
“Lo balik sama siapa?” tanya Sandy pada Isvara saat mereka sudah selesai dengan makan malam mereka.
“Gue sama Tara, Yeena,” jawab Isvara yang dijawab dengan anggukan oleh Sandy.
“Biar Daivan saja yang nganter lo. Lagian kalian bertiga gak searah kan,” ucap Reiha memberikan saran.
Radeva yang mendengar ucapan Reiha kini sontak melihat ke arah Isvara yang tampak berpikir.
“Gak papa?” tanya Isvara dengan tak enak. Karena takut merepotkan laki-laki tersebut. Namun Daivan kini hanya terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
“Santai aja gak papa,” ucap Daivan dengan senyuman menenangkannya.
“Gue sama dia gak papa?” tanya Isvara pada Yeena. Yeena menganggukkan kepalanya sambil mengelus pundak sahabat nya itu.
Radeva yang mendengar itu kini mengetat kan rahang nya.
“Radeva, lo sendiri? Gue boleh nebeng?” tanya Nuara pada Radeva. Raeva kini menoleh ke arah Naura.
“Sorry ya tapi gue ada janji setelah ini,” ucap Radeva dengan tatapan tak enak nya karena harus menolak Naura. Naura yang mendengar nya kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah nya mereka segera keluar bersama dari sana dan menuju ke arah parkiran menuju ke arah kendaraan mereka masing-masing. Radeva kini menatap begitu tajam dan lurus pada gadis yang kini tengah bersama dengan laki-laki lain.
Isvara kini segera masuk ke dalam mobil Daivan setelah laki-laki tersebut membantunya untuk membukakan pintu.
“Makasih,” ucap Isvara dengan senyumannya pada Daivan yang kini membuat nya terkekeh sambil menganggukkan kepalanya mendengar nya.
Setelah nya Daivan segera mengitari mobil nya dan masuk ke dalam mobil nya. Setelah di rasa semua nya aman kini ia segera melajukan mobil mereka untuk meninggalkan restoran tersebut.
“Gue udah pesen tiket buat nonton,” ucap Daivan yang membuat Isvara kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Daivan.
“Secepat itu?” tanya Isvara pada Daivan yang kini terkekeh sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Isvara.
“Cepet ya,” ucap Isvara yang membuat Daivan kini terkekeh mendengar nya.
__ADS_1
“Takut kehabisan,” ucap Daivan yang membuat Isvara kini menganggukkan kepalanya mendengar nya.
Selama di perjalanan kini mereka seolah tak kehabisan topik pembicaraan. Isvara kini tahu jika Daivan adalah orang yang asik dan begitu pintar mencari topik pembicaraan.
Hingga saat ia melihat ke arah spion tengah, Ia dapat melihat sebuah motor yang mengikutinya. Dari tubuh si pengandari Isvara begitu mengenalinya. Dia adalah Radeva, Isvara menghembuskan nafas nya melihat hal tersebut.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di apartemen Isvara.
“Makasih ya,” ucap Isvara dengan senyumannya pada Daivan yang kini juga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Isvara.
“Hati-hati,” ucap Isvara sambil melambaikan tangannya. Lalu setelah nya ia segera pergi menuju unit apartemennya.
Hari ini rasanya ia begitu lelah. Tak hanya fisik nya. Namun hatinya kini juga merasa begitu lelah.
Setelah sampai di apartemennya Isvara memutuskan untuk segera beristirahat setelah membersihkan dirinya. Memikirkan tentang Radeva yang sengaja mengikuti nya namun sampai kini tak ada menghampirinya membuat Isvara berpikir jika laki-laki itu hanya menjaganya.
“Ngerepotin hati doang bisa nya,” rutuk Isvara yang sudah mulai lelah.
***
Pagi ini mood Isvara rasanya begitu kacau. Hari ini ia terlambat untuk datang ke kampus dan perut nya kini terasa begitu sakit namun saat ia mengejek di kamar mandi ternyata ia tak sedang PMS.
Kelas pertama nya pun begitu menyebalkan karena nilai persentasi nya dikurangi akibat dirinya yang dtaang terlambat. Perut nya pun kini terasa begitu sakit. Isvara memutuskan untuk segera menuju ke arah kelas nya.
Namun saat ia baru berjalan tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang yang membuat Isvara kini terkejut karena nya.
“Gue cuma mau pakein ini,” ucap suara tersebut sambil berbisik di telinga Isvara. Isvara kini menoleh ke arah bawah nya dan melihat perut naya yang kini dililiti oleh jaket milik laki-=laki yang memeluk nya.
Isvara yang melihat itu memejamkan matanya. Kini ia begitu merasa malu.
“It’s ok aku gak akan ngasih tau siapapun,” ucap laki-laki tersebut sambil membalik tubuh Isvara. Isvara menghembuskan nafas nya, masih memejamkan matanya karena malu.
“Isvara,” panggil nya dengan begitu lembut sambil memegang pundak Isvara.
__ADS_1
“Lo beneran gak akan ngasih tau ini ke siap-siapa?” tanya Isvara pada laki-laki yang tak lain adalah Radeva. Radeva yang mendengar itu kini hanya terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
“Apa lo pikir gue orang kaya gitu?” tanya Radeva dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Tenang aja, gue gak akan ngasih tau siapa-siapa,” ucap Radeva menenangkan gadis di depannya itu yang kini hanya menganggukkan kepalanya.
“Ayo ikut gue,” ajak Radeva. Isvara mengerutkan kening nya bingung.
“Lo gak mau beli pembalut? Gue beliin, lo sekarang tunggu di toilet aja,” ucap Radeva dengan senyuman menenangkannya pada Isvara.
Isvara kini menganggukkan kepalanya lalu setelah nya kini mereka berjalan menuju ke arah yang sama namun dengan tempat yang berbeda.
Isvara kini menuju ke arah toilet dan berada di dalam sana sambil menunggu Radeva. Radeva terlihat biasa saja namun Isvara kini begitu malu.
“Ah Isvara,” ucapnya sambil mengacak rambut nya dengan gusar.
Suara ketukan pintu di balik sana membuat Isvara dengan segera membuka nya dan di lihat nya kini Radeva yang datang dengan membawa satu pcs pembalut. Isvara dengan malu kini mengambil nya.
Setelah nya ia memilih untuk menggunakanya. Setelah selesai barulah ia keluar dari sana dan menghampiri Radeva yang ternyata menunggu nya.
“Nih, gue juga beli obat pereda nyeri. Sekalian air nya,” ucap Radeva dengan senyumannya lalu segera memberikannya pada Isvara yang mengambilnya.
Melihat semua perhatian Radeva yang bahkan memperhatikan setiap hal kecil membuat Isvara merasa semakin rumit dengan perasaan sendiri. Bisakah Radeva tidak bersikap baik pada nya dan mengusik perasaan seperti ini.
“Lo masih ada kelas?” tanya Radeva yang di jawab dengan anggukan oleh Isvarab karena setelah ini ia memang masih ada satu kelas.
“Jangan lembur dulu. Nanti pulang nya gue anter pulang ya, sekarang lo balik ke kelas dulu,” ucap Radeva sambil mengelus puncak kepala Isvara dengan lembut lalu setelahnya ia segera pergi dari sana.
Tanpa tahu jika kini kupu-kupu di perut Isvara sudah berterbangan. Jantungnya kini bahkan sudah berdetak dengan tidak normal. Ia begitu membenci keadaan seperti ini. Isvara hanya berharap ika perasaan nya ataupun sikap Radeva ada yang bisa membawa titik terang akan semua nya.
Tak ingin lagi bersama-lama berada di sana. Isvara akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari sana.
***
__ADS_1