
“Club?” tanya Isvara saat kini mereka sudah sampai di depan klub yang menjadi tempat mereka berkumpul.
“Lo berharap apa?” tanya Yeena dengan kekehannya sambil merangkul pundak sahabat nya itu untuk diajak untuk masuk ke dalam. Isvara menghembuskan nafas nya kasar. Dan pada akhirnya ia tetap untuk ikut masuk. Meskipun sebenarnya ia tidak menyukai tempat seperti ini dan merasa risih namun ingin pergi pun tak bisa karena ia kini ia sudah diajak masuk oleh sahabat-sahabat nya itu.
Saat memasuki club tersebut Isvara rasanya begitu risih, suara dentuman musik yang begitu keras ditambah lagi dengan bau alkohol juga asap rokok. Dengan banyak nya orang yang kini tengah bermesraan membuat Isvara merasa semakin risih.
Gadis tersebut bahkan menutup telinga nya. Di samping nya kini ia diapit oleh Sandy juga Yeena yang menjaga nya.
“Kopok gue lama-lama di sini,” keluar Isvara yang membuat sahabat nya terkekeh mendengar ucapan gadis tersebut.
“Gak bakal kali Ra, gue sering ke sini masih aman ini telinga gue,” kekeh Yeena yang membuat Isvara berdecak mendengar nya.
Hingga tak lama mereka berjalan menuju ke arah lantai dua. Ke arah ruangan privat yang berada di klub tersebut. Saat sampai di ruangan tersebut. Kini sudah banyak yang datang. Termasuk orang yang waktu pertama kali ia ikut kumpul seperti ini tak datang sebelum nya.
“Wah Isvara juga dateng?” tanya Niar, gadis yang kemarin saat kumpul tak ia lihat kedatangannya. Gadis yang dari jurusan Seni.
“Yang waktu di restoran dia juga dateng,” ucap Yeena sambil memilih tempat duduk yang kosong. Yeena kini duduk di samping Isvara, karena tak ingin lagi membuat sahabat nya itu merasa tak nyaman dengan mata laki-laki yang menggoda nya.
“Isvara lo makin cantik aja setelah putus dari Fardan.” Laki-laki dengan tubuh tambun nya kini angkat suara. Lihat, bahkan saat ia sudah duduk di samping Yeena masih saja ada yang mencari masalah dengannya.
“Iya lah, makin bahagia dia,” sungut Sandy yang kini angkat suara. Isvara kini menatap tak suka laki-laki yang merupakan adik kelas dari mantan kekasih nya itu dan berada di jurusan yang sama dengan mantan kekasih nya.
“Eh yang kumpul waktu itu di resto ya? Ah sayang banget gue gak ikut,” celetuk Diandra. Gadis yang duduk di samping Niar.
“Iya itu mah si Radeva lagi ada mau nya, mangkanya ngajakin di sana,” ucap Yeena sambil melihat ke arah Isvara dengan senyuman misterius nya.
“Lah iya ini tinggal Radeva ya yang belum dateng?” tanya Diandra saat melihat yang kini sudah datang.
__ADS_1
Yang lain hanya menganggukkan kepalanya sambil akhirnya. Pintu ruangan tersebut terbuka. Hingga menampilkan Radeva yang kini masuk dengan senyumannya bersama dengan kedua sahabat nya.
“Sini Dev,” ucap Diandra dengan senyumannya sambil menepuk sofa di samping nya. Karena kini mereka duduk dengan sofa memanjang.
Radeva segera berjalan ke arah Diandra lalu duduk di samping Diandra yang tak jauh dari Isvara.
“Samping gue kosong padahal,” gumam Isvara sambil memiringkan tubuh nya dan berbisik ke arah Yeena yang kini menahan tawanya mendengar ucapan sahabat nya itu.
“Tapi yang gue liat dia di sana mata nya disini,” ucap Yeena yang kini memiringkan tubuh nya dan berbisik ke arah Isvara.
“Apa lo sekarang dukung dia?” tanya Isvara dengan tatapan tak percaya nya pada Yeena yang kini hanya mengedikkan bahunya. Isvara yang melihat itu berdecak kesal.
“Kita lihat aja nanti, gue butuh penilain gue sendiri,” ucap Yeena dengan cengirannya.
“Sidang apa nih gue gak di ajak?” tanya Tara yang kini ikut menimpali dan mendekatkan wajahnya pada kedua perempuan di samping nya itu.
“Ikut-ikut mulu lo,” ucap Isvara sambil mendorong kening Tara dengan jari telunjuk nya.
“Mau di coba?” tanya Yeena yang kini membuat Isvara mengerutkan kening nya. Melihat apa yang akan dilakukan oleh sahabat nya itu.
“Lo yakin mau keluar sendiri?” tanya Yeena yang kini membuat Isvara menaikkan sebelah alisnya bingung. Yeena sudah memberi kode dengan kepalanya meminta Isvara untuk keluar, kini mereka malah berbicara dengan kode kepala. dan wajah.
Isvara menatap tak percaya pada Yeena seolah berkata ‘serius lo nyuruh gue keluar?’ Yeena hanya menganggukkan kepalanya dengan rasa menyesal. Isvara menipiskan bibirnya seolah menahan amarah nya dan mengatakan ‘ok untuk kali ini aja, kalau gak ada hasil nya. Awas lo’
“Gak papa lah, gue coba aja. Nanti kalau gue takut balik lagi,” ucap Isvara dengan cengirannya. Yang sebenar nya kini ia tengah menahan amarah nya pada sahabatnya itu yang kini malah menyengir.
“Maaf ya Ra,” ucap Yeena dengan penyesalannya yang kini hanya dijawab dengan anggukan oleh Isvara.
__ADS_1
Setelah nya Isvara segera keluar dari ruangan tersebut. Namun bukannya Radeva yang mereka harapkan untuk keluar. Laki-laki dengan tubuh tambun yang merupakan junior Fardan yang keluar.
Isvara kini menatap bingung saat ia sudah keluar, namun akhirnya ia memutuskan untuk bertanya letak toilet pada orang yang ia temui.
Setelah mengetahui letak toilet, Isvara segera menuju ke arah toilet. Namun saat ia hampir sampai ke toilet tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya. Isvara yang terkejut sontak melihat siapa yang kini menarik tangannya.
“Tion?” tanya Isvara terkejut. Sedangkan laki-laki dengan tubuh tambun itu tersenyum pada Isvara.
“Lo mau apa?” tanya Isvara sambil menghempaskan tangan Tion.
“Gue cuma mau bicara kok sama lo, di dalem sahabat lo selalu ngawasin gue,” ucap nya dengan wajah sedih nya.
“Gue mau pergi please,” tegas Isvara. Namun bukannya membiarkan Isvara pergi kini laki-laki tersebut malah mencekal tangan Isvara.
“Gue cuma mau bicara loh. Lo cantik, jangan sombong dong,” ucap nya yang membuat Isvara kini berusaha melepaskan tangannya dari Tion. Namun bukannya terlepas kini laki-laki tersebut semakin mengeratkan tangannya.
“Tubuh lo bagus, pantes Fardan betah sama lo,” ucap nya yang kini berhasil menyulut emosi Isvara.
“Lepasin gue, dasar cabul,” marah Isvara. Tion yang mendengar hinaan dari Isvara justru terkekeh dan kini mengukung tubuh gadis tersebut. Tatapan laki-laki tersebut terus saja tertuju pada bibir Isvara. Sedangkan Isvara kini terus meronta.
Keadaan di sana begitu sepi mengingat ruangan tersebut adalah ruang VIP jelas tak banyak yang berada di sana. Apa lagi memang club adalah tempat nya seperti itu jadi tak ada yang heran melihat apa yang orang di sekitar nya lakukan.
Tion sudah mendekatkan wajahnya pada Isvara, namun tak lama suara pukulan lah yang terdengar, Isvara yang semula memejamkan matanya dan terus meronta kini segera membuka matanya dan ia bisa bernafas dengan lega. Kaki nya rasa nya begitu lemas.
Di depannya kini Tion sudah terkapar dengan Radeva yang menatapnya dengan tajam.
“Lo gak papa?” tanya Radeva pada Isvara yang kini menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Makasih,” ucap Isvara yang Radeva balas dengan anggukan. Setelah nya ia segera membawa Isvara untuk pergi dari sana sambil merangkul pundak Isvara, karena kini rasanya Isvara begitu lemas.
***