
Isvara kini menatap rumah di depannya dengan tatapan malasnya. Rasanya ia begitu malas harus kembali menginjakkan kakinya di rumah yang tak pernah ia anggap sebagai rumah. Dengan langkah nya yang malas akhirnya ia segera memasuki rumah berlantai dua di depannya itu.
Isvara segera membuka pintu rumah nya karena ia juga memiliki kunci nya. Saat akan masuk sebelumnya ia menoleh ke arah belakang dan mengernyitkan kening nya saat di lihat nya kini ada mobil yang terparkir di depan rumah nya. Dan mobil tersebut bukanlah milik Ibu nya.
“Lagi?” tanya Isvara dengan begitu malas.
Wanita tersebut dengan segera memasuki rumah nya. Anjing dan kucing peliharaannya kini segera menghampirinya saat Isvara datang.
“Mama,” teriak Isvara memanggil Ibu nya tersebut namun ia tak mendapati keberadaan Ibu nya. Hingga tak lama ia melihat Ibu nya yang keluar dari ruang keluarga.
“Kamu dateng? Kamu istirahat dulu hm. Mama masih ada temen,” ucap seorang wanita cantik yang kini menghampirinya. Isvara yang mendengar hal tersebut kini memejamkan matanya sambil menahan rasa kesalnya pada ibunya tersebut.
Bagaimana bisa ibunya tersebut lebih mementingkan orang yang dikatakan sebagai tamu tersebut. Sedangkan ia tahu jika yang berada di dalam sana adalah laki-laki. Dan ibunya lebih mementingkan laki-laki tersebut daripada anaknya sendiri. apa Ia juga lupa jika kini anaknya tengah berulang tahun?
Kecewa? Jelas kini rasanya ia begitu kecewa pada ibunya tersebut. Namun lagi-lagi Ia hanya bisa menahan kekesalannya tersebut.
“Aku tidak memiliki waktu untuk menunggu ibu yang harus bermesraan dengan laki-laki tersebut,” ucap Isvara dengan kekesalannya setelahnya ia segera meninggalkan ibunya tersebut pergi keluar dari rumah tersebut. Niana, ibu Isvara yang mendengar ucapan anaknya tersebut kini memejamkan matanya apalagi saat melihat kepergian anaknya itu.
Isvara kini menutup pintunya dengan begitu keras membuat niana memejamkan matanya namun untuk kali ini ia tidak bisa untuk mencegah anak gadisnya tersebut. Jadi ia segera kembali pada tamunya yang kini masih menunggunya di ruang keluarga
Isvara dengan langkah lelahnya kini berjalan keluar dari rumahnya tatapannya kini begitu sembuh menatap ke depan dengan perasaannya yang begitu hancur. Ia memang seharusnya tidak berada di sana datang ke rumah ibunya sama saja dengan mencari luka. Namun ia malah mencoba peruntungannya dan hasilnya kini malah membuatnya terluka.
Wanita cantik tersebut kini akhirnya memilih untuk menuju ke makam sahabatnya menurutnya itu akan lebih baik bercerita pada sahabatnya yang jelas tidak akan bisa mendengarnya namun hanya sekedar menyampaikan keluh kesahnya ia merasa tenang
***
__ADS_1
Radeva kini menatap tugas di depannya dengan tatapan lelah nya. Kini ia harus bekerja lebih giat untuk menyelesaikan tesis nya.
“Jangan terlalu capek,” ucap seorang gadis yang kini duduk di depannya. Sambil meletakkan minuman di depan Radeva.
Radeva gini Tengah berada di apartemennya menyelesaikan tesis miliknya ditemani oleh Yozita yang kini juga berada di sana. Gadis tersebutlah yang tadi membawakan minuman untuknya.
“Aku pengennya juga nggak terlalu capek tapi tesis ini benar-benar menguras pikiran dan teman agak, sedangkan aku harus segera menyelesaikannya, aku memiliki target agar menyelesaikannya saat semester tiga,” jelas Radeva pada Yozita yang kini sudah duduk di sampingnya. yozita yang mendengar ucapan laki-laki di sampingnya tersebut kini hanya menggelengkan kepalanya sambil menepuk pundak radepa memberikan semangat pada laki-laki tersebut.
“Sekarang kamu tinggal di mana?” tanya Yozita yang memang tidak mengetahui jika kini radeva tinggal di rumah kekasihnya.
“ Di sebuah tempat, di sebuah tempat yang begitu nyaman dan aku sangat menyukainya,” ucap Radeva dengan senyumannya yang membuat Yozita kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan dari laki-laki di samping nya itu.
“Kamu tinggal bersama orang kamu sukai?” tanya Yozita dengan tatapan permintaannya pada radiva hergino hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan tersebut. Iya lebih memilih untuk fokus pada tugas di depannya itu.
“Aku rasa iya,” ucap Yozita sambil menganggukkan kepalanya seolah sudah mengetahui apa jawaban laki-laki tersebut hanya dengan melihat senyumannya. Namun entah mengapa kini ia merasa sakit hati dan terluka mendengar pernyataan dari Radeva.
Setelahnya Yozita memilih untuk diam karena ia merasa tak sanggup lagi untuk melanjutkan pembicaraan tersebut. Akhirnya mereka hanya berada dalam diam, terlalu sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing.
“Udah sore, aku balik dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku,” ucap Radeva setelah mematikan laptop nya lalu setelah nya ia segera mengelus puncak kepala Yozita dan segera pergi dari sana meninggalkan Yozita yang hanya terdiam.
***
Tak seperti rencana nya. Ia yang harus nya kembali saat sore kini malah masih berada dalam perjalanan saat hari semakin sore. Isvara tadi berada begitu lama dimakan Lain, ia menceritakan banyak hal untuk sahabat nya itu.
Tak hanya kemakan Liana. Ia juga ke tempat mereka biasa bermain. Sebuah rumah pohon yang bahkan masih ada sampai sekarang. Sandy lah yang sering datang ke tempat tersebut dan membersihkan rumah pohon masa kecil mereka.
__ADS_1
Terlalu lelah membuat Isvara tadi ketiduran di rumah pohon., hal tersebutlah yang membuat nya harus pulang begitu sore.
Suara dari dering ponselnya membuat Isvara kini dengan segera mengambil ponsel nya dan mendapati nama Bibi nya yang berada di sana.
“Bibi,” sapa Isvara dengan suara parau nya. Bibi nya yang mendengar suara parau keponakannya itu kini seolah mengetahui apa yang terjadi pada keponakannya itu.
“Tidak apa hm, mungkin Ibumu memang sibuk,” ucap May pada keponakannya itu yang kini hanya terkekeh. Isvara kini menghapus air matanya dengan kasar karena tak ingin ada yang melihat menangis karena kini ia tengah berada di kereta.
“Aku melihat nya sedang bersama dengan laki-laki. Mereka bahkan bisa bercanda bersama, tapi untuk menemui ku ia tak bisa,” ucap Isvara dengan senyuman sinisnya pada Bibi nya. Ini lah yang membuat Isvara begitu malas untuk pulang ke rumah nya.
Ibu nya itu begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Entah sibuk dengan pekerjaannya atau sibuk dengan kekasih nya. Itu lah yang membuat Isvara memilih untuk keluar dari rumah nya. Orang menyebutnya anak haram. Namun Isvara tak pernah marah akan hal tersebut, karena ia tahu bagaimana ibu nya. Ibu nya adalah wanita liar dan ia membenci kenyataan itu.
“Memang seharusnya aku tak perlu untuk datang Bi,” ucap Isvara pada Bibi nya itu.
“Maaf sudah memaksamu untuk datang,” ucap May dengan rasa bersalah nya pada keponakannya itu.
“Mengapa tidak Bibi saja yang menjadi bibi ku?” tanya Isvara dengan senyuman getir nya.
“Apa yang kamu bicarakan? Sudah jangan berbicara seperti itu. Kau harus beristirahat dengan baik dan makan dengan baik. Besok Bibi akan menemuimu hm,” ucap May pada keponakannya itu.
“Gak perlu Bi. Lain kali kalau ada waktu biar aku yang dateng ke tempat Bibi. Bibi istirahat yang baik ya. Aku masih ada di perjalanan,” ucap Isvara setelah berhasil mengendalikan dirinya. Terdengar helaan nafas kasar dari seberang sana.
“Baiklah. Kamu hati-hati. Langsung hubungi Bibi jika terjadi sesuatu,” pintu May pada keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Baik Bibi. Aku tutup Ya. Dah Bi,” salam Isvara sebelum benar-benar menutup panggilan tersebut.
__ADS_1
***