
“Ndah, udah dong, ini Adnan udah kembali ke mode kalem loh, jangan mancing di air keruh” Indah hanya menatap Farhat dengan datar.
Farhat sudah muak dengan drama roman picisan seperti ini. Ia dari tadi diam bukan berarti rela sahabatnya dipermainkan seperti ini.
“Anum gak ada disini” Indah kembali mengulangi perkataannya sembari menatap tiga pria yang menatapnya tajam.
“Terus Anum kemana dong? Jelas-jelas rekaman cctv nangkap Anum masuk mobil elu” kali Baihaqi sudah kehilangan kesabarannya.
“Memang Anum kemarin bersamaku, tapi sekarang dia tidak ada di sini” ketiga pria dewasa itu hanya menatap Indah dengan jengah.
“Lalu, Anum kemana?!” tanya ketiganya bersamaan.
“Rumah Kakek Barata” Baihaqi dan Farhat lega akan hal itu, tapi tidak dengan Adnan.
Setelah mengetahui itu semua Adnan segera berlari ke arah mobilnya meninggalkan dua sahabatnya dan Indah yang semakin terluka melihat kekhawatiran Adnan pada Anum, kemudian Adnan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasa, karena Adnan tidak tau apa saja yang akan keluarganya lakukan pada Anum di sana, tanpa dirinya.
Di lain tempat seorang wanita termenung di pekarangan rumah yang sudah di sulap menjadi taman bunga yang indah dan harum.
Pikiran Anum terus tertuju dengan kejadian kemarin. Semua yang terjadi di luar expektasinya.
Helaan nafas halus keluar dari bibir mungil Anum. Tanpa Anum sadari ada Ningrum yang sejak tadi berada di dekatnya.
“Kamu tidak sakit hati dengan perlakuan Inggita kepadamu, kan Nak?” Anum yang sejak tadi merenung memandang wajah teduh Ningrum yang tiba-tiba di sampingnya.
“Tidak, Nek”
“Boleh Nenek Tau alasannya?” Anum hanya mengangguk sopan.
“Karena saya sadar, saya tidak bisa memaksakan opini seseorang, biarlah orang yang tidak suka dengan saya akan tetap tidak suka, tugas saya hanya melakukan semuanya dengan baik, hasil akhirnya saya serahkan pada yang Maha Kuasa” Ningrum tersenyum mendengar jawaban Anum. Cucunya tidak salah pilih, batinnya.
“Anum?!” kedua wanita itu menoleh pada sumber suara, Adnan, dengan tampang lusuhnya.
“Adnan? Kapan datang, Nak?” tanya Ningrum dengan lembut, membuat Adnan tersadar bahwa Neneknya berada disana, segera ia menyalimi tangan sang Nenek.
“Baru saja Nek” jawab Adnan dengan mata yang tak lepas memandang Anum, melihatnya baik-baik saja sudah seperti menemukan oase bagi Adnan.
“Ya sudah kalian bicara dulu, Nenek mau ke dalam” ucap Ningrum yang langsung diangguki keduanya.
Keduanya diam saat Adnan duduk di bangku sebelah Anum.
“Mas, aku punya kabar gembira” Adnan menaikkan sebelah alisnya sembari menatap Anum yang berada di sebelahnya.
“Kenapa respon Mas hanya seperti itu? Mas, tidak ingin tau?” tanya Anum sembari terkekeh, untuk mencairkan suasana yang mendadak beku seperti saat ini.
__ADS_1
“Apa?” Tanya Adnan dengan nada malas, hal itu membuat Anum tertawa kecil.
“Kakek sudah merestui kita” ucap Anum kemudian setelah menyelesaikan tawanya.
Adnan mengerjapkan matanya pelan sembari menatapa objek yang berada di hadapannya, Anum. Masih mencari kebohongan di mata indah Anum, namun tidak ada yang bisa Adnan lihat selain ketulusan Anum.
“Kok responnya biasa aja Mas?” tanya Anum kesal, ia berpikir Adnan akan lompat-lompat kegirangan, namun tidak.
“Yang tadi beneran?” tanya Adnan memastikan tanpa memperdulikan kekesalan Anum yang disebabkan olehnya.
“Iya dong, bohong itu bukan style Anum, ya, Mas” ucap Anum jumawa, sepersekian detik Adnan kembali terdiam, mencerna apa yang Anum katakan.
“Beneran?!” Tanya Adnan sekali lagi, Anum hanya mengangguk sembari tersenyum pada Adnan.
Setelahnya Adnan tak bisa meredam kegembiraannya, hampir saja ia memeluk Anum yang berada di sebelahnya, namun Anum segera menghindar. Kabar baiknya, meski Anum juga merasakan hal yang sama, tapi batasan mereka tetap ada pada nalarnya.
“Maaf, Mas kelepasan, terlalu gembira” ucap Adnan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, egonya sedikit tersentil saat Anum menolak pelukannya, sama seperti saat Anum tidak membalas uluran tangannya saat pertama kali mereka bertemu.
Tapi, Adnan sadar akan alasan Anum melakukan itu, dan itu benar. Oleh karenanya Adnan tidak terlalu mempermasalahkan, justru merasa bersalah dan takut jika hadirnya membuat Anum merasa tidak nyaman.
Sementara Anum, ia hanya bisa mengangguk malu, kemudian menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya, rasa hangat menyusup pada sanubarinya saat Adnan mengubah panggilannya menjadi ‘Mas’ itu perubahan manis yang membuat jantung Anum berdetak tidak normal.
“Apa saja yang terjadi kemarin? Mas harap kamu tidak menutupi apapun dari Mas ya, Anum” tanya Adnan kemudian, setelah mereka sama-sama diam.
Indah mengendarai mobilnya dengan santai setelah Anum menyetujui untuk bicara empat mata di tempat yang nyaman menurut Indah.
Hingga mobilnya memasuki pekarangan rumah yang tak kalah besar dengan vila keluarga Adnan kemarin.
Anum turun dari mobil saat Indah mengajaknya untuk turun.
“Indah, Ya Ampun, lama banget kita gak ketemu tante kangen banget” ucap Inggita yang langsung berhambur ke arah Indah saat melihat dirinya.
“Iya, tante, maaf Indah baru sempat berkunjung” Inggita langsung membelai puncak kepala Indah dengan sayang. Wanita itu langsung merangkul Indah masuk tanpa memeperdulikan Anum yang sejak tadi berada di sana, bersama Indah.
Kedatangan keduanya di sambut hangat, meski sepertinya hanya Indah yang mendapat perlakuan manis dari Tante Adnan.
“Apa yang membuat kalian datang bersama?” tanya Barata to the point.
“Saya ingin mengakhiri pertunangan saya dengan Adnan, Kek” semua orang disana terkejut, terutama Anum, ia tidak menyangka akan semudah ini membujuk Indah.
“Indah, kamu apa-apaan sih, katanya kamu cinta Adnan, perjuangin dong?!” seru Inggita pada Indah yang hanya menggeleng pelan dan menatapnya sendu.
“Mbak Indah yakin?” tanya Anum berhati-hati, Indah hanya mengangguk tanpa memandang Anum hatinya masih belum sekuat itu untuk bisa melihat wajah saingannya sendiri. Untuk sementara ini yang terpikirkan oleh Indah.
__ADS_1
“Baiklah jika itu keputusanmu” ucap Barata kemudian.
Indah mengangguk sopan, kemudian ia pamit undur diri dan sempat berpelukan dengan Anum.
“Semudah itu?!!” tanya Adnan histeris, Anum mengangguk sembari tertawa kecil saat mendengar respon Adnan.
“Terimakasih ya Anum” ucap Adnan kemudian, lagi-lagi Anum hanya mengangguk.
Ingatan Anum tertuju pada moment saat indah memeluknya, Anum ingat jelas, perkataan Indah saat itu.
“Jika sekali saja Mas Adnan tidak bahagia dan aku melihat celah itu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan”
Anum juga tak bisa melupakan rasa tidak suka Inggita padanya, jika mengingat itu hati Anum terasa nyeri. Tiba-tiba wajahnya berubah sendu, dan Adnan menyadari perubahan itu.
“Ini pasti gara-gara kamu! Ponakanku pasti udah kamu guna-guna, ya kan?!” ingin rasanya Anum menangis saat itu juga memang apa salahnya jika ia menerima pinangan Adnan, tapi rasa sedih itu ia tepis jauh-jauh.
“Inggita, cukup, jangan melampaui batas, kamu tidak bisa terus menerus memaksakan kehendakmu pada seseorang” Ucap barata dengan tegas. Setelahnya Inggita hanya bisa berlalu dari tempat itu sembari menatap Anum dengan sinis.
“Maafkan, Tante Inggita dan keluargaku yang lain ya, Anum?” ucap Adnan kemudian.
“Gak papa, Mas” jawab Anum. Adnan menerawang ke depan, wajah sedih Anum tidak bisa membohonginya, pasti ada yang sangat menyakiti Anum, tapi perempuan ini masih enggan bercerita padanya.
“Hanya itu cerita kemarin?” tanya Adnan memastikan.
“Iya, hanya itu” jawab Anum singkat, biarlah hal yang tidak menyenangkan tersimpan dalam benaknya saja, Adnan tak perlu tau.
“Kemarin kamu menghilang lama sekali Anum, dan kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?”
“Iya, maaf, ponselku mati daya Mas” ingin sekali Adnan tidak mempercayai itu, tapi untuk mengetahui sesuatu tidak boleh terburu-buru, bukan? Kali ini Adnan memilih untuk diam.
“Jangan seperti itu lagi ya, Anum, bukan tidak mempercayaimu untuk mengambil keputusan, tapi kamu belum mengenal betul lingkungan Mas seperti apa” Anum kembali diam, ia tau ini adalah tindakan gegabah dan tanpa perhitungan, tapi, Anum hanya berpikir jika ia harus membantu Adnan menyelesaikan masalah mereka.
“Mas gak marah Anum, Mas hanya khawatir jika ada yang akan menyakitimu di belakang Mas” Anum memandang Adnan yang juga memandangnya, kemudian Anum mengangguk sembari tersenyum manis.
“Kita jadi nikah nih yeeee” goda Adnan pada Anum, tepatnya menggoda dirinya sendiri yang masih tidak percaya bahwa prosesnya akan semudah ini.
“Memangnya, Mas maunya tidak jadi?!” tanya Anum dengan sengit, Adnan menggigit lidahnya sendiri, ia sudah salah bicara. Kemudian Adnan kembali menampakkan senyum lima jarinya.
“Nikah besok saja yuk, Anum”
“Kok, gitu?!”
“Mas, udah gak kuat pengen peluk kamu” Anum memalingkan mukanya yang kembali memanas karena perkataan Adnan.
__ADS_1
TBC