
“Sebenarnya hubungan kamu sama Isvara tuh apa sih?” pertanyaan itu kini membuat Sandy menghembuskan nafasnya kasar. Pasal nya ini bukan yang pertama kalinya ia mendapatkan pertanyaan seperti ini dari gadis di depannya itu.
“Melody, aku sudah sering bilang ini ke kamu. Kita hanya sahabat,” ucap Sandy dengan begitu tegas nya pada Melody yang kini malah berdecit mendengar jawaban dari kekasih nya itu. Memang ini bukan yang pertama kalinya ia bertanya seperti ini. Namun ia selalu tidak merasa puas dengan jawaban yang ia dapatkan.
“Aku sama Isvara tuh sahabatan udah lama banget, kamu gak bosen lalu bertanya hal yang selama dan selalu berantem kayak gini?” tanya Sandy dengan tatapan lelah nya pada Melody.
Kini mereka tengah berada di dalam mobil. Mereka akan menuju ke arah acara ulang tahun sahabat mereka. Namun sebelum itu Sandy harus menjemput Isvara lebih dulu, namun kini lagi-lagi Melody mempermasalahkan hal seperti ini.
“Karena kedekatan kalian selalu bikin aku cemburu,” ucap Melody dengan kekesalannya.
Sandy memejamkan matanya sambil menghela nafas nya dengan kasar, Ia sudah terlalu lelah dengan pertengkaran mereka yang selalu saja sama.
“Kita dekat karena kita sahabat. Aku sama Melody bukan bersahabat selama satu dua tahun, tapi persahabatan kita bahkan sudah lebih dari delapan tau, gak ada yang terjadi kan di antara kita? Karena kita bener-bener hanya sahabat,” jelas Sandy. Rasanya sebenarnya ia selalu lelah dengan semua pertengkaran ini namun lag-lagi kekasih nya itu menyinggung hal seperti ini.
“Kalau aku minta kamu jauhin Isvara gimana? Aku juga capek selalu bertengkar kayak gini,” ucap Melody yang kini berhasil membuat Sandy terkejut mendengar ucapan Melody. Sandy menggelengkan kepalanya. Jelas ia tak akan bisa untuk menjauhi Isvara. Isvara adalah sahabat nya, selama ini gadis itu lah yang selalu meemanpi nya.
“Aku gak bisa,” ucap Sandy dengan begitu tegas pada Melody yang kini tersenyum dengan begitu sinis mendengar jawaban dari Sandy.
“Kalau aku minta kamu memilih antara aku atau dia siapa yang kamu pilih?” tanya Melody. Sandy tersenyum dengan begitu sinis sambil menundukkan kepalanya.
“Jangan kekanakan dengan meminta aku memilih seperti itu. Kalian memiliki tempat dan posisi sendiri. Kamu sebagai kekasih aku dan dia sebagai sahabat aku,” ucap Sandy dengan begitu tegas nya pada Melody yang kii terkekeh mendengar jawaban Sandy.
“Bahkan kalau aku minta putus?” taya Melody dengan nada suara nya yang kini sudah mulai lemah.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Sandy dengan menatap Melody begitu tajam dan serius.
“Kalau aku mau kamu memilih tetap menjalin hubungan sama aku atau sama dia,” jelas Melody. Sandy memejamkan matanya. Sepertinya kini ia harus berada dalam hubungan yang sulit.
__ADS_1
“Kamu mau aku memilih?” tanya Sandy pada Melody yang kini menatap Sandy dengan tatapan datar nya sambil menganggukkan kepalanya.
“Aku pilih Melody. Aku gak mau kehilangan sahabat aku hanya karena pacar. Karena disaat kita putus aku gak akan punya rumah untuk pulang. Dia sahabat aku yang paling tau tentang aku, dia sahabat aku yang selalu ada untuk aku, maaf Melody, kalau kamu suruh aku milih, aku lebih milih Isvara,” tegas Sandy dengan tatapan serius nya pada Melody yang kali ini membeku mendengar jawaban Sandy.
Air mata nya kini bahkan tanpa sadar sudah mengalir membasahi wajah cantik gadis tersebut. Lalu setelah nya Melody segera keluar dari mobil tersebut untuk pergi dari sana. Sandy hanya diam sambil memejamkan matanya membiarkan gadis tersebut untuk pergi tanpa tahu apa hubungan mereka kini berakhir atau tidak?
Sandy memilih melajukan mobil setelah di lihat nya Melody masuk ke dalam taksi.
***
Isvara kini tengah menunggu Sandy yang akan menjemput nya untuk datang ke acara ulang tahun teman kampus mereka. Cukup lama Isvara menunggu laki-laki tersebut di depan Apartemennya. Hingga akhirnya ia dapat melihat mobil Sandy dari kejauhan yang kini mulai melaju ke arah nya.
Setelah Sandy berhenti di depannya Isvara segera masuk ke mbil Sandy.
“Depan,” ucap Isvara yang baru akan membuka mobil laki-laki tersebut.
“Melody mana?” tanya Isvara dengan kerutan di kening nya saat ia sudah duduk di samping Sandy.
“Gak jadi ikut,” jawaban Sandy dengan begitu santai nya sambil melakukan mobilnya untuk membelah jalanan dan pergi ari sana. Isvara mengerutkan kening nya bingung menatap Sandy dengan tatapan penuh tanya nya.
Namun saat melihat Sandy yang tampak gusar kali ini, akhirnya ia memilih untuk diam. Selama di perjalanan mereka hanya diam. Tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka terlalu fokus dengan pemikiran mereka masing-masing.
Saat sampai di tempat acara, Isvara menaikkan sebelah alisnya melihat dimana acara tersebut berlangsung.
“Club?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya yang kini dijawab dengan anggukan oleh Sandy.
Sandy segera turun dari mobil nya begitupun Isvara yang kini ikut keluar. Setelah nya ia merangkul tangan Sandy. Hingga mereka berjalan bersama memasuki club tersebut yang kini sudah begitu ramai dengan teman mereka.
__ADS_1
“Lo tau, mutia sengaja nyewa nih club untuk acara ulang tahunnya,” jelas Sandy yang kini membuat Isvara membelalakkan matanya tak percaya mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Sandy.
“Serius?” tanya Isvara yang di jawab dengan anggukan oleh Sandy.
“Wah!” Isvara menggelengkan kepalanya tak percaya jika ada orang yang membuang uang hanya untuk menyewa tempat ini semalaman.
“Woy sini,” suara Tara kini mengisi indra pendengaran kedua orang tersebut. Hingga kini mencari keberadaan sahabat nya.
Hingga mereka temukan sahabat nya yang kini tengah berkumpul bersama. Tak hanya ketiga sahabat nya namun kini di sana juga ada Radeva uga sahabat nya dan juga Davian juga sahabatnya.
Isvara yang melihat itu kini rasanya tak percaya.
“Wah apa dewi fortuna lagi ngambek ke gue?” tanya Isvara yang membuat sahabat nya kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Isvara.
“Kenapa?” tanya Sandy dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Lo tau Davian deketin gue, dan sekarang di sana juga ada Radeva,” ucap Isvara dengan tatapan serius nya pada Sandy yang kini mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih tak percaya mendengar apa yang baru saja Isvaran katakan.
“Lo becanda?” tanya Sandy.
“Lo liat gue becanda?” tanya Isvara yang kini di jawab dengan gelengan oleh Sandy.
“Ujian lo besar kali ini kawan,” uap Sandy sambil menepuk tangan Isvara yang kini tengah merangkul tangannya. Isvara menghembuskan nafasnya kaar melihat pemandangan di depannya itu.
Sepertinya kini ia harus menyiapkan mental nya.
***
__ADS_1