
Yeena dan Isvara kini tengah duduk di taman kecil depan kantin. Sambil memakan makanan mereka. Reiha hari ini tidak datang karena ada urusan keluarga yang harus gadis itu kerjakan. Jadilah kinin Reiha tak datang ke kampus.
“Lo sama Radeva gimana?” tanya Yeena tiba-tiba, sambil memakan makananya dengan santai. Berbeda dengan Yeena, kini Isvara malah terbatuk. Tersedak makanannya sendiri.
“Lo nanya apa sih?” tanya Isvara dengan gugup berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Yeena yang mendengar ucapan sahabat nya kini hanya tersenyum dengan mengajak, ia mengenal dengan jelas sahabat nya itu. Dan dapat dirasakan jika ada Ada yang berdebat dengan sahabat nya itu.
“Gue tau ada yang beda sama lo dan Radeva,” jelas Yeena sambil melihat ke arah Isvara dengan senyumannya.
“Gue harap lo bisa narik garis batas antara kalian. Radeva itu rumit,” ucap Yeena sambil menipiskan bibir nya. Isvara yang mendengar ucapan Yeena kini langsung menoleh ke arah Yeena dengan tatapan bingung nya.
“Lo bisa aja bukan yang satu-satu nya buat dia,” papar Yeena. Isvara yang mendengar ucapan Yeena kini semakin memperhatikan Yeena.
Kini ingatannya kembali pada saat ia mendengar pembicaraan Radeva di telpon, juga tentang laki-laki di perpustakaan yang mirip dengan Radeva.
“Lagi, sekarang gue harus nerima fakta ini? Sebenarnya apa mau Radeva?” batin Isvara dengan helaan nafas kasar nya.
“Radeva bukan orang yang mau ada di dalam sebuah hubungan, dia cuma mau deket tanpa ada nya sebuah hubungan. Ibarat nya lo di gantung dan cuma dijadiin mainan sama ia,” jelas Yeena lagi. Isvara masih saja terdiam mendengar kan ucapan Yeena. Ia begitu terkejut dengan apa yang baru saja di dengar nya.
“Lo sirius?” tanya Isvara dengan tatapan tak percaya nya. Yeena menipiskan bibirnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Dia bukan orang yang pantes buat di tunggu Ra. Dia itu ibarat kupu-kupu yang indah, hinggap di bunga bergantian setelah ia hisap sari nya,” jelas Yeena membuat perumpamaan untuk Radeva.
“Perumpamaan yang lo buat terlalu berlebihan,” ucap Isvara sambil menggelengkan kepalanya.
“Tapi gue serius,” ucap Yeena yang kini hanya dijawab dengan anggukan oleh Isvara.
“Lo tau dia….” belum Isvara menyelesaikan ucapannya kini ucapannya sudah dipotong.
__ADS_1
“Kalian di sini?” pertanyaan itu membuat kedua gadis tersebut menoleh. Hingga mereka tersenyum menyapa laki-laki yang baru saja datang dan tak lain adalah Radeva.
“Ra, gue di tunggu Tara. Gue duluan ya. Va, gue duluan,” pamit Yeena yang kini membuat Isvara membelalakkan mata nya melihat kepergian Isvara.
Bukankah tadi gadis itu sendiri yang mengatakan bentuk sebuah protes dengan kedekatan Radeva dan Isvara? Namun kenapa kini ia malah memberikan peluang untuk kedekatan mereka.
“Lo mau kemana?” Isvara kini berucap tanpa bersuara, hanya mulutnya lah yang bergerak dan berucap pada Yeena.
“Gue mau liat.” Yeena kini juga ikut mengatakannya tanpa mengeluarkan suara. Isvara yang mendengar nya memutar bola matanya malas. Namun akhirnya ia tetap mengalah dan membiarkan sahabat nya untuk pergi.
“Lo kenapa Ra?” tanya Radeva dengan kerutan bingung nya melihat Isvara sedari tadi memalingkan wajah darinya dan menutupi wajah nya.
“Lo sakit?” tanya Radeva lagi dengan perhatiannya. Dengar ucapan Radeva, Isvara segera menoleh ke arah Radeva sambil menggelengkan kepalanya.
“Gue baik-baik aja kok,” ucap Isvara dengan senyumannya pada Radeva yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan gadis di samping nya itu.
“Nanti malam ada acara kumpul lo ikut?” tanya Radeva. Isvara tampak berpikir, karena sahabat nya yang lain pun belum memberitahu nya.
“Mungkin,” ucap Isvara yang masih ragu.
“Dateng dong Ra, gue dateng,” ucap Radeva dengan memohon pada Isvara.
“Gue usahain, karena gue juga harus ngerjain baju gue yang belum kelas. Apa lagi dua hari lagi kita bakalan libur dua hari,” ucap Isvara menjelaskan pada Radeva yang menganggukkan kepalanya.
“Gue harap lo dateng,” ucap Radeva yang Isvara balas dengan senyuman dan anggukan.
***
__ADS_1
“Ra, lo mau ikut gak?” tanya Yeena saat kini mereka berjalan bersama keluar dari kampus mereka. Tak seperti biasanya, sahabat nya kini malah juga ikut lembur dengannya.
“Boleh deh, gue juga lagi gak ada kegiatan,” setuju Isvara yang membuat sahabat mereka berseru senang.
“Yang lagi kasmaran mah beda ya,” ucap Yeena menggoda sahabat nya itu. Isvara yang mendengar ucapan Yeena membelalakan matanya sambil memukul lengan gadis tersebut.
“Gak usah ngada-ngada deh,” kesal Isvara pada sahabat nya yang kini malah tertawa mendengar ucapan Isvara. Menggoda Isvara memang begitu seru untuk mereka. Apalagi kesabaran Isvara, setipis tisu di bagi dua.
“Lo beneran ada hubungan sama dia?” tanya Tara dengan tatapan tak percaya nya pada Isvara yang kini malah menatapnya dengan tatapan datar nya.
“Gak udah ngada-ngada ngikutin Yeena lo, sesat. Gue gak ada hubungan sama dia,” tegas Isvara meyakinkan sahabat nya itu. Tara kini menyipitkan matanya sambil menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia masih penasaran.
“Gue mau lo sama siapa sih gak masalah ya, tapi kalau dia nyakitin lo dia berharap sama gue,” ucap Sandy yang dijawab dengan anggukan setuju oleh Tara.
“Udah lah gak perlu dibahas lagi, kita cuma temen,” tekan Isvara, agar sahabat nya itu tak lagi bertanya tentang hubungannya dengan Radeva. Karena memang nyatanya ia dan Radeva masih sangat abu-abu.
Saat sampai di parkiran kni Isvara bersama dengan Sandy, sedangkan Tara bersama dengan Yeena. Motor mereka melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang berada di depan mereka.
“Hubungan lo sama Mama lo masih belum baik?” tanya Sandy yang memang sudah begitu mengetahui hubungan antara ibu dan anak itu.
“Lo tau sendiri, dia sibuk sama pacar-pacar nya,” ucap Isvara dengan senyuman sinisnya. Sandy yang mendengar ucapan sahabat nya itu merasa kasihan dengan sahabat nya.
“Pasti ada cara untuk memperbaiki, lo coba pelan-pelan,” pesan Sandy yang hanya Isvara balas dengan anggukan.
“Dan tentang Radeva, dia memang bukan orang yang baik. Cewek dia di mana-mana. Tapi ya dia emang gak ada hubungan sama mereka, itu yang gue tahu dulu. Tapi gak tau sekarang, lo harus hati-hati sama dia kalau lo gak mau terluka. Dan jangan berharap sama dia, yang gak mau terlibat dalam sebuah hubungan. Yang ada lo tiap malem overthinking mulu,” saran Sandy. Isvara yang mendengar ucapan sahabat nya itu terkekeh sambil menepuk pundak Sandy beberapa kali. Ia tahu, sahabat nya itu hanya ingin yang terbaik untuk nya.
***
__ADS_1