Flutura

Flutura
Hujan Meteor


__ADS_3

Isvara kini mengeratkan jaket musim dingin panjang yang digunakannya. Dengan syal yang kini juga dikenakannya. Isvara berjalan keluar dari tenta nya. Kening nya kini mengerut saat melihat Radeva yang kini hanya seorang diri berada di kursi yang menghadap ke arah pemandangan kawah gunung bromo. Langit tampak begitu indah malam ini.


Awan yang seperti berada di bawah mereka kini menambah keindahan dari langit malam ini. Isvara kini segera menuju ke arah Radeva lalu duduk di samping laki-laki tersebut. Melihat kedatangan Isvara, laki-laki tersenyum dengan begitu cerah.


“Udah bangun?” tanya Radeva saat melihat Isvara yang kini duduk di samping nya. Isvara hanya mengangguk sabi; melihat jam di tangan yang kini menunjukkan pukul 12.50 dini hari.


“Lo gak tidur?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya saat melihat Radeva yang kini hanya duduk dengan kopi di tangannya.


“Tidur bentar,” jawab Radeva yang kini dibalas dengan anggukan oleh Isvara.


Tatapan mereka kini sama-sama melihat ke arah depan. Menatap indah nya langit di depan mereka dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata.


“Yang lain kemana?” tanya Isvara saat tak melihat teman Radeva yang lainnya.


“Tuh di warung,” tunjuk Radeva dengan dagu nya. Melihat temannya yang lain kini tengah bermain game di warung sambil menikmati kopi mereka.


“Tunggu sini bentar,” ucap Radeva yang setelah nya pergi dari sana. Isvara kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Radeva juga saat melihat kepergian Radeva.


Isvara kini memilih mengambil kamera yang berada di kursi yang tadi Radeva duduki seperti nya itu milik Radeva atau teman laki-laki tersebut.


Isvara segera mengambilnya dan memotret pemandangan di depannya.


Tak lama Isvara merasakan seseorang kini mendekat ke arah nya. Hingga ia menoleh dan melihat Radeva yang kini tengah berjalan ke arah nya sambil membawa dua gelas minuman. Isvara yang melihat itu dengan iseng memotret nya.


“Ngapain hm?” tanya Radeva dengan memicingkan sebelah mata nya sedangkan kini Isvara hanya terkekeh mendengar nya.


Radeva kini kembali duduk di tempat nya lalu memberikan satu gelas untuk Isvara.

__ADS_1


“Coklat panas,” ucap Radeva yang membuat Isvara tersenyum.


“Makasih,” ucap Isvara yang Radeva balas dengan anggukan.


“Udah berapa gelas kopi hm?” tanya Isvara sambil menaikkan sebelah alisnya melihat gelas yang baru di bawah oleh Radeva.


Radeva yang mendengar nya kini hanya terkekeh.


“Baru dua, yang kali ini tanpa kafein,” ucap Radeva yang di balas dengan anggukan oleh Isvara.


“Btw ini udah jam dua belas belum ada meteor jatuh nya, terus yang lain belum pada bangun. Apa di bangunin aja?” tanya Isvara dengan menaikkan sebelah alisnya. Bertanya pada Radeva sambil meletakkan kamera yang di bawahnya di atas meja di depannya.


“Biarin aja dulu. Meteor nya di mulai jam satu, sengaja aku bilang jam dua belas karena tau mereka bakalan ngulur waktu buat bangun,” jelas Radeva.


“Emang susah mereka tuh.” ucap Isvara sambil menggelengkan kepalanya.


“Bukit cinta,” jelas Radeva yang tanpa membuat Isvara kini menaikkan sebelah alisnya. Merasa tertarik dengan apa yang sebenar nya melatarbelakangi nama dari bukti tersebut.


“Disini tuh merupakan titik temu sunrise dan tengger bromo. Jadi gak heran kalau di tempat ini tuh sunrise nya bagus buat liat sunrise apa lagi dari sini kita bisa melihat gunung lain,” jelas Radeva. Isvara kini terlihat begitu serius mendengar apa yang dijelaskan oleh laki-laki di depannya itu.


“Masyarakat di sini percaya bukit cinta ini tuh tempat pertemuan Roro Anteng dengan Joko Seger untuk pertama kalinya, sepasang kekasih yang dipercaya sebagai cikal bakal nenek moyang masyarakat Tengger di Bromo,” jela Radeva lagi yang membuat Isvara seolah terkejut sekaligus kagum dengan apa yang baru saja di dengar nya oleh Radeva.


“Wah keren. Kayak nya kamu tahu banyak ya tentang tempat ini,” ucap Isvara dengan senyumnya yang membuat Radeva kini terkekeh mendengar ucapan Isvara.


“Kamu pengen tau mitos tempat ini?” tanya Radeva yang membuat Isvara kini menganggukkan kepala dengan semangat.


“Mitos nya kalau ada pasangan yang dateng ke tempat ini dan menghabiskan waktu bersama di sini, cinta mereka akan abadi sampai tua,” jelas Radeva.

__ADS_1


Isvara yang awal nya tersenyum lebar kini memudarkan senyumannya. Tatapannya kini begitu dalam menatap Radeva.


“Benarkah begitu? Jika begitu gue yang selalu bareng sama lo selama di sini apa bisa untuk seperti itu?” batin Isvara. Isvara menggelengkan kepalanya menghentikan pikirannya itu. Radeva yang melihat keanehan Isvara kini menaikkan sebelah alisnya lalu melambaikan tangannya di depan wajah Isvara.


“Hey, kenapa?” tanya Radeva dengan menaikkan sebelah alisnya dan kekeh melihat reaksi Isvara. Isvara yang tersadar dari lamunannya kini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Mitos menarik,” ucap Isvara yang membuat Radeva terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.


“Karena mitos itu aku lebih milih ngajak kamu ke bukit inti dari pada booking kingkong yang terkenal juga dengan keindahan malam hari saat melihat galaksi bima sakti,” ucap Radeva. Isvara yang mendengar nya kini menjadi salah tingkah.


“Bisakah gue berharap lebih dengan ucapan lo? Atau semua itu bukan karena lo tertarik sama mitos nya bukan karena percaya mitos nya?” batin Isvara sambil melihat ke arah Radeva yang kini tengah menatap hamparan bintang indah di atas nya.


“Woy gue telat gak?” tanya Yeena yang baru saja keluar dengan begitu heboh nya. Isvara yang mendengar sahabat nya itu menoleh dan menggelengkan kepalanya.


“Bentar lagi, sini duduk,” ajak Isvara.


Setelah nya teman mereka mulai terbangun untuk menyaksikan indahnya fenomena langit yang langkah itu.


Setelah lama menunggu kini akhirnya yang mereka tunggu-tunggu mulai terlihat. Fenomena langka hujan meteor Eta Aquarid, yang berasal dari Komet Halley (1P/Halley) yang akan terlihat di konstelasi Aquarius selatan.


Mereka melihat pemandangan indah di depan mereka sekaligus menunggu sunrise. Dan tempat mereka saat ini memang begitu indah saat melihat sunrise seperti ini. Dua gunung yang terlihat dengan begitu jelas begitu memanjakan mata.


Tak rugi rasanya mereka rela mengurangi jam tidur mereka untuk melihat pemandangan langit seperti ini.


“Sekarang gue ngerti Ra, kenapa lo bisa bolos pas lagi ada fenomena langit. Ternyata indah banget,” ucap Yeena dengan senyumannya yang mengembang.


Apa lagi udara yang begitu segar kini benar-benar begitu menenangkan untuk mereka. Langit pagi yang kini berwarna jingga begitu memukau dengan pemandangan dua gunung juga kawah gunung bromo. Benar-benar memanjakan mata.

__ADS_1


***


__ADS_2