Flutura

Flutura
Sampai


__ADS_3

“Yakin gak mau aku aja yang nyetir?” tawar Isvara sambil melihat ke arah Radeva yang berada di samping nya.


“It’s ok, satu jam lagi sudah sampai kok. Ini sudah masuk jawa timur,” jelas Radeva menolak permintaan Isvara. Isvara menginfakkan kepalanya.


Gadis tersebut kini memilih untuk mencari makanan di bagian belakang, setelah mendapatkannya kini Isvara segera mengambil roti yang berada di sana.


“Mau?” tawar Isvara sambil menyodorkan roti nya. Radeva melihat sejenak sebelum akhirnya ia segera memakan roti tersebut.


“Jauh juga ya, puas banget rasanya di mobil,” ucap Isvara yang mengundang tawa Radeva.


“Di nikmatin aja,” ucap Radeva. Isvara menghembuskan nafas nya sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Selanjutnya tak ada yang memulai pembicaraan. Isvara hanya diam sambil memakan makanannya.


“Laper?” tanya Radeva dengan senyuman gemasnya melihat Isvara yang kini terlihat begitu lahap memakan roti juga makanan ringan yang berada di sana Isvara yang mendengar pertanyaan dari Radeva kini hanya menyengir karena ia kini memang begitu lapar.


Tadi mereka sudah berhenti untuk makan pagi. Namun tetap saja kini ia begitu lapar.


“Mau berhenti cari makan dulu?” tanya Radeva menawarkan, namun Isvara segera menjawab nya dengan gelengan.


“Tadi kan udah, ini buat ganjel aja,” jelas Isvara. Radeva akhirnya hanya menjawabnya dengan anggukan.


Setelah lama mereka berada di tol. Kini mereka keluar dari tol dan m,menuju ke arah Villa yang sudah mereka pesan untuk beristirahat terlebih dahulu. Dan besok pagi baru mereka akan naik ke bromo.


Selama di perjalanan banyak yang mereka perbincangkan, Radeva memang begitu pandai memulai pembicaraan dan mencari topik hingga mereka tak kehabisan topik untuk dibahas.


“Ehm, Lo sering liburan bareng gini?” tanya Isvara yang di jawab dengan anggukan oleh Radeva.


“Gue kan pecinta alam,” ucap Radeva membanggakan dirinya, Isvara yang mendengar nya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Lo ikut ekskul pecinta alam?” tanya Isvara yang hanya menebak saja.


“Hm sesuai tebakan lo,” jawab Radeva.


“Yang masih sampai gue gak habis pikir sekarang gimana lo yang anak ekonomi bisa lanjut kuliah teknik,” kekeh Isvara yang kini juga membuat Radeva tertawa mendengar nya.


“Bokap gue punya perusahaan IT. Ya jadi lo tau lah, dia maksa gue buat ambil jurusan ini,” jelas Radeva. Isvara menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan laki-laki tersebut.


“Lo pengennya?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya. Radeva tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.


“Gak ada, gue pengennya gak kuliah. Ya tapi gue sadar ini juga buat gue kedepannya.” Radeva menoleh ke arah Isvara sebentar yang kini tampak menganggukkan kepalanya.


Selama di perjalanan mereka tak kehabisan bahan pembicaraan. Hingga tak lama akhirnya kini mereka sampai di sebuah villa yang cukup besar. Isvara segera keluar dan meregangkan otot nya.


“Wah akhirnya sampai juga,” ucap Isvara sambil merentangkan tangannya. Merasakan udara yang begitu segar, setelah merasakan udara yang penuh polisi di kota nya. Kini akhirnya ia bisa untuk menghirup udara segar.


Isvara kini menyeret koper nya memasuki rumah tersebut tapi tiba-tiba saja ada yang mengambil nya dan orang itu tak lain adalah Sandy. Isvara yang sedari tadi memang mengabaikan Sandy karena masih merasa kesal hanya memutar bola matanya malas dan membiarkan sahabat nya itu untuk membawa nya.


“Nanti malam kita barbeque an, ada yang mau nemenin gue belanja?” tanya Radeva dengan matanya yang kini tertuju pada Isvara. Yeena yang menyadari itu tersenyum dengan misterius.


“Gue deh, Ra ikut ya temenin gue,” ajak Yeena pada Isvara yang kini menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Yeena dengan tatapan penuh tanya nya. Sedangkan Yeena kini hanya tersenyum.


“Percaya sama gue kali ini,” ucapnya sambil berbisik. Isvara menghembuskan nafas nya sambil memutar bola matanya malas.


“Gue ikut,” ucap Sandy menawarkan dirinya.


“Gak usah, lo ribet,” ucap Reiha.

__ADS_1


“Gue aja,” tawar nya. Sandy yang mendengar itu berdecak dengan kesal. Reiha dan Yeena hanya akan mendukung Isvara dan menurut nya ini lah bentuk dukungan mereka. Karena mereka tahu bagaimana Sandy menjaga Isvara, mereka tak ingin Sandy merusak rencana mereka.


“Kalau gue, Zafar, sama Varen temenin kalian,” ucap Yasa yang kini ikut mengajukan dirinya. Mereka kini mengangguk.


Lalu setelah nya ketujuh orang itu memutuskan untuk membeli bahan makanan untuk mereka juga beberapa keperluan lainnya.


Saat sampai di mall mereka segera menuju ke arah tempat bahan makanan berada.


“Sebenarnya gak ada untung nya ngajak lo berdua, nggak ada yang tau masak. Apa lagi paham masalah dapur,” ucap Isvara sambil menggelengkan kepalanya.


“Tenang aja Ra, Zafar pinter masak,” ucap Yasa yang kini ikut perbincangan mereka. Isvara menaikkan sebelah alisnya menatap Zafar dengan tatapan tak percaya nya. Namun laki-laki yang memang pendiam dan selalu berwajah datar itu hanya terdiam. Isvara hanya menganggukkan kepalanya.


Isvara mengambil beberapa sosis juga jagung untuk mereka bakar. Radeva kini tampak fokus memilih daging, sedangkan Zafar kini mengambil bumbu yang akan digunakan. Yasa dan Varen hanya memperhatikan saja dan ikut memilih daging.


“Daging babi bisa kan ya?” tanya Varen sambil melihat ke arah tumpukan daging hewan berwarna pink itu.


“Lo aja makan, lo juga yang masak. Gue sama Zafar kagak makan itu,” tegas Yasa mengingat kedua sahabat Radeva tersebut beragama muslim.


“Alkohol aja lo halalin. Daging babi lo haramain. Padahal mah sama-sama haram, tetep aja tuh alkohol lo minum,” sungut Varen yang kini hanya mengundang tawa dari sahabat nya yang lain mendengar pertengkaran tersebut.


“Lah beda konteks itu mah,” ucap Yasa yang masih saja mengelak. Varen yang mendengar nya malas berdecak.


“Di tubuh lo mah makanan haram nya udah sembilan puluh persen, tambah satu persen lagi juga kayak gak ada beban sebenarnya,” ucap Varen yang kini membuat Yasa dengan gemas memukul mulut laki-laki tersebut.


“Wah jangan penistaan diri gini loh. Gue mah mau tobat abis ini, tunggu gue punya bini dulu. Lagia lo gak tau aja satu persen yang lo maksud itu tetep dosa dan haram woy,” kesal Yasa.


“Udah lah malah berantem,” ucap Zafer yang kini menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran sahabat nya itu.

__ADS_1


Radeva kini memilih menuju ke arah Isvara dan membantu gadis tersebut memilih minuman dari pada memperdulikan pertengkaran kedua sahabat nya yang sudah biasa ia dengar.


***


__ADS_2