
“Lihat, ini kakak dan adik sedang bermain bersama” ucap dokter itu sembari tersenyum pada Anum dan Adnan.
Kini mereka tengah fokus dengan layar gelap yang menampilkan kedua anak mereka yang sedang bergerak aktif di dalam perut Anum.
Anum tersenyum saat tangannya di genggam erat oleh sang suami.
Bisa dibilang, ini kali pertama Adnan melihat janin mereka di usia trimester akhir, karena kehamilah pertama hanya sampai trimester dua dan kehamilan kali ini, Adnan baru bisa menemani Anum memeriksakan kandungannya.
“Mereka baik-baik saja kan dok?” dokter itu tersenyum.
“Mari kita bicarakan di ruang konsultasi ya Pak, Bu” keduanya mengangguk, kini Adnan sedang membantu istrinya untuk berbenah pakaian usai pemeriksaan USG.
“Apa ibu Anum memiliki keluhan akhir-akhir ini?” tanya dokter itu saat mereka sudah sama-sama duduk, dengan lemah Anum menggeleng.
“Benaran tidak ada sayang?” tanya Adnan memastikan yang dihadiahi cubitan maut Anum, wanita itu tak sengaja melihat dokter beserta perawatnya menahan senyum mereka.
“Baiklah, untuk saat ini tidak ada yang perlu di khawatirkan karena semuanya normal, meski begitu saya harap Bapak dan Ibu tetap memperhatikan asupan makanan yang sehat, terutama mengurangi makanan yang tinggi garam, mengingat Ibu ada riwayat pre-eklampsia di kehamilan sebelumnya” keduanya mengangguk patuh seperti anak kecil yang sedang di beri nasehat oleh kedua orangtuanya.
“Ya dok” dokter itu tersenyum penuh haru melihat kesigapan Adnan.
“Ibu sangat beruntung memiliki suami seperti Pak Adnan ini” mendengar pujian itu mau tak mau Anum ikut tersenyum.
Dalam segi apapun ia sangat-sangat beruntung memiliki Adnan sebagai suaminya, bahkan saat pria itu sudah tidak memiliki apapun, Anum masih akan terus bersyukur.
“Benar dok, suami saya ini memang tidak ada duanya” puji Anum membuat telinga Adnan sedikit memerah.
Semua yang ada di ruangan itu terkikik kecil melihat romansa yang diciptakan sepasang pasutri di hadapan mereka.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih, Adnan menuntun sang istri keluar ruangan dokter dengan sangat hati-hati.
“Mas, lepas saja, aku masih bisa jalan kok” protes Anum yang seperti tidak di dengarkan oleh sang suami.
Sadar tidak di dengar, Anum menghembuskan nafas kesal.
“Kenapa? Kamu lelah ya? Kita duduk sebentar” Anum memutar bola matanya malas, tapi juga menuruti perintah sang suami.
“Kamu kenapa Num?”
__ADS_1
“Bisa tidak kalau Anum minta Mas Adnan jangan berlebihan dalam menjaga Anum?” ucap Anum, menyuarakan protesnya.
“Memangnya ada yang salah dengan itu?”
“Tidak salah, tapi itu sangat berlebihan Mas”
“Tidak berlebihan”
“Berlebihan!” Adnan terhenyak saat Anum bersuara lebih tinggi dari biasanya.
Tidak mau terpancing emosi Adnan memilih menatap tembok yang ada di hadapannya, sementara Anum, wanita itu sudah menggigit bibir menyadari kesalahannya.
“Maaf Mas” ucap Anum memecah keheningan diantara mereka.
Merasa lebih tenang, Adnan menghadap sang istri yang kini sedang menunduk takut sembari memilin ujung hijabnya.
“Tidak apa-apa Num, sepertinya kamu memang benar” mendengar itu Anum mendongak demi menatap wajah sang suami.
“Benar, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Mas setuju dengan itu, tapi Num, kalau boleh Mas berkata jujur, itu tidak berlebihan jika di lakukan untuk keselamatan kamu dan calon anak-anak kita” ucap Adnan mengundang rasa bersalah di hati Anum.
“Mas..” Adnan mengangkat tangannya tanda tak ingin di bantah.
Dari beberapa sumber yang Adnan baca, itu sangatlah wajar untuk ibu hamil dengan segala hormon yang mempengaruhinya.
“Anum hanya gak ingin merepotkan Mas Adnan, itu saja, kalau hanya untuk berjalan dan ke kamar mandi tidak perlu di temani ya Mas, Anum bisa sendiri”
“Tidak merepotkan sebenarnya, tapi jika itu mengganggu kamu, Mas tidak akan lakukan lagi, Mas janji, sudah ya jangan menangis lagi” Anum menangguk, mengusap hidung dan matanya yang berair karena menangis.
Setelah menyelesaikan masalah kecil diantara mereka Adnan memboyong sang istri untuk pulang, sebelum langkahnya terhenti karena di hadang seseorang.
Keduanya terpaku, begitu juga sepasang lansia di hadapan mereka.
“Cucu nenek” Adnan memegang lengan Anum yang sudah ingin berbaur dengan mereka.
“Kita pulang!” sebelum Anum menyuarakan protesnya, Adnan sudah menuntun sang istri untuk pergi meninggalkan Kakek dan Nenek Adnan yang masih berdiri di tempat mereka.
“Aku tidak pernah menyangka cucu yang selama ini ku banggakan telah kehilangan sopan santun dihadapan kakek dan neneknya sendiri” langkah Adnan terhenti, begitu juga Anum yang kini menatap heran suaminya.
__ADS_1
Seperti ada banyak puzzle yang tidak ia mengerti pada hidup Adnan dan hubungan antar keluarga, semuanya terasa kacau.
“Saya tidak memiliki siapapun lagi selain istri dan calon anak saya, lalu cucu mana yang sedang anda bicarakan tuan?” tanya Adnan yang sudah berbalik menghadap Kakek dan Neneknya.
“Benar-benar tidak tau diri!”
Adnan tertawa, membuat tiga orang yang ada disana memandangnya.
“Kemana anda saat saya kehilangan anak saya? Kemana Anda saat masalah besar datang dan hampir membuat perusahaan hampir bangkrut? Dan satu lagi, kemana anda saat anak anda sendiri merebut kekuasaan yang sudah susah payah saya bangun dan stabilkan kondisinya, kemana?!!!” Anum mengusap pelan lengan suaminya yang mulai terbakar emosi.
“Tidak ada, setelah Papa dan Mama saya meninggal saya hidup sebatang kara, saya tidak memiliki keluarga yang lainnya” tambah Adnan tegas, tetap terlihat tenang meski matanya berkilat marah.
“Adnan, jangan seperti itu Nak” ucap sang Nenek setengah memelas.
“Nyatanya memang begitu, Adnan tidak memiliki siapapun, tidak juga dengan Nenek yang terlalu patuh dengan pria seangkuh dia!” tunjuk Adnan marah pada Kakeknya yang menatapnya dingin.
Adnan mengalihkan pandangannya pada sang istri mengusap pelan pipinya yang berair, tak terasa Adnan menumpahkan tangisnya.
Anum memeluk tubuh Adnan dengan erat, diam-diam Anum juga ikut menangis, turut merasakan kesedihan yang dirasakan suaminya.
Sementara sepasang Kakek Nenek itu terdiam melihat interaksi keduanya.
Juga melihat betapa terlukanya Adnan selama ini, tanpa mereka tau.
“Anum, mari kita pulang, Mas tidak ingin bicara dengan orang asing” setelah mengatakan itu Adnan menuntun Anum untuk menjauh.
Sebelum benar-benar menghilang, Anum sedikit mengangguk untuk berpamitan pada keduanya.
Yang terakhir Anum lihat adalah tangan Nenek yang melambai ke arahnya sembari tersenyum hangat.
Rasanya Anum ingin sekali berlari ke arah mereka berdua, rasanya ingin sekali memeluk keduanya, berpamitan dengan benar seperti cucu pada kakek neneknya.
Bersikap baik pada keduanya hanya akan membuat Adnan marah dan memilih untuk berjarak dengan juga.
Anum menunduk sedih.
Setelah selama ini tidak memiliki keluarga, Anum sempat berharap bisa merasakan kehangatan keluarga dari keluarga suaminya.
__ADS_1
Tapi Anum tidak bisa.
TBC