
“Abis ini juga tangan lo yang kejahit,” ucapan Yeena kini menyadarkan Isvara dalam lamunannya. Isvara yang mendengar ucapan sahabat nya itu menghembuskan nafas nya kasar, lalu segera melepaskan kakinya dari injakan mesin jahit.
“Lo kenapa sih?” tanya Yeena sambil menatap ke arah sahabat nya itu dengan tatapan penuh tanya nya. Sedari pagi Isvara menurut nya begitu aneh. Gadis tersebut bagai tak memiliki semangat hidup.
“Gak papa, gue ke atas dulu,” ucap Isvara yang akhirnya memilih untuk menuju ke arah rooftop sekedar mencari udara untuk menenangkan pikirannya.
Isvara kini memilih untuk menuju ke arah rooftop. Yeena yang melihat tingkah sahabat nya itu kini menaikkan sebelah alisnya nya. Merasa aneh dengan sahabat nya itu. Namun Isvara malah lebih memilih untuk bungkam karena tak ingin sahabat nya ada yang mengetahui semua ini.
Saat sampai di rooftop kini ternyata begitu ramai, banyak yang kini berada di sana sekedar untuk merokok. Bahkan Reiha pun berada disana, bersama dengan kekasih nya. Tak ingin mengganggu sahabat nya itu kini Isvara memilih untuk menuju ke sisi lain rooftop yang tidak terlalu ramai.
Tatapannya kini begitu lurus menatap ke arah depan.
“Lo kenapa?” pertanyaan itu berhasil membuat Isvara kini menoleh ke arah sumber suara yang berada di samping nya dan tak lain adalah sahabat nya.
“Lagi cari udara aja,” ucap Isvara dengan senyuman menenangkannya.
“Lo liat deh cowok di sana, yang lagi ngobrol bareng pacar gue. Dia mau kenalan sama lo,” ucap Reiha yang kini sudah berada di samping nya.
Isvara yang mendengar ucapan sahabat nya itu kini menaikkan sebelah alisnya sambil melihat ke arah laki-laki yang kini menoleh ke arah nya. Isvara tersenyum menyapa laki-laki tersebut yang juga tengah tersenyum ke arah nya.
“Ayo ke sana,” ajak Reiha sambil menarik tangan Isvara. Isvara awal nya ingin menoleh namun Reiha malah langsung menarik nya.
“Kita tinggal dulu ya, kalian ngobrol aja,” ucap Reiha dengan senyuman menggoda nya pada sahabat nya itu yang kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Reiha.
“Daivan,” ucap laki-laki tersebut memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya pada Isvara. Melihat itu Isvara juga mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan laki-laki di depannya itu.
__ADS_1
“Isvara,” ucap Isvara yang juga memperkenalkan dirinya.
“Duduk di sana?” tawar Daivan pada Isvara. Isvara menganggukkan kepalanya. Hingga tak lama mereka segera menuju ke arah kursi yang berada di sana, lalu duduk di meja tersebut.
***
Radeva kini tengah berjalan menuju ke arah temannya yang tengah berkumpul ke di teknik mekatronika. Tengah berkumpul bersama dengan sahabat nya yang memang berada di kelas tersebut.
“Nyebat dulu yuk,” ajak Yasa dengan tidak sabarannya. Kini bahkan laki-laki tersebut sudah terburu-buru untuk keluar dari kelas nya.
“Heboh banget gak nyebat bentar,” ucap Varen sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat nya itu.
“Lo udah kelar?” tanya Radeva pada Zafran yang kini tengah membersihkan peralatan nya.
“Nanti lanjut lagi,” ucap Zafran yang kini membuat sahabat nya itu menganggukkan kepalanya mendengar ucapan tersebut.
Tatapan yang awal nya begitu lembut kini berusaha menjadi begitu mdata. Zafer yang memang paling peka di antara sahabat nya yang klain kini segera berjalan ke arah Radeva dan ikut menatap ke arah objek tatapan laki-laki tersebut.
“Lo suka dia?” tanya Zafer tiba-tiba yang membuat Radeva kin menoleh ke arah sahabat nya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Apa menurut lo sebuah hubungan itu perlu?” ranya Radeva pada Zafer. Zafer kini menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan open saran dan penuh tanya pada laki-laki di samping nya itu.
“Apa dia meminta sebuah hubungan?” tanya Zafer yang seolah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Radeva menghembuskan nafas nya sambil melihat dengan tatapan lurus nya pada Isvara yang kini terlihat tertawa dengan laki-laki tersebut.
“Bagi lo dengan orang yang punya prinsip gak perlu sebuah hubungan yang gak ribet mungkin gak akan peduli semua sebuah hubungan. Tapi gak semua orang kayak lo, apalagi dia perempuan. Perempuan adalah makhluk paling ribet dan sudah untuk di pahami,” ucap Zafer saat ia tidak mendapatkan jawaban dari sahabat nya atas apa yang ia katakan. Namun melihat bagaimana tatapan Radeva pada Isvara, ia tahu jika laki-laki tersebut mencintai Isvara.
__ADS_1
Tatapan yang sebelumnya tak pernah ia lihat dari laki-laki tersebut.
“Sebuah hubungan itu perlu bagi mereka, mereka butuh diakui juga,” ucap Zafer menjelaskan pada sahabat nya itu yang kini menghembuskan nafas nya kasar mendengar jawaban dari Zafer.
“Kenapa orang suka banget ada di hubungan yang ribet?” dengus Radeva yang membuat Zafer kin menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabat nya.
“Lo yang ribet,” sungut Zafer tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu.
“Kalau lo emang suka sama dia, ya kejar. Jangan hanya menahan ego lo,” ucap Zafer memberikan pengertian pada sahabat nya itu sambil menepuk pundak sahabatnya. Lalu setelah nya ia memilih untuk menuju ke arah sahabatnya yang lain dan meminta rokok.
Radeva kin masih berdiri di tempat nya. Hingga kini tatapannya tak sengaja bertemu dengan Isvara yang tentang melihat ke arah nya. Mereka terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hingga laki-laki tersebut mengalihkan perhatian Isvara dan mengajak Isvara untuk segera pergi dari sana.
“Kenapa dia?” tanya Yasa dengan kerutan di kening nya melihat Radeva yang kini malah memilih untuk pergi dari sana.
“Berperang sama prinsip nya,” jawab Zafer dengan begitu santai nya yang membuat kedua sahabat nya yang tak mengerti apa yang terjadi kini menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Maksud lo?” tanya Varen yang kini ikut bertanya karena masih bingung dan tidak mengerti.
“Otak lo yang kekanakan itu mana ngerti,” ucap Zafer dengan santainya yang setelah nya laki-lai tersebut segera pergi dari sana, meninggalkan sahabat nya yang kini tampak kebingungan juga kesal mendengar hinaan dari Zafer.
“Kasian,” ucap Yasa sambil menggelengkan kepalanya.
“Gak usah ngehina, otak kita sama aja,” ucap Varen dengan kekesalannya. Hingga setelahnya ia memilih untuk segera pergi dari meninggalkan Yasa yang masih dengan rokok nya. Tak ingin mengikuti sahabat nya itu akhirnya ia hanya diam di sana dan menghabiskan rokok nya. Hingga tak lama akhirnya tatapannya kini tertuju pada Isvara juga laki-laki yang kini bersama dengan gadis tersebut.
“Oh ini masalah nya?” ucap Yasa sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kayak kenal gue sama tuh cowok.”
***