Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 6


__ADS_3

Dengan kesal Adnan berjalan sembari menendang apapun yang ada di hadapannya, bayangan pulang dengan senyuman yang terukir indah di wajah tampan Adnan sirna sudah.


Dua kejadian menyebalkan terjadi bersamaan hari ini, hal itu sangat tidak disukainya. Tepat sebelum Adnan masuk ke dalam mobilnya, handphone-nya kembali berdering.


Farhat calling...


“Hei bro?!” sapa Farhat dari seberang sana dengan semangat


“Assalamualaikum, saudara Farhat” Adnan mengkoreksi sapaan yang seharusnya Farhat ucapkan padanya, lalu ikut tertawa saat mendengar tawa sahabatnya di seberang sana.


“Ane lupa kalau lagi telpon ustad, baiklah, Waalaikumsalam Ustad Adnan” goda Farhat yang membuat Adnan kembali tertawa.


“Ente sibuk gak? Pasti enggak dong ya, perusahaan juga punya nenek moyang sendiri, hahaha” Adnan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Untuk apa Farhat bertanya jika ia sendiri pula yang menjawabnya?


Mungkin ini yang dirasakan Anum saat Husna menggodanya. Ah! Anum lagi?!


“Hei?! Halo?!” Adnan berjengit kaget hingga menjauhkan ponselnya dari telinga.


“Gausah teriak, Far?!” Farhat hanya tertawa.


“Gimana? Sibuk gak?” desak Farhat, Adnan kembali menghela nafas pelan.


“Free”


“Nah, cocok! Ayo meet up, selagi Haqi juga senggang” Adnan kembali diam, menimbang apa ia pergi bersama sahabatnya saja? Harinya sudah hancur berantakan, mungkin bertemu sahabatnya bisa mengembalikan keceriaannya kembali. Pikir Adnan.


“Lama bener mikirnya, Boss?! Udah lama lho kita gak kumpul bareng” Adnan berdecak, sahabatnya yang satu ini cerewet sekali.


“Iya, bisa, ditempat biasa kan?” setelah mendapat jawaban dari sahabatnya Adnan langsung meluncur ke tempat biasa mereka bertemu.


Akhirnya Adnan menemukan satu hal yang menyenangkan di hari ini menggantikan dua kejadian yang menyebalkan bagi Adnan.


Setelah sampai, Farhat dan Baihaqi langsung melambaikan tangan kepada Adnan yang sedang mencari keberadaan para sahabatnya, mereka bertos dan berpelukan ala pria kemudian duduk ke tempat masing-masing.


“Wiihh, boss kita makin tamvan saja” Baihaqi menyenggol lengan Farhat untuk bersekongkol menggoda Adnan yang berada tepat di hadapan mereka.


“Kalian juga tampan kok, jangan merendah!” keduanya langsung tertawa mendengar jawaban ketus Adnan.

__ADS_1


“Masih belok ternyata dia” setelah mengatakan itu tawa Baihaqi kembali menguar begitu saja. Adnan hanya diam sembari meminum minuman yang di pesankan sahabatnya.


“Cari cewek napa Nan, biar gak disangka doyan pisang ente” kali ini, Farhat ikut-ikutan membully Adnan.


Bicara soal wanita, bayangan Anum yang sedang bercanda ria dengan pria asing kembali muncul di benaknya. Hal itu membuatnya sebal, di tambah lagi kedua sahabatnya yang terus saja menggodanya.


Adnan memang selalu menjadi kaum tertindas jika sedang bersama sahabatnya, namun ia tau jika sahabatnya sangat menyayanginya.


“Aku pergi aja lah, kalian menyebalkan” ucap Adnan dengan kesal, tapi dua sahabat sontoloyonya dengan sigap duduk mengapitnya membuat Adnan hanya bisa pasrah dan kembali duduk.


Mereka tertawa melihat Adnan yang hanya bisa pasrah.


Berteman sejak masih bayi membuat rasa persaudaraan mereka kental, mereka tau bahwa Adnan tidak sungguh-sungguh ingin pergi karena ini pertemuan yang sudah tertunda, setelah mereka harus merelakan pertemuan yang sudah terjadwal satu bulan sekali harus pupus karena kesibukan mereka masing-masing.


“Ada masalah Nan?” tanya Farhat saat menangkap gelagat aneh dari sahabatnya.


Biasanya Adnan akan kembali mengolok Farhat atau Baihaqi saat mereka menggodanya, tapi dari tadi sahabatnya ini hanya diam.


“Bukan masalah besar kok” jawab Ardan dengan tatapan kosongnya, kembali membayangkan Anum yang sedah tertawa ria dengan pria lain, sudah berkali-kali bayangan itu di tepisnya, bukannya hilang, bayangannya semakin jelas tergambar di depan kepalanya.


Adnan kembali menatap kedua sahabatnya itu, ingin sekali mengeluarkan unek-uneknya, tapi ia tidak tau harus memulainya dari mana, hingga hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Adnan.


“Gimana sih caranya ngelupain seseorang?” tanya Adnan setelah ia merasa yakin untuk bercerita.


Kedua sahabat itu saling tatap, seperti berbicara lewat tatapan mata, bahwa pasti sudah terjadi sesuatu pada sahabatnya setelah lama mereka tidak bertemu. Adnan, pria tangguh ini merupakan pria ter-rapuh yang pernah mereka kenal.


“Kenapa mau dilupain?” tanya Farhat penasaran, Adnan menatap wajah para sahabatnya seperti mencoba meyakinkan mereka berdua bahwa ia sulit mengungkapkan apa yang ada di kepalanya.


“Dia bikin aku aneh” Baihaqi menaikkan sebelah alisnya, ia bingung, Adnan ini termasuk tipe orang yang irit bicara, sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya setelah sekian lama tidak bertemu? Pikir Baihaqi.


“Aneh gimana sih?! Yang jelas dong kalo ngomong, wahai Adnan yang budiman!” Tanya Baihaqi dengan kesal. Kembali Adnan perhatikan dua wajah sahabatnya ini.


“Rasanya gak nyaman banget” ucap Adnan yang kembali mengundang tanya dari kedua sahabatnya.


“Kalo cuman bercanda, Ane tampol Ente ya Nan?!” kini Farhat juga mulai kesal, sedangkan Adnan memilih menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa kemudian mendongakkan kepala ke atas sambil berkali-kali menghela nafas. Hal itu membuat Farhat dan Baihaqi saling pandang.


“Buruan cerita gak Nan, jangan cari perkara ya Ente, bikin penasaran aja?!” kesal Farhat yang tak kunjung dapat kejelasan dari Adnan.

__ADS_1


Adnan kembali duduk tegap.


“Dadaku terasa sesak Far” Baihaqi dan Farhat kembali saling pandang.


“Heittsss, stop, Adnan yang budiman! Jangan bikin kita bingung, cerita yang jelas! Ente kenapa sih?!” ucap Farhat dengan menggebu-gebu, diikuti anggukan Baihaqi, tanda jika dia satu suara dengan Farhat.


“Dadaku rasanya seperti penuh” Farhat langsung duduk tegap. Nalurinya sebagai seorang dokter langsung muncul.


"Sejak kapan itu terjadi?"


“Sejak melihat Anum tertawa bersama lelaki lain” tambah Adnan lagi. Baihaqi dan Farhat menganga setelah mendengar pengakuan Adnan.


“Anum itu perempuan kan Far?” bisik Haqi pada Farhat dengan entengnnya.


Dengan rasa kesal yang membuncah Farhat memukul kepala Baihaqi sedikit keras, “Aduh apaan sih Far! Sakit tau?!”


“Yaiyalah cewek!” bentaknya dengan tidak sabaran, sementara Adnan yang masih hanyut dengan pikirannya tidak mendengar itu.


“Kenapa dia bisa bikin aku gak jelas gini ya?” tanya Adnan lagi pada kedua sahabatnya.


“Temen ente udah gila Qi!”


“Enggak, aku gak kenal dia siapa”


Ucap mereka berdua sembari menjauh dari Adnan yang masih murung karena bingung akan apa yang ia rasa.


“Aku gak suka dia sama orang lain, aku.. arrrghhh aku bener-bener kayak orang gila?!”


Farhat dan Baihaqi hanya bisa menatap iba pada sahabat bodohnya, “Kasihan ya, mana masih muda”


“Iya”


“Kenapa kalian diam aja, coba jelasin aku ini kenapa?!” tanya Adnan dengan tidak sabar, saat melihat sahabatnya yang hanya memandanginya seperti melihat ikan hias di aquarium.


“Ente udah gila!” jerit mereka serempak, tak peduli jika pengunjung lain menoleh ke arah mereka


TBC

__ADS_1


__ADS_2