Flutura

Flutura
Liana


__ADS_3

Setelah berlibur selama empat hari. Kini akhirnya Isvara harus kembali pada aktivitas nya lagi untuk kembali kuliah. Tugas nya kini sudah menunggu dan begitu menumpuk untuk ia kerjakan. Bahkan saat sampai di depan studio busana nya, kini patung dengan busana yang belum jadi sudah menunggu untuk ia kerjakan.


“Lo pasti nunggu gue kan?” tanya Isvara dengan tatapan lelah nya menatap patung dengan busana tersebut.


Isvara menghembuskan nafas nya lalu segera meletakkan tas nya. Kini ia harus mulai mengerjakan tugas nya itu dengan cepat karena waktu yang ia miliki kini sudah tak banyak lagi. Sebelum pameran busana.


“Halo, pagi banget lo Ra,” ucapan dari salah satu teman nya itu membuat Isvara menoleh dan menganggukkan kepalanya.


“Masih banyak kurang nya ini, waktu mepet dan gue malah liburan,” ucap Isvara dengan helaan nafas nya yang membuat temannya itu kini terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.


“Semangat Ra,” ucap nya menyemangati Isvara sambil mengangkat kepalan tangan nya. Isvara mengangguk dan tersenyum ke arah teman satu kelas nya itu.


Isvara kini berkutat dengan pekerjaannya. Memfokuskan perhatiannya pada karya nya. Kini ia sudah mulai menjahit beberapa bagian dari busana tersebut.


Saat ia tengah fokus dengan karya nya. Tiba-tiba saja ada yang meletakkan makanan di depannya membuat Isvara menoleh dan mendapati sahabat nya yang kini duduk di depannya.


“Lo pasti belum sarapan,” tebak laki-laki tersebut yang tak lain adalah Sandy.


“Lo emang yang paling tau,” ucap Isvara dengan senyumannya dan tatapan sendu nya pada sahabatnya itu yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar na.


“Nanti empat tahun kepergian Liana,” ucap Sandy yang membuat Isvara kini menghentikan makannya. Bahkan kini sendok yang ia gunakan sudah terjatuh.


“Ra,” panggil Sandy sambil mengelus tangan sahabat nya itu. Isvara memejamkan matanya lalu menampilkan senyumannya.


“Gue gak papa,” ucap Isvara dengan senyuman menenangkan pada sahabat nya itu. Meskipun Isvara mengatakan jika ia baik-baik saa. Namun Sandy tahu jika masih sulit untuk Isvara menerima semua nya.


“Kita ke makam Liana pulang dari kampus?” tanya Sandy. Isvara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Liana, gadis cantik yang seharus nya kali ini sudah seumuran mereka. Sahabat Isvara sejak kecil, hingga saat menempuh jenjang sekolah menengah pertama mereka juga bersahabat dengan Sandy.


Namun sayang kini gadis tersebut sudah terlebih dulu meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Habisin makanan lo, gue ada kelas,” perintah Sandy. Isvara menganggukkan kepalanya.


Wajah gadis tersebut kini terlihat begitu sendu. Dengan tatapannya yang kini begitu lurus menatap makanannya.


“Woy kenapa lo?” tanya Yeena yang baru datang dan langsung menepuk punda Isvara saat melihat sahabat nya yang kini terlihat begitu sedih.


“Gak papa,” ucap Isvara dengan senyuman menenangkannya.


“Nanti lo lembur? Gue mau lembur,” tanya Reiha yang kini datang bersama dengan Yeena. Namun Isvara menggelengkan kepalanya membuat kedua sahabat nya itu menaikkan sebelah alisnya. Tidak biasanya memang gadis seperti Isvara malah tidak lembur.


“Kenapa? Tumben,” ucap Yeena dengan tatapan bingung nya.


“Gue mau pulang awal, nanti abis kelas langsung pulang. Hari ini hari kepergian Liana, jadi gue sama Sandy mau ke makan dia terus ke rumah orang tuanya,” jelas Isvara yang membuat kedua sahabat nya kini menjadi tak enak. Mereka kini mengetahui mengapa Isvara tampak bersedih.


“Hm yaudah lo hati-hati ya,” ucap Yeena dengan senyuman menenangkannya yang membuat Isvara tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


***


Sandy kini menunggu Isvara di depan kelas gadis tersebut. Sesuai yang mereka rencanakan kini mereka akan menuju ke makam sahabat nya itu.


“Hm maaf ya Mel. Hari ini kamu pulang sendiri dulu ya, aku sama Isvara ada urusan,” ucap Sandy dengan tatapan bersalah nya pada Melody yang kini sudah memudarkan senyum nya. Senyum yang awalnya begitu indah kini seketika pudar mendengar jawaban kekasih nya.


“Aku pergi dulu ya, kamu hati-hati,” pesan Sandy dan segera pergi dari sana, saat di lihat nya kini sahabat nya yang sudah menunggu nya.


Melody kini hanya bisa memejamkan matanya sambil menahan kekesalannya mendengar ucapan kekasih nya itu. Lagi kini ia harus mengalah dari Isvara.


“Sebenarnya pacar dia itu siapa?” kesal Melody sambil mengepalkan tangannya.


Sandy kini merangkul pundak Isvara lalu mengajak sahabat nya itu untuk menuju ke arah parkiran mobil.


“Melody gak mau di ajak aja?” tanya Isvara pada Sandy yang kini menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Lain kali aja,” ucap Sandy dengan senyumannya yang membuat Isvara menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari sahabat nya itu.


Di dalam mobil yang kini mulai melaju menuju ke arah pemakaman kini Isvara hanya diam sambil menatap keluar jendela. Pikirannya kini terus saja tertuju pada sahabat nya yang telah pergi lebih dulu.


Sandy kini menoleh ke arah sahabat nya itu lalu menggenggam tangan Isvara berusaha untuk memberikan kekuatan pada sahabat nya itu.


“It’s ok,” ucap Isvara menenangkan sahabat nya itu.


Setelah perjalanan yang tak begitu lama, kini akhirnya mereka sampai di sebuah pemakaman. Isvara dan Sandy kini berjalan bersama memasuki pemakaman tersebut. Namun saat mereka akan masuk Sandy malah menahan nya.


“Kenapa?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alis nya.


“Salam dulu, gini cara nya. Assalamualaikum ya ahli kubur,” ucap Sandy menjelaskan pada sahabat nya itu. Isvara menghembuskan nafas nya sambil menirukan ucapan Sandy.


“Log in yuk Ra,” ajak Sandy yang membuat Isvara kini begitu kesal dan gemas ia memukul laki-laki tersebut.


“Ayo buruan,” kesal Isvara yang kini malah membuat Sandy kini terkekeh melihat nya. Setidaknya dengan begitu ia bisa melihat sahabat nya itu tersenyum lagi.


Hingga kini mereka akhirnya berada di depan sebuah makan dengan bertuliskan nama Liana.


“Hai Liana, aku dateng nih bareng Sandy. Udah lama ya kita gak ketemu,” ucap Isvara dengan senyumannya sambil mengelus batu nisan milik Liana.


“Kamu tau sekarang dia udah punya pacar, udah moveoff dia,” ucap Isvara dengan kekehannya sambil melihat ke arah Sandy.


“Move off bukan berarti melupakan. Kamu tetep punya posisi tersendiri buat aku,” ucap Sandy dengan senyumannya.


Penyesalan terbesar nya selama ini adalah saat ia hanya bisa memendam perasanya pada Liana. Dan saat gadis tersebut sudah pergi, ia baru bisa untuk mengungkapkannya. Katakan ia bodoh dan pecundang karena ia pun terus mengatakan itu pada dirinya sendiri.


“Aku udah jaga Isvara dengan baik, sesuai permintaan kamu. Tapi dia nya yang suka ngebantah apa lagi karena cowok nakal itu,” ucap Sandy yang kini membuat Isvara membelalakkan matanya mendengar ucapan Sandy.


Kini mereka malah saling membuka aib dan menceritakan satu sama lain untuk Liana. Bahkan tak jarang mereka malah bertengkar karena apa yang mereka sampaikan. Meskipun Liana sudah tak bersama mereka namun saat ini mereka ingin berada disana lebih lama untuk menemani sahabat mereka itu.

__ADS_1


Mereka yakun saat ini Liana ada di sana sambil memperhatikan mereka dan ikut tertawa bersama mereka.


***


__ADS_2