
Anum speechless.
Namun kakinya tetap mengikuti langkah Adnan yang menyusuri beberapa makam. Beberapa waktu lalu Adnan baru memberitahu jika kedua orangtuanya sudah tiada. Setelah insiden yang membuat mereka terdiam di sisa perjalanan mereka.
Anum ingin kesal karena merasa di permainkan, sekaligus sedih pada pria yang bernasib sama dengannya walapun berbeda kasus. Namun jika dipikir kembali ini bukan sepenuhnya salah Adnan, ia juga tak pernah menanyakan hal ini.
Tiba-tiba Adnan menghentikan langkahnya membuat Anum juga berhenti seketika, Anum bisa melihat dua makam yang terawat lengkap bersama nisan yang bertuliskan nama seseorang yang di makamkan di tempat itu.
Tangan Adnan menggenggam tangan menuntun gadis pujaannya mendekat ke arah makam, kali ini Anum tidak menolak, situasi ini membuat rasa empati menguasai dirinya.
“Duduk, Anum” ajak Adnan yang kini sudah berjongkok di tepi salah satu makam, Anum menurut, mengikuti apa yang Adnan lakukan.
Setelah mengucap salam, Anum berdo’a dengan khusyuk begitu pula dengan Adnan.
Ada banyak do’a dan kata maaf yang Adnan lontarkan, ia selalu lemah dan menangis saat berhadapan dengan makam kedua orang tuanya.
Mereka meninggalkan Adnan saat ia masih belum bisa apa-apa, masih belum membahagiakan Mama dan Papa secara utuh.
“Pa, Ma, Adnan datang, kali ini Adnan tidak sendiri” Adnan menoleh pada Anum yang berada di sampingnya sembari tersenyum, namun Anum bisa melihat bahwa air mata Adnan mengalir dari pelupuk matanya.
“Ini Anum, wanita yang akan Adnan pilih sebagai Istri Adnan, orang yang Adnan lihat sebelum dan sesudah tidur, orang yang bisa membuat Adnan ingat rumah seperti yang Papa dulu lakukan saat kita masih berkumpul bersama” Haru, itu yang di rasakan Anum, tidak pernah ia sangka akan bertemu dengan calon mertuanya dengan kondisi seperti ini.
Adnan kembali menggenggam tangan Anum.
“Wanita ini Adnan pilih karena Adnan yakin ia wanita yang tepat untuk Adnan, dengan izin Allah, dan restu dari Papa dan Mama tentunya, Adnan ingin menikahi Anum, menjadikan ia satu-satunya wanita yang Adnan cinta setelah mama, menjadikan ia ibu dari anak-anak Adnan kelak” rasa haru yang membuncah membuat keduanya meneteskan air mata.
“Adnan yakin Papa dan Mama akan bahagia sekali jika bertemu dengan Anum secara langsung, tolong restui kami, Pa, Ma”
Anum masih tak bisa berkata-kata. Angan-angan tentang bertemu mertua yang overprotektiv atau galak hilang, yang ia rasakan saat ini hanya ingin bertemu kedua orang tua Adnan secara langsung, meski ia tak tau apa yang akan terjadi setelahnya, namun itu sungguh tak mungkin. Yang sudah meninggal tidak mungkin kembali.
__ADS_1
Setelahnya Adnan melepaskan genggaman tangannya, menghapus air matanya, kemudian tersenyum senang.
“Anum ini cantik lho, pintar masak, telaten merawat anak, persis seperti menantu idaman yang Mama impikan untuk bisa mendampingi Adnan dulu” mau tak mau Anum juga tersenyum, wajahnya sudah merona, ingin sekali memukul Adnan dengan slingbag yang ia bawa jika ia tidak berada di depan pusara kedua orangtua Adnan.
“Tuh, tuh, wajahnya merah cuman karena Adnan ngomong begitu”
“Mas, ihhh?!” Adnan tertawa, Anum pun ikut tertawa.
“Sudah dengar kan Pa, Ma, suaranya merdu sekali padahal ia sedang merajuk” Anum tak tahan, tangannya bergerak mencubit lengan Adnan dengan gemas.
“Adu duh, sakit Anum”
“Biarin, salah siapa dari tadi resek banget jadi orang” ketus Anum, bukannya kesal, tawa Adnan semakin kencang dari sebelumnya.
Hingga sebuah suara membuat Adnan bungkam.
Sesaat kemudian Adnan langsung bangkit dari duduknya, tangannya menggandeng tangan Anum dan hendak pergi dari tempat itu tanpa menggubris perkataan Seno.
“Kak, lihat, selain bodoh anak kalian juga melupakan sopan santunnya pada yang lebih tua” Adnan menghentikan langkahnya, melepas genggaman tangannya kemudian berbalik menghadap Seno yang kini tertawa mengejek ke arahnya.
“Saya hanya akan menghormati orang yang juga menghargai saya, bukan untuk orang yang selalu menganggap saya remeh padahal ia juga bergantung pada saya” balas Adnan telak. Namun Seno tak gentar. Harga dirinya serasa di injak saat ia berhasil dikalahkan oleh keponakannya sendiri.
“Anak yang tidak bisa apa-apa seperti kamu minta dihargai??” Adnan hanya diam, ia tak menyukai berdebat dengan seseorang seperti ini.
Seno berjalan mendekati mereka, lebih tepatnya berjalan ke arah Anum, dengan sigap Adnan berdiri di hadapan Anum untuk menghalanginya mendekati Anum.
Seketika tawa Seno meledak, hal itu mengundang tanya pada Adnan dan Anum. Suasana sore kali ini semakin mencekam, jangan lupakan bahwa mereka masih berada di daerah pemakaman.
“Kau melindunginya sampai seperti itu, padahal aku hanya ingin mengenalnya” Adnan tak bergeming, Seno berdecih.
__ADS_1
“Baiklah, jangan harap setelah hari ini kau akan tenang, Adnan, aku akan mengungumkan hal ini pada keluarga besar” mata Anum membola, ia masih berlindung di belakang badan tegap Adnan.
“Silahkan saja”
“Kau melupakan sesuatu Adnan, keluarga besar yang ku maksud juga termasuk nenek dan kakekmu”
“Aku tak bisa membayangkan bagaimana responnya jika cucu kesayangan mereka yang terkenal patuh akan membangkang hanya karena seorang wanita” tambah Seno lagi. Setelahnya, ia pergi meninggalkan Adnan dan Anum.
“Mas” Adnan membalikkan badannya, karena hanyut dalam pikirannya Adnan sampai agak terlupa jika saat ini ia sedang bersama seseorang.
“Maafkan Aku Anum” hanya itu yang terucap, meski harusnya ada lebih dari banyak kata yang harus Adnan sampaikan.
“Gapapa, Mas, Gak perlu minta maaf, Mas gak salah kok” Adnan hanya mengangguk, tatapannya sendu.
“Ada banyak hal yang harusnya kamu tau tentang aku, Anum” Anum hanya menatap mata Adnan lekat.
“Tapi karena banyaknya hal itu, aku sampai tidak tau harus menyampaikannya dari mana terlebih dahulu” Anum tersenyum, ia mengerti, Adnan akan memberitahunya suatu saat nanti, mengenai kebingungannya, biarlah Adnan yang menjadi guide-nya dalam segala hal yang mungkin akan terjadi di masa depan.
Hanya satu hal yang Anum takutkan, restu dari keluarga Adnan yang sepertinya terlihat tidak mudah.
“Hal yang harus kamu pahami adalah aku tidak akan pernah mundur, apapun halangan di hadapan kita aku akan tetap maju jika kamu mau berada disampingku, kamu juga tidak gentar kan?” sejenak Anum memandangi wajah pria yang akan menjadi suaminya ini.
“Jika kita bersama kamu akan selalu bersamakudalam keadaan apapun kan?” tanya Adnan yang tak kunjung mendapat jawaban.
“Iya”
Sudah, Adnan hanya butuh jawaban itu, tidak ada lagi yang akan ia khawatirkan karena Anum bersedia berdiri di sampingnya kapanpun.
TBC
__ADS_1