Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 9


__ADS_3

Hari ini tepat seminggu Anum dirawat di rumah sakit, seperti inilah hari-hari Anum, terduduk di ranjangnya sendirian sembari membaca buku saat Husna bekerja, sahabatnya itu akan berkunjung saat jam istirahat, dan akan menetap saat ia pulang kerja hingga esok harinya Husna berangkat dari kamar rawat Anum.


Kondisi kesehatan Anum sudah berangsur membaik, hanya tinggal satu kali observasi dan jika semuanya dikatakan baik, ia sudah diperbolehkan pulang, dengan catatan Anum harus lebih berhati-hati dengan kegiatan dan pola makannya.


Tidak ada yang mengetahui bahwa Anum dirawat di rumah sakit, ibu panti sekalipun, kedua sahabat itu sangat epic mengemas skenario sehingga tidak ada yang curiga dengan keduanya.


Kecuali satu orang.


Tok tok tok


Anum yang sedang melamun terkejut, lalu ia menengok jam dinding, jam 10 pagi, ini belum waktunya jam makan siang. Oh mungkin itu dokter atau suster yang akan visit ke kamarnya seperti biasa. Pikir Anum.


“Masuk dok”


Pintu yang sudah terbuka membuat Anum terperanjat saat mengenali wajah itu.


“Ternyata kamu benar Anum” Anum hanya tersenyum kaku saat Farhat sudah mengetahui keberadaannya.


“Selamat pagi dokter” Farhat mengangguk sopan dan tersenyum.


Anum juga ikut tersenyum, sesaat kemudian senyum Anum menghilang ketika melihat sesosok yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya berdiri tepat di belakang Farhat, menatap Anum dengan sendu.


“Selamat pagi Anum, saya masih ada pekerjaan, kalau begitu saya pamit dulu ya” pamit Farhat, sedangkan dua manusia itu masih saling diam. Hingga saat Farhat sudah menghilang, Adnan yang mematung memberanikan diri untuk melangkah mendekati pintu rawat Anum.


“Boleh saya masuk?” kini giliran Anum yang mengangguk. Adnan melenggang masuk dan duduk di sebelah brankar Anum.


Tidak ada yang bisa Adnan katakan saat ini, ia tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan Anum kali ini dengan melihatnya terduduk lemah di brankar rumah sakit seperti ini.


Sepulangnya dari luar negri, orang pertama yang ia cari adalah Anum, di rumah singgah tidak ada, bahkan kata Anak-anak disana Anum sudah tidak mengajar beberapa hari karena ada keperluan. Tanpa pikir panjang Adnan langsung bergegas ke Panti tempat Anum tinggal, hasilnya pun sama, Anum tidak ada.


Hingga berhari-hari Adnan hidup dengan tanya, tentang keberadaan Anum, tiada hari yang ia lalui tanpa Anum di benaknya. Rasa takut kehilangan bahkan sebelum memiliki menghantui Adnan, ia takut Anum pergi meninggalkannya sebelum wanita itu mengetahui tentang perasaannya.


“Mas Adnan, apa kabar? Lama ya kita tidak bertemu” tanya Anum basa-basi, ia bingung harus apa saat hanya berdua dengan Adnan yang diam sejak ia berada di ruangan Anum.


“Baik, bagaimana denganmu Anum?” Anum tersenyum, senyumnya menular, membuat Adnan juga tersenyum.

__ADS_1


“Saya juga baik, Mas, Alhamdulillah” Adnan menatap Anum dalam.


“Tidak ada orang yang baik-baik saja saat mereka ada di rumah sakit Anum” sanggah Adnan kesal, ia sangat khawatir dengan Anum, setelah lama tak bertemu, bukan pertemuan seperti ini yang ia harapkan.


Anum tertawa, wajah sebal Adnan terlihat lucu baginya.


“Setidaknya saya masih hidup, Mas, banyak loh yang sakitnya lebih parah dari saya” Anum berkelakar lagi setelah menuntaskan tawanya mecoba mencairkan suasana beku beberapa waktu lalu. Adnan bertambah kesal dibuatnya.


“Tidak ada yang lucu, Anum” setelah Adnan mengatakan itu Anum terdiam, ia tau bahwa saat ini Adnan sedang tidak ingin bercanda, itu terlihat dari wajahnya yang teramat serius.


Akhirnya mereka sama-sama diam kembali.


“Husna sangat rapat menyembunyikanmu ya, Anum?” Anum menunduk, menghindari tatap mata Adnan, itu permintaannya, bahkan ia dengan tegas meminta pada sahabatnya untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang keadaannya.


“Tidak ada yang mengetahui keberadaanmu, bahkan Husna saat itu berbohong padaku” Anum mengalihkan pandangannya.


“Saat Husna tertangkap basah oleh Farhat karena sering ke kamar ini, ia juga mengelak” Anum kembali memandang Adnan.


“Kamu tau tidak Anum, Farhat, ia sampai menjadi detektif dadakan demi tau siapa yang selalu Husna kunjungi di kamar ini” ucap Adnan dengan nada datar, pandangannya menerawang, namun kemudian kembali menatap Anum yang kini juga sedang menatap Adnan.


Pikiran Anum bercabang, ia seperti mendengar Adnan menyebut dirinya ‘Aku’ padahal sebelumnya Adnan selalu menggunakan bahasa formal.


Dan apa tadi? Adnan mencarinya? Tapi mengapa?


Semua pertanyaan itu hanya berputar putar dalam benak Anum. Anum ingin mengetahui apa sebenarnya yang Adnan ingin katakan


“Bahkan dokter yang menanganimu juga tidak mau memberi tahu tentang kondisimu” Adnan tetap menatap Anum yang kini bisa menangkap raut khawatir Adnan.


Kembali mimpi tentang Adnan menari dengan indah dalam benak Anum.


Anum terkesiap saat tangan Adnan menggenggam tangan Anum, tangannya hangat, sama seperti pada mimpi Anum beberapa hari lalu.


“Kenapa Anum? Kenapa kamu seperti memberiku penghalang, memberiku jarak?”


Segera Anum melepaskan tangan Adnan.

__ADS_1


“Maaf, Anum, Aku terbawa suasana” sesal Adnan. Anum hanya mengangguk, kemudian menunduk, pipinya memanas, sudah dapat dipastikan pipinya sudah memerah karena ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan lelaki, bahkan sampai berpegangan tangan dengan lelaki yang bukan mahramnnya, ini pertama kalinya.


Canggung. Keduanya kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing.


“Tapi kenapa Mas mau tau keadaanku?” Adnan langsung menatap Anum kembali.


“Jadi aku tidak berhak tau?” Anum bisa melihat tatapan kekecewaan itu, Anum tidak paham dengan sorot kecewa itu.


“Oh iya, aku melupakan satu hal, aku bukan orang yang penting bagimu, begitukan Anum?” lidah Anum kelu, ia merasa Adnan tersinggung dengan perkataannya.


“Bu-bukan seperti itu, tolong jangan salah paham Mas, maaf jika perkataan saya menyinggung”


“Tidak kamu tidak salah, aku agak sensitif akhir-akhir ini, aku yang minta maaf”


Anum semakin menunduk, ia tak tau harus berbuat apa.


“Kalau boleh tau kamu sakit apa?”


Anum menengok ke arah Adnan sekilas, lalu beralih pandang saat bersitatap dengan Adnan.


“Hanya kelelahan Mas, biasa kelelahan dan telat makan kan menjadi perpaduan yang pas sebagai penyebab penyakit kan?” bohong Anum, hati turut lega saat Adnan mengangguk paham.


“Kalau begitu jaga kesehatan Num, jangan sakit seperti ini” ujar Adnan dengan khawatir.


“Ini sudah sering terjadi padaku Mas, jadi aku sudah terbiasa” Anum mencoba berkelakar untuk mencairkan suasana, tapi semuanya sirna saat ia mendapat pandangan tidak suka dari Adnan.


“Mulai saat ini jangan dibiasakan” ucap Adnan tegas.


“Kenapa?”


Adnan memandang wanita dihadapannya tidak percaya, mengapa harus bertanya lagi?


“Aku khawatir Anum?!”


TBC

__ADS_1


__ADS_2