Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 40


__ADS_3

Indah menatap ponselnya dengan kecewa, Adnan bilang tidak bisa menemani Indah dan membatalkan janji mereka sepihak.


Sama seperti pertunangan mereka, yang juga Adnan batalkan sepihak.


Sekuat tenaga dia menekan nomer Adnan untuk menelpon pria itu, hanya dering telpon yang ia dengar.


Tak menyerah ia memilih bergegas mengunjungi rumah Adnan.


Indah diselimuti amarah menyetir dengan kecepatan tinggi, ia tidak mau tau, ia harus bertemu dengan Adnan saat ini juga.


Hati Indah kembali miris saat rumah Adnan sudah ada di hadapannya.


Harusnya dia yang berada dalam rumah itu sekarang..


Tapi kenyataan tak seindah harapannya.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban.


Pantang menyerah Indah mengetuk lebih kencang dari sebelumnya, masa bodo jika tetangga pria itu yang keluar karena kebisingan yang ia buat.


“Keluar kamu Mas!” pintu itu tetap tertutup.


“Mas Adnan!!!”


Akhirnya pintu perlahan terbuka, menerbitkan senyum kecil di wajah Indah.


“Ada apa Non?” senyum itu memudar seketika saat bukan Adnanlah yang membuka pintunya.


“Adnan mana Bi?”


“Oh Bapak sedang pergi bersama Ibu, kemananya saya kurang tau Non” lagi-lagi seperti ada tangan yang seolah meremas hati Indah.


Setelah mengucapkan terimakasih, pintu itu kembali tertutup.


Lagi-lagi Anum.


Indah menggeram, berbalik pergi namun langkahnya terhenti ketika ada sepasang sepatu di hadapannya.


“Om Seno?” pria paruh baya itu menyeringai menatap Indah.


“Bagaimana rasanya kalah berkali-kali, Indah?” tanya Seno memprovokasi Indah.


“Sampai kapanpun saya tidak akan mau bekerjasama dengan anda Om, saya yakin masih bisa memenangkan hati Mas Adnan dengan cara baik-baik” ucap Indah yakin mengundang tawa Seno yang menggelegar mengerikan.


“Indah, Indah, rupanya otak kamu tidak seperti namamu ya” Indah menatap Seno dengan sengit.


“Saya permisi”

__ADS_1


Hanya beberapa langkah kaki wanita itu kembali diam, “Kamu pikir Adnan tetap disisi istrinya karena apa Indah?”


Dengan sebal Indah membalik badannya menatap Seno, “To the point saja Om”


“Anak, hanya gumpalan darah itu yang bisa mengikat dua manusia, istrinya kembali mengandung”


“Lalu, Om berharap apa dengan fakta itu?” Seno menerbitkan seringainya.


“Kamu tau betul apa yang saya maksudkan Indah, saya yakin kamu tidak sebodoh itu”


“Om pikir keponakan om yang mahal itu mau dengan cuma-cuma memberikan benihnya kepada saya? Adnan tidak sebodoh Om” Seno terbahak.


“Selalu ada cara jika ada kemauan, kamu pernah dengar ada seribu jalan menuju roma? Seperti itulah, jika cara baik sudah buntu bukannya sekarang adalah waktunya untuk berubah jahat?” Indah menatap paman Adnan itu dengan tatapan tak percaya.


“Om sudah gila!” umpat Indah yang justru membuat Seno semakin tertawa senang.


“Kadang kegilaan itu yang bisa membuatmu berhasil, pemikiran-pemikiran antimainstream yang tidak ada di otak orang normal akan membuat terobosan baru” Indah menggeleng tak percaya, hatinya turut miris jika pria sebaik dan sebijaksanan Adnan harus memiliki Paman tak bernurani seperti Seno.


***


“Anum, sudah ya” peringat Adnan tapi istrinya itu malah berjalan cepat menjauhi dirinya.


“Mas Adnan, kejar Anum!” mata Adnan membola ketika sang istri meneriakkan hal yang sungguh membuat jantungnya hendak keluar dari tempatnya.


“Kamu lagi hamil Num!” pekik Adnan.


Langkah Anum terhenti seketika, “Uppss, Anum lupa” ucap wanita itu dengan cengiran khasnya.


Keduanya tertawa lepas.


Setelah saling memaafkan kemarin, Adnan memilih untuk mengajak sang istri pergi untuk quality time berdua setelah membatalkan pertemuannya dengan Indah, ia sudah sadar sepenuhnya jika yang ia lakukan berdampak buruk bagi semuanya.


Adnan takut menyakiti hati istrinya.


Adnan juga takut kembali memberikan harapan tak berujung pada Indah.


Jadi, untuk kenyamanan semuanya, biarlah semua berjalan sesuai perannya, Anum istrinya, jikapun Adnan ingin keluar dengan tujuan selain pekerjaan, maka wanita itulah yang harus Adnan ajak, bukan wanita lain.


Kacamata hitam couple yang sedang mereka gunakan untuk mengahalau sinar matahari langsung membuat baik Anum ataupun Adnan bisa sedikit menyembunyikan luapan bahagia di mata mereka.


Terpaan angin laut membuat tubuh mereka semakin dekat merasakan kesejukan itu bersama, juga deburan ombak yang senantiasa merefresh telinga keduanya, seakan tidak pernah ada pertengkaran kemarin.


Adnan meregangkan pelukan mereka membuat sang istri mendongak ke arahnya, “Mas Adnan ganteng ya” Adnan kembali tertawa mendengar gombalan istrinya.


“Baru sadar kamu kalau Mas-mu ini ganteng?” Anum mencebik karena ke-PD-an suaminya.


Perlahan wanita itu mendorong dada bidang itu dan berjalan cepat, Adnan yang melihat itu segera melebarkan langkah menyamakannya dengan sang istri.


“Kenapa sih? Kok malah tinggalin Mas” Anum yang masih sebal hanya melirik suaminya.

__ADS_1


“Num, berhenti dulu” ucap Adnan sembari mencekal lengan Anum membuat langkah mereka berdua terhenti.


“Mas ada salah apa?”


“Mas Adnan ngerusak suasana tau!” sungut Anum.


“Ok, baiklah, Mas minta maaf ya” mendengar perminta maafan itu mengundang rasa tak nyaman di hati Anum, padahal ini hanya masalah sepele, tapi suaminya sampai memohon maafnya.


Tak terasa air mata wanita itu jatuh, efek kehamilan kali ini sangat berpengaruh pada berubahan moodnya.


“Loh kok malah nangis, Mas minta maaf sayang” bukannya menjawab Anum malah memeluk tubuh kekar Adnan.


“Jangan minta maaf Mas, Anum gak suka dengar kata itu, gak seharusnya Anum bertingkah kekanakan kayak tadi” aku-nya sembari sesekali terisak.


“Maafin Anum Mas” bibir Adnan berkedut mendengar itu.


Bukannya tadi istrinya bilang dia tidak suka mendengar kalimat itu? Tapi kenapa malah wanita itu sendiri yang mengucapkannya?


Adnan hanya bisa menggeleng sembari sesekali mengusap punggung Anum teratur.


“Sudah, gak papa, Mas maklum kok”


Pria itu kembali menggiring sang istri untuk duduk di tempat sebelumnya, lalu memposisikan dirinya untuk tidur di pangkuan sang istri.


Anum mengusap surai Adnan dengan lembut sudah lama sekali mereka tidak seperti ini.


“Mereka akan baik-baik saja kan Num?” Anum sedikit menunduk menatap Adnan yang sudah menghadap perut buncitnya.


“Anum akan mengusahakan yang terbaik Mas, doain Anum ya” Adnan mengangguk dan memberi kecupan-kecupan ringan di perut Anum.


“Num”


“Hmm?”


Setelah mengumpulkan semua keberanian yang ia punya Adnan bangkit, duduk menatap sang istri, karena kegugupan itu Adnan berkali-kali membasahi bibirnya sendiri.


“Kenapa Mas? Cerita saja” ucap Anum meyakinkan.


“Mas ada pekerjaan lagi di luar kota” Anum manggut-manggut sembari menunggu kelanjutan apa yang ingin Adnan sampaikan.


Semakin di tatap Adnan jadi semakin takut mengungkapkan isi kepalanya.


“Mas tidak papa, bicaralah”


“Itu akan lama Num” kelegaan itu menyelimuti Adnan setelah kalimat itu meluncur bebas dari mulutnya.


Anum tersenyum lembut, tangannya menggenggam tangan besar Adnan dan mengecupnya pelan, “Anum gak papa Mas, pergilah, semoga diberi kelancaran di setiap apa yang Mas kerjakan ya”


Hati Adnan menghangat, tangannya menarik Anum untuk masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


Ya Allah, semoga engkau memaafkan hambamu ini.


TBC


__ADS_2