
Seorang laki-laki berusaha dua puluh satu tahun kini berjalan di bandara dengan senyumannya yang kini tampak mengembang. Hingga saat ia melihat wanita yang begitu dicintainya. Senyumannya kini semakin mengembang. Laki-laki tersebut melambaikan tangannya ke arah wanita tersebut yang kini mulai berjalan ke arah nya.
“Kenapa harus jemput Mama hm? Kan Mama sudah bilang, kalau kamu sibuk. Gak perlu jemput Mama,” ucap wanita paruh baya yang kini menghampiri laki-laki tersebut setelah memeluk nya untuk melepaskan kerinduan pada anaknya itu yang kini hanya tersenyum mendengar sang ibu.
“It’s ok Ma,” ucap nya dengan senyumannya yang kini mengambang dengan begitu indah.
“Mama tinggal di hotel lagi?” tanya laki-laki tersebut yang tak lain adalah Radeva. Sang ibu kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Mama bisa tinggal di apartemen aku kalau mama mau, aku akan tinggal di basecamp,” ucap Radeva pada Ibu nya itu yang kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Radeva.
“Kamu tetep di Apartemen kamu. Mama baik-baik saja ada di hotel,” ucap Sahna pada anaknya itu sambil merangkul lengan anaknya yang kini tumbuh dengan begitu cepat.
“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Sahna sambil menatap anaknya itu dengan penuh tanya.
“Baik Ma, Mama baik?” tanya Radeva sambil membawa koper sang Ibu yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari anaknya itu.
“Seperti yang kamu lihat. Bagaimana hubungan kamu dengan ayah kamu? Mama berharap kalian bisa untuk berdamai,” ucap Sahna dengan begitu lembut pada anak nya itu yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang Ibu.
“Apa aku punya ayah? Aku harap kita gak bahas ini lagi.” Radeva memang selalu seperti itu saat membahas tentang Ayah nya. Kebencian nya pada sang Ayah membuat nya enggan untuk membahas laki-laki yang tega berselingkuh dan meninggalkannya saat usia nyabahkan baru berusia satu tahun.
Bahkan saat itu ia belum bisa menyebut kata Mama dan Papa namun ayahnya lebih memilih wanita lain dan meninggalkannya bersama dengan sang Mama yang akhirnya harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Dan saat Radeva sudah bisa berbicara dia malah datang dan mengatakan dia adalah Ayah nya. Ingin membawa Radeva pergi dan menjadikan nya sebagai pewaris. Kebencian yang sudah menyatu dengan nya kini membuat nya enggan untuk menyebut Ayah nya itu sebagai sang Ayah.
“Baiklah kita tidak akan membahasnya lagi,” ucap Sahna sambil mengelus lengan nanaknyaitu berusaha untuk menenangkan anaknya. Radeva menghembuskan nafas nya kasar dan uga mengelus tangan ibu nya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kuliahmu? Semua nya baik?” tanya Sahna yang kini dijawab dengan anggukan oleh Radeva.
Tak lama mereka akhirnya sampai di parkiran mobil Radeva. Radeva segera membukakan pintu untuk ibunya itu. Setelah nya ia segera memutari mobilnya dan mulai melajukan mobilnya saat kini semua di rasa aman.
Radeva mengemudi dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang kini cukup sepi.
“Ma, temen ku ada yang pengen ketemu sama Mama,” ucap Radeva yang membuat Sahna kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan ibu nya itu.
“Teman kamu?” tanya Sahna yang tak percaya jika itu adalah teman anaknya. Apalagi saat melihat anaknya yang kini tersenyum bahagia saat mendengar ucapan ibu nya.
“Hm, dia dari jurusan tata busana. Aku bilang kalau Mama ku, seorang Desainer dan aku nawarin dia buat ketemu Mama,” ucao Radeva menjelaskan pada ibu nya itu yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan anaknya.
“Bener hanya seorang temen?” tanya Sahna dengan tatapan menggoda pada anaknya itu yang kini malah tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Mama tahu kamu nak. Siapa namanya?” tanya Sahna sambil menatap anaknya itu yang kini terdiam sejenak.
“Isvara,” jawab Radeva dengan senyumannya. Melihat tatapan anaknya yang begitu berbinar membuat nya tahu jika anaknya itu menyukai gadis tersebut.
“Jangan terlalu memaksakan ego mu nak. Lakukan apapun yang kamu sukai dan ikuti kata hatimu,” ucap Sahna memperingati anaknya. Radeva yang mendengar ucapan ibu nya itu kini menoleh sebentar ke arah ibu nya dengan tatapan serius nya.
“Jangan karena masalah keluarga mu membuat mu memiliki pemikiran sendiri yang akhir nya malah membuat kamu menyesal di kemudian hari,” pesan Sahna pada anaknya otu sambil mengelus tangan anaknya yang kini berada di stir.
“Jangan menutupi perasaan kamu. Kesalahan terbesar Mama di masa lalu adalah memendam dan tidak bisa berjuang, jangan lakukan hal yang sama karena akhirnya hanya akan membuat kamu menyesal. Mama tahu anak Mama sekarang udah besar, kamu pasti mengerti apa yang Mama katakan, dan Mama tahu kamu bisa mengambil keputusan yang baik. Mama percaya sama kamu,” ucap Sahna dengan senyuman menenangkannya pada Radeva yang kini hanya terdiam mendengar ucapan Ibu nya yang tengah menasihati nya.
***
__ADS_1
Lembur. Lagi-lagi kini ia harus pulang malam larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Rasanya Isvara sudah lelah jika harus pulang selarut ini.
Hembusan nafas lelah terdengar dari gadus tersebut. Kini ia kembali melihat setiap detail dari apa yang dikerjakannya. Takut jika ada yang yang terlewatkan dan menjadi cacat daman desain yang di buat nya.
Setelah memastikan tidak ada bagian yang belum ia lahir atau bagian yang kurang senyuman gadis tersebut kini akhirnya mengembang dengan begitu sempurna. Melihat hasil dari kerja kerasnya selama ini.
Tak mudah untuk nya membuat sebuah karya di depannya itu. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi. Bahkan tidur hanya sebentar sudah menjadi bagian dari nya selama beberapa bulan belakangan ini.
Dan kini akhirnya ia selesai dengan karya nya itu.
Isvara kini memilih untuk segera pulang karena rasanya ia sudah begitu lelah, belum lagi kepalanya yang kini terasa begitu pusing. Mungkin semua ini karena efek dari ia yang selalu tidur larut malam dan jam tidur nya yang kurang.
“Aku harap semua nya tak mengecewakan,” ucap nya dengan senyumannya yang kini terlihat begitu indah.
Ia memiliki harapan besar untuk karya di depannya itu. Isvara tahu harusnya tak berharap pada apapun. Namun kali ini berharap pada dirinya sendiri agar ia bisa membawa dirinya pada titik terbaik dengan karya tersebut.
Sebelum pergi gadis tersebut memeriksa nya sekali lagi. Lalu setelahnya ia segera menutup nya. Baru setelah nya ia memutuskan untuk segera pergi.
Langit malam kini begitu mendung saat menyambut nya yang baru keluar dari kelas nya. Tak ada bintang yang kini bersinar indah. Bahkan bulan pun bersembunyi di balik awan yang menghitam.
“Semoga saja gak hujan sebelum gue sampai ke apartemen,” mohonnya.
Isvara kini menuju ke arah halte menunggu bus yang akan lewat.
***
__ADS_1