
Isvara kini menatap ke arah depan dengan tatapan datar nya. Kini sahabatnya yang lain tengah asyik menari di dance floor. Kini di samping nya hanya ada Sandy yang sudah mabuk karena terus saja minum sedari tadi.
“Isvara,” sapa laki-laki yang kini duduk di samping Isvara. Isvara segera menoleh ke arah laki-laki tersebut yang tak lain adalah Daivan. Yang kini duduk di samping Isvara.
Isvara menoleh ke arah Daivan dengan senyumannya. Laki-laki tersebut baru saja kembali setelah ia ditarik oleh sahabat nya yang lain untuk merokok.
“Minum?” tanya Daivan pada Isvara. Namun lak-laki tersebut kini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menolak permintaan Daivan.
“Gue gak minum,” ucap Isvara menolak. Daivan yang mendengar nya menganggukkan kepalanya.
“Sejak kapan lo gak minum?” tanya Sandy yang kini sudah mulai mabuk di samping Isvara.
“Sejakb lo ikutan mabuk pas gue mabuk,” kesal Isvara pada Sandy sambil menembak mulut laki-laki tersebut. Daivan yang melihat pertengkaran dua orang bersahabat itu hanya terkekeh mendengar nya.
“Mau nari di sana?” tawar Daivan yang lagi-lagi kini dijawab dengan gelengan oleh Isvara.
“Gue harus jaga dia,” tolak Isvara. Daivan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Sandy.
“Lo udah sahabatan sama dia dari dulu?” tanya Daivan yang kini menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Isvara.
“Dia udah kayak abang gue,” ycap Isvara dengan senyumannya pada Daivan.
“Lo yakin gak mau minum? Ini rendah alkohol,” ucap Daivan pada Isvara yang kini membuat Isvara terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Engga Van,” ucap Isvara yang membuat Daivan kini juga ikut tertawa karena nya.
“Isvara mungkin udah gak bisa mabuk lagi sekarang. Dia orang yang susah ditangani saat mabuk,” ucap suara yang tiba-tiba datang dan kini langsung meletakkan kedua tangannya di pundak Isvara. Isvara yang mendengar suara tersebut memejamkan matanya sambil menahan kekesalannya.
“Lo bener, dia orang yang susah ditangani saat mabuk,” ucap Sandy yang kini malah ikut menjawab. Kini rasanya ingin sekali Isvara untuk menutup mulut sahabat nya itu dengan lakban.
__ADS_1
Laki-laki yang tak lain adalah Radeva tersebut kini tersenyum mendengar ucapan Sandy. Isvara kini segera menurunkan tangan Radeva dari pundak nya. Tatapan Daivan kini terlihat begitu sinis menatap Radeva.
“Minggu ini lo sibuk? Mau nonton?” tawar Daivan dengan senyumannya berusaha untuk mengabaikan Radeva yang kini masih berada di sana.
“Isvara selalu sibuk. Bahkan dia sering lembur,” ucap Radeva yang kini malah menjawab pertanyaan Daivan. Isvara kini memejamkan matanya berusaha untuk menahan kekesalannya pada laki-laki tersebut.
“Jangankan lo pada, sama kita aja dia selalu nolak karena selalu sibuk. Lo emang paling tau Radev,” ucap Sandy yang membuat Radeva kini tersenyum dengan kemenangan mendengar nya.
“Boleh, kita pergi. Nanti hubungi aja lagi,” ucap Isvara dengan tegas nya. Merasa kesal dan tak ingin lagi berada di sana lebih lama lagi akhirnya ia segera membawa Sandy untuk segera pergi dari sana.
“Bawel banget lo,” kesal Isvara pada Sandy.
Isvara kini berusaha untuk membawa Sandy keluar dari sana juga berusaha untuk terhindar dari orang-orang yang tengah menari ataupun tangan nakal yang ingin memegang nya.
Seperti saat ia yang hampir sampai di pintu club tiba-tiba saja ada tangan yang mengelus paha nya. Isvara yang terkait kini menoleh ke arah laki-laki yang seolah tak melihat nya. Isvara menghembuskan nafas nya lalu segera pergi dari sana.
Namun baru saja ia akan pergi, laki-laki tadi sudah akan mengelus nya lagi. Namun sebuah tangan kini menahannya lalu segera memberikan pelukan pada laki-laki tersebut. Isvara yang mendengar suara pukulan dan orang yang jatuh segera menoleh.
“Tangan lo emang gak bisa dijaga?” marah Radeva lalu suara patahan tulang dan teriakan terdengar begitu merdu.
“Lo pantes dapetin itu,” ucap Radeva.
Setelah niya laki-laki tersebut segera membawa Isvara juga Sandy pergi dari sana.
“Makasih,” ucap Isvara setelah Radeva membantu nya meletakkan Sandy di dalam mobil laki-laki tersebut.
Isvara kini segera mengitari mobil nya dan menuju ke arah kemudi, namun Radeva kini malah menahannya. Isvara memejamkan matanya, sambil berusaha melepaskan tangan Radeva dan segera masuk ke mobil Sandy.
“Dasar cowok gak sadar diri,” kesal Isvara dengan kekesalannya pada Radeva.
__ADS_1
Ia masih begitu kesal pada Radeva yang seolah tak sadar dengan apa yang ia lakukan padahal ia tak berbeda jauh dari apa yang tadi laki-laki yang dipatahkan tangannya oleh Radeva itu lakukan.
Meskipun begitu ia sedikit luluh saat melihat bagaimana Radeva memberikan pelajaran pada laki-laki yang melecehkannya. Dan dari sana ia tahu jika sebenarnya Radeva mengikuti nya untuk menjaga nya.
“Kenapa cowok selalu salah?” tanya Sandy yang kini tiba-tiba bersuara. Isvara menoleh sebentar ke arah Sandy sambil mengerutkan kening nya melihat keadaan sahabat nya itu. Ia bisa menebak jika kini sahabatnya itu tengah berada di dalam masalah.
“Lo ada masalah?” tanya Isvara pada Sandy yang kini berada di sampingnya.
“Gue gak tau hubungan gue sama Melody gimana,” ucap nya dengan tatapannya yang kini sudah menyipitkan matanya.
Berbicara dengan orang yang mabuk memang harus memiliki kesabaran ekstra. Namun juga berbicara dengan orang mabuk membuat mereka tahu jika ucapan tersebut adalah kejujuran karena tak mungkin orang mabuk berbohong.
“Melody tadi pergi setelah minta gue milih lo atau milih dia,” ucap Sandy dengan tatapan sendu nya. Isvara yang mendengar ucapan sahabat nya itu kini menatapnya dengan tatapan tak percaya nya.
“Serius?” tanya Isvara dengan tatapan tak percaya nya pda Sandy yang kini menganggukkan kepalanya.
“Gue lebih pilih lo. Karena lo yang lebih dulu ada buat gue, lo yang selalu ada buat gue, lo sahabat gue, dan Liana udah ngasih gue amanah buat jagain lo. Gue gak mungkin ngelepas lo,” ucap Sandy dengan tatapan sendu nya pada Isvara.
Kini bahkan air mata laki-laki tersebut sudah mengalir. Isvara yang melihat itu membelalakkan matanya.
“Lo nangis gara-gara putus dari Melody? Gue gak papa San kalau lo sama dia? Lo harus lebih mementingkan kebahagiaan lo,” pesan Isvara pada Sandy. Namun kini Sandy menggelengkan kepalanya.
“Kebahagiaan gue adalah sahabat gue. Kalau dia mau sama gue, dia juga harus mau sama sahabat gue,” ucap Sandy pada Isvara yang membuat Isvara kini terharu mendengar ucapan sahabat nya itu.
Ia tak menyangka orang seperti Sandy memiliki pemikiran seperti itu.
“Dan lagi, gue nangis karena gue kangen Liana,” ucap Sandy yang membuat Isvara kini terkekeh. Lalu ia menggenggam tangan sahabat nya itu.
Ia tahu pasti berat untuk sahabat nya itu.
__ADS_1
“Nanti kita cari sama-sama,” ucap Isvara dengan kekehannya. Sandy kini juga menggenggam tangan Isvara. Hingga tak lama tak ada lagi ucapan dari laki-laki tersebut yang kini sepertinya sudah tertidur.
***