
Hari yang semakin sore kini membuat udara semakin dingin. Dengan belaian dari angin yang kini berhembus dengan tenang. Isvara kini baru saja selesai dengan makan malam nya bersama dengan teman-temannya yang lain. Namun kini teman-temannya masih berada di warung yang berada di sana dan belum selesai dengan acara makan mereka.
Isvara kini memilih untuk duduk di kursi yang berada di depan tenda nya sambil menikmati pemandangan di depannya yang kini begitu memanjakan mata. Mentari yang kini mulai pulang ke peraduannya kini terlihat begitu indah.
“Mau lihat di tempat yang lebih jelas dari ini?” pertanyaan itu membuat Isvara yang tengah memandangi pemandangan di depannya segera menoleh dan kini ia dapat melihat Radeva yang tersenyum ke arah nya.
“Kemana?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya sedangkan Radeva kini hanya tersenyum mendengar ucapan gadis di depannya itu.
“Udah ayo ikut aja,” ucap nya. Isvara yang memang pengagum langit dan benda nya kini segera bangkut dari duduk nya dan mengikuti Radeva. Kini lagi-lagi ia gagal untuk memberikan jarak antara mereka. Ia lagi-lagi bisa ditipu oleh Radeva.
Kini akhirnya mereka berjalan bersama dengan Radeva yang kini menunjukkan jalan pada Isvara. Selama mereka berjalan, mereka hanya saling terdiam, Radeva yang sesekali melihat ke arah Isvara, dan Isvara yang hanya terdiam dengan pemikirannya sendiri.
“Wah ini indah banget,” ucap Isvara saat kini mereka sudah berada di dekat pagar sebagai pembatas. Tatapannya kini terus tertuju pada pemandangan di depannya. seolah tak rela jika harus melepaskan pemandangan di depannya begitu saja. Radeva yang melihat itu tersenyum dengan begitu lebar.
“Coba kamu berdiri di sana. Biar aku foto in,” ucap Radeva yang kini sudah mengeluarkan ponsel nya. Isvara yang menentar nya segera berdiri di bagian ujung pembatas lalu mulai berpose agar Radeva bisa menangkap gambar nya.
Setelah selesai dengan berbagai pose kini Isvara segera menuju ke arah Radeva untuk melihat hasil nya. Tatapannya begitu takjub melihat hasil foto laki-laki tersebut.
“Lo pinter juga ya moto nya,” ucap Isvara dengan senyumannya yang membuat Radeva kini malah terkekeh mendengar nya.
“Beruntung di sini di sewa sama temen kita semua, jadi pas mereka makan gini. Di sini sepi,” ucap Radeva yang membuat Isvara kini menaikkan sebelah alisnya.
“Biasa nya rame ya?” tanya Isvara.
“Hm biasa, kayak siang tadi lumayan rame kan?” tanya Radeva yang Isvara balas dengan anggukan. Karena saat siang masih banyak pengunjung yang datang untuk sekedar melihat-lihat.
“Berdua aja kalian,” ucap Yasa dengan senyuman menggoda nya ke arah sahabat nya itu. Isvara yang mendengar nya hanya memutar bola matanya malas sedangkan Radeva kini hanya tersenyum.
__ADS_1
“Fotoin kita, dari pada lo ngebacot,” ucap Radeva sambil memberikan ponselnya pada Yasa, Yasa yang mendengar nya kini menipiskan bibirnya. Maksud hati ingin menikmati pemandangan sambil menggoda pasangan tersebut. Kini malah ia diminta menjadi fotographer untuk mereka.
Namun akhirnya ia tetap melakukannya. Memotret sahabat nya itu dan juga Isvara.
Radeva kini berdiri di samping Isvara lalu merangkul pundak gadis tersebut dengan senyuman lebar nya. Isvara yang mendapatkan perlakuan seperti itu kini sudah tidak bisa mengontrol detak jantung nya lagi. Berusaha menekan rasa gugup nya dengan menampilkan senyuman terbaik nya.
Setelah puas, Radeva segera mengambil ponsel nya lagi.
“Yang lain pada kemana?” tanya Radeva pada sahabat nya itu.
“Ada yang baru mau mandi, ada juga yang siap-siap mau sholat,” jelas Yasa yang Radeva balas dengan anggukan.
“Gue gak nyangka bad boy kayak kalian inget sholat,” ucap Isvar dengan kekehannya.
“Wah jangan salah Ra, Radeva sama Galen tuh rajin ke gereja,” ungkap Yasa yang kini membuat Isvara menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum dengan tatapan tak percaya pada Radeva yang kini hanya terkekeh.
“Gue atheis,” jawab Yasa. Isvara tampak terkejut mendengar nya namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan berusaha mengontrol ekspresi nya.
“Dia atheis tapi kalau lagi mepet mau doa, semua tuhan dia sebut,” ucap Radeva sambil menatap sahabat nya itu yang kini hanya menyengir.
“Gue mah belum nemu yang pas aja, atau ngikut istri lah nanti,” ucap Yasa yang membuat Isvara kini terkekeh mendengar nya sambil menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya kedua orang tuanya memiliki agama. Ibu nya adalah seorang nasrani, dan ayah nya merupakan seorang beragama muslim. Namun karena perceraian kedua orang tuanya sejak ia kecil. Orang tuanya seperti menelantarkannya dan hanya sibuk mengiriminya uang. Yang akhirnya membuat Yasa tak mengenal agama sejak dini karena pengasuh yang mengasuh nya juga tak memiliki agama.
Dan akhirnya saat ia harus menentukan agama nya ia memilih untuk tidak memiliki agama. Menurutnya itu lebih baik untuk saat ini. Ia ingin mencari pembenaran sendiri.
***
__ADS_1
Setelah mereka selesai dengan kegiatan mereka. Kini mereka memilih untuk duduk di depan tenda mereka yang kini sudah mereka lapisi dengan alas yang mereka bawa.
“Serius nanti kudu banget jam dua belas?” tanya Reiha dengan tatapan tak percaya nya.
“Ya gak maksa sih, tapi kalau emang mau lihat hujan meteor ya bangun jam segitu. Kalau gak ya begadang,” ucap Yasa kini menjelaskan.
"Mulai ngamatin ya jam satu kalau gak mau kelewatan, karena di mulai dari jam dua belas sampai jam lima," jelas Radeva.
“Ya rugi juga sih kalau udah ke sini tapi gak liat. Ya udah lah gak papa,” ucap Yeena yang mendapatkan anggukan dari sahabat nya yang lain.
“Ini boleh gak sih ngerokok di sini?” tanya Yeena yang sudah tak tahan ingin merokok. Karena sedari mereka sampai di bromo mereka belum merokok.
“Terserah lo aja sih, tapi ada baik nya gak terlalu banyak karena ini di atas ketinggian hampir 2.700 mdpl takut nya malah sesak nafas,” ucap Varen yang kini menjawab pertanyaan dari Yeena. Gadis tersebut kini terlihat menghembuskan nafasnya kasar karena mulut nya terasa sudah sepat.
“Udah sih, gak ngerokok sampe besok malam gak bakalan mati juga,” ucap Isvara sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat nya yang menurut nya berlebihan.
“Lo mah enak gak pernah merokok,” sungut Sandy pada sahabat nya yang memang terkenal tidak neko-neko itu.
“Dia pernah ngerokok sama gue,” ucap Radeva dengan senyumannya. Isvara yang melihat itu membelalakkan matanya ke arah Radeva yang malah dengan enteng nya mengatakan hal tersebut.
“Wah gue merasa di khianati,” ucap Yeena sambil memegangi dada nya.
“Wah gak bener lo. Sahabat gue yang polos ini lo ajakin ngerokok,” kesal Sandy.
“Gak bener-bener ngerokok. Lagian lo tau gue gak bisa merokok,” ucap Isvara menenangkan Sandy. Sandy kini berdecak dengan tatapan tak suka nya pada Radeva, kini rasanya ia menjadi semakin kesal pada laki-laki tersebut.
Setelah puas berbincang sambil menikmati indah nya pemandangan di Bromo mereka memutuskan untuk tidur bagi yang ingin tidur. Sedangkan banyak teman-teman Radeva juga Radeva yang memilih untuk begadang.
__ADS_1
***