaca-kaca.
Saat air mata itu turun, jemari lembut Anum dengan sigap menghapus air mata itu.
“Semuanya akan baik-baik saja Mas, percayalah” antara ingin percaya atau tidak, Adnan merengkuh tubuh Anum, menutup matanya rapat-rapat, indra penciumannya dengan rakus meraup aroma tubuh Anum yang bagaikan morfin baginya.
Hanya kalimat sederhana itu yang terucap, tapi dunia Adnan kembali baik-baik saja setelah hujan badai gejolak emosinya beberapa waktu lalu.
“Mau sholat bersama?” mata Adnan mendadak terbuka.
Sudah tidak terhitung berapa kali Adnan melewatkannya, kewajibannya pada sang kuasa.
“Mas, mau tidak?” Adnan masih bungkam, tapi ia menatap Anum yang sangat mengharapkan dirinya mengikuti ajakan itu.
“Mas pasti belum sholat isya’ kan?” masih dengan semangat yang sama Anum berusaha memprovokasi suaminya.
Perlahan Adnan menggelengkan kepalanya, Anum menggandeng tangan suaminya ke arah musholla kecil di rumah itu, tempat bagi Anum menghabiskan sepertiga malamnya sendirian disana.
Saat kaki keduanya sampai di depan musholla itu, Adnan menghentikan langkahnya.
“Kenapa Mas?” Adnan hanya memandang sendu istrinya.
“Mas tidak yakin Allah akan memaafkan kesalahan Mas” Anum kembali tersenyum, di rengkuhnya lengan besar itu, kepala Anum asik bersandar disana, kini mereka menatap ruangan kecil itu bersama.
“Allah itu maha pengampun Mas” Adnan masih diam. Dia tau soal itu, tapi entah kenapa hatinya masih berat untuk melangkah kesana.
“Aku tidak bisa Num” ucap Adnan sembari melepaskan belitan istrinya.
TBC
__ADS_1