
Suara ketukan pintu dan bel yang berbunyi bersamaan mengganggu tidur Isvara. Baris tersebut baru saja tidur selama beberapa menit namun kini malah sudah ada yang mengganggu tidurnya tersebut. Dengan menghembuskan nafasnya kasar kini gadis tersebut segera menuju ke arah pintu untuk membukakan orang di luar sana.
Saat pintunya terbuka kini terlihat keempat sahabatnya tengah tersenyum dengan begitu ceria ke arahnya. Yang membuat Isvara terkejut kini sahabatnya membawa kue dengan lilin diatasnya yang bertuliskan angka 21 hal tersebut membuat senyuman Isvara kini mengembang melihat nya. Gadis tersebut menggelengkan kepalanya. Namun ia begitu senang karena kini setidaknya masih ada yang mengingat ulang tahunnya.
“Happy legality my bestie,” ucap Yeena dan raiha dengan begitu hebohnya Isvara yang melihat hal tersebut kini menggelengkan kepalanya sambil memilih sahabat yang tersebut dengan begitu berat. Ya begitu bahagia melihat kedatangan sahabatnya tersebut yang kini datang untuk merayakan ulang tahunnya.
Setidaknya kini ia tahu selain bibinya masih ada sahabatnya yang mengingat hari ulang tahunnya itu.
“Make a wish dulu dong,” ucap Sandy memerintahkan sahabatnya tersebut. Isvara yang mendengarnya kini melupakan tangannya untuk membuat doa di ulang tahunnya yang saat ini.
Setelah selesai membuat permohonannya kini gadis tersebut segera meniup lilin yang masih menyala itu. lalu ia segera memeluk Sandy sahabat yang selama ini selalu menemaninya.
“Gue gak dapet nih?” tanya Tara dengan protes nya yang membuat Isvara kini terkekeh mendengar nya. Lalu ia segera memeluk Tara dan mengucapkan terima kasih pada sahabat nya itu.
“Wah gak seru nih kini acara mello nya malah di luar,” ucap Reiha sambil melihat ke sekeliling yang membuat Isvara kini terkekeh mendengar nya begitupun dengan sahabat nya yang lain.
“Masuk dulu lah yuk,” ucap Yeena yang dijawab dengan anggukan setuju oleh mereka.
Hingga kini dengan segera mereka masuk ke dalam apart Isvara yang tampak begitu sepi.
“Radeva mana?” tanya Yeena sambil melihat ke sekeliling apartemen namun tak mendapati keberadaan laki-laki tersebut di sana.
__ADS_1
“Dia lagi ada urusan,” ucap Isvara memberitahu sahabatnya tersebut jika kini kita semua itu tengah memiliki urusan. Sandy yang mendengar ucapan sahabatnya tersebut kini menaikkan sebelah alisnya.
“Lo yakin?” tanya Sandy dengan tatapan penuh selidik nya pada Isvara yang kini malah menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan sahabat nya tersebut.
“Iya Sandy, tadi dia data telepon dari temannya kalau temannya ada yang masuk rumah sakit jadinya sekarang ideal lagi di rumah sakit buat nemenin temennya itu,” jelas Isvara pada Sandy yang kini tampak hanya menganggukkan kepalanya meski terlihat pada wajah laki-laki tersebut ia tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya.
“Udahlah nggak perlu dipikirin lagi mendingan kita sekarang ngerayain ulang tahun Isvara,” ucap Tara dengan senyuman yang dibalas dengan angkutan semangat oleh sahabat yang lain. Sandy yang menahan hati tersebut kini hanya menghembuskan nafas di pasar dan ikut menunjukkan kepalanya.
“Khusus untuk kali ini karena ini lagi ulang tahun jadi wine yang paling Lo suka,” potong Yeena sambil mengeluarkan minuman beralkohol yang dibelinya. Isvara kini berhasil dibuat mengalah melihat apa yang berada di depannya tersebut sebuah minuman beralkohol yang mahal.
“Wah lo emang yang terbaik,” ucap Isvara sambil mengacungkan kedua jempolnya tersebut pada Yeena yang kini hanya tersenyum dengan begitu bangganya menyombongkan apa yang baru saja ia lakukan. Sahabatnya yang mengetahui tersebut hanya menjalankan kepalanya.
“Kayak dia doang dong kita juga bawa,” ucap Tara sambil mengeluarkan apa yang dibelinya dari topik miliknya. Isvara yang di hotel tersebut kini menjalankan kepalanya menyatakan yang dibeli oleh sahabat-sahabat.
“Biar gue ambil gelas dulu,” ucap Sandy lalu setelah nya Laki-laki tersebut akhirnya menunjuk arah dapur untuk mengambil gelas.
Setelahnya ia segera meletakkan gelas-gelas tersebut di depan temannya satu persatu kini giliran Tara yang bertugas, laki-laki tersebutlah yang menuangkan minuman beralkohol tersebut di kelas masing-masing temannya.
“Surga dunia,” ucap Yena dengan senyuman senangnya lalu setelahnya ia segera menenggak minumannya tersebut hingga tanda hanya dalam satu kali tegakan. Sahabatnya juga melakukan hal yang sama lalu mereka kembali menuangkan gelas mereka dan melakukan cheers suara dan dengan gelas tersebut memenuhi ruangan.
Mereka saling berbincang satu sama lain sambil menikmati makanan di depan mereka juga minuman yang kini tengah mereka minum.Hingga akhirnya satu persatu dari mereka harus pergi entah memiliki urusan di klub ataupun pulang ke rumah mereka masing-masing.
__ADS_1
Isvara kini kembali merasakan kesepian yang seperti tadi ia rasakan setelah kepergian sahabatnya tersebut. Kini ia kembali sendiri. Hanya sendiri lagi.
Isvara kini menuangkan gelas nya kembali dengan wine yang berada di sana. Entah sudah gelas keberada yang kini di tegak nya. Namun yang pasti kini ia sudah merasa begitu pusing.
“Kenapa harus hidup seperti ini aku jalani?” tanya Isvara pada dirinya sendiri. Merasa begitu muris dan juga kasihan dengan hidup nya sendiri. Rasanya ia sudah begitu lelah saat ini, namun ia masih memiliki banyak tujuan untuk bertahan.
Isvara kini menempelkan kepalanya pada kursi karena kini duduk di karper yang berada di sana. Tatapannya kini hanya tertuju pada minuman beralkohol tersebut. Kini ia kembali menegakkan hingga tandas. Bahkan kesadarannya pun kini mulai menghilang.
Hingga tak lama suara pintu dibuka sama sekali tidak mengusik gadis tersebut. Radeva yang baru saja datang. Tampak terkejut melihat apa yang kini di lihat nya. Radeva segera menghampiri Isvara lalu memegang pundak gadis tersebut, namun Isvara segera menghempaskannya.
“Kamu mabuk? Kita ke kamar sekarang,” tegas Radeva pada Isvara namun gadis tersebut malah menggelengkan kepalanya.
“Aku masih mau minum. Lagian apa peduli kamu?” tanya Isvara dengan wajah nya yang kini tampak cemberut. Radeva yang melihat hal tersebut kini menghembuskan nafas nya dengan kasar.
“Isvara kamu kenapa? Kamu marah karena aku tinggal?” tanya Radeva dengan begitu lembut nya. Isvara kini menegakan tubuh nya lalu menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Radeva.
“Aku marah karena kamu ninggalin aku di hari ulang tahun aku, ini hari ulang tahun aku. Tapi Mama ku dan bahkan kamu, malah membuat aku bersedih, kalian bahkan tidak mengingat hari ulang tahun ku,” ucap Isvara dengan tangis nya yang membuat Radeva kini menghembuskan nafas nya mendengar ucapan Isvara.
“Siapa yang bilang aku lupa?” tanya Radeva lalu ia segera memberikan paper bag yang dibawanya.
“Hadiah ulang tahun untuk pacar aku ini,” ucap Radeva. Isvara yang melihat itu kini menghapus air matanya dengan kesar. Hingga senyum nya yang kini mengembang dengan begitu sempurna menyadari jika kekasih nya itu memberikannya kado dan tidak melupakan hari ulang tahunnya.
__ADS_1
“Udah ya jangan sedih lagi. Sekarang kita masuk ke kamar, kamu harus tidur. Kamu udah mabuk banget,” ucap Radeva. Namun bukannya membiarkan Radeva menggendong nya untuk membawanya ke kamar kini wanita tersebut malah mencium Radeva. Radeva jelas tersenyum senang. Hingga malam itu kembali menjadi malam panas untuk mereke.
***