
Perpustakaan besar kini menjadi tempat Isvara berada, dengan kesunyian yang membuat nyaman. Isvara kini tengah mencari bahan untuk tugas kuliah nya. Tumpukan buku yang berada di meja kini menjadi temannya.
Perpustakaan kampus gadis tersebut memang begitu besar dan luas, sangat nyaman sebenar nya untuk berlama-lama berada di sana. Namun memang nya siapa yang akan betah berlama-lama di sana selain para kutu buku ataupun orang yang tengah mencari bahan untuk tugas nya.
Bahkan saat ini pun kampus tersebut begitu sepi. Penjaga pun hanya berada di bagian depan saja. Isvara kini tampak begitu serius dengan buku di depannya. Hingga tak lama suara dari ponselnya mengganggu gadis tersebut.
Isvara segera melihat siapa yang menelponnya, nama ibu nya kini terlihat di sana. Isvara menghembuskan nafasnya kasar. Ia membiarkan sejenak telepon dari ibunya dan memilih untuk membereskan buku-buku nya. Karena sebentar lagi ia juga ada kelas.
“Lima belas menit lagi, cukup lah telfon sambil jalan,” ucap Isvara sambil melihat jam di tangannya. Setelah selesai dengan membereskan buku-buku nya. Isvara segera menghubungi ibunya.
Tak membutuhkan waktu lama ibu nya segera menjawab panggilan anaknya itu.
“Halo, kenapa Ma?” tanya Isvara setelah panggilannya dijawab oleh ibunya itu.
“Apa harus ada apa dulu baru bisa nelpon kamu?” tanya ibu nya yang membuat Isvara menghembuskan nafas nya sambil memutar bola matanya malas mendengar ucapan ibunya itu.
“Kamu kapan pulang? Jarak kampus sama rumah itu cuma satu jam perjalanan dan kamu pulang cuma satu tahun sekali?” tanya wanita paruh baya di seberang sana. Isvara hanya diam sambil menghentikan jalannya dan kini ia memilih untuk duduk di dekat jendela, memandang pemandangan di luar.
“Pulang juga ujung nya gak ada orang,” sinis Isvara dengan kekahannya.
“Ulang tahun Mama nanti pulang ya,” pinta ibu Isvara yang membuat Isvara menghembuskan nafas nya kasar.
“Liat nanti aja, aku lagi sibuk sekarang,” ucap Isvara yang membuat ibunya kini menghela nafas nya kasar.
Isvara sudah akan berjalan untuk pergi dari perpustakaan. Namun mata nya tak sengaja menatap seseorang yang kini tampak tengah berciuman di pojok ruangan. Isvara menyipitkan matanya merasa tak asing dengan laki-laki tersebut.
Dengan pelan Isvara kini berjalan menuju ke arah rak buku yang dekat dan bersembunyi di sana untuk melihat lebih jelas.
“Radeva?” tanya Isvara tak yakin karena ia belum melihat laki-laki tersebut dengan jelas. Pasalnya laki-laki tersebut kini membelakanginya. Bahkan ia tak bisa melihat wajah gadis yang tengah berciuman dengan laki-laki yang ia duga sebagai Radeva.
__ADS_1
“Apa itu beneran Radeva?” tanya Isvara dengan tak percaya. Ia benar-benar penasaran dengan laki-laki tersebut.
“Isvara, kamu denger Mama ngomong gak sih?” tanya Ibu Isvara dari seberang sana saat Isvara tak juga menjawab ucapannya.
“Udah dulu ya Ma, aku ada urusan,” ucap Isvara lalu mematikan panggilan teleponnya. Saat Isvara kembali membalikkan tubuhnya untuk melihat sepasang orang yang tengah berciuman itu, mereka mala sudah tidak ada. Isvara melihat ke sekitar mencari mereka, namun nihil ia malah tak melihat mereka.
“Apa beneran Radeva? Tuh cowok bener-bener bikin bingung,” ucap Isvara sambil menggelengkan kepala. Meskipun ia ingin tak mempercayai jika laki-laki tadi adalah Radeva. Namun dari arah belakang, laki-laki tersebut seperti Radeva.
“Kayaknya gue emang harus mempertahankan benteng gue lebih kuat lagi,” ucap Isvara dengan helaan nafas kasar nya. Ia pikir nantinya Radeva akan kembali membuat nya merasakan cinta dan percaya pada laki-laki namun sepertinya ia salah.
Tak ingin lagi membuang waktunya akhirnya Isvara memutuskan untuk segera menuju ke arah kelas studio nya karena.
***
Isvara kini berjalan menaiki tangga luar menuju ke arah rooftop untuk ikut bersama dengan sahabat nya yang kini tengah berada di rooftop untuk merokok. Tatapannya tak sengaja melihat ke arah laki-laki yang kini terlihat tengah berbincang dengan seorang gadis.
“Radeva?” pertanyaan itu terdengar di samping Isvara. Isvara yang terkejut segara menoleh ke arah samping nya. Hingga dapat ia lihat sahabat nya yang kini terlihat sedang tersenyum dengan misterius ke arah Isvara.
“Isvara? Sama Radeva?” tanya Reiha yang kali ini ikut berdiri di sisi Isvara dan ikut memperhatikan Radeva. Isvara yang mendengar ucapan kedua sahabat nya itu memutar bola matanya.
“Gue gak ada hubungan sama dia, kita cuma temen,” tegas Isvara. Kedua sahabat Isvara jelas tak percaya begitu saja, mereka dapat merasakan ada yang aneh dengan sahabat mereka.
“Temen?” tanya Reiha yang di jawab dengan anggukan oleh Isvara.
“Udah lah ayo naik, kalian mau ngerokok kan? Sandy sama Tara pasti udah nunggu,” ucap Isvara san sambil menggiring kedua sahabatnya itu untuk segera pergi dari sana. Kini mereka semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan sahabat nya itu.
Saat sampai di rooftop benar saja kini Sandy juga Tara sudah berada di sana sambil berbincang dengan seorang gadis yang mereka ketahui dari kelas Seni lukis.
“Mel, jauh banget main lo?” tanya Yeena pada gadis yang bernama Mela. Yeena memang lah orang yang mudah sekali dekat dengan orang lain, gadis tersebut juga memiliki relasi yang begitu luas.
__ADS_1
“Nih si Sandy yang manggil gue,” jelas Mela yang membuat tatapan ketiga gadis tersebut menatap Sandy dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Lagi nanya tentang Melody,” ucap Sandy yang membuat mereka terkejut. Mereka tak pernah tahu jika sahabat mereka itu menyukai gadis dari kelas Seni.
“Melody mana mau sama cecunguk modelan lo,” ucap Yeena dengan tawanya sambil menuju ke arah Tara lalu duduk di samping laki-laki itu dan mengangkat kakinya untuk ia selonjorkan dan menjadikan kaki Tara sebagai tumpuannya juga, hubungan persahabatan Yeena dan Tara memang begitu dekat karena mereka yang saling menjaga.
Bahkan jika tak mengetahui mereka bersahabat maka akan banyak yang mengatakan jika mereka menjalin hubungan.
“Gue ganteng gini, masak gak mau,” bangga Sandy yang membuat mereka kini tertawa mendengar nya.
“Tiga hari lagi ada hujan meteor. Kalian mau ikuta melihat hujan meteor di Bromo?” tanya Isvara yang kini tampak membuat sahabat mereka melihat ke arah Isvara dengan tatapan semangat namun juga penuh tanya.
“Sama siapa aja?” tanya Sandy sambil menatap Isvara dengan tatapan penuh tanya.
“Radeva sempet ngajakin,” ucap Isvara yang kini membuat sahabat mereka dengan kompak melihat ke arah Isvara dengan senyuman misterius nya sedangkan Isvara kini memutar bola matanya malas.
“Kita sempet ketemu dan bicara tentang benda langit, kalian tau sendiri gue suka benda langit. Nah kebetulan Dia sama sama teman-teman nya ada rencana ke bromo,” jelas Isvara tak ingin sahabat nya salah paham. Mereka mengerutkan kening nya namun tetap saja akhirnya mereka menganggukkan kepalanya meskipun mereka kini masih penasaran. Namun mengingat di sana masih ada Mela mereka akhirnya memilih untuk diam.
“Mel, lo bantu gue ajakin Melody dong,” pinta Sandy pada Melayang kini malah membuat sahabat mereka bergidik mendengar bagaimana nada bicara Sandy saat mengatakannya.
“Melody mana mau sih, dia kutu buku. Sibuk dia mah,” ucap Yeena yang di jawab dengan anggukan oleh sahabat nya yang lain.
“Gue gak ngomong sama lo, lagian noh temen lo juga kutu buka, mau ini dia,” ucap Sandy sambil melihat ke arah Isvara.
“Beda lah, gue kan emang suka benda langit. Kalo Melody ya mana kita tau,” ucap Isvara.
“Mel, please,” mohon Sandy yang membuat sahabat nya kini bergidik ngeri mendengar nya.
“Gue coba, tapi gue gak yakin dia mau,” ucap Mela yang Sandy balas dengan anggukan.
__ADS_1
***