
"Aku tidak bisa Num” ucap Adnan sembari melepaskan belitan istrinya.
Anum sedikit kecewa, tapi akhirnya ia memahami kondisi suaminya.
“Ya sudah kalau begitu, tapi Mas temenin Anum sampai selesai sholat mau kan?” Adnan mengangguk, kemudian ia hanya diam melihat istrinya masuk dan memulai ibadahnya.
“Allahu akbar!” hati Adnan bergetar mendengar tasbih yang Anum ucapkan sebagai pembuka sholatnya.
‘Adnan, ayo sholat!’
Mata Adnan terpejam erat saat bayangan mengerikan itu datang.
‘Iya Ma!’
Tiara tersenyum dengan tangan yang merentang saat sang putra mau menurutinya, mereka berjalan bersama ke arah musholla kecil di rumah mereka.
Rakaat demi rakaat terlewati dengan khusyuk, hingga tepat pada salam terakhir Adnan dan Tiara harus dikejutkan dengan suara yang memekikkan telinga.
Dor! Dor! Dor!
Belum selesai keterkejutannya, Adnan kembali dibuat bingung saat Tiara menyeretnya dan berlari secepat yang mereka bisa.
‘Aaarrghhh’ langkah keduanya terhenti saat suara yang mereka kenal terdengar di telinga.
‘Pap.. hmpppph!’ jerit Adnan yang langsung teredam saat Tiara membungkam mulut kecil itu.
Dengan sigap tiara menarik Adnan untuk bersembunyi di balik tembok, hingga keduanya saling peluk dan menangis tanpa suara.
“Mas! Ada apa?”
Mata Adnan terbuka dengan peluh yang membasahi dahinya, ada wajah khawatir Anum disana.
“Istighfar Mas” ucap Anum saat Adnan tak menjawab pertanyaannya.
Pria itu masih sibuk mengatur nafasnya.
“Tidak apa-apa Mas, Anum disini” bagaikan sihir, Adnan perlahan mulai tenang, sejurus dengan tangan Anum yang sedari tadi mengusap pelan punggung tegap itu.
Anum berusaha keras menahan air matanya, untuk saat ini Adnan sangat butuh suport dari dirinya.
“Anum ambilkan minum ya Mas?” cengkraman tangan itu menguat, tapi tetap tidak bisa membuat Anum kesakitan, dengan pelan pria itu menggeleng, kemudian memeluk tubuh Anum dengan erat.
“Jangan tinggalin Mas Num”
Sadar tidak akan bisa lari, Anum berusaha menguatkan hatinya, menuruti suaminya untuk tetap disana bersama Adnan.
__ADS_1
Anum yakin bahwa Adnan kembali mengingat masa kelam itu, Farhat pernah bercerita bahwa trauma yang Adnan punya terlalu besar dan sangat berdampak pada keadaan psikis pria itu.
‘Semengerikan itukah masa lalumu Mas?’ pikiran ibu hamil itu menerawang sembari memberikan pelukan ternyaman bagi suaminya, hanya agar membuat suaminya sadar bahwa masa itu sudah berlalu, kini tinggal ia dan Adnan yang sedang merakit masa depan mereka bersama.
Entah sudah berapa lama mereka berpelukan, nafas Adnan mulai teratur juga tubuh pria itu yang semakin memberat.
Adnan tertidur.
“Mama, Papa” lirih Adnan mengucapkan itu, tapi di telinga Anum, itu terdengar sebagai kerinduan yang teramat dalam, juga penyesalan yang Anum tidak ketahui sebabnya.
“Mama, Papa” kini Anum sudah tidak bisa menahan tangisnya, ibu hamil itu menggigit bibirnya agar suara tangisnya tak menguar dan mengganggu tidur Adnan yang sudah sedikit pulas.
Masih dalam posisi yang sama Anum meraih handphone yang tidak jauh darinya.
Farhat.
“Halo?”
“Bang tolong Anum..”
***
“Gila!” Farhat mendekat melongok ke arah ponsel Haqi yang sejak datang tadi pria itu gunakan dengan sibuk.
“Gila bener!” kini Farhat juga memekikkan hal yang sama.
Adnan sudah mereka-Farhat dan Baihaqi pindahkan ke kamar.
Kedua pria itu saling tatap, mereka juga bimbang mengatakan hal yang beberapa saat lalu membuat mereka tercengang hebat.
“Ada apa Bang Haqi?” keduanya menghela nafas berat, namun kini menatap Anum yang sudah berwajah cemas.
Mereka seperti ditempatkan dalam keadaan yang serba salah, jika tidak diberitahu pasti Anum akan kepikiran, namun jika diberitahu, keduanya takut hal itu akan mempengaruhi kondisi ibu hamil itu.
“Bang”
“Eh, itu.. aku baru saja melihat pemilik saham baru, di perusahaan Adnan” Anum mengangguk dan menantikan kelanjutan cerita Baihaqi dengan cemas.
“Dan, semuanya sudah beralih pada Om Seno, Paman Adnan” Anum tidak terkejut dengan itu.
Sedikit banyak semuanya sudah Adnan ringkas saat pria itu pulang tadi.
Kini Anum mendadak tahu apa yang membuat suaminya se-drop ini.
“Tapi, kamu tenang Num, kalian masih punya kami, kalian tidak akan kekurangan apapun” ucapan Farhat itu membuat Anum tersadar bahwa masih ada orang lain dalam rumah ini.
__ADS_1
“Anum tidak pernah khawatir tentang itu Bang, Anum paham dan yakin sekali rezeki Anum dan Mas Adnan sudah Allah atur, semua ini pasti ada hikmahnya, tapi..”
“Tapi?” dengan ragu Anum memandang Haqi, sebenarnya ia malu dan tidak nyaman terlalu lama bersama mereka berdua tanpa adanya sang suami.
Tapi Anum tidak punya siapapun lagi yang bisa membantunya.
“Anum khawatir sama kondisi Mas Adnan, dia terpukul sekali dengan keadaan ini, dia pikir Anum akan pergi saat Mas Adnan sudah tidak memiliki apapun saat ini, dia juga..” Anum kehilangan kata-kata, dua bersahabat itu kini sadar apa yang menjadi keresahan wanita hamil dihadapannya.
“Apapun itu, kamu masih memiliki kami, jangan pernah sungkan meminta apapun” Anum mengangguk, hatinya merasa sangat bersyukur jika dirinya dan suaminya masih dikelilingi orang-orang baik.
“Anuummm?!!!” mereka semua terkejut dengan jeritan Adnan dari lantai atas.
Brakk
Tubuh yang sempoyongan itu mendadak tegak saat ia melihat istrinya masih berada dalam satu rumah yang sama dengan Adnan.
Dengan langkah lebar Adnan mendekati wanita itu, lalu memeluknya erat-erat tanpa memperdulikan tatapan khawatir dua sahabatnya yang masih ada disana.
“Jangan tinggalkan Mas, Num” Anum tertawa kecil mencairkan suasana tak nyaman itu.
“Anum disini Mas, gak kemana-mana, lagi nemuin teman-teman Mas tuh” setelah mengatakan itu Adnan baru menyadari kedua sahabatnya.
“Farhat? Haqi? Sejak kapan kalian disini?” keduanya dilanda kebingungan dengan respon Adnan, namun juga bersyukur saat sahabat mereka tidak meledak-ledak seperti dulu.
“Baru aja” ucap Farhat yang diangguki Baihaqi.
Kini Adnan menunduk, ia sudah bukan siapa-siapa lagi tanpa semua peninggalan dan kekuasaan yang Papanya berikan padanya.
“Aku bangkrut”
“Kami sudah tau” kepala Adnan terangkat begitu saja.
Menyadari kebingungan Adnan, Farhat kembali bersuara, “Kami akan tetap menjadi sahabatmu dalam keadaan suka maupun duka, kita selalu bersama dalam keadaan apapun bukan? Lalu kenapa kami pergi saat kamu dilanda kemalangan seperti saat ini?”
Perlahan rasa haru itu menjalar dalam lubuk hati Adnan, tadi istrinya berkata ia tak akan pergi, dan kini sahabatnya juga bersamanya saat Adnan sudah tak memiliki apapun kecuali dirinya sendiri.
Air mata Adnan jatuh tepat saat tangannya digenggam oleh jemari lembut Anum.
“Kamu tidak pernah sendirian Mas, masih ada kami”
Dan setelah semua itu, bahkan ia masih memiliki karunia besar dalam hidup Adnan.
“Kami datang untuk membantumu Nan, tidak banyak, kami hanya bisa membantu semampu kami” Adnan bangkit dan berjalan ke arah sahabatnya.
Farhat dan Baihaqi yang sudah tau apa yang akan Adnan lakukan juga bangkit, kemudian mereka berpelukan bersama, sama seperti saat mereka kecil dulu.
__ADS_1
“Terimakasih” keduanya mengangguk sembari menepuk punggung Adnan sebagai bentuk suport keduanya terhadap sahabatnya itu.
TBC