
Radeva masih tak habis pikir bagaimana dua orang bersahabat itu bisa berada dalam keadaan seperti ini. Mereka hanya berdua namun tak ada satupun yang sadar. Seolah melupakan apa yang akan terjadi selanjut nya. Mereka sama-sama melampiaskannya pada alkohol.
Bahkan Sandy yang begitu menjaga Isvara kini juga ikut mabuk. Entah masalah apa yang terjadi dengan kedua orang tersebut. Radeva menoleh ke arah Isvara yang kini sudah tertidur di samping nya. Sedangkan Sandy sudah dibawa oleh temannya yang lain.
“Kalian ada masalah apa sih?” tanya Radeva sambil menggelengkan kepalanya. Laki-laki tersebut melihat sekilas ke arah Isvara yang saat ini terlihat begitu cantik. Senyumannya mengembang saat melihat gadis di samping nya itu.
Setelah tak beberapa lama kini akhirnya mereka sampai di depan gedung apartemen Isvara. Sebelum keluar Radeva lebih dulu menghubungi Yeena untuk bertanya dimana letak apartemen milik gadis di samping nya.
“Apaan?” tak membutuhkan waktu lama untuk Yeena menjawab panggilannya.
“Unit Apartemen Isvara nomor berapa?” tanya Radeva. Yeena tak langsung menjawab nya, gadis tersebut terdiam cukup lama hingga Radeva dapat mendengar suara decakan juga desisan dari dari orang di seberang sana.
“Ck sst, mau apa lo nanya apartemen Isvara?” tanya Yeena dengan nada suara nya yang terdengar begitu curiga pada Radeva.
“Isvara lagi sama gue, dia mabuk dan sekarang dia tidur,” jelas Raeva yang tampak membuat Yeena begitu terkejut di seberang sana.
“Woy, lo apain sahabat gue?” tanya Yeena dengan nada suara nya yang kini meninggi.
“Gue nemuin dua sahabat lo mabuk di bar, gue cuma nolongin aja,” jelas Radeva dengan kekesalannya karena kini ia malah di tuduh membuat Isvara mabuk.
“Huft lagi?” tanya Yeena dengan menghela nafas nya kasar.
“Lagi?” tanya Radeva yang bingung mendengar ucapan Yeena.
“Hm, setiap tahun di tanggal dan bulan yang sama mereka selalu begini. huft,” dengus Yeena yang kini terdengar lelah.
__ADS_1
“Tolong jagain mereka dulu. Gue sama Tara ke sana sekarang,” ucap Yeena.
“Gak perlu. Sandy sudah di urus sama temen gue. Gue sekarang juga udah di depan gedung apartemen Isvara. Sekarang lo kasih tau aja unit apartemennya,” ucap Radeva melarang Yeena untuk datang.
“Lo yakin? Isvara banyak tingkah dan ribet kalau lagi mabuk,” jelas Yeena dengan ringisannya. Radeva yang mendengar nya malah terkekeh.
“Santai aja.” Radeva berusaha meyakinkan Yeena, jika ia akan menangani Isvara. Lagi pula kini gadis tersebut sudah tidur.
“Ya udah deh, makasih ya. Btw unit dia ada di lantai empat nomor 403,” ucap Yeena. Radeva menjawab nya dengan anggukan sambil melihat sekitar ke arah Isvara yang kini masih tampak begitu tenang dalam tidur nya.
“Thanks,” ucap Radeva. Tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang sana. Yeena segera menutup panggilan teleponnya.
Radeva kini keluar lebih dulu. Lalu mengitari mobil nya untuk membantu Isvara keluar dari mobil nya.
Hingga saat sampai di unit apartemen Isvara. Kini Radeva terdiam karena tak mengetahui sandi nya. Namun akhirnya ia menggunakan fingerprint gadis tersebut.
“Rapi banget,” ucap Radeva saat memasuki apartemen Isvara yang begitu rapi. Wangi gadis tersebut yang begitu khas kini langsung masuk ke indra penciumannya.
Radeva segera membawa gadis tersebut menuju ke arah kamar nya Setelah meletakkan Isvara di ranjang nya, kini Radeva berjalan ke arah dapur untuk mencari obat pereda nyeri, takut Isvara mengalami asam lambung.
Setelah kembali dari dapur dan menuju ke arah kamar Isvara lagi. Kini ia dibuat terkejut melihat Isvara yang sudah berada di bawah ranjang samping menangis.
Radeva yang melihat itu segera menghampiri Isvara karena terlalu khawatir.
“Lo kenapa? Ada yang sakit?” tanya Radeva dengan tatapan khawatirnya pada Isvara yang kali ini terus menangis. Isvara yang mendengar pertanyaan dari laki-laki di depannya itu kini menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Hari ini tepat empat tahu hari kematian sahabat gue,” ucap Isvara dengan tangisannya yang membuat Radeva kini menghembuskan nafas nya lega. Ia sudah begitu khawatir pada gadis tersebut, takut jika ada yang sakit.
“Itu alasan lo sama Sandy sampai kayak gini?” tanya Radeva yang kini dibalas dengan anggukan oleh Isvara. Radeva menipiskan bibir nya sambil menganggukkan kepalanya.
“Gue ngerti perasaan lo. Gue juga punya sahabat yang sekarang juga lagi masa pengobatan dan dia berada jauh dari gue, gue belum kehilangan dia aja udah khawatir, apalagi kalau gue di posisi lo dan Sandy,” ucap Radeva berusaha untuk memahami gadis di depannya itu.
Radeva kini memegang pundak Isvara dengan tatapannya yang begitu dalam pada gadis di depannya itu.
“Pasti sulit. Tapi lo harus bangkit, sahabat lo gak akan suka kalau hari kematiannya dijadikan sebagai hari untuk minum-minum oleh sahabat nya, lebih baik lo kasih dia doa semoga dia tenang dan bahagia di sana, dia pasti lagi liatin lo. Dan merasa sedih karena hari kematiannya sahabat nya malah mabuk,” ucap Radeva berusaha untuk memberikan semangat pada gadis di depannya itu. Radeva tersenyum dengan begitu lembut sambil menghapus air mata gadis di depannya.
“Dia sahabat gue dari kecil. Dia yang tahu semua tentang gue, setelah kehilangan dia gue ngerasa ada yang kurang, gue ngerasa kehilangan separuh diri gue,” ucap Isvara dengan tangisnya. Radeva menipiskan bibirnya berusaha untuk mengerti dan menempatkan dirinya di posisi Isvara.
“Pasti sulit hm? Tapi perlahan lo harus bisa untuk mengikhlaskan dia. Menempatkan dia di posisi nya sendiri, bukan untuk dilupakan, namun hanya berpindah tempat,” jelas Radeva sambil menangpun wajah Isvara dan menghapus air mata gadis tersebut. Lalu ia memeluk nya, berusaha memberikan ketenangan juga kenyaman pada gadis tersebut. Hingga setelah gadis tersebut sudah meredakan tangis nya, baru Radeva melepaskan pelukannya.
“Sekarang lo tidur,” tegas Radeva sambil menggendong Isvara menuju ke arah kasur nya.
“Minum obat dulu.” ucap Radeva dan membantu Isvara untuk meminum obat nya.
Setelah nya ia sudah akan pergi. Namun Isvara malah menarik tangannya. Hingga kini laki-laki tersebut tepat terjatuh di depan Isvara dengan bibir nya dan bibir Isvara yang kini saling menyatu.
Isvara memejamkan matanya hingga tangannya kini melingkar dan mereka malah melanjutkannya. Radeva hanya lah laki-laki normal. Jika diberikan gadis cantik yang memberikannya lampu hijau untuk apa ia menolaknya.
Dan akhirnya malam itu, mereka malah melakukan hal yang tidak seharus nya mereka lakukan. Entah esok pagi saat sudah sadar dari mabuk nya, gadis tersebut akan baik-baik saja mengetahui apa yang ia lakukan.
***
__ADS_1