Flutura

Flutura
Hanya Berdua


__ADS_3

Isvara kini menyeret koper milik nya menuju ke arah tempat berkumpul mereka yang akan ikut ke bromo. Sebuah rumah berlantai dua yang kini sudah dipenuhi dengan mobil yang berjejer di sana.


Isvara tadi datang dengan taksi, kali ini Sandy yang membawa mobil tapi bukannya menjemput Isvara dan sahabat nya yang lain. Laki-laki itu malah menjemput gebetannya juga sahabat gebetannya. Jadilah kini Isvara berangkat ke tempat mereka berkumpul dengan menggunakan taksi.


“Nah itu Isvara dateng,” seru Yeena saat melihat Isvara yang kini datang dengan membawa koper milik nya.


“Lama banget lo,” sungut Sandy yang kini berhasil mendapatkan pukulan di kepalanya dari Isvara.


“Lo tau rumah gue jauh dan lo malah gak mau jemput gue, sekarang lo malah ngeluh, berantem aja lah kita ayo,” kesal Isvara pada sahabat nya itu. Sandy yang mendengar ucapan ketus dari sahabat nya itu kini hanya menyengir karena ia tahu ia salah.


“Sebagai ganti nya, lo bantu gue masukin koper,” ucap Isvara sambil menyodorkan koper nya pada Sandy. Namun bukannya melakukan apa yang sudah Isvara perintahkan. Laki-laki itu kini justru menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


“Eh Ra, mobil gue penuh,” ucapan Sandy kali ini berhasil membuat Isvara yang sedari tadi sudah menahan amarah nya, kini melepaskan amarah nya. Dengan membabi buta gadis tersebut kini memukuli Sandy yang terus menangkis pukulan dari Isvara.


“Ra maaf Ra, gue gak tau kalau Melody ngajak temen nya yang satu lagi,” ucap Sandy yang kini terus mengucapkan maaf dan meminta pengampunan dari Sandy. Isvara saat ini sudah begitu kesal dengan laki-laki tersebut.


Sahabat mereka yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Isvara dan Sandy yang kini malah bertengkar. Tak salah memang jika Isvara marah semua ini juga karena Sandy yang lebih mementingkan gebetannya itu.


“Terus gue jalan kaki gitu? Lo jangan ngada-ngada ya,” kesal Isvara pada Sandy yang kini terus melindungi dirinya dari pukulan Isvara.


“Ra udah Ra, di mobil lain aja. Gue temenin,” ucap Yeena yang kini menarik sahabat nya itu agar melepaskan Sandy. Jika terus membiarkan mereka untuk bertengkar yang ada mereka akan terus seperti itu. Sedangkan hari kini sudah semakin malam. Mengingat mereka yang memang akan berangkat malam hari karena perjalanan yang begitu jauh dan nanti saat sampai di Jawa Timur mereka juga harus beristirahat terlebih dahulu sebelum akhirnya ke Bromo.


“Ra, lo sama gue,” ucapan itu menghentikan pertengkaran itu.

__ADS_1


“Yeena, lo gak papa sama Sandy. Isvara aman sama gue,” ucap Radeva yang menghentikan pertengkaran itu. Yeena menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum misterius pada Isvara, sebelah alis gadis tersebut terangkat dan menggoda Isvara yang kini hanya memutar matanya melihat tingkah sahabat nya itu.


“Yeena sama Tara ada yang di mobil lo. Isvara, lo di mobil gue,” tegas Sandy dan akan membawa koper Isvara. Namun Yeena segera menghentikannya.


“Udah, Isvara gak bakal mau sama lo. Udah lo ngeselin benget buat dia. Mending sekarang lo masuk kita berangkat. Biarin Radeva yang sama Isvara,” tegas Yeena yang setelah nya segera membawa sahabat nya itu untuk segera menuju ke arah mobil mereka.


Setelah mengatakan hal tersebut Radeva segera membantu Isvara untuk membawa koper gadis tersebut menuju ke arah mobil nya.


“Lo sendiri?” tanya Isvara pada Radeva saat melihat mobil Radeva yang sekarang kosong dan hanya ada mereka saja. Radeva yang mendengar ucapan Isvara menganggukkan kepala nya sambil tersenyum.


“Harus nya tadi ajak sahabat aku yang lain biar rame,” ucap Isvara yang membuat Radeva terkekeh mendengar nya.


Radeva setelah membantu memasukkan koper Isvara kini membantu gadis itu untuk masuk ke dalam mobil nya. Setelah nya ia memutari mobil. Di rasa semua sudah siap dan aman, kini Radeva lebih dulu menjalankan mobilnya. Baru setelah nya temannya yang lain ikut menjalan mobil mereka.


“Harusnya gitu. Cuma karena cewek yang ikut juga banyak dan kita tahu bawaan kalian pasti banyak. Akhirnya kita mutusin buat bawa mobil aja, hitung-hitung konvoi mobil lah sesekali,” ucap Radeva dengan senyumannya yang membuat Isvara kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Radeva.


“Berapa jam perjalanan?” tanya Isvara yang sebelum nya memang tak pernah datang ke tempat yang begitu terkenal itu.


“Sekitar sepuluh jaman lah. Sesuai sama waktu istirahat kita aja. Tapi karena perjalanan cukup jauh jadi nanti kita lebih sering istirahat aja, apa lagi ini udah malem jadi nanti berhenti dan istirahat buat tidur mungkin sedikit lebih lama jadi nya di jalan,” jelas Radeva yang membuat Isvara menganggukkan kepalanya mendengar ucapan laki-laki tersebut.


“Kenapa gak berangkat pagi aja?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Biar pagi kita udah ada di Kota Probolinggo, kota tempat gunung Bromo,” ucap Radeva menjelaskan yang kini kembali di jawab dengan anggukan oleh Isvara.

__ADS_1


“Kamu udah pernah ke sana?” tanya Isvara sambil menatap ke arah Radeva. Laki-laki tersebut tersenyum sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


“Biasanya kita turing sampai ke Bali, bawa motor,” jelas Radeva.


“Wah, gak capek?” tanya Isvara dengan tatapan tak percaya yang kini membuat Radeva terkekeh melihat ekspresi Isvara yang menurut nya begitu menggemaskan.


“Kan kita juga istirahat dulu, kalau langsung mah ya cepek,” tutur Radeva.


“Kamu kalau mau tidur, tidur aja,” ucap Radeva yang dibalas dengan gelengan oleh Isvara.


“Kalau aku tidur kamu sendiri, nanti malah ngantuk,” papar Isvara.


“Malah sekarang kalau kamu tidur bagus, karena ini belum terlalu malem jadi aku gak ngantuk. Nanti kalau maleman kamu bangun nemenin aku ngobrol,” ucap Radeva. Sebenarnya berkendara di malam hari sudah biasa untuk nya. Mengingat ia adalah raja nya jalanan. Tak tidur bukan lah yang sulit untuk nya. Mengingat ia memang sering begadang. Namun untuk keamanan mereka tetap saja mereka tak boleh berkendara saat lelah.


“Nanti aja deh,” ucap Isvara yang kini memilih untuk melihat ke arah Radeva dengan tangannya yang kini bertumpu di bibirnya. Melihat Radeva yang tengah serious menyetir seperti ini sebenarnya bukanlah yang bagus untuk kesehatan jantung nya. Namun bukan juga hal buruk untuk ia lewat kan. Ini adalah pemandangan yang sangat di sayang kan jika harus Isvara lewat kan.


“Tidur sana, kamu ngapain?” tanya Radeva dengan tawa nya yang membuat Isvara kini juga ikut tertawa mendengar ucapan Radeva.


“Kenapa aku cuma mau liatin kamu doang,” ucap Isvara dengan kekehannya. Namun Radeva kini malah menutup mata Isvara dengan satu tangannya.


“Tidur Isvara,” ucap Radeva dengan sisa tawanya.


“Baiklah, baiklah,” ucap Isvara yang kini lebih memilih mengalah dan mengikuti apa yan Radeva katrakan. Ia memilih untuk berusaha tidur dan beristirahat.

__ADS_1


***


__ADS_2