
“Aish,” suara dengusan Isvara kini terdengar begitu kesal. Mengingat kembali semua kebodohannya tadi malam membuat nya merasa begitu malu. Apa yang ia lakukan dan apa yang ia pikirkan hingga bisa melakukan hal bodoh bersama dengan Radeva.
Kesucian yang sudah ia jaga selama ini, malah ia lepaskan dengan laki-laki yang bahkan tidak ingin terikat dengan siapapun dan tak ingin untuk memiliki hubungan.
“Isvara, lo pasti udah gila,” rutuk Isvara dengan kebodohannya sendiri sambil mengacak rambutnya frustasi mengingat apa yang terjadi.
“Kamu udah bangun,” suara yang begitu lembut itu mengalun dengan begitu indah nya menyapa indra pendengaran Isvara. Isvara menghembuskan nafas nya kasar. Gadis yang kini masih berada di ranang nya dengan terduduk dan hanya tutupi dengan selimut itu menoleh ke arah Radeva.
Senyuman yang begitu indah kini terlihat dengan begitu jelas di wajah laki-laki tersebut.
“Wah bisa nya dia bisa tersenyum dengan lebar kayak gitu,” batin Isvara tak habis pikir dengan apa yang baru saja di lihat nya. Apa laki-laki tersebut tidak merasa mereka melakukan kesalahan? Atau setidak nya, tidak perlukah laki-laki tersebut memperjelas hubungan mereka?
Isvara tahu in kesalahannya, kesalahannya hingga ia begitu mabuk dan kesalahannya karena ia yang lebih dulu memberikan lampu hijau untuk laki-laki tersebut. Namun tak bisakah Radeva sebagai laki-laki memperjelas hubungan mereka.
“Kenapa?” tanya Radeva dengan tatapan penuh tanya nya pada Isvara yang kini tampak menatapnya dengan tatapan kesal nya.
“Aish,” ucap Isvara sambil memejamkan matanya dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
“Aku siapin makanan,” ucap Radeva yang setelah nya segera pergi dari sana menuju ke arah dapur.
Isvara menghembuskan nafas nya kasar. Lalu setelahnya ia segera menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Dengan susah payah kini gadis tersebut menuju ke arah kamar mandi dan membersihkan tubuh nya.
“Apa yang lo lakuin Isvara,” rutuk nya pada dirinya sendiri. Tak habis pikir dengan semua ini.
Gadis tersebut mengacak rambut nya dengan gusar. Memikirkan semua ini membuat nya begitu pusing.
“Ok sekarang lo harus tenang, dan bahas semua ini sama dia,” ucap Isvara menenangkan dirinya sendiri.
Setelah hampir satu jam gadis tersebut bersiap dan menutupi leher nya yang banyak bercak merah dengan foundation.
“Aissh sialan,” maki Isvara yang sedari tadi tak hentinya memaki. Ia kini begitu kesal. Tak hanya pada dirinya namun juga pada Radeva.
__ADS_1
Gadis tersebut kini berjalan keluar dari kamar nya menuju ke arah dapur. Di dapur yang tak terlalu besar dan terdapat empat kursi dengan satu meja makan. Di atas meja makannya kini sudah tersaji sarapan juga susu.
Radeva yang melihat kedatangan Isvara tersenyum dengan begitu cerah, berbeda dengan Isvara yang kini tampak begitu datar pada laki-laki tersebut. Isvara kini duduk di salah satu kursi. Radeva kini duduk di depannya.
Selama makan, mereka memilih untuk diam. Fokus dengan makanan masing-masing. Hingga setelah Radeva yang selesai lebih dulu. Gadis tersebut lah yang memulai pembicaraan lebih dulu.
“Enak?” tanya Radeva yang kini hanya dijawab dengan anggukan oleh Isvara.
Setelah selesai barulah kini ia mendapat Radeva begitu dalam. Isvara menipiskan bibir nya, ia begitu bingung harus memulai nya dari mana.
“Lo punya pacar?” tanya Isvara pada Radeva. Radeva kini tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Engga, kenapa?” tanya Radeva dengan tatapan bingung nya dengan pertanyaan Isvara.
“Lo gak mau ada di hubungan seperti itu?” tanya Isvara lagi. Radeva menganggukkan kepalanya.
“Apa hubungan seperti itu perlu? Bukannya itu hanya sebuah pengikat? Cuma sebuah simbol?” tanya Radeva dengan menaikkan sebelah alisnya. Radeva dan pemikirannya yang kini berhasil membuat Isvara kesal mendengar nya. Bagaimana bisa laki-laki seperti itu bisa memiliki pemikiran seperti itu?
“Gue gak mau ada di hubungan seperti itu. Udah gue bilang, pacaran hanya sebuah formalitas,” ucap Radeva. Isvara yang mendengar ucapan Isvara kini menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya mendengar ucapan laki-laki tersebut.
“Bahkan setelah apa yang dia lakukan dia gak mau inisiatif buat jadiin gue pacar nya, sial,” gumam Isvara dengan begitu pelan.
“Menurut lo pacaran cuma formalitas? Lo salah Radeva, setiap orang butuh untuk kepastian, setiap orang butuh untuk pengakuan,” ucap Isvara dengan pemikirannya.
“Untuk apa berada di hubungan yang murid? Bahkan tanpa hubungan pacaran gue bisa memperlakukan lo sebagai pacar gue.” Radeva kini menatap serius pada Isvara. Ia tahu kemana arah pembicaraan mereka. Namun Radeva masih dengan prinsip nya sendiri.
“Lo yang rumit,” kesal Isvara lalu seera untuk bangkit.
“Keluar dari rumah gue kalau lo udah selesai,” ucap Isvara yang setelah nya memilih untuk segera pergi dari sana.
Radeva yang mendengar bentakan Isvara cukup terkejut. Laki-laki tersebut menghembuskan nafas nya. Ia merasa jika kini ia ingin untuk memberikan Isvara waktu untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Dengan langkah besar nya kini laki-laki tersebut menuju ke arah kamar Isvara yang ternyata tidak di kunci.
Radeva mengambil kunci mobil juga ponsel nya lalu segera pergi dari sana.
“Aku pergi,” ucap Radeva yang sama sekali tidak Isvara pedulikan. Gadis tersebut mengusap wajah nya gusar lalu ia setelah kepergian Radeva ia juga memutuskan untuk segera ke kampus.
“Gue gak bakal mabuk lagi, sialan,” maki nya pada dirinya sendiri.
Kini Isvara memilih untuk menuju ke arah halte untuk mencari angkutan umum. Namun mobil yang berhenti di depannya membuat Isvara menoleh dan mendapati sahabat nya yang kini berada di sana.
Tanpa mendengar perintah ajakan untuk masuk Isvara kini segera masuk ke dalam mobil Sandy.
“Sialan lo,” maki Isvara saat gadis tersebut baru saja masuk ke dalam mobil Sandy. Sandy yang tak mengetahui apapun kini mengerjapkan matanya beberapa kali, terlalu terkejut mendengar makian dari Isvara.
“Lo ada masalah sama gue?” tanya Sandy dengan tatapan bingung nya.
“Ada, ngapain lo mabuk juga kemarin?” marah Isvara pada Sandy.
“Biasanya juga gitu kan?” tanya Sandy dengan tatapan bingung nya.
“Kali ini beda, lo ngeselin banget sumpah,” marah Isvara dengan tatapan kesal nya. Kini ingin sekali ia menangis sambil menjambak rambut sahabatnya itu.
Sandy yang tak mengerti apapun kini hanya menatap dengan tatapan bingung nya pada sahabatnya itu.
“Kenapa sih?” tanya Sandy dengan tatapan bingung nya.
“Tau deh, buruan jalan,” perintah Isvara dengan tegas.
Tak ingin lagi membuat sahabat nya itu semakin marah dan mengamuk, akhirnya kini Sandy segera melajukan mobil dan menuju ke arah kampus mereka.
***
__ADS_1