
"Coba kau pikir, bagaimana cara agar aku dapat membawa perempuan itu untuk menghadap Tuan William, apa aku harus menculiknya?" Davin meminta pendapat pada Nadira tentang permintaan gila atasannya, William memang selalu meminta yang aneh-aneh akhir-akhir ini, beruntung dirinya yang memang sudah terlatih bertahun-tahun mengikuti pria bule itu, jadi banyak tau tentang apa yang harus dilakukan tanpa harus bertanya, pekerjaannya memang menuntut untuk selalu sigap dan sempurna.
Nadira malah tertawa, mereka yang tengah menikmati makan siang yang biasanya tidak pernah merasa tenang selalu merundingkan langkah apa yang harus mereka ambil ke depan, sebagai sekretaris William, dia juga dituntut untuk tidak melakukan kesalahan. "Memangnya semenarik apa sih perempuan itu, baru kali ini dia sampai mengutusmu," balas Nadira, perempuan berusia dua puluh lima tahun itu merasa sedikit heran, karena biasanya si bos lah yang selalu dikejar-kejar perempuan.
Davin mengangkat bahu, mulutnya sibuk mengunyah jatah makan siang dengan cepat, karena biasanya si bos sering menghubunginya tiba-tiba, sebagai asisten khusu pria itu, dia harus selalu sigap saat diminta untuk bersiap, meski tengah malam sekalipun. "Kurasa karena namanya sama dengan mantan kekasihnya dulu," ucapnya menebak.
Nadira sedikit mengingat. "Nona Lilyana?" tanyanya memastikan.
Davin mengangguk, "sepertinya karena hal itu, tapi sebenarnya ada satu hal yang membuatku merasa khawatir," gumamnya pelan.
Nadira jadi penasaran, "apa itu?" tanyanya.
"Ada, dan kau tidak perlu tahu."
"Ya astaga kau membuatku penasaran."
Davin tertawa, sekecil apapun informasi tentang atasannya, dia harus selalu bisa menjaga, tidak mungkin jika dia bercerita bahwa perempuan itu adalah anak dari musuh Tuan William.
"Jadi menurutmu dengan perempuan ini, Tuan William sudah tergila-gila?"
Davin menggeleng, "aku tidak dapat memastikan, dia memang sering berganti perempuan, jadi aku tidak tau mana yang benar-benar memikat hatinya, dan sejauh ini kuperhatikan sikapnya masih biasa-biasa saja."
Nadira memegang kepalanya dengan kedua tangan, ngeri jika kembali mengingat saat dirinya diteror oleh para perempuan yang minta dipertemukan dengan Tuan William, "Semoga saja si bos cepat menikah, agar tugasku bisa sedikit berkurang."
Davin tertawa, sebagai asisten yang terkenal dingin dan pendiam hanya pada Nadira pria itu mau terbuka, toh perempuan itu juga punya tanggung jawab yang sama tentang menjaga privasi atasannya, mungkin di perusahaan itu, hanya mereka berdua yang banyak tau tentang kebiasaan bosnya.
"Tugas apa? Mengusir para wanita yang mengejarnya?" Davin menebak dengan tertawa.
Nadia tidak menanggapi. "Cepat habiskan makananmu, sebentar lagi jadwal Tuan William bertemu klien untuk makan siang, kau pasti harus ikut kan?" Nadira mengingatkan.
"Biarkan saja, sesekali tidak apa mengabaikan panggilannya," ucap Davin meremehkan, terlalu siaga lama-lama bisa membuat dirinya menjadi gila.
Nadira tertawa tidak percaya, karena biasanya pria itu akan selalu sigap menerima panggilan sejak dering pertama, notif yang disetel khusus untuk tuanya menjadi nada keramat yang haru segera ia angkat. "Aku tidak percaya Dav kau bisa melakukan itu." Nadira meremehkan.
Benar saja, baru beberapa saat dibicarakan, nada panggilan yang selalu membuat Davin kelabakan, berhasil juga membuat perempuan itu tertawa tanpa suara.
"Iya, Tuan," ucap Davin setelah menerima sambungan.
"Tolong batalkan semua pertemuan hari ini, saya ada urusan." William berucap di balik sambungan telepon.
Setelah dengan patuh mengiyakan, Davin kemudian bertanya. "Bagaimana dengan wanita yang anda inginkan, haruskah saya membawanya ke apartemen Tuan nanti malam?" tanya pria itu.
__ADS_1
Ada sedikit jeda dari sambungan telepon atasannya, dan Davin menduga mungkin tuanya itu tengah berpikir.
"Itu biar nanti saja, kau bebas siang ini, beristirahatlah."
"Baik Tuan, terimakasih." Davin menutup sambungan, kalimat beristirahatlah dari tuanya sering kali hanya sebuah wacana, untuk itu dia tidak banyak berharap bisa terbebas dari tugasnya.
"Hitung mundur Dav, sebentar lagi Tuan William pasti akan menghubungiku." Nadira meletakkan ponsel canggihnya di atas meja, bersiap untuk mengangkat panggilan atasannya.
Dan benar saja, ponsel yang menyala-nyala dengan nada yang sering ia terima membuat Davin ikut tertawa.
"Iya, Tuan."
"Jika ada yang mencariku hari ini, katakan aku tidak dapat ditemui, kau mengerti sekretaris Na?"
"Baik Tuan, saya mengerti." Nadira mengelus dadanya, mendapat panggilan dari si bos selalu saja membuatnya merasa gugup, setelah melempar tatapan pada pria di hadapannya, mereka kemudian tertawa.
Meski terkadang mereka merasa tertekan, tapi bekerja dengan William adalah sebuah jembatan yang membawanya ke dalam kemakmuran, bertahun-tahun mengabdi pada pria itu nyatanya mereka dapat mewujudkan apa yang mereka inginkan, terlebih tuannya itu tidak pernah perhitungan masalah uang, bonus keduanya selalu saja lebih banyak, dari yang seharusnya mereka dapatkan.
***
Dan urusan penting yang dimaksud William adalah menghadiri pesta ulang tahun anak dari sahabatnya. Si kembar Jino Nino yang kali ini genap berusia sembilan tahun meminta kado khusus yang membuat William menggelengkan kepala.
"Terimakasih Om William," ucap si kembar secara bersamaan saat kado berukuran besar sudah berada di pelukan mereka.
"Saranku, kau jangan berurusan dengan perempuan itu, akan berbahaya jika nantinya kau malah jatuh cinta." Justin mendorong secangkir kopi ke hadapan william , dan mengucapkan terimakasih pada asisten, yang telah mengantarkannya.
William berdecak, memutar bibir gelas dengan ujung jarinya, pria itu sedikit merasa bimbang. "Tapi dia berbeda Just," ucapnya.
Justin menghela napas, "setiap wanita memang kau anggap berbeda, makanya kau coba semua." Kalimat itu mendapat tendangan dari sahabatnya di bawah meja, dan Justin kemudian tertawa.
"Kakaknya koma di rumah sakit," ucap William.
"Karena ulahmu?"
"Bukan aku, mereka sendiri yang bermain api, kau tidak tau kebenarannya." William berucap dengan pandangan mengarah pada cairan pekat di dalam cangkir.
"Dunia gelapmu tidak mampu aku jelajahi, Will, dan aku tidak mau terjerumus." Justin berucap sungguh-sungguh.
William tertawa sumbang, "aku tidak semengerikan apa yang kau bayangkan," ucapnya meyakinkan.
Justin mengangkat bahu, belum sempat menanggapi, seseorangΒ yang datang dengan membawa Seikat bunga membuat pria itu menoleh, sedangkan William masih fokus pada cangkirnya.
__ADS_1
"Maaf Pak, Ibu Serena menyuruh saya untuk membawa bunga ini ke dalam, dimana harus saya letakkan," ucap wanita penjual bunga dengan mengedarkan pandanganya.
William merasa mengenali suara perempuan yang ia punggungi itu, setelah memutuskan untuk berbalik, keterkejutan seseorang yang kini berhadapan dengan dirinya membuat pria itu tertarik. "Oh Lily?"
Lily yang tidak pernah menyangka, akan kembali bertemu dengan pria yang selalu ingin ia hindari perjumpaannya, memutuskan untuk berlari pergi, dan hal itu membuat William reflek berdiri.
"Siapa?" Tanya Justin yang membuat sahabatnya tidak jadi mengejar wanita itu.
"Dia adalah Lily yang aku ceritakan," ucap William dengan kembali duduk di kursinya, raut wajahnya berubah senang.
Justin mengerutkan dahi, "pengantar bunga?"
"Entahlah," jawab William, pria itu sebenarnya juga bingung mengapa bisa bertemu Lily di sini, apa dia bekerja di sekitar sini, mungkinkah uang yang ia berikan tidak lagi mencukupi kebutuhan wanita itu? William jadi kepikiran, dan berniat menghubungi Davin untuk melakukan penyelidikan.
Namun hal itu membuat dirinya merasa geli, belum pernah selama ini dia begitu tertarik dengan seseorang yang bahkan menolak untuk dia temui.
"Aneh, kenapa dia berlari pergi, apa kalian menakutinya?" Nena, istri Justin yang sedikit kerepotan menggendong putri bungsunya yang baru berusia beberapa bulan, meletakkan Seikat bunga yang diberikan perempuan tadi ke atas meja.
Justin menoleh pada William, wajar jika perempuan itu berlari ketakutan. "Mungkin kau memang menakutkan Will," selorohnya.
William tidak menanggapi, malah meraih bunga yang Nena letakkan di atas meja dan mencari kartu ucapan di Sana, biasanya tertera juga alamatnya.
"Untuk apa?" Tanya Nena saat William mengambil kartu ucapan itu dan menyimpannya.
William tersenyum, "aku akan menemuinya," ucap pria itu yang membuat pasangan suami istri di hadapannya itu menggelengkan kepala.
***iklan***
Author : Malah jadi pada kepo sama si eta π€
Netizen :Lu sih mulai mulai, mereka semangat kan pengen ghibah π€
Author : Siapa yang ngajakin ghibah π
Netizen : kegiatan ghibah itu terkadang dimulai tanpa kita sadari, contohnya kalimat, "eh, Lu tau nggak?" π
Author: Berati gue menciptakan ruang ghibah di kolom komentar ya. Pada kepo sama si eta, mana ada yg sok tau lagi si eta teh siapa. Eta terangkanlah ππ
Netizen: Dosa mana lagi yang kau dustakan thoor π
Author : Astagfirullah π
__ADS_1
Buat yang mau masuk grup chat kasih alasan, "penggemar Bang Bule" ya, kalo nggak tulis alasan kadang nggak diterima, karena kita nggak tau itu pembacaku apa bukan.
Vote vote vote, komen nextnya ditunggu yaa ππππ