
Keadaan taman belakang villa kini begitu ramai. Karena kini remaja yang tengah berlibur ke bromo itu tengah melakukan acara barbeque di taman belakang villa yang memiliki taman yang cukup luas.
Isvara baru saja keluar dari Villa, sedari tadi ia berada di dalam Villa menyiapkan minuman dan bahan-bahan untuk barbeque bersama dengan Reiha juga tiga perempuan lainnya yang merupakan kekasih dari teman Radeva yang juga ikut.
“Mana jaket lo?” suara itu membuat Isvara yang memang hanya keluar dari kaos kini menoleh dan menyemngir. Laki-laki yang mengatakan itu tak lain adalah Sandy. Sandy menggeleng melihat nya.
“Sini gue yang bawa, lo ambil jaket sana,” perintah Sandy sambil mengambil alih minuman yang dibawa oleh Isvara. Isvara kini menuju ke arah kamar nya untuk mengambil jaket milik nya.
Saat akan menuju ke arah kamar nya untuk mengambil jaket, tatapannya kini tak sengaja melihat Radeva dan Naura, sahabat Melody yang kini tampak berbincang. Mereka kini bahkan terlihat begitu dekat dan saling tertawa satu sama lain.
Tak hanya itu dapat Isvara lihat bagaimana Naura yang menatap Radeva dengan tatapan kagum nya.
“Udah gue bilang kan, lo harusnya gak terlalu deket sama dia. Lo harus jaga jarak dari dia,” ucap Isvara pada dirinya sendiri berusaha meyakinkan dirinya jika Radeva bukanlah laki-laki yang baik untuk nya.
Dengan langkah cepat nya kini ia memilih untuk kembali menuju sahabat nya karena kini Radeva dan Naura berada di pintu kamar nya. Dengan langkah cepat Isvara menuruni tangga yang baru setengah ia naiki.
Persetan dengan udara dingin, ia begitu kesal dan tak ingin melihat mereka lebih lama lagi.
Saat kembali ke taman belakang kini Sandy menatapnya dengan tajam.
“Mana jaket lo?” tanya Sandy saat Isvara kini duduk di samping Yeena.
“Dingin Ra, gak pake jaket?” tanya Reiha dengan tatapan bingung nya pada sahabat nya itu.
“Lupa narok nya gue,” ucap Isvara dengan cengirannya. Sandy kini memicingkan matanya curiga, ia tahu ada yang aneh dengan sahabat nya itu. Ia dapat melihat kebohongan dari mana Isvara, apalagi ia begitu tahu Isvara bukanlah orang yang teledor dan begitu rapih.
__ADS_1
“Gue yang cari,” ucap Sandy dan sudah akan berdiri, namun Isvara segera menahannya.
“Please,” ucap Isvara sambil menggelengkan kepalanya meyakinkan Sandy. Sandy menghembuskan nafas nya, seolah mengerti jika memang ada yang tidak beres dan semua itu berhubungan dengan Radeva.
Beruntung kini mereka tengah menatap tempat yang akan digunakan. Sedangkan teman-teman Radeva kini tengah membakar sosis juga jagung dan daging yang mereka beli tadi.
“Eh Radeva sama Naura mana?” tanya Yeena sedikit mengeraskan suara nya. Ia kini juga ,menyadari ada yang tidak beres dengan sahabat nya itu. Namun karena di sana ada Melody dan Mela akhirnya ia sengaja bertanya keras untuk ia tunjukan pada orang yang berada di sana.
Sandy yang menyadari itu kini mengerti semua nya. Sandy membuka jaket nya lalu ia pasang kan pada Isvara.
“Makasih,” ucap Isvara dengan senyumannya saat Sandy membenarkan jaket yang kini digunakannya. Dan semua itu tak lepas dari Melody yang menatapnya dengan tatapan kesal juga cemburu. Tak salah memang karena sikap Sandy yang begitu perhatian pada Isvara bisa membuat orang salah paham pada mereka.
“Itu Naura, Ra sini,” teriak Mala saat melihat Naura yang baru saja datang dengan senyumannya kini berjalan menuju ke arah Melody yang berada bersama dengan Isvara cs.
Melihat itu Isvara kini segera berdiri. Sandy pun kini ikut berdiri.
“Kenapa lagi?” tanya Isvara dengan tatapan lelah nya pada Sandy.
“Gue gak mau liat lo begini lagi, setelah kita balik gue gak mau lagi liat lo sama dia,” tegas Sandy. Isvara kini menundukkan kepalanya sambil memainkan kaki nya di rerumputan.
“Lo yang buat gue terjebak sama dia,” gumam Isvara dengan kekesalannya.
“Sorry, gak lagi,” ucap Sandy.
“Apa kita mau sewa hotel atau villa lain?” tawar Sandy pada Isvara. Ia benar-benar tak tega melihat sahabat nya itu. Isvara yang mendengar penawaran Sandy sontak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Cuma tiga hari kita bareng mereka, setelah itu gak perlu terlibat lagi,” ucap Isvara. Sandy menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya lalu mengelus puncak kepala Isvara.
“Duduk sini,” ucap Sandy. Isvara seera duduk di rerumputan samping Sandy sambil melihat hamparan bintang di atas mereka. Lama mereka berada di sana karena tak Isvara yang enggan melihat Radeva dan Sandy yang menemaninya.
“Sandy,” suara panggilan itu membuat mereka menoleh dan kini mereka menatap Melody dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Eh itu sudah matang semua,” ucap Melody. Sandy dan Isvara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu mereka segera berdiri dan berjalan menuju ke arah depan.
Namun sebelum benar-benar pergi, Melody menahan Sandy. Membuat Sandy kini menaikkan sebelah alisnya. Isvara pun menaikkan sebelah alisnya. Namun seolah mengerti jika Melody ingin berbicara dengan Sandy akhirnya ia memilih untuk segera pergi.
“Gue duluan,” ucap Isvara, Sandy mengangguk.
“Kenapa?” tanya Sandy dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Kamu suka sama Isvara?” tanya Melody yang membuat Sandy kini menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya laki-laki itu terkekeh mendengar pertanyaan Melody.
“Kita cuma sahabat, kan aku suka sama kamu,” ucap Sandy dengan begitu tulus pada Melody.
“Tapi yang bisa di lihat kamu perhatian banget sama dia, bahkan jika disuruh memilih mungkin yang kamu pilih adalah Isvara,” ucap Melody yang membuat Sandy kin menghembuskan nafas nya kasar.
“Kalian dua hal yang berbeda, gimana aku harus memilih? Isvara sudah aku anggap sebagai sahabat sendiri. Dan lagi kita sudah bersahabat sejak SMP, sejak persahabatan kita masih bertiga. Dan cinta pertama ku yang juga salah satu dari sahabat kita meninggal, dia yang meminta aku menjaga Isvara, aku hanya melakukan apa yang dia wasiat kan,” jelas Sandy yang membuat Melody kini terdiam mendengar penjelasan Sandy.
“Kamu masih melakukan apa yang dia minta? Kamu masih suka sama dia? Apa aku harus bersaing dengan bayangan?” tanya Melody dengan tatapan sendu nya pada Sandy. Sandy menghela nafasnya kasar.
“Untuk apa bersaing? Kamu udah mendapatkannya Melody, dia hanya sahabat juga masa lalu aku, dan aku menjaga Isvara sebagai seorang kakak yang menjaga adik nya,” jelas Sandy pada Melody yang kini terdiam mendengar ucapan Sandy.
__ADS_1
“Aku harap kita gak bertengkar karena ini kedepannya. Kita baru mau memulai, jadi aku mohon kerjasamanya,” ucap Sandy pada Melody. Lalu setelah nya ia segera menggiring Melody untuk pergi dari sana dan menuju ke arah teman-teman mereka.
***