
Anum tidak putus asa mendial nomor suaminya, semalam suaminya benar-benar tidak pulang, bahkan hingga siang Anum tidak tau keberadaan suaminya.
Dengan cemas Anum berjalan gelisah.
“Num?!”
Anum menatap Farhat yang baru saja datang dengan Baihaqi, kedua sahabat suaminya.
“Gimana Bang, kalian dapat informasi tentang keberadaan Mas Adnan?” keduanya menggeleng lemas, bahu Anum merosot seketika, kesedihan itu tergambar jelas di wajah ayunya.
“Sudahlah Num, mungkin Mas Adnan sedang butuh waktu” ungkap Husna berusaha menenangkan sahabatnya, tapi itu tak berefek apapun pada wanita itu.
Husna meminta bantuan pada kedua sahabat Adnan ketika Anum terus saja gelisah bahkan tidak tidur sebelum menerima kabar dari Adnan.
Akhirnya mereka semua tau masalah rumah tangga Adnan dan Anum.
Sebagai sahabat Adnan mereka jelas tau bahwa hal remeh ini sudah melukai ego sahabatnya itu, apalagi ini tidak terjadi sekali, tapi untuk menyalahkan Anum, mereka berdua juga tidak sanggup melihat kondisi wanita itu yang juga sedang tidak stabil.
“Aku salah, aku sudah menyebabkan Mas Adnan marah besar, bagaimana ini?” Anum menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Isakan kecil itu kembali lolos dari mulut Anum, mereka bertiga tidak bisa berbuat apa-apa.
Derap langkah tegas membuat atensi mereka semua tertuju pada pintu utama.
Rudi.
“Saya tau keberadaan Pak Adnan” senyuman itu terbit di wajah Anum.
“Dimana Rud?” bukannya menjawab Rudi malah menatap Farhat dan Baihaqi dengan gusar.
“Pak Adnan baik-baik saja Bu” jawab Rudi yang tidak sinkron dengan pertanyaan Anum.
“Rudi, dimana keberadaan Mas Adnan?” cecar Anum.
Melihat respon Rudi, Farhat dan Baihaqi menyadari sebuah kode yang berusaha pria itu sampaikan melalui tatapan mata.
“Kami akan bawa Adnan kembali Num, kamu tunggulah disini” setelah mengatakan itu Baihaqi bergegas pergi diikuti Farhat dan Rudi.
Meski kecewa Anum hanya bisa diam, setidaknya suaminya sudah ditemukan.
“Dimana keberadaan bosmu Rud?” tanya Haqi saat mereka bertiga sudah berada dalam mobil.
“Hotel Angkasa” baik Farhat maupun Baihaqi, mereka menatap rudi tak percaya meski tak sepenuhnya asumsi mereka benar, tapi letak hotel itu mampu membuat mereka tak percaya.
__ADS_1
“Dia sendirian kan?” Rudi menggeleng.
“Bapak sedang bersama Bu Indah”
“Bangsat!” umpat Baihaqi seraya menambah laju mobilnya.
***
Adnan membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya matahari yang serasa menusuk matanya.
Huekkk!
Kaki panjangnya melangkah cepat ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, rasanya tak nyaman, tapi hal itu berubah kala ada sebuah tangan yang memijat tengkuknya perlahan.
Seakan melupa Adnan membersihkan mulutnya, “Makasih sayang” tubuh Indah menegang mendengar panggilan itu meski hatinya berbunga-bunga.
Tak mendapatkan respon seperti biasanya membuat Adnan menoleh ke sampingnya.
“Indah?!” pekik Adnan saat yang ada di hadapannya bukanlah sang istri.
Memorinya serasa di tarik pada kejadian lalu.
Adnan pulang dan mendapati istrinya pingsan, juga mendapati kondisi istrinya yang sebenarnya, ia bertengkar dengan sang istri yang memutuskan untuk pergi ke bar sekedar melepas belenggu rasanya yang tersakiti.
Dengan ragu ia menatap Indah tepat di matanya, “Saya tidak melakukan apapun padamu kan Ndah?” Indah tersenyum menanggapi pertanyaan Adnan, efek panggilan tadi sangatlah besar bagi Indah.
“Seperti itulah Mas” mata Adnan terkejut bukan main.
Tawa indah menguar saaat ia mendapati Adnan mematung di tempatnya.
“Maaf Ndah, apapun yang terjadi saya tidak sadar” alis Indah menukik sebelah, kalimat itu bagaikan air garam yang di tumpahkan di atas lukanya.
“Jadi, Mas tidak mau tanggung jawab?” Adnan terkesiap, sejauh itukah dirinya semalam?
Kepala Adnan mendadak pening, keseimbangannya goyah tapi Indah dengan sigap menangkap tubuh tegap itu, membuat mereka bisa saling tatap dalam jarak dekat.
Setelah menyadari posisi mereka yang teramat dekat Adnan menjauhkan badannya.
“Mari kita bicara di luar Mas, Indah sudah buatkan jahe lemon untuk menetralisir rasa tak nyaman di perut Mas” Adnan mengangguk, perlahan ia berjalan keluar berpegangan pada dinding, meski Indah masih setia menjaga cintanya dari belakang agar tak terjatuh.
Setelah Adnan duduk nyaman di bibir ranjang, Indah memberikan secangkir herb yang masih mengepulkan asap, hatinya terus menghangat saat Adnan meminumnya perlahan.
Mereka sudah terlihat seperti sepasang suami istri kan? bahkan hanya karena adegan kecil ini saja sudah membuat Indah senang.
__ADS_1
“Indah, benarkah saya sudah melakukan ‘itu’ pada kamu?”
“Habiskan dulu Mas, lalu mandilah, Indah akan siapkan semuanya” jawab Indah mencoba mengulur waktu demi kebersamaan mereka, Indah menikmati momen dimana ia bisa melayani cintanya seperti saat ini.
“Ndah?!” gerakan tangan Indah terhenti saat Adnan mulai meninggikan suaranya.
Indah memilih untuk mengalah, ia akhirnya mengambil kursi dan duduk di dekat Adnan, bahkan dengan penampilan kacau saja Adnan masih terlihat tampan.
“Apa yang Mas ingin ketahui?”
“Semuanya, apa yang terjadi setelah dari bar” Indah mengangguk, dan menceritakan semuanya.
“Asal Mas Adnan tau, malam tadi adalah malam terindah yang Indah miliki, juga pagi ini” ucap indah mengakhiri ceritanya.
Tidak ada kontak fisik, bahkan Indah sudah membantunya untuk lepas dari para wanita malam itu.
“Benar, saya tidak melakukan apapun pada kamu Ndah?” Indah tergelak di tempatnya.
Tangan itu meraba perutnya sendiri, “Sebenarnya Indah sangat ingin benih Mas tumbuh disini”
Adnan menatap lawan bicaranya tak percaya.
“Tapi Mas, Indah masih menghormati Mas sebagai pria yang Indah cinta, meski Mas Adnan tidak memiliki perasaan yang sama, juga, Indah masih punya harga diri Mas“ ucap Indah sendu, matanya mendadak mendung.
Meski Indah pernah mengemis cinta pada Adnan, tapi gadis itu tidak ingin menggunakan cara kotor, ia masih yakin bisa memenangkan hati Adnan dengan cara yang baik-baik.
“Saya minta maaf Ndah, sungguh, saya yakin diluar sana ada seorang pria yang akan mencintai kamu dengan tulus, kamu tidak perlu mengemis cinta karena pria itu yang akan memberikan cintanya cuma-cuma pada kamu” tutur Adnan lembut, ia tidak lagi ketus pada gadis dihadapannya karena berhutang budi.
“Maaf juga kamu harus mendengarkan ocehan saya sepanjang malam” Indah menggeleng.
“Tidak masalah, Indah senang Mas mau berbagi, tapi bolehkan Indah minta sesuatu? Indah tau Mas bukan orang yang senang memiliki hutang budi. Maka dari itu Indah ingin menukar kebaikan semalam dengan sesuatu, boleh?” Adnan tampak menimbang, tapi kesadarannya kembali penuh saat tangannya di genggam Indah.
Segera Adnan tepis tangan mulus itu, ia mendadak kembali datar, ia sudah sadar tengah dimanfaatkan oleh gadis dihadapannya ini.
“Berapa uang yang kamu butuhkan Ndah?” Indah menggeleng tegas.
“Aku sudah punya uang Mas, aku bisa mencari lembaran itu sendiri”
“Lalu?”
“Aku ingin kamu”
TBC
__ADS_1