Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 57


__ADS_3

Adnan masih terpekur dalam do’anya.


Bahu yang biasa tegak itu bergetar hebat.


Bayang-bayang mengerikan itu kembali menghantui diri Adnan.


“Apapun Ya Allah, ambil apapun asal jangan istri hamba” ucapnya di sela tangis yang terdengar menggema diantara sunyi.


Adnan menggeleng di sela doanya saat menyadari sesuatu, bukankah Adnan terlihat seperti tidak menginginkan anaknya?


Ini adalah kali kedua Adnan ada dalam kondisi ini, yang pertama adalah saat Adnan kehilangan kedua orang tuanya.


Hal yang membuatnya marah pada takdir hidupnya hingga melahirkan Adnan yang pendiam dan kasar.


Hingga Anum hadir membawa semangat baru bagi Adnan, jadi jika Anum pun juga tidak ada, Adnan tidak tau lagi tujuan hidupnya.


Jika boleh jujur Adnan juga menyayangi anak-anaknya, apalagi setelah tadi sempat melihat mereka bisa bernafas dengan tenang meski masih dalam keadaan kritis.


Dalam keheningan malam ini, Adnan menunduk mengalah membuang segala keangkuhannya.


Tak lupa ia menjalankan niat utamanya datang ke tempat ini.


Saat takbir pertama diucapkan, Adnan bisa merasakan sebagian bebannya terangkat, meski tangis masih mengiringi tiap gerakannya.


Kelegaan menghampiri saat Adnan mengucapkan dua salam, rasanya damai.


Tangis itu kembali pecah saat mengingat Anum yang tak pernah henti mengingatkannya untuk beribadah.


Hal yang selalu Adnan hindari, karena kemarahannya pada sang pencipta.


“Hambamu yang penuh dosa ini datang Ya Allah, maukah Engkau mengabulkan satu permintaannya kali ini?”


Tanpa malu Adnan mengusap matanya yang terus menerus berair.


“Selamatkan istri hamba”


***


Adnan berjalan tanpa minat ke tempat dimana semua orang tersayangnya berada.


Pintu itu masih tertutup, Adnan hanya bisa duduk di depan ruangan.

__ADS_1


Tubuh lelahnya terpaksa kuat, mata kantuknya terpaksa terjaga, Adnan tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan senyuman indah istrinya yang akhir-akhir ini manja.


Adnan sedikit tertawa mengingat tingkah menggemaskan istrinya, Anum yang biasanya tak suka dengan physical touch yang Adnan buat tiba-tiba meminta pelukan darinya sehabis pulang kerja.


Juga jalan-jalan malam mereka untuk mencari jajanan bagi ibu hamil itu agar tidak kelaparan di tengah malam.


Bibir Adnan melengkung sempurna, membuat mata menyipit itu menggulirkan lelehan air mata menyusuri wajah tegasnya.


Padahal belum genap sehari ia berpisah dengan Anum, tapi rasanya sudah sangat menyiksa sekali.


Suara sepatu yang berbentur dengan lantai terdengar menggema Adnan tak mempedulikannya, bahkan saat Adnan merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya, dia masih fokus menatap pintu perawatan Anum.


“Bagaimana keadaannya?” baru ini Adnan menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.


Barata, kakek Adnan.


“Buruk, tadi sempat mengalami kejang sesaat setelah melahirkan anak-anak kami” ucap Adnan dengan lesu, jika di kondisi normal ia akan bersikap ketus pada lelaki tua di sebelahnya ini.


Tapi kali ini, Adnan tidak memiliki daya untuk melakukan itu.


“Anak-anak?” tanya Barata sekedar untuk meyakinkan pendengarannya.


“Anum pasti baik-baik saja” ucap Barata mengundang tatapan tak percaya Adnan pada kakeknya itu.


Barata merasakan kekacauan yang dirasakan oleh Adnan, dia bisa melihat kesedihan dan ketakutan yang amat dalam di mata cucunya.


Sementara Adnan, ia merasa di berikan suport saat dirinya tak punya siapa-siapa.


“Kamu tidak pernah sendiri Nak, aku dan nenekmu selalu ada untukmu, datanglah, mengadulah pada kami saat kamu merasa terpuruk dan sedih, kami masih keluargamu” ucap Barata yang semakin membuat Adnan terharu.


Selama ini ia berpikir ia tak memiliki siapapun, setelah ada Anum semuanya berubah, Adnan tidak merasa kesepian lagi.


Tapi saat wanita itu sedang bertaruh hidup dan mati, Adnan merasa sendirian lagi.


Dan kini, kakeknya, orang yang selalu diam saat semua hal buruk menimpanya seperti datang dan mengulurkan tangan pada Adnan yang sedang menangis di pojokan.


“Kakek, bolehkah aku meminta bertukar posisi saja dengan Anum? Aku tidak ingin melihatnya kesakitan, aku.. tidak ingin kehilangan lagi” ucap Adnan parau.


Tanpa malu Barata memeluk tubuh cucunya, anak laki-laki yang tetap terlihat seperti Adnan kecil di matanya, cucu kesayangannya.


Adnan merasakan kenyamanan di pelukan kakeknya, pelukan yang sudah lama tidak ia dapatkan, yang entah karena apa.

__ADS_1


Barata, mengusap bahu bergetar yang selama ini terlihat kokoh itu.


Hingga saat merasa tenang, Adnan mengurai pelukan mereka, tak lupa menyeka air matanya yang turun tanpa di perintah.


Tepat setelah itu, pintu perawatan terbuka, Adnan langsung bangkit danmenghampiri dokter itu, diikuti Barata.


“Bagaimana keadaan istri saya dokter?”


“Ibu Anum sudah melewati masa kritisnya, tapi masih memerlukan observasi ulang”


Adnan mengangguk, hatinya sedikit lega.


Begitu dokter pamit, Adnan memilih berdiri di depan ruangan kaca di sebelah kakeknya karena ruangan observasi juga tak bisa sembarangan di masuki.


Adnan memandang Anum yang kini tidur dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


“Dulu, saat pembantaian itu terjadi, kakek juga berdiri di tempat seperti ini, melihat anak yang sedang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana” Adnan tau maksud kakeknya, ia menoleh pada Barata sekilas lalu kembali menatap istrinya.


Barata sedikit terkekeh, namun tawa getir yang terdengar “Papamu sempat sadar, hal pertama yang ia tanyakan adalah keadaanmu, kakek bilang kamu baik-baik saja”


Adnan tiba-tiba mengingat kejadian mengerikan itu, hari dimana ia resmi menjadi yatim piatu.


“Papamu seakan tahu bahwa ia sudah ditinggal istrinya yang meninggal di tempat tanpa sempat di tolong, dia sempat berusaha tegar demi kamu, tapi Papamu menyatakan menyerah saat tau Mamamu meninggal bersama calon adik kamu Adnan”


Adnan ingat, saat itu Mamanya ingin menyembunyikan kehadiran adiknya, hanya Adnan yang mengetahui kabar gembira itu, dengan dalih mereka akan memberikan kejutan kepada Papa, namun hal itu tidak pernah terjadi.


Dengan kasar Adnan mengusap air matanya.


“Kakek merasa gak berguna sebagai orangtua dalam menjaga anak dan menantunya, Kakek juga hancur sama sepertimu, apalagi saat melihatmu yang sampai butuh bantuan psikiater, Kakek semakin merasa tidak berguna sama sekali” Adnan menatap Barata yang kini tengan menangis dalam diam, suaranya bahkan tak terdengar bergetar, namun air mata mengalir deras dari mata tuanya.


“Adnan pikir kakek marah dan menyalahkan Adnan karena kematian kedua orangtua Adnan”


“Tidak nak, bukan rasa marah atau benci, tapi lebih kepada rasa malu, malu karena tak bisa berbuat apa-apa saat kamu jatuh sejatuh-jatuhnya dan kesepian karena tragedi itu”


Adnan ikut tergugu, ia tak menyangka bahwa kenang kusut antara dirinya dan sang kakek perlahan mengurai di malam ini.


“Kakek tidak pernah lagi datang, bahkan selalu diam saat Adnan butuh, apa kakek pikir tindakan kakek itu benar?!” ucap Adnan mengeluarkan semua unek-uneknya.


“Tidak, Kakek tau Kakek salah, tapi Kakek masih tidak bisa berhadapan denganmu yang lebih sering melamun, Kakek tidak diam, Kakek juga sudah mengusut kasus kematian Adrian, dan seperti dugaan awal, bukan kamu pembunuhnya” ucap Barata seperti mengangkat ribuan ton beban dalam hati Adnan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2