Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
OH LEON


__ADS_3

Malam ini Lily terlihat begitu bahagia, wanita cantik itu bertambah luarbiasa dengan gaun pernikahan yang ia kenakan.


William kini resmi menjadi suaminya, dan pria itu dengan senang hati mengajaknya untuk berdansa.


"Aku tidak terlalu mahir berdansa," ucap Lily khawatir akan membuat malu, saat keduanya sudah berdiri saling berhadapan di tengah gedung, dengan semua pasang mata yang mengarah pada dirinya.


William mencondongkan kepala, dengan satu tangan yang merangkul pinggang wanita itu dia kemudian berbisik, "ikuti saja gerakanku, bukankah kita pernah mencobanya kemarin."


Lily tersenyum, meletakan kedua tangannya di pundak suaminya itu, keduanya bergerak berirama, tidak lama kemudian pasangan lain tampak menyusul untuk berdansa.


Melihat kebersamaan itu membuat Leon tersenyum bahagia, pria itu menyikut lengan lelaki di sebelahnya.


Daniel menoleh, bersidekap dengan tatapan masih mengarah pada pasangan di depan sana, "akhirnya aku hanya menjadi tamu undangan," ucapnya.


Mendengar itu Leon tertawa pelan, "banyak wanita di sini, pilih saja satu dan ajaklah untuk berdansa," sarannya.


Daniel mendecih, mendapat saran dari pria yang bahkan masih melajang, dan didahului oleh adik perempuannya, tentu saja membuatnya merasa geli, "kau duluan saja, sepertinya dirimu lebih membutuhkan," sindir pria itu.


"Siyallan!" Leon jadi tertawa, kemudian menoleh pada dua orang wanita yang tampak mengobrol di sudut gedung sana.


"Niel, bagaimana dengan psikiater temanmu itu, apa ada kemajuan tentang Naura," tanyanya yang membuat Daniel menoleh pada Leon, kemudian beralih pada wanita bernama Naura yang waktu itu eon kenalkan pada dirinya.


"Nanti aku tanyakan lagi," ucap Daniel, kemudian berpikir. "Kenapa kau tidak mengajak Naura berdansa saja, sepertinya mereka belum ada pasangan juga," ucapnya.


Leon yang tampak mengangguk kemudian menarik Daniel untuk ikut dengannya, pria itu sedikit meronta.


"Hay," ucap Leon yang kemudian disambut oleh Naura juga Lura yang tersenyum pada pria itu. "Kenalkan ini Daniel," ucapnya.


Daniel berdecak, "aku sudah mengenal mereka," ucap pria itu. Leon tampak tidak menyangka, dan Lura menceritakan bahwa dia sering bertemu dengan dokter Daniel saat ibunya dirawat di rumah sakit.


"Mau berdansa denganku Leon?" tawar Naura, "em, ada yang ingin kubicarakan denganmu sekalian," ucapnya sedikit ragu.


Leon sempat menoleh pada Lura yang terlihat biasa saja, kemudian memberikan anggukan pada Naura atas tawarannya, mereka kemudian turun ke lantai dansa menyusul pasangan romantis lainnya.


Melihat itu Lura sedikit memanas, genggaman pada gelas di tangannya sedikit ia eratkan, menyalurkan gemuruh dalam dadanya yang mengancam air mata wanita itu untuk keluar.

__ADS_1


"Dansa denganku Nona," tawar Daniel yang membuat wanita itu tersenyum.


Lura menerima ajakan pria itu sembari menyatukan tangan mereka, "dengan senang hati Dokter Daniel," ucapnya.


Kebersamaan Lura dengan Daniel membuat Leon tidak fokus pada wanita di hadapannya, entah kenapa hatinya sedikit tidak nyaman, dan dia berkali-kali menoleh pada Lura yang tampak seru berdansa dengan Daniel, temannya.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Naura saat menyadari pria di hadapannya itu yang tidak terlalu fokus pada dirinya.


Leon menoleh, kemudian tersenyum, "tidak apa-apa, ah iya, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya pria itu dengan masih bergerak pelan mengikuti alunan musik yang terdengar lembut.


Naura mengalungkan kedua lengannya pada leher pria tampan itu, "aku merasa dejavu dengan suasana seperti ini, apa dulu aku pernah menghadiri pesta semacam ini?" tanyanya.


Leon tampak berpikir, "tentu saja sering, kau adalah orang penting, temanmu tentu banyak," ucapnya.


"Leon." Naura menempelkan wajahnya pada dada bidang pria di hadapannya itu, "entah kenapa denganmu aku merasa nyaman, seperti menemukan sesuatu yang selama ini aku cari," ungkap wanita itu.


Bukannya merasa gugup Leon justru malah takut, dia menoleh pada Lura yang kemudian tampak mengarahkan tatapannya pada dirinya, dan setelah mengulas senyum, wanita itu kembali fokus pada Daniel di hadapannya.


Leon merasa ada yang salah dengan pilihannya, dia merasa tidak nyaman melihat kedekatan Lura dengan orang lain, dan wanita yang kali ini memeluk erat tubuhnya, kenapa tidak lagi terasa istimewa di dalam hatinya.


Dia benar-benar ke kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin, dan berpikir sebenarnya apakah yang dia ingin. Dia tidak bisa seperti ini, sejak tau dari Lily bahwa Lura menyukainya entah kenapa hatinya sedikit goyah dengan perasaannya terhadap Naura, apakah benar wanita itu hanya masalalu untuk dirinya.


***


"Bisa kau pindah ke depan, aku bukan supirmu," komentar Leon saat Naura sudah turun dari mobilnya. Pria itu memang mengantarkan kedua bersaudara itu pulang ke rumahnya masing-masing, dan berhubung rumah Naura lebih dekat jadi dia mengantarkan wanita itu lebih dulu.


Lura berpindah ke jok depan, dan Leon pun melanjutkan kembali kendaraannya setelah wanita itu memasang sabuk pengaman, tidak ada obrolan antara mereka selama di perjalanan, keduanya tampak berkutat dengan pikiran masing-masing, dan saat Leon membelokkan kemudi masuk ke parkiran apartemen Lura, pria itu kemudian bersuara.


"Dulu kau bekerja di tempat hiburan malam, apakah sekarang masih bekerja di sana?" tanya Leon sengaja, dia ingin membuat Lura tidak lagi bersimpati pada dirinya.


Pembahasan itu membuat Lura sedikit terkejut, namun bukannya marah, wanita itu berusaha menjawabnya dengan biasa saja, dan tentu membuat Leon merasa heran karenanya.


"Aku sudah tidak lagi bekerja di sana, darimana kau tau aku bekerja di tempat seperti itu?" tanya Lura mencoba menekan gejolak dalam dirinya yang merasa sedikit terhina.


"Tidak perlu ada yang menceritakan padaku, aku sudah tau tentang hal itu," balas Leon dengan menghentikan laju kendaraannya, saat sudah sampai di dalam gedung parkiran menuju apartemen wanita itu.

__ADS_1


"Seharusnya kau tidak perlu mengantarku sampai di sini, cukup turunkan aku di depan gedung saja tidak masalah," ucap Lura berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


Namun sepertinya Leon tidak mau beralih dari pembahasan itu, dia menoleh pada Lura yang wajahnya terlihat gugup. "Aku cukup penasaran, sudah berapa banyak pria yang menidurimu selama ini?"


Kalimat itu membuat Lura sedikit terhenyak, tidak menyangka akan mendapat penghinaan sedemikian rupa, dengan Sorot mata yang terluka, wanita itu menatap wajah tampan Leon yang tampaknya tengah sengaja, barangkali pria itu ingin membuatnya benci pada dirinya.


Namun tanggapan Lura sungguh di luar dugaan Leon, yang berharap mendapat tamparan di salah satu bagian pipinya, dia ingin wanita itu berhenti menyukainya, tapi Lura justru membuatnya kembali goyah.


Lura sedikit terkekeh, "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya balik dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, menantang pria di hadapannya itu. "Tentu saja banyak, kau mungkin tidak tau betapa aku begitu laku, apa kau ingin menjadi pria berikutnya yang meniduriku?" tawar wanita itu dengan terus menggoda, mengusapkan buku jarinya pada dada Leon yang berubah gugup di hadapannya.


Leon menangkap pergelangan tangan Lura, dan tatapan keduanya terkunci pada bola mata masing-masing, ada kepura-puraan yang terpancar dari keduanya, dan mereka mungkin menyadarinya.


"Kenapa? Kau tidak berminat pada tubuhku?" Lura semakin gencar menggoda pria itu, menunjukkan betapa menjijikannya dirinya, sama seperti apa yang pria itu pikirkan selama ini, dan dia ingin benar-benar menunjukkannya.


Leon membuang muka dan sedikit memundurkan kepala saat Lura duduk di pangkuannya, wanita itu terus menggoda, dengan mengusapkan buku jarinya yang lembut dan halus pada leher pria itu. "Hentikan Lura," pintanya dengan suara parau.


Lura tersenyum manis, "Kenapa? Kau tidak sanggup membayarku malam ini, bagaimana jika kuberikan gratis khusus untukmu, bagaimana Leon, apa kau mau?" tawarnya sekali lagi.


Leon menelan ludah, pria itu tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan segugup ini, dan saat wanita di pangkuannya itu menjauhkan diri, ada sebuah kehilangan yang ia rasakan di dalam hati.


Lura merapikan barang-barang bawaannya, "penawaran hanya sekali Tuan Leon, dan kau terlalu lama memberikan jawabannya, jadi lain kali saja," ucapnya kemudian membuka pintu, dan dengan cepat bergegas meninggalkan pria itu.


Leon mengusap wajahnya gusar, sebenarnya apa yang telah dia lakukan, dan saat dia menatap wanita itu lewat kaca spion, rasa bersalah tiba-tiba menjalar memenuhi isi kepalanya, dia benar-benar telah menyesal.


Lura berjalan terseok-seok menyusuri parkiran apartemennya yang entah sejak kapan bertambah luas seperti sebuah lapangan, langkah kakinya tidak juga sampai pada pintu penghubung, belum lagi sepatu hak tinggi yang begitu mengganggu membuatnya nyaris terjatuh jika seseorang tidak menangkapnya dari belakang, dan yang lebih menjengkelkan lagi, orang itu adalah Leon.


"Mau apa kau mengikutiku? Penawaran sudah tidak berlaku," tukas Lura ketus dengan mengusap airmata yang mengalir di kedua pipinya, pria itu melihat dirinya menangis, benar-benar lemah dan memalukan, pikirnya.


"Maaf jika aku menyakitimu," ucap Leon lembut.


Lura berusaha untuk tetap tegar meski airmatanya tidak dapat disembunyikan, dan wanita itu masih bisa tersenyum, "untuk apa minta maaf, yang kau katakan itu memang benar, aku hanya wanita murahan yang ditiduri banyak pria demi uang, lalu apa? Kau pantas untuk jijik padaku, jadi pergilah," usir wanita itu.


Leon benar-benar merasa bersalah sekarang, pria itu menarik lengan Lura yang hendak melangkah pergi, kemudian membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya saat dia akan kembali mengomel.


Lura mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Leon dan berusaha mendorong tubuh pria itu, namun tekanan di tengkuk lehernya, membuat dia kesulitan memundurkan kepala.

__ADS_1


Dan Leon melepaskan ciumannya saat napas keduanya tampak tersenggal, tatapan penuh tanya yang terpancar dari kedua bolamata Lura tidak mendapat jawaban dari Sorot mata Leon yang tidak terbaca. Dan Lura tidak pernah mengerti, apa maksud pria di hadapannya ini.


__ADS_2