Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 20


__ADS_3

Anum terbangun dengan sinar matahari yang mulai mengintip dari balik tirai kamar, netranya membola saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 6 pagi, ia kesiangan solat shubuh. Saat hendak bangkit, Anum baru sadar ada tangan yang melilit pinggangnya dengan posesif.


Seseorang yang telah menjadi suaminya sejak tiga hari lalu.


Adnan.


Anum yang awalnya hendak bergegas mengambil wudhu tiba-tiba batal karena wajah damai Adnan yang memiliki pesona luar biasa,membuatnya bertahan sejenak untuk menikmati anugrah yang Tuhan berikan padanya.


Wajah itu, memiliki hidung yang mancung, mata yang bisa memancarkan kelembutan saat si empu sedang dalam mode kalem, dan kembali tajam ketika ada hal yang tidak ia sukai.


Perlahan tangan Anum bergerak menyentuh alis tebal Adnan, jangan lupakan juga bulu mata Adnan yang lentik, semua terlihat sempurna.


Tangan Anum berpindah pada rahang Adnan, hal yang paling membuat Anum terpana pada sosok ini sejak pertama kali bertemu.


“Mmmhhh” erang Adnan saat ia merasakan sentuhan-sentuhan halus yang Anum ciptakan.


Gerakan Anum terhenti dan segera menjauhkan tangannya.


Ia tidak mau tertangkap basah sedang mengamati wajah tampan Adnan, meski kenyataanya memang begitu.


Grep!


Anum terlambat, tangan mungil itu telah berada dalam genggaman Adnan yang kemudian kembali meletakkannya pada tempat semula.


“Pegang aja sayang, ini semua punya kamu” ucap Adnan dengan suara seraknya, meski sudah jadi suami istri yang sesungguhnya, Anum masih belum terbiasa dengan keintiman mereka.


“U-udah, Mas, aku mau ke kamar mandi, udah siang” cicit Anum pelan sembari perlahan menormalkan jantungnya yang berdetak kencang saat ia dekat dengan Adnan seperti saat ini.


Perlahan Adnan membuka matanya, menengok jam dinding sekilas kemudian kembali menatap Anum yang sudah setengah duduk dengan tatapan yang sayu.


“Maaf ya, Mas bikin kita kesiangan lagi” Anum hanya mengangguk sembari menunduk dalam. Ia malu sekali, perkataan Adnan tadi seolah memutar kejadian semalam.


Adnan bangkit dari tidurnya, jemarinya menyentuh dagu Anum perlahan, membuat wajah itu menatapnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu selalu menunduk seperti itu? Mas suka melihat rona merah di pipimu saat kamu sedang tersipu” tangan bebas Adnan membelai lembut pipi kemerahan itu, bagi Adnan, kecantikan Anum bertambah berkali-kali lipat saat dia sedang tersipu seperti saat ini.


Dengan reflek kepala Anum menggeleng pelan, hal itu membuat Adnan menaikkan sebelah alisnya dengan tak suka sekaligus bingung.


“Tidak boleh?” tanya Adnan singkat. Mata Anum membola, karena ia juga bingung dengan dirinya sendiri.


Adnan melepaskan tangannya yang berada di dagu Anum.


“Tidak boleh, Anum?” tanya Adnan sekali lagi.


“Bu-bukan, bukan seperti itu Mas” lagi, Adnan menaikkan alisnya, menuntut jawaban dari Anum.


“A-aku, aku cuman, cu-cuman, gugup” setelah mengatakan itu Anum kembali menunduk, mati-matian Adnan menahan tawanya, dalam hati ia bersyukur, beruntung sekali memiliki istri yang polos seperti Anum.


Hanya sepersekian detik, setelahnya Anum tersadar akan sesuatu.


“Ohh, Astaghfirullah, udah setengah tujuh, Mas” pekik Anum, membuat Adnan juga menyadari kesalahan mereka.


Seakan tiada waktu lain, Adnan selalu mengikuti kemanapun Anum pergi, seperti saat ini, Anum yang sedang sibuk menumis sayur harus terganggu karena Adnan memeluknya dari belakang.


Adnan terus menerus menghirup aroma tubuh Anum yang sudah seperti candu baginya.


Sesekali Adnan meniup leher wanita itu, membuat si empu kegelian.


“Mas, jangan ganggu, aku mau masak dulu, oke?” tawar Anum yang hanya didiamkan Adnan, tapi aksi pria itu semakin menjadi, bukannya diam Adnan malah memilih untuk mematikan kompor dan membalik tubuh Anum agar menghadapnya.


Karena terkejut, Anum lebih memilih memukul dada bidang Adnan yang malah membuat si empu tertawa melihat respon Anum.


“Kok mukul sih? Kita masih pengantin baru loh, kamu udah KDRT aja, cium kek apa kek, biar romantis gitu” ucap Adnan di sela tawanya dengan tangan yang mengunci Anum dalam pelukannya.


“Selain keromantisan kita juga butuh makan Mas, biar rumah tangga kita awet!” sungutnya membuat Adnan terdiam seketika, namun setelah ia paham yang Anum maksud tawa Adnan kembali menguar ke udara.


Dengan kesal Anum melepas tangan Adnan yang sejak tadi berada di pinggangnya, kemudian kembali beralih pada kompor yang Adnan matikan secara sepihak.

__ADS_1


Tapi Adnan yang tidak terima diduakan dengan kompor kembali mensabotase diri Anum, kali ini bukan memelukanya, tapi memanggul Anum seperti karung beras yang membuat wanita itu memekik kaget karenanya.


Saat tiba di sofa ruang tengah, Adnan merebahkan Anum dengan hati-hati.


“Udah kayak beras aja, pake dipanggul segala” ucap Anum kesal, sementara Adnan, ia kembali tertawa, menikah dengan Anum sepertinya akan membuatnya awet muda karena selalu tertawa.


“Kamunya bandel sih” mata Anum membelalak tidak terima.


“Aku nih tadi mau masak lohh, bukan mau ngapa-ngapain” sekali lagi, Adnan kembali tertawa, hal itu membuat Anum semakin kesal dan duduk memunggungi Adnan.


“Tapi Mas maunya kamu tetep disini aja, bareng Mas, urusan masak dan beres-beres rumah udah ada orang yang Mas tugasin untuk itu, dan orang itu bukan kamu” Anum terkejut, perlahan ia membalik badannya menghadap Adnan.


“Tugas kamu cuma terus suport dan layanin Mas, aja” tambah Adnan kemudian.


“Emangnya Mas gak mau makan masakan aku? Gak mau ngerasain cinta aku sampe ke dalem organnya Mas juga? Aku tuh mau nyentuh diri Mas sampe ke dalem-dalemnya juga, jadi aku mau masak biar lambung Mas kebagian cinta aku juga” jelas Anum panjang lebar, yang ia mau hanya satu, memasak untuk Adnan, tidak masalah jika harus menggunakan kosa kata yang lebay, asal ia boleh memasak, titik!


“Segitu cintanya kamu sama Mas?” tanya Adnan tak percaya, lebih tepatnya bukan tak percaya jika Anum mencintainya, hanya saja, mendapat pernyataan seromantis itu adalah hal yang baru bagi Adnan.


“Iya, cinta banget, boleh ya aku masak?” ucap Anum dengan wajah semanis mungkin, tak lupa tangannya yang turut memprovokasi Adnan dengan bergerak zigzag pada dada bidang Adnan.


“Yaudah boleh” putus Adnan kemudian, karena terlalu gembira Anum langsung memeluk Adnan.


“Makasih Mas, aku masak dulu ya, aku jamin masakanku gak bakal mengecewakan” pamit Anum setelah melepas pelukan mereka dan segera bangkit untuk kembali ke dapur, namun pergelangan tangannya kembali ditarik Adnan yang membuatnya kembali duduk, kali ini ia duduk di pangkuan Adnan, dengan jarak yang sudah pasti sangat dekat Anum bisa melihat Adnan yang memandangnya dengan tatapan sayu.


Warning!


“Bagian tubuh Mas yang lain lagi butuh cinta kamu nih” ucap Adnan dengan nada rendah dan menggoda, Anum tau maksudnya, hal itu semakin membuatnya kelu dan tak bisa berkata apa-apa.


“Boleh ya?” tuntut Adnan lagi, tak ada pilihan lain Anum mengangguk pelan.


Tanpa aba-aba, Adnan kembali menggendong Anum dengan hati-hati menuju ke kamar mereka, dan memulai kegiatan yang akhir-akhir ini di gemari keduanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2