
Mobil jeep kini sudah berbaris rapi di depan villa yang mereka sewa. Hari ini sesuai dengan rencana. Mereka akan menuju ke bromo. Karena di gunung tersebut melarang penggunaan mobil pribadi jadilah kini mereka menyewa mobil jeep yang akan membawa mereka ke sana.
Kevler juga teman-temannya kini sudah memasukkan barang-barang mereka ke jeep masing-masing. Isvara kini kini sudah terlihat begitu cantik dengan blazer panjang musim dinginnya di tampah dengan topi bucket dan rambut nya yang di gerai.
Bahkan sata gadis tersebut keluar kini banyak yang menatap dengan tatapan kagum. Radeva yang tengah membawa barang menuju ke arah jeep bahkan berhenti sejenak untuk melihat Isvara. Senyumannya mengembang saat melihat cantik nya gadis tersebut.
“Ini satu mobil kita berapa orang?” tanya Reiha saat melihat jeep yang kini sudah terparkir di depan villa mereka.
“Lima,” ucap Radeva menjawab pertanyaan Reiha yang kini menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Radeva.
“Ra, lo sama gue,” tegas Sandy. Isvara menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sahabat nya itu.
Kini mereka mulai masuk ke mobil mereka masing-masing. Isvara sesuai dengan perintah Sandy. Kini ia bersama dengan laki-laki tersebut. Sandy dan Melody di bagian belakang dan Isvara di bagian depan. Namun tak lama Radeva juga masuk dan duduk di samping Isvara. Isvara bahkan tampak terkejut melihat nya begitupun dengan Sandy.
“Kosong kan?” tanya Radeva dengan senyumannya. Isvara melihat ke arah Sandy dengan tatapan tanya nya.
Namun melihat sahabat nya yang hanya diam dengan tatapan kesal nya Isvara menipis kan bibirnya.
“Kosong kok,” ucap Isvara.
Tak lama Yasa kini juga ikut di mobil mereka dan duduk di bagian depan dekat dengan Sopir. Setelah semua nya di rasa siap mobil perlahan melaju.
“Kita di belakang aja pak,” perintah Radeva pada sopir yang membawa mereka. Sopir tersebut hanya menurt dan berada di barisan paling belakang. Radeva adalah ketua tentu ia harus menjaga temannya yang lain.
Kini keadaan di dalam mobil begitu canggung, Sandy yang tampak kesal dengan Radeva. Dan Melody yang masih cemburu dan tak begitu suka dengan Isvara.
Yasa bahka dapat merasakan ada nya hawa yang tak biasa dalam jeep tersebut.
“Ada makhluk astralnya kali ya ni jeep. Dingin banget perasaan,” ucap Yasa sambil melihat ke belakang.
__ADS_1
“Lo tuh makhluk astral,” rutuk Sandy dengan kekesalannya. Isvara yang mendengar ucapan sahabat nya itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Ia mengerti dengan kekesalan Sandy mengingat bagaimana sahabat nya itu menjaga nya.
“Yang lain di depan kan?” tanya Radeva pada Yasa yang kini menganggukkan kepalanya.
“Tadi gue udah bilang sama Galen minta di di depan,” jawab Yasa yang di kini membuat Radeva mengangguk mendengar nya.
Selama perjalanan keadaan jeep begitu canggung. Tak ada yang memulai pembicaraan. Isvara pun kini memilih untuk melihat ke jalanan yang dilalui nya. Kini hawa dingin dari gunung mulai di rasakannya meskipun sebenarnya di Villa mereka pun juga dingin.
Tak lama setelah menempuh perjalanan yang dingin dan canggung kini akhirnya mereka mulai memasuki kawasan bromo. Tatapan takjub kin terlihat jelas di mata Isvara.
“Wah bagus banget sini,” ucap Isvara dengan senyuman takjubnya melihat pemandangan di depannya.
“Hari ini kita gak ke kawah bromo dulu. Kita nikmati perjalanan dan eksplor pake jeep dulu abis itu kita bangun tenda di kawasan yang lumayan tinggi jadi biar gak memakan waktu dan biar kita nya gak capek jadi kita ke kawah bromo besok setelah beres-beres tenda,” ucap Radeva yang kini menjelaskan. Isvara menoleh ke arah Radeva sambil menganggukkan kepalanya.
“Besok kita balik jam berapa?” tanya Isvara sambil menoleh ke arah Radeva dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Setelah melihat Sunset?” tanya Radeva yang membuat Isvara kini menganggukkan kepalanya.
Setelah puas dan hari semakin siang dan menjelang sore mereka memutuskan untuk menuju ke arah tempat mereka menyewa tempat camping yang berada di penanjakan 3.
Setelah keluar dari jeep kini Isvara meregangkan otot-otot nya yang sudah terasa begitu kaku. Setelah lama di perjalanan kini akhirnya mereka sampai juga. Isvara segera menghampiri sahabat nya lalu mereka bersama-sama menuju ke arah dekat tebing. Saling merangkul satu sama lain.
“Wah dingin banget di sini,” ucap Isvara yang di jawab dengan anggukan oleh sahabat nya yang lain, karena kini mereka berada di ketinggian yang begitu tinggi. Udara dingin kini masuk.
“Indah banget tapi,” ucap Reiha yang mendapatkan anggukan dari sahabat nya. Kini mereka dapat melihat indah nya pemandangan gunung di depan mereka.
“Itu beda gunung ya?” tanya Isvara sambil menunjuk ke arah gunung lain yang berada di sana.
“Beda, itu gunung mahameru, Gak terlalu jelas kalau dari sini kecuali kalau kita di bukit kingkong,” ucap Sandy yang baru datang lalu merangkul Isvara. Isvara yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kawah nya kelihatan dari sini,” ucap Yeena sambil menunjuk ke arah kawah gunung bromo yang terlihat begitu jelas dari atas sana.
“Kalain banyak tingkah kita ceburin ke sana,” ucap Tara dengan begitu sinis kepada sahabatnya itu, kini Tara berdiri samping Yeena, Sedangkan Reiha kini berdiri di tengah.
Tanpa mereka tahu kini aa yang tengah memotret mereka. Salah satu teman Radeva.
“Woy itu berlima mau berdiri doang? Sini bantuin,” teriak Varen pada Isvara cs.
“Liat kita sudah harus mulai bekerja kawan,” ucap Isvara dengan menghela nafas nya kasar.
“Tugas sudah memanggil,” lanjut Yeena yang kini ,juga menghembuskan nafas nya kasar.
“Meraung-raung meminta dikerjakan,” lanjut Reiha. Kedua sahabat laki-laki nya yang mendengar ucapan ketiga perempuan tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
“Ayu pergi Tar, bantu yang lain,” ajak Sandy yang mendapatkan anggukan dari Tara.
“Mereka harusnya ambil jurusan sastra bukannya teknik busana,” ucap Tara sambil menggelengkan kepalanya. Sandy yang mendengar ucapan sahabat nya itu menganggukkan kepalanya.
Isvara dan kedua sahabat nya segera menuju ke arah perkemahan, lalu mereka membantu yang lain mendirikan tenda. Kini di bukit tersebut hanya lah teman-teman mereka saja karena tempat yang memang membatasi hanya 8-10 tenda yang boleh berada di sana.
“Ra, gue tadi foto kalian. Bagus gak?” tanya teman Radeva yang tadi memotret mereka. Isvara segera mengambil alih kamera tersebut sambil melihat hasil nya.
“Wah keren banget,” uap Isvara yang membuat senyuman laki-laki tersebut mengembang.
“Jelas dong,” ucap nya yang membuat Isvara terkekeh mendengar nya.
“Nanti fotoin gue ya,” pinta Isvara yang dijawab dengan acungan jempol.
Setelah nya Isvara memilih untuk membantu mendirikan tenda.
__ADS_1
***