
Anum tersenyum saat melihat Adnan masih khusyuk dengan meditasi, hasil dari konsultasi dari Farhat, meditasi sangat bermanfaat bagi kesehatan mental juga fisik.
Pemusatan pikiran dan pengaturan nafas yang selaras dapat membuat peredaran darah menjadi lancar, hingga stres dapat dihindari.
Dari penjelasan itu Anum bersikeras untuk memaksa Adnan rutin melakukan meditasi.
Wanita itu meletakkan air putih dan buah-buahan di meja kecil dekat taman, terpaan sinar mentari memunculkan bulir-bulir keringat turun melintasi wajah tegas Adnan membuat Anum rasanya ingin berlari mengusap keringat nakal itu.
Sadar akan tingkahnya yang berlebihan, Anum memilih duduk diam mengamati sang suami yang masih asik bermeditasi.
Perlahan Adnan membuka matanya, senyuman itu tercipta seketika saat pandangannya bersirobok dengan sang istri yang bertopang dagu menatapnya.
Dengan senyuman dan tatapan yang tak teralih Adnan bangkit mengahmpiri istrinya, pria itu bersimpuh dan merebahkan kepalanya di pangkuan Anum, rasa nyaman itu menyeruak kala Anum mengusap kepalanya dengan lembut.
“Duduk atas Mas” Adnan menggeleng, dirinya masih sibuk menikmati usapan kepala dari Anum.
“Gak baik tau, dilihat orang kayak gimana gitu kamu duduk bawah terus aku duduk diatas gini” protes Anum sembari menghentikan gerakan tangannya membuat Adnan menatap istrinya tak suka.
“Kenapa harus peduliin omongan orang sih Num? Kita makan juga gak minta mereka, lagian ini taman belakang rumah, gak ada yang bisa lihat” Anum menghela nafas lelah, percuma saja adu argumen dengan suaminya, dirinya kembali pasrah saat kembali merebahkan kepalanya dan memposisikan tangannya diatas kepala pria itu, memintanya untuk kembali mengusap.
“Num, kita bakal baik-baik saja kan meski aku tidak lagi punya apa-apa?” celetuk Adnan.
“Mas ingat tidak aku ngomong apa waktu Mas Adnan kenalin aku ke keluarga besar Mas Adnan?” mendapat pertanyaan itu Adnan mendongak untuk menatap sang istri, kepalanya mengingat-ingat apa yang Anum maksud.
Melihat Adnan yang kebingungan mengundang tawa Anum, dengan jahil ia mencolek hidung mancung Adnan membuat atensi pria itu kembali berpusat padanya.
“Aku bilang, harta bisa dicari, tapi kesetiaan, rasa hormat, dan cinta yang Mas kasih itu yang membuat Anum yakin menerima pinangan Mas, tau tidak kenapa Anum bilang seperti itu?” Adnan menggeleng.
“Harta dan kedudukan itu duniawi Mas, tapi tiga hal yang aku sebutkan tadi modal utama kita agar tetap utuh dalam ibadah pernikahan ini, Anum menghormati Mas sebagai suami karena Mas sudah lebih dulu melakukan itu sejak kita saling kenal, Mas masih cinta sama Anum kan?”
“Masih dong Num?!”
__ADS_1
Anum tergelak mendengar respon suaminya “Biasa aja dong Pak, kok ngegas sih”
“Ya kamu sih nanyanya gitu banget, segitu gak kelihatannya kah cinta Mas buat kamu, sampe-sampe kamu pertanyakan” ungkap Adnan mengutarakan kekesalannya.
Anum membingkai wajah suaminya, membuat mereka kembali saling tatap, “Aku nanya bukan karena ragu Mas, kamu tau gak pertanyaan kamu tadi berefek sama ke aku, aku jadi mikir kalo selama ini Mas mikir aku mau menikah sama Mas hanya karena harta”
Adnan menggeleng, “Aku gak pernah mikir seperti itu, kartu ATM yang aku kasih ke kamu aja masih terpakai sedikit, kamu bukan istri seperti itu, Mas yakin itu” Anum tersenyum.
“Selama Mas masih cinta sama Anum dan kesetiaan itu tetap Mas pegang dengan teguh, Anum selamanya akan disini, disisi Mas, menjadi milik Mas seutuhnya” Adnan terperangah begitu mudahnya ia membuat Anum tetap berada di sampingnya.
Tak terasa air mata Adnan jatuh, ia merasa di rajakan oleh istrinya.
“Terimakasih sayang” ucapnya parau.
“Jangan berterimakasih Mas, itu suatu keharusan dalam sebuah pernikahan, saling mengingatkan dan menguatkan” Adnan tersenyum haru.
“Rezeki sudah diatur Mas, jangan pernah takut kelaparan selama nafas kita masih ada, tugas kita hanya berusaha dan berdoa selebihnya biar magic Allah yang bekerja” ucap Anum dengan yakin seakan menghipnotis Adnan di tempatnya.
Jemari Anum mengusap air mata Adnan, kemudian mengambil handuk menyeka keringat Adnan pasca meditasi.
“Nah begini baru benar, posisi istri itu ada di dalam dekapan suaminya, bukan diatas seperti tadi” senyuman itu terbit di bibir keduanya.
Dengan gerakan singkat Anum memeluk tubuh kekar sang suami, Adnan yang mendapatkan pelukan hangat itu membalas pelukan istrinya, sumber kekuatannya.
Anum tau seberapa terpuruknya kondisi perusahaan yang Adnan pimpin, wanita itu juga sadar jika Adnan sedang berada dalam kondisi tidak percaya diri karena masalah itu.
Perlahan Anum merenggangkan pelukan mereka, menatap suaminya dengan tatapan cinta, “Better?”
“Iya”
Anum melepas belitan Adnan dan menggantikannya dengan mengalungkan tangannya di leher suaminya, wanita hamil itu tak segan mendekatkan wajahnya, “Karena Mas sudah pintar hari ini, aku kasih bonus”
__ADS_1
“Apa?” pipi Anum merona, memancing guratan tawa itu muncul di wajah Adnan.
“Ada lah, kejutan pokoknya, tapi tutup mata dulu” perintah Anum dengan malu-malu.
“Kenapa harus tutup mata?” tanya Adnan setengah berbisik menggoda Anum yang sudah merinding karena bisikan maut suaminya.
“Takut ada yang lihat” jawab Anum spontan, Adnan tergelak di tempatnya.
“Jadi yang harus tutup mata Mas agar orang-orang tidak tahu? Begitu?” kini Anum menyadari kebodohannya.
“Baiklah-baiklah, karena Mas sudah tidak sabar dengan bonus itu Mas tutup mata” ucap Adnan tidak mau Anum malu dan mengurungkan niatnya.
“Jangan ngintip ya?!”
“Astaga Num, kamu kok bikin aku makin penasaran, apaan sih bonusnya”
“Iiiisshh ya makanya jangan ngintip, Anum tau ya Mas, Mas itu gak bener-bener tutup mata” tuduh Anum membuat Adnan kembali tergelak karena akal culasnya ketahuan.
Anum mengambil handuk tadi dan melilitkannya di area mata Adnan.
“Duh Num segitunya banget sih, bikin Mas makin deg deg an tau gak, biasanya ya kalau sampe nutup matanya gini kejutannya besar tau, pasti bukan sekedar kecupan nih kayaknya”
“Ssssstt diam” bibir Adnan bungkam, membuat Anum menghela nafas pelan, pasalnya yang Adnan ucapkan tadi benar, Anum hanya berniat mengecup bibir merah alami suaminya yang kali ini terlihat manis, tapi karena Adnan sudah menebaknya, apa lagi yang harus Anum lakukan agar ini tetap jadi kejutan?
Otak cantik Anum memunculkan suatu ide yang briliant!
Perlahan ia melepaskan lilitan tangannya, bergerak turun perlahan melewati dada bidang Adnan.
“Emmhhhhh” erang Adnan menerima perlakuan istrinya.
Secepat kilat Anum mengecup bibir suaminya, saat Adnan ingin memperlama temponya Anum sudah bangkit dan berlari meninggalkan Adnan yang langsung berdiri dan membuang handuk penutup matanya dengan kasar.
__ADS_1
Adnan sadar sudah dikerjai sang istri yang tawanya kini bisa tertangkap rungunya.
TBC