
Isvara dan Radeva baru sampai di Villa saat hari sudah mulai menggelap. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 saat mereka sampai di Villa. Saat mereka baru memasuki Villa kini teman mereka ternyata tengah berkumpul di ruang tamu sambil bermain game. Namun hanya teman laki-laki mereka yang berada di sana.
“Akhirnya dateng juga, dari mana kalian?” tanya Varen dengan menaikkan sebelah alisnya melihat kedatangan Radeva juga Isvara.
Sandy yang baru saja datang dari arah dapur kini langsung berlari menuju ke arah Isvara saat melihat kedatangan sahabat nya itu.
“Lo dari mana?” tanya Sandy dengan begitu heboh nya sambil mengecek tubuh sahabat nya itu. Isvara yang melihat tingkah sahabat nya itu bahkan merasa jengah melihat nya.
“Gue abi menjelajahi bromo,” ucap Isvara dengan senyumannya yang membuats ahbaa nya itu kinimenghembuskan nafasnya kasar mendengar jawaban dari sahabatnya itu, Ia begitu khawatir terjadi sesuatu pada Isvara, melihat Isvara yang baik-baik saja kini ia bisa merasa lega.
“Padahal gue udah bilang kalau Isvara pasti aman,” ucap Zafer sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sandy. Laki-laki tersebut terlihat begitu posesif pada Isvara. Bahkan sedari mereka sampai Sandy menjadi begitu tak tenang.
“Emang gitu dia, setelan pabrik,” ucap Tara yang sudah terbiasa dengan sikap sahabat nya yang satu itu.
“Lo nemuinnya udah begitu?” tanya salah satu teman Radeva yang kini Tara balas dengan anggukan.
“Pas ketemu mereka berdua udah begitu gue nemuin nya,” jelas Tara sambil memainkan game di ponselnya. Teman mereka yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
“Lo udah makan?” tanya Sandy yang kini Isvara balas dengan anggukan.
“Udah tadi makan di luar, udah lo tenang aja pokok nya,” ucap Isvara dengan senyumannya pada Sandy yang kini menghembuskan nafasnya lega mendengar jawaban sahabat nya itu.
“Ya udah sana bersih-bersih terus abis itu langsung istirahat. Besok kita berangkat pagi,” pesan Sandy yang Isvara balas dengan anggukan dan senyumannya. Isvara mengelus pundak sahabat nya itu sebelum pergi dari sana.
Kini ia berjalan menuju ke arah kamar nya untuk segera membersihkan tubuh nya yang sudah terasa begitu lengket. Dan ia ingin segera beristirahat dengan nyaman karena sudah begitu lelah.
“Halo,” sapa Isvara saat membuka pintu dan bisa ia melihat kedua sahabat nya yang kini tampak sibuk melihat foto mereka. Sedangkan Melody dan sahabat nya sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.
Saat kedatangan Isvara, kini semua mata langsung tertuju pada gadis tersebut. Isvara kini menampilkan senyum nya lalu segera masuk dan meletakkan tas nya juga jaket yang ia gunakan.
“Yang abis kencan baru pulang nih?” goda Yeena dengan senyumannya yang kini membuat Isvara memutar bola matanya malas.
__ADS_1
“Kemana Ra?” tanya Reiha dengan menatap sahabat nya yang tengah membersihkan make up nya itu. Isvara menoleh ke arah sahabat nya.
“Pasir berbisik terus lanjut ke bukit teletubbies pake kuda. Abis itu ke pura leluhur bentar liat-liat, terus liat sunset di penanjakan satu, pulang deh. Tapi makan dulu,” jelas Isvara yang membuat sahabat nya kini tampak cemberut.
“Gue iri,” ucap nya dengan wajah cemberut nya.
“Kita tadi cuma ke pasir berbisik doang pake kuda juga. Zafer gak seru,” sungut Reiha yang di jawab dengan anggukan oleh Yeena kini mereka berdua berpelukan. Isvara yang melihat itu ikut cemberut.
“Sabar ya,” ucap nya lalu terkekeh yang membuat sahabat nya kini menatap nya dengan datar.
“Lo ada hubungan apa sama Radeva?” tanya Naura tiba-tiba. Isvara yang mendengar itu segera menoleh ke arah gadis tersebut sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Kita gak ada hubungan apa-apa, kenapa?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu jika kini sebenar nya gadis tersebut tengah menahan kekesalan padanya. Namun untuk kali ini ia tak akan peduli.
Melupakan semua kekesalannya tentang apa yang di lihat nya saat itu. Kini ia ingin bertarung jika memang itu yang dibutuhkan.
Naura baru saja akan menjawab ucapan Isvara, namun pintu kamar mereka diketuk oleh orang di luar sana.
“Jalan sekitaran sini gak?” tanya Tara saat baru saja datang sambil melihat ke arah ketiga sahabatnya.
“Gue belum mandi,” ucap Isvara sambil melihat sahabatnya itu.
“Buruan. Gue tunggu di bawah,” ucap Tara. Yang setelah nya segera pergi dan menutup pintu.
Isvara akhirnya memilih untuk segera menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Tak membutuhkan waktu lama untuk nya selesai. Kini gadis tersebut sudah terlihat begitu segar.
Setelah siap, ketiga perempuan tersebut segera berjalan ke arah bawah.
“Mau kemana?” tanya Radeva saat melihat Isvara dan sahabat nya kini tampak rapi dan menggunakan jaket.
“Va, gue sama mereka mau pergi bentar. Sama Sandy juga,” ucap Tara berpamitan.
__ADS_1
Tanpa memberikan penjelasan lagi pada Radeva kini ketiga perempuan tersebut segera pergi dari sana menuju ke arah mobil Sandy.
“Kita mau kemana?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya saat ini melihat Tara kini mulai melajukan mobil nya.
“Gue pengen yang anget-anget. Jagung bakar gitu,” ucap Tara yang membuat sahabat nya kini hanya menggelengkan kepalanya.
“Lo ngajak kita keluar cuma mau makan jagung bakar?” tanya Isvara dengan tatapan tak percaya nya pada sahabat nya itu yang kini hanya menjawab dengan anggukan dan cengiran. Isvara menghembuskan nafas nya kasar dan menyandarkan punggung nya.
“Bakso aja kali ya kalau gak ada jagung bakar,” pikir Tara.
“Dua-dua nya sih kalau bisa,” ucap Sandy dengan cengirannya.
“Bener juga lo,” ucap Tara lalu membuat kedua laki-laki tersebut tertawa. Sedangkan ketiga perempuan di belakang mereka kini dengan kompak memutar bola matanya malas mendengar ucapan kedua sahabat mereka itu.
“Ra, sama Radeva gak ada hubungan apa-apa kan?” Tanya Sandy dengan tatapan menyelidik pada sahabat nya itu.
“Bukannya lo sendiri yang bilang kalau da gak mau punya hubungan?” tanya Isvara pada Sandy dengan wajah malas nya. Sandy yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
“Gue masih kasih peringatan sama lo ya, gue gak suka sama dia,” tegas Sandy.
“Udah lah San. Kita bantu pantau aja,” ucap Tara sambil menepuk pundak sahabat nya.
“Gue udah punya pilihan Sandy. Tenang aja, gue bisa ngatasin ini,” ucap Isvara menenangkan sahabat nya.
Sandy yang mendengar ucapan Isvara kini menghembuskan nafas nya. Ia hanya tak ingin jika sahabat nya tu sampai ada yang menyakiti.
Dan mereka semua mengerti akan hal itu.
Tak lama saat mereka berjalan akhirnya mereka menemukan orang yang menjual jagung bakar. Hal tersebut membuat mereka begitu senang. Sesuai dengan ucapan mereka. Tak hanya membeli jagung bakar. Mereka juga membeli bakso.
***
__ADS_1