
Pagi-pagi sekali, setelah membersihkan tubuh dn sarapan. Mereka memilih untuk segera membereskan barang-barang mereka karena kini mereka akan langsung turun untuk menikmati wisata di kawah bromo.
Kini mereka sudah berada di dalam jeep untuk menuju ke arah gunung bromo. Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, kini mereka akhirnya sudah sampai di gunung bromo.
“Ini mau naik sekarang?” tanya Yasa pada teman-temannya yang lain, saat mereka kini sudah turun dari Jeep mereka yang kini sudah terparkir.
“Naik dulu aja, paling dua jam. Abis itu ke bukit teletubies sekalian cobain kuda nya. Atau yang mau ke tempat lain silahkan asal besok on time pagi abis subuh kita balik,” tegas Radeva yang kini mengkoordinir teman-temannya.
Semua nya menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang sudah Radeva katakan. Setelah nya, mereka mulai menuju ke arah tangga yang akan membawa mereka menuju kawah gunung bromo.
Barang-barang mereka kini semua ada jeep kecuali barang-barang penting yang mereka bawa. Isvara kini berjalan bersama dengan merangkul tangan Reiha. Sedangkan Tara berjalan dengan Yeena di depan mereka. Sandy bersama dengan Melody di belakang Isvara. Di belakang mereka juga ada Radeva yang berjalan dengan teman nya yang lain.
“Ini masih tinggi banget ya,” ucap Reiha sambil melihat ke arah atas.
“Woy baru juga naik sepuluh tangga udah nanya lo,” tawa Isvara sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabat nya itu.
Mereka bahkan baru saja naik namun Reiha sudah menanyakannya. Mungkin karena melihat tangga yang menjulang tinggi di depan mereka hingga membuat nya kini merasa lelah lebih dulu.
“Mau gue gendong gak Rei?” tanya Yasa di belakang mereka yang berjalan bersama dengan Radeva.
Reiha yang mendengar ucapan Yasa kini sedikit menolehkan tatapannya ke arah laki-laki tersebut. Hingga kini terlihat wajah datar gadis tersebut.
“Mau sampai atas?” tanya Reiha dengan wajah datar nya.
“Syaratnya lo harus jadi pacar gue,” ucap Yasa yang kini membuat teman mereka tersenyum mendengar nya sedangkan Reiha kini malah bergidik ngeri karena nya.
“Ogah,” sungut Reiha lalu mengalihkan tatapannya lagi.
“Kenapa sih Rei? Yasa lumayan ini, gak malu lah buat di ajak ke pasar,” canda Isvara pada sahabat nya itu yang kini malah bergidik ngeri mendengar ucapan Isvara. Sahabatnya yang lain yang mendengar itu hanya terkekeh.
“Agak lain,” ucap Sandy sambil kekeh dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu capek?” tanya Sandy sambil melihat ke arah Melody dan gadis tersebut menggelengkan kepalanya.
Hubungan Sandy dan Melody kini sudah membaik dan mereka sudah resmi berpacaran. Meskipun kadang sering kali Melody masih merasa cemburu dengan Isvara.
“Sekarang pada nawarin lo pada, liat nanti deh pas udah di tengah. Masih sanggung gak lo pada nawarin?” tanya Yeena sambil menggelengkan kepalanya.
“Wah jangan salah. Kita mah investasi ke gym gak bakal sia-sia. Jangankan ngangkat Melody yang body goals gini. Ngangkat lo aja gue kuat,” ucap Sandy yang kini membuat Yeena berjalan ke arah belakang lalu memukul laki-laki tersebut dengan begitu kencang.
“Wah gak gagal juga investasi gue ke tempat latihan judo,” ucap Yeena sambil mencium kepalan tangannya. Sandy yang kini di pukul oleh sahabat nya itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Kamu gak papa?” tanya Melody dengan khawatir melihat Sandy yang kini hanya diam sambil memegangi pipi nya.
“Sangat Bar-bar,” ucap salah satu teman Radeva sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah dua puluh menit menaiki tangga kini akhirnya mereka sampai di kawah gunung. Mereka menghembuskan nafas lega karena akhirnya mereka bisa sampai juga.
“Haus banget,” ucap Isvara dengan helaan nafas ksar nya.
“Makasih,” ucap Isvara dengan senyumnya pada Radeva yang kini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Ayo liat-liat ke sana,” ajak Radeva sambil mengulurkan tangannya. Isvara yang ngeri takut terjatuh di kawah akhirnya mengambil tangan Radeva dan mengikuti laki-laki tersebut.
Yeena dan Reiha kini sudah bersama dengan Tara. Awal nya Sandy yang mengajak nya bersama namun kini laki-laki tersebut sudah sibuk dengan Melody juga sahabat gadis tersebut.
“Berdiri di sini, biar gue fotoin,” ucap Radeva. Isvara menaikkan sebelah alisnya namun akhirnya ia tetap menuruti ucapan laki-laki tersebut. Setelah berpose, Radeva segera memotret nya. Tak banyak, ia segera berjalan ke arah Radeva untuk melihat hasil nya.
“Wah bagus,” ucap Isvara dengan senyumannya.
“Mau turun duluan? Aku ajak ke tempat lain,” ajak Radeva.
“Yang lain?” tanya Isvara sambil melihat ke arah temannya yang lain yang kini masih menjelajahi kawah dari berbagai sisi untuk melihat pemandangannya.
__ADS_1
“Mereka bisa turun sendiri,” ucap Radeva yang membuat Isvara terkekeh. Namun akhirnya ia hanya mengangguk. Karena ingin mencoba tempat yang lainnya.
Radeva menggenggam tangan Isvara untuk turun.
“Gue turun duluan. Tapi balik maleman kayaknya. Sisain satu jeep. Kalau kurang sewa lagi aja,” pesan Radeva saat ia melihat keberadaan Zafer. Zafer menganggukkan kepalanya sambil menepuk pundak sahabat nya itu.
Setelah nya ia segera membawa Isvara untuk menuju ke tempat lain.
“Mau ke mana?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya saat kini mereka berjalan saling bersisian.
“Pasir berbisik. Terus bukit teletubies. Sebenarnya yang bagus itu juga taman sama air terjun nya. Cuma jauh, jadi kita ke dua tempat tadi aja,” ucap Radeva. Isvara menganggukkan kepalanya. Dan hanya mengikuti saja.
“Jauh juga ya ke parkiran, kita pakek jeep kan?” tanya Isvara namun kali ini Radeva menggelengkan kepalanya.
“Tuh,” ucap Radeva sambil menunjuk ke arah Kuda yang kini tengah berjalan ke arah mereka. Isvara yang melihat itu membelalakkan matanya.
“Kuda?” tanya Isvara yang kini di jawab dengan senyuman dan anggukan oleh Radeva.
“Sebenarnya kita bisa sewa dari tadi. Dari parkiran ke sini, cuma mereka biar sesekali lah jalan jauh,” ucap Radeva dengan kekehannya yang membuat Isvara kini terbengong mendengar ucapan laki-laki tersebut.
Setelah sang pemilik menyerahkan kuda nya. Radeva segera membantu untuk Isvara naik lalu ia sendiri yang lain.
“Saya bawa sendiri ya pak,” ucap Radeva pada sang pemilik.
Laki-laki tersebut kini mulai menunggangi kuda nya.
“Wah,” tawa Isvara kini terdengar begitu bahagia yang membuat Radeva kini juga ikut tertawa karena nya.
Dan lagi untuk kali ini Isvara kalah. Isvara kembali kalah dengan perasaannya sendiri. Laki-laki di belakang nya itu selalu bisa untuk membuat nya luluh. Selalu bisa untuk membuat nya merasakan nyaman atas hadir nya.
Lalu jika sudah begini, bolehkan Isvara mementing kan perasaan? Walau ia tahu jika bersama Radeva ia hanya akan berada dalam hubungan tanpa kepastian. Namun setidaknya bersama laki-laki tersebut ia merasa nyaman dan bahagia.
__ADS_1
***