Flutura

Flutura
Mabuk Berdua


__ADS_3

Sepulang dari rumah Liana kni bukannya mengantar Isvara pulang, Sandy malah mengajak nya ke Bar. Isvara tahu, kali ini tak hanya dia yang hancur, Sandy pun sebenarnya lebih hancur dari diri nya. Mengingat Liana adalah cinta pertama dari Sandy.


Kini di meja mereka sudah begitu banyak bekas minuman beralkohol. Mereka seolah melupakan semua nya sekarang, bahkan mereka lupa tentang siapa yang akan menyetir jika mereka mabuk.


“Sandy,” panggil Isvara dengan kesadarannya yang hanya tersisa sedikit. Sandy yang mendengar namanya dipanggil kini sontak menatap ke arah sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanya.


“Kenapa?”  tanya Sandy dengan tatapan penuh tanyanya pada sahabatnya itu. Tak hanya Iswara bahkan kini laki-laki tersebut sudah hampir Kehilangan kesadarannya, bahkan Sandy yang sudah terbiasa dengan alkohol dan kuat minum kini juga sudah mabuk.


“Lu kenapa ikutan mabuk? Kalau lama juga nanti siapa yang bakalan nyetir pulang?”  tanya Isvara yang kini membuat Sandy mengerjakan tanya Isvara yang kini membuat Sandy beberapa kali mengerjakan matanya.


“Gue sadar kok, gue gak mabuk,” ucap Sandy sambil menegakkan kepalanya. Namun kini matanya sudah begitu sayu.


“Bohong, lihat aja lu tuh udah mabuk banget,”  ucap Isvara pada sahabatnya itu yang kali ini hanya menggeleng sambil meminum beralkoholnya kembali. Seolah tidak puas dengan minuman yang sedari tadi sudah ia minum padahal kini sudah terlihat jelas jika laki-laki tersebut mulai mabuk.


“Gue lagi sedih Ra, gue kangen Liana,” ucap Sandy yang membuat Isvara kini juga menetap Sandy dengan tatapan sendu nya.


“Gue juga San, gue kangen Liana,” ucap Isvara dengan air matanya yang kini sudah menetes dengan deras nya.


Sandy kini menatap sahabat nya itu dengan tatapan sedih nya. Liana selalu menjadi kenangan indah yang ingin mereka hadir kan kembali. Namun sayang takdir tak mengizinkan semua itu.


“Lo tau, meskipun gue sekarang sama Melody. Tapi gue gak ngerasain apa yang gue rasain saat bersama dengan Liana,” jelas Sandy. Isvara kini menatap sahabat nya itu dengan tatapan sedih nya.


Semua kenangan indah mereka kini seolah berputar kembali dalam ingatan mereka. Semua kenangan indah yang tak akan bisa mereka kenang kembali. Ingatan Isvara kini kembali memutar tentang mereka.


“Gue kesel banget sama Sandy, tadi dia ngajakin kita main tapi tiba-tiba dibatalkan gini,” sungut Isvara dengan kekesalannya saat mengingat Sandy yang akan menjemput mereka untuk bermain basket bersama. Namun setelah Isvara dan Liana berada di lapangan basket yang berada tak jauh dari sekolah mereka, kini Sandy malah membatalkan janji nya.


“Mungkin Sandy emang ada keperluan mendadak.” Liana yang begitu dewasa di umur nya yang masih lima belas tahun berusaha menenangkan sahabat nya itu. Isvara menghembuskan nafas nya kasar.

__ADS_1


“Kita pulang aja gimana?” tawar Liana yang dijawab dengan gelengan oleh Isvara.


“Gue gak suka rumah,” sungut Isvara. Liana yang mendengar nya kini tersenyum, ia mengetahui semua tentang sahabat nya itu hingga membuat nya begitu kasihan dengan Isvara.


“Kalau gitu, kita main berdua aja ya?” ajak Liana yang di jawab dengan anggukan semangat oleh Isvara. Meskipun hanya berdua setidak nya ia tak perlu untuk pulang ke rumah nya.


“Ngapain main berdua? Bertiga dong,” ucap Sandy yang tiba-tiba saja datang. Melihat kedatangan Sandy bukannya membuat Isvara senang, kini ia malah memukuli sahabat nya itu.


“Ihh lo ngeselin,” ucap Isvara sambil memukuli sahabatnya itu. Sandy yang mendapatkan serangan dari Isvara memilih untuk segera berlari dari sana. Hingga kini mereka bukannya bermain basket malah bermain kejar-kejaran.


 suara tahu dari ketiga gadis tersebut kini terdengar begitu indah sore yang begitu indah untuk mereka bertiga yang kini bisa bermain bersama.  persahabatan yang mereka jalin sudah seperti saudara yang saling mendukung satu sama lain.


 karena hubungan persahabatan mereka bukan hanya dimulai beberapa bulan lamanya namun sudah selama 3 tahun. Selama 3 tahun itu mereka saling mendukung dan saling memberikan semangat satu sama lain, Isvara yang selalu merasa kesepian dalam hubungan keluarganya kini merasakan sebuah kebahagiaan saat bersama dengan sahabat-sahabatnya itu.


 Namun semua itu tak berjalan lama saat suatu ketika mereka mendapatkan kabar jika Liana mengalami kecelakaan.  Isvara dan Sandy yang saat itu Tengah menunggu Liana untuk belajar bersama langsung Pergi menuju ke arah rumah sakit untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


Saat itu mereka begitu terpukul. Mereka yang sudah berjanji dan berniat akan belajar bersama untuk tes masuk sekolah menengah atas yang mereka inginkan kini malah harus kehilangan sahabat nya.


“Lo tau, gue suka sama Liana,” ucapan itu adalah ucapan pertama yang Isvara dengar setelah mereka sampai dirumah sakit dan kini mereka bisa melihat Liana yang tampak begitu damai dalam tidur nya. Tanpa tahu bagaimana hancur nya orang yang mereka tinggalkan.


“Dan Liana juga suka sama lo,” ucap Isvara yang kini tampak membuat Sandy terkejut mendengar nya. Sebelumnya ia selalu takut untuk menyatakan perasaannya. Dan kini ia begitu menyesal setelah mengetahui apa yang baru saja di dengar nya oleh Isvara.


“Gue telat ya Lin,” ucap Sandy sambil memejamkan matanya dan menggenggam tangan Liana yang kini masih begitu hangat.


“Harusnya gue ngasih tau lo lebih dulu,” ucap Sandy dengan begitu sendu nya.


Isvara yang kini berada di sana hanya bisa menangis melihat sahabat nya yang kini sudah pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Isvara,” suara yang begitu keras juga tepukan di pundak nya membuat Isvara tersadar dari lamunannya. Kini ia menoleh dengan tatapan bingung nya melihat laki-laki yang berada di depannya.


“Woh Radeva?” tanya Isvara dengan begitu antusias nya.


“Sandy, liat gue liat bayangan Radeva,” ucap Isvara dengan begitu heboh nya sambil memukul tangan Sandy yang kini sudah tertidur.


Radeva yang melihat Isvara cukup terkejut apalagi kini gadis tersebut tengah mabuk.


“Kalian cuma berdua?” tanya Radeva dengan tatapan tak percaya nya melihat Isvara dan Sandy yang kini sama-sama mabuk.


“Hmm.” Isvara kini menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Radeva.


“Satu, dua, tiga, empat….” Isvara kini mulai menghitung semua orang yang berada di sana.


Radeva yang melihat itu menepuk kening nya sambil menggelengkan kepalanya.


“Gue anter pulang,” ucap Radeva yang akhirnya memilih untuk mengantar Isvara juga Sandy pulang. Entah bagaimana mereka berdua datang hanya berdua dan kini malah sama-sama mabuk.


“Hmm Sandy bawa mobil, ayo pulan San,” ucap Isvara menolak ajakan Radeva. Gadis tersebut kini bahkan sudah menarik Sandy namun berujung mereka berdua terjatuh.


Radeva yang melihat itu memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


“Anter Sandy pulang,” perintah Radeva pada temannya yang ikut bersama nya.


Setelah nya ia segera membantu Isvara untuk bangun dan membawa gadis tersebut untuk pergi dari sana.


***

__ADS_1


__ADS_2