Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 41


__ADS_3

Rudi hanya bisa menatap atasannya takut-takut diantara tumpukan berkas yang harus ia kerjakan.


Tidak ada yang aneh dari Adnan, setidaknya belum.


Harusnya hari ini hanya Rudi yang berangkat, mengingat semua berkas yang melibatkan persetujuan atasannya sudah Adnan setujui berikut dengan beberapa perbaikan yang harus dilakukan pada perjalanan dinas yang lalu, sejujurnya pria jangkung itu juga heran saat Adnan memutuskan untuk ikut mengawasi pelaksanaan juga.


Sebenarnya atasannya itu sudah tidak perlu ikutkan?


Sadar tak memiliki kuasa apapun, Rudi memilih kembali sibuk dengan pekerjaannya, membiarkan Adnan yang masih duduk diam di sofa sejak sampai tadi.


Adnan menghembuskan nafas sekali lagi, yang ia lakukan saat ini hanyalah lari.


Pria yang sebentar lagi akan menyandang status ayah itu merasa inilah yang harus ia lakukan, tangannya terangkat menyugar rambutnya kasar hingga tak sengaja menyingkap kain bajunya bagian lengan, ada luka disana, sebuah hukuman kecil bagi tangannya yang sudah akan menampar sang istri.


Memang belum terlaksana, Adnan belum mampu melakukannya, tapi dari niat buruk yang sudah ada itu membuatnya takut berbuat lebih.


Setelah ia mencoba mengalihkan amarahnya dengan minuman berlakohol yang justru melemparkannya pada masalah baru, Adnan rasa jauh dan menyibukkan diri pada pekerjaannya adalah hal yang tepat.


Sikap Anum yang tidak mau membagi kesulitannya dengan Adnan membuat pria itu mengalami trust issue yang parah.


Egonya terluka, lagi-lagi amarah itu muncul.


Adnan memejamkan matanya, mencoba mengambil nafas perlahan mengisi rongga dadanya yang penuh sesak dengan udara.


Tangan Adnan mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.


Kepala Adnan sibuk berhitung mundur, mencoba mengecoh amarahnya.


...3, 2, 1.


“Pak?” mata Adnan perlahan terbuka.


“I-ini..” lanjut Rudi saat Adnan hanya menatapnya tajam.


“Ada apa?”


"Ada berkas yang terlewat kemarin Pak” Hati Rudi bergemuruh hebat, ia tidak tau apa yang akan dilakukan bos nya ini, ia sudah melakukan kelalaian.


“Rudi.... Rudi, apa jadinya jika saya tidak ikut hari ini? Pekerjaan kita bisa terhambat karena satu berkas ini” ucap Adnan dengan nada yang ia buat setenang mungkin.


“Maafkan saya pak”

__ADS_1


“Saya periksa dulu, kamu boleh istirahat sejenak” pria itu mengangguk, sesaat setelah asisten kepercayaannya itu pergi Adnan merebahkan tubuhnya kasar di kursi kebesarannya.


Di kantor cabang ini, pria itu memilih untuk satu ruangan dengan asistennya, selain kecilnya gedung ini juga karena Adnan ingin lebih fokus jika ada teman yang bekerjan yangbisa kapan saja mengawasinya.


Alih-alih mengecek berkas seperti yang ia katakan tadi, Adnan menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit kantornya.


‘Kamu jangan sekali-kali melukai wanita ya Nak, apalagi sampai memukul, wanita itu makhluk yang lemah dan rapuh, mereka bukan tandingan kamu, justru melindungi dan menjaga mereka adalah tugas kamu’


Petuah sang Mama beberapa tahun lalu kembali terputar dan terdengar jelas di rungunya mengantarkan pria itu pada memori bertahun-tahun lalu.


“Adnan, Mama mau tanya?” bukannya mendengarkan Adnan kecil justru semakin menyibukkan diri dengan mainannya.


“Adnan..” panggil Mamanya lagi, dan kali ini berhasil mengalihkan atensi anak itu.


“Adnan tau kok Mama mau tanya apa, bukan Adnan yang mulai Ma, Adnan gak salah” bela anak itu tanpa diminta.


Mamanya tersenyum, mengusak pelan rambut putra kecilnya, kemudian membawa anak itu agar duduk di pangkuannya, dengan sayang wanita itu mengusap punggung Adnan kecil dengan sayang.


“Mama gak nyalahin Adnan kok, Mama yakin betul kalau anak Mama ini bukan anak yang nakal, mau ceritakan kejadian sebetulnya pada Mama tidak?” dengan yakin anak berusia sepuluh tahun itu mengangguk.


Mengalirlah cerita dimana ia tidak sengaja memukul teman perempuannya saat ingin melerai Adnan yang berkelahi dengan teman sekelasnya untuk membela anak perempuan itu, nahasnya pukulannya meleset dan justru mengenai perempuan yang ingin ia bela.


“Oh gitu, jadi bukan Adnan yang sengaja ingin memukul kan?” Adnan mengangguk lucu membuat sang Mama mencium kedua pipinya dengan gemas.


Adnan kembali mengangguk, kalimat itu terkunci di kepalanya.


“Lalu, kenapa Adnan kembali bertengkar di ruang guru tadi?” tembak sang Mama lagi membuat Adnan kembali menunduk.


Anak itu berpikir masalahnya sudah selesai, tapi ternyata tidak.


“Sayang..” panggil sang Mama membuat Adnan menatap wajah teduh itu.


“Teman Adnan bohong sama bu guru, dia bilang Adnan sengaja memukul Tisya, padahal kejadiannya tidak seperti itu Ma” Adunya lagi dengan nada kesal teringat wajah menyebalkan teman sekelasnya yang sudah memfitnahnya.


“Oke, Mama anggap kamu tidak memukul Tisya, Mama percaya sama kamu, tapi bertengkar dan saling pukul seperti tadi itu tidak baik Nak, lihat, kamu justru melukai orang yang tidak seharusnya kamu lukai kan?” Adnan semakin menunduk dalam penyesalan kala mendengar penuturan Mamanya.


Mama merangkum wajah kecil Adnan dengan kedua tangannya “Adnan, dengar, kekerasan itu bukanlah solusi, meski kita juga punya hak untuk membalas, tapi jika bisa memaafkan kenapa tidak?”


“I’m sorry Mama”


“It’s ok sayang, janji sama Mama ini terakhir kalinya kamu mukul orang?”

__ADS_1


“Janji”


Air mata itu luruh begitu saja, ia sudah ingkar, karena setelah kematian kedua orang tuanya, banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidup Adnan, membuat laki-laki lembut itu berubah dingin dan keras pada siapapun.


Adnan tak segan membunuh siapapun yang melukainya, anak kucing yang dulunya imut dan lembut sudah berubah menjadi singa yang lapar.


Pria itu kembali marah pada dirinya sendiri.


“Adnan sudah bohong sama Mama” monolognya seakan mengadu pada sang Mama.


“Adnan sudah pernah melakukan hal lebih parah dari memukul Ma, Adnan pernah membunuh” lirihnya dengan isakan.


“Adnan pembunuh Ma”


Tok tok tok


Sebelum Adnan mempersilahkan masuk pintu sudah terbuka membuat Adnan kelabakan menyembunyikan sisa tangisnya.


Setelah sudah selesai dengan topeng persembunyiannya, Adnan berbalik dan menatap marah orang yang sudah lancang memasuki ruangannya sebelum ia ijinkan.


“Tau sopan santun kan kamu Indah?!” wanita itu terkejut mendapat bentakan khas Adnan setelah sebelumnya melihat sisi lemah pria itu, matanya tidak mungkin salah, ia yakin betul bahwa pria yang berada di hadapannya ini habis menangis, tapi kenapa?


“Indah!”


Indah kembali gelagapan, “Maaf Mas, Indah hanya, hanya..” ucapnya tergagap setelah sedikit bisa menguasai dirinya.


“Saya tidak punya waktu untuk meladeni kamu Indah, saya harap kamu bisa keluar” ucap Adnan dengan tegas.


Indah yang menyadari bahwa dirinya kembali diusir membuat amarahnya yang sejak kemarin terkumpul membuat ia sadar sepenuhnya akan niatnya datang kemari.


“Kamu pikir semudah itu Mas?” Adnan mengernyit heran, mencoba mengerti maksud dari lawan bicaranya.


“Sudah cukup kamu selama ini selalu semena-mena sama aku Mas, kamu pikir kali ini aku akan diam saat kamu kembali menginjak harga diriku? Tidak!” Adnan menatap Indah dengan gamang.


“Lalu apa mau kamu Ndah?” Indah menyeringai.


“Kamu sudah tau betul mauku apa Mas, tetap sama dan itu kamu”


TBC


Whuuu, fresh from the oven guys, enjoy!

__ADS_1


Hope you like it 😉


__ADS_2