
Kini Anum sedang gelisah di bilik kamarnya, dengan Husna yang sedari tadi melihat Anum mondar-mandir di hadapannya.
Terhitung sudah sejak 3 minggu yang lalu setelah pertemuan terakhir mereka saat mengunjungi makam kedua orangtua Adnan.
“Huh, lama-lama aku pusing lihat kamu seperti ini Anum” Anum menghentikan langkahnya, netranya menatap wajah Husna yang sudah masam karena jengah melihat Anum.
“Aku gugup Husna, cemas juga, overtinking juga, pokoknya semua deh” keluh Anum yang kini memilih duduk di sebelah Husna.
“Karena pesan dari Mas Adnan tadi?” Anum menganguk, kemudian mendesah kasar dan merebahkan dirinya pada tempat tidur Husna yang saat ini ia singgahi. Anum sudah menceritakan semuanya pada Husna dan Bu Halimah, itupun karena ia dipaksa oleh Husna untuk bercerita.
“Ketemu pamannya aja udah menegangkan gitu apalagi ketemu seluruh keluarga Mas Adnan, SELURUHNYA Husna” ucap Anum yang merentangkan tangannya untuk menggambarkan seberapa banyak orang yang akan ia temui di sana nanti.
“Yaudah sih, let it flow aja” Anum hanya menghela nafas saat Husna mengatakan itu.
Kemudian Husna berbaring di sebelah Anum.
“Aku dulu juga sama gugupnya denganmu, tapi, ketakutan itu hanya sebuah ketakutan saja” Anum menoleh pada Husna yang menatap langit kamar mereka.
“Kita tidak pernah bisa menduga masa depan Anum, yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa, selebihnya, biarkah kuasa Allah yang bekerja” Anum membenarkan perkataan Husna dalam hati, tapi entah kenapa rasa khawatir ini tidak bisa menghilang dari hatinya.
Husna menghadap ke arah Anum, ia tersenyum, sejurus kemudian rasa harunya merebak ke permukaan, air mata Husna sudah terkumpul di pelupuk matanya. Hal ini membuat Anum bingung sekaligus terkejut.
“Kamu kenapa?” Husna hanya menggeleng pelan, air mata yang sejak tadi telah terkumpul sudah tumpah.
“Aku gak nyangka setelah ini kita akan berpisah, Num, Aku akan menikah, dan Insya Allah kamu akan menyusul setelahnya” Anum baru menyadari hal itu. Mengingat mereka selalu menghabiskan waktu bersama sejak kecil, ada banyak memori baik dan buruk yang terkenang di benak keduanya.
Anum memeluk Husna dengan penuh kasih, ia juga sedih mengingat hal itu, tapi memang harusnya seperti itu kan? Mereka akan memilih jalan mereka masing-masing.
“Kita masih bisa ketemu kok, jangan sedih ya” hibur Anum yang langsung di angguki Husna.
__ADS_1
“Sorry ya, maklum lagi ‘dapet’ jadi moody-an gini” Husna melonggarkan pelukannya pada Anum kemudian menghapus air matanya sendiri. Anum hanya tersenyum.
“Nduk ad.. loh kok kalian sedih begini? Ada apa?” tanya Bu Halimah khawatir sembari menatap kedua putrinya bergantian.
“Gak papa bu, maklum lagi dapet, jadi sensian gini hehe” jelas Husna sembari terkekeh, Bu Halimah hanya menggeleng pelan
“Nduk ada Nak Adnan di depan, katanya sudah janjian dengan kamu” ucap Bu Halimah pada Anum yang membuat Anum terperanjat dan segera memeriksa ponselnya.
Benar saja beberapa menit yang lalu Adnan memberitau Anum jika acara keluarganya dimajukan. Bahu Anum merosot, wajahnya pucat, ia bahkan belum menyiapkan apapun.
Bu Halimah dan Husna yang melihat itu hanya saling pandang.
“Kenapa sih Num?” Anum memandang Husna yang bertanya, kemudian beralih pada Bu Halimah yang tidak jauh dari mereka berdua.
“Pertemuan keluarga Mas Adnan di majukan” keluh Anum, sedangkan Bu Halimah dan Husna hanya menatap wanita di hadapannya dengan menahan tawa. Pasalnya, Anum seperti gugup sekali hendak bertemu dengan keluarga Adnan.
“Yaudah sana, siap-siap, kalau kamu hanya menatap HP mu seperti itu terus nanti bisa-bisa keluarga Adnan yang akan kesini” goda Bu Halimah, hal tiu membuat Anum menggeleng cepat dan segera bersiap-siap. Sedangkan Husna dan Bu Halimah langsung menyemburkan tawa saat Anum sudah benar-benar masuk ke kamar mandi.
Adnan akan memberikan gadisnya ini waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Mobil Adnan sudah berada di lingkungan puncak, tempat vila itu berada. Begitu banyak tanaman hijau dan pepohonan rindang yang menyambut mereka sepanjang perjalanan. Hingga dapat Anum lihat ada rumah yang megah di depan sana, Anum menghela nafas panjang ketika ternyata mobil Adnan memasuki gerbangnya.
“Rileks aja Anum, mereka gak akan berani macam-macam sama kamu, dan satu lagi, apapun yang terjadi kamu harus bercerita padaku” Anum hanya mengangguk pelan.
“Kita akan tetap menikah dengan atau tanpa restu mereka, kamu sudah mendapatkan restu orangtuaku” Anum memandang Adnan yang tetap menghadap ke arah depan tepat dimana pintu utama berada.
Sebenarnya setelah bertemu dengan Seno waktu itu, Adnan sudah mengatakan hal ini, tapi Anum tidak sepenuhnya menyetujui gagasan ini, Anum ingin rumah tangganya jauh dari masalah, maka untuk menghindari itu setidaknya ia tidak mau berpangku tangan dan berpasrah pada Adnan saja, ia harus ambil andil juga. Salah satunya dengan mengantongi restu dari keluarga Adnan.
“Kamu sudah yakin untuk menikah denganku kan Anum?”
__ADS_1
“Sudah Mas” senyum Adnan merekah ia segera turun dari mobil diikuti Anum.
Saat memasuki rumah itu, Adnan dan Anum langsung menjadi sumber perhatian.
“Assalamu’alaikum” salam Anum sembari mengangguk sopan pada sepasang kakek dan nenek.
“Waalaikumsalam” hati Anum lega saat salah satu dari mereka menjawab salam dan tersenyum tulus ke arahnya.
Adnan menuntun Anum untuk menghadap kakek dan neneknya. Setelah dekat Adnan langsung mencium tangan keduanya dengan sopan, Anum pun melakukan hal yang sama.
Tangan Anum masih bertaut dengan nenek Adnan yang kembali tersenyum sembari mengusap surai gadis pujaan.
“Namanya siapa cah ayu?”
Anum sedikit tersipu, “Nama saya Anum Nek” beliau hanya mengangguk.
Kemudian mereka berdua duduk berdampingan dihadapan pasang mata yang tak berhenti menelisik mereka, lebih tepatnya Anum.
Adnan menggenggam tangan anum yang terlihat gugup, “Tenanglah, ada aku” sebuah kalimat penenang itu nampak tidak berefek pada Anum.
Anum mengencangkan genggaman tangannya pada Adnan, berharap kegelisahannya bisa memudar, semua yang ada dalam ruangan melihat semuanya.
Melihat bagaimana dua sejoli muda itu saling menenangkan demi mendapat persetujuan keluarga.
“Inikah wanita yang lebih kamu pilih daripada wanita yang kami pilihkan untukmu, Adnan?” suara itu tegas, ditambah dengan wajah yang datar mengesankan sisi tidak suka dari Barata, kakek Adnan.
“Iya kek” rahang Barata mengeras, ia tidak suka dengan jawaban Adnan. Ningrum, nenek Adnan mengusap lengan suaminya dengan lembut.
“Bagaimana jika kami tidak merestui kalian?”ucap Barata kemudian. Wajah Anum langsung pucat.
__ADS_1
TBC