
Minggu demi minggu telah berlalu sejak kejadian nahas yang dialami Adnan n the genk. Adnan maupun Anum belum pernah bertemu lagi sejak saat itu, sebenarnya Adnan ingin sekali menemui Anum, tapi apalah daya, pekerjaannya jadi penghalang. Seperti saat ini, Adnan harus meninggalkan Indonesia untuk bertemu dengan investor perusahaanya yang berada di luar negri. Hanya rindu yang bisa Adnan lambungkan ke langit biru lewat do’a untuk Anum.
Adnan sudah bertekad, rasanya sudah bulat setelah melalui beberapa perenungan. Kini ia mengakui bahwa hatinya sudah berlabuh pada seorang wanita sederhana bernama Anum Azizah.
Sementara di tempat lain, Indonesia. Dua wanita sedang berdebat.
“Kamu gak mau telpon Mas Adnan saja Num?” Anum hanya menggeleng lemah. Ia harus dirawat di rumah sakit tempat Husna bekerja.
“Aku tau kok kalau kamu nyariin dia dari kemarin-kemarin, iya kan?” Anum menatap sahabatnya tak percaya, sejelas itukah perasaannya?
“Aku yakin dia juga punya perasaan yang sama denganmu, Num” Anum hanya memandang pekarangan rumah sakit lewat jendela kamarnya.
“Jangan berandai-andai Husna, tidak akan ada yang mau dengan wanita sakit-sakitan dan asal usul yang tidak jelas pula” Husna mendesah lelah. Sahabatnya ini, selalu saja menutupi perasaannya, dia tertutup bahkan pada Husna dan ibu panti sekalipun.
“Tapi kamu murung pasti karena lama gak ketemu mas Adnan kan?” Anum diam, rasanya tidak, batin Anum.
“Aku gini karena kecapekan aja, kamu nih jangan ngawur terus kenapa kalau ngomong”
“Ya tapi kamu nyaman kan kalau ada di samping Mas Adnan? Aku nih kayak gini karena percaya kalian berada di satu perasaan yang sama” Anum hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia rasa wanita sakit-sakitan sepertinya tidak pantas memiliki harapan di cintai ataupun mencintai laki-laki manapun, termasuk Adnan.
“Aku gak mau berharap dan diharapkan, Na, tolong jangan membuatku semakin buruk”
“Yaudah aku mau bilang dokter Farhat kalau kamu dirawat disini” mata Anum membola, seketika ia langsung menarik lengan Husna yang sudah hendak bangkit dan pergi menunaikan ucapannya.
__ADS_1
“Kenapa gak boleh? Kamu juga yakin kalau Mas Adnan akan langsung kesini untuk menjenguk kamu kan? Dia pasti khawatir sama kamu Num, dia nanyain kamu terus” Anum diam, lebih tepatnya ia mencari jawaban yang tepat.
“Bukan, aku tidak mau berhubungan dengannya lebih jauh, kami hanya rekan, hanya itu” Husna menggeleng pelan, Anum dan kepala batunya memang tidak bisa di pisahkan.
“Aku sakit Husna, penyakitku serius, Lupus, Aku tidak mau memberikan harapan pada siapapun, aku tidak mau mereka sedih dan susah karena penyakitku” mata Anum berkaca-kaca, vonis dokter tadi setelah serangkaian tes yang Anum lalui. Husna merasakan kesedihan yang sama, ia sangat menyayangi sahabatnya ini, sahabatnya dari kecil.
“Berjanjilah Husna, bahwa hanya kamu, dokter tadi dan Allah yang tau soal ini, jangan beritau siapapun, kumohon” Husna hanya bisa mengangguk dengan cepat Husna memeluk tubuh Anum dengan erat, pecah sudah tangis mereka.
Penyakit lupus atau lupus eritematosus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga otak. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk meredakan keluhan, mencegah munculnya gejala, dan menghambat perkembangan penyakit.
Seumur hidupnya, Anum harus bergantung pada obat-obatan serta menerapkan pola hidup sehat agar dia bisa baik-baik saja dan bertahan hidup. Anum hanya akan merasa sebagai beban bagi orang yang ia cintai kelak, itulah sebabnya ia tak mau dekat dengan siapapun sekarang, ini adalah pilihan terbaik untuk hatinya sendiri maupun hati orang yang ia cintai, pikir Anum.
“Anum” si empu hanya mampu mengerjap saat melihat Adnan berada di hadapannya.
“Kenapa kamu bersedih?” tanya Adnan sembari menghapus tetesan air mata Anum, saat di tanya seperti itu Anum berhenti menangis meski masih sesenggukan.
“Adakah hal yang tidak sesuai dengan harapanmu?” Anum mengangguk cepat, dalam hati ia memberontak, tidak terima dengan takdir hidup yang harus ia jalani, banyak hal yang tidak sesuai harapannya. Dibuang keluarga, belum bisa bekerja, dan sekarang apa? Ia harus hidup dengan penyakit ini, tidak adil!! Batin Anum. Air mata Anum kembali mengalir dengan deras.
“Hei, kenapa tangismu lebih kencang dari sebelumnya?” goda Adnan kembali mengusap air mata itu dengan lembut. Anum tersipu, ia menunduk dalam untuk menyembunyikan semburat merah yang dengan tidak sopannya muncul saat ia sedang bersama Adnan seperti ini.
Adnan tersenyum melihat perubahanwajah wanita dihadapannya, tangannya meraih tangan Anum yang masih berada di pangkuan perempuan manis itu dan menggenggamnya lembut. Tangan Adnan yang hangat, membuat Anum mengangkat wajahnya dan kembali memandang Adnan.
“Itu semua ujian Anum, kamu dengan takdir seperti ini, aku dengan takdir seperti itu, semuanya ujian bagi kita” Adnan bangkit dan duduk di kursi sebelah Anum dengan tangan yang maih saling menggenggam. Mereka sama-sama memandang aneka tumbuhan yang tumbuh dengan subur dihadapan mereka.
__ADS_1
“Allah memilih kita untuk takdir kita karena merasa kita mampu menajalaninya, bukankah Allah itu adil?” Anum tau itu, tapi...
“Lalu mengapa kita harus bersedih dan merasa hidup ini tidak adil, kalau Allah sendirilah yang menjamin bahwa kita mampu menghadapi ujian ini?” Anum termenung, Adnan benar, setelah itu Anum beristighfar dalam hati. Ia sudah berprasangka buruk pada Sang Pencipta.
“Sudah lebih tenang?” Adnan menoleh pada Anum yang berada di sampingnya. Anum mengangguk, tangannya tergerak mengusap puncak kepala Anum dengan perlahan.
Kemudian kembali berdiri dihadapan Anum dan merentangkan tangannya pada Anum.
“Genggamlah tanganku Anum, mari kita melangkah bersama dan menghadapi setiap ujian ini dengan senyuman” Anum terkejut dan reflek menoleh pada Adnan yang kini juga memandang Anum dengan senyumnya sembari mengulurkan tangannya di hadapan Anum.
Jantung Anum berdegub kencang, senyuman itu, menenangkan. Anum meraba dadanya sendiri, merasakan deguban kencang yang bukan hanya sekedar ilusi saja. Tanpa sadar, seperti terhipnotis perlahan tangan Anum yang bebas mendekatkan tangannya pada telapak tangan Adnan yang sudah terbuka dan siap menerima uluran tangan Anum.
Dekat, semakin dekat. Waktu seolah mempermainkan mereka berdua dengan berjalan lebih lambat dari biasanya.
“Anum?!” Husna yang melihat Anum masih memejamkan mata sembari memegang dadanya sendiri kembali mengguncang pelan tubuh Anum.
Saat Husna hendak menekan tombol emergency, Anum membuka matanya.
Anum melihat sekelilingnya, hanya ada Husna, taman serba hijau tadi sudah berubah menjadi kamar rawat inapnya yang serba putih. Ternyata itu hanya mimpi, batin Anum.
Tapi kenapa dalam mimpinya, ia harus bertemu dengan Adnan?
TBC
__ADS_1