
Lily sedikit terkejut saat mendapati William masih berada di sofa ruang tv saat dirinya keluar dari kamar, wanita itu mendekat dan menopangkan kedua tangannya pada sandaran sofa, "Kau bilang ada undangan makan siang? kenapa masih di sini?" tanyanya.
Mendengar itu William mendongakkan kepalanya ke atas, menatap wajah Lily yang berdiri di belakangnya, "diundur, jadinya nanti makan malam," ucapnya, mengulurkan kedua tangan untuk menyentuh kepala Lily dan sedikit menariknya hingga bibir wanita itu mendarat di dahinya. "Bagaimana jika sekarang kita cari makan siang di luar," usul pria itu.
Lily menegakkan tubuhnya, beranjak menghampiri William dan duduk di sebelah pria itu, "aku dapat kabar dari Lura, katanya Kak Leon ada di rumahnya," ucap Lily dengan wajah berbinar, "Bagaimana jika kita ke sana, apa kau bisa?" tanyanya.
Melihat raut wajah Lily yang begitu amat berharap William jadi tidak tega, pria itu kemudian mengangguk, "tapi jika dia kembali menyerangku lagi, bagaimana?" yanyanya khawatir.
"Kau takut?" sindir Lily dengan tersenyum jahil.
William berdecak, kemudian beranjak berdiri, memasukkan kedua tangannya pada saku celana, "jadi makan siang dulu atau menemui kakakmu dulu?" tanyanya.
Lily ikut berdiri, raut wajahnya begitu senang, "tentu saja makan siang dulu, jika nanti kalian berkelahi, kau pasti butuh tenaga lebih," candanya.
William yang tidak terima menangkap tubuh wanita itu yang sigap menghindar, kemudian mengangkatnya, dan Lily terus meronta minta diturunkan dengan tertawa-tawa, keduanya terlihat begitu bahagia.
***
Ini pertama kalinya Lura menyiapkan makan siang untuk seseorang di apartemennya, Leon yang bingung akan pulang kemana membuat wanita itu mengusulkan untuk tinggal sementara, toh di sini sedang tidak ada siapa-siapa.
"Kau tinggal sendiri?" Tanya Leon memulai percakapan, saat Lura menaruh satu mangkuk mi instan di hadapan pria itu.
Lura duduk di kursinya dengan mangkuk berisi menu yang sama yang ia letakkan di atas meja, wanita itu mengangguk, "ibuku menginap di rumah saudaranya," jawab Lura.
Leon ingat saat Lily bercerita bahwa ibu Lura sakit keras, dan dia pun menanyakannya, kemudian dijawab sudah sembuh oleh wanita itu, beberapa saat setelahnya suasana pun berubah hening.
Lura tidak mengerti mengapa dirinya begitu gugup berhadapan dengan pria tampan itu, dia yang selalu berisik dan tidak pernah kehabisan bahan untuk cerita mendadak jadi pendiam seketika.
"Lura,"
"Kak Leon,"
__ADS_1
Keduanya berucap secara bersamaan, dan Lura dengan cepat menyuruh pria itu untuk mengutarakan kalimatnya lebih dulu.
"Kau tau di mana Naura tinggal?" Tanya Leon yang sesaat membuat wanita yang duduk di sebelahnya itu terdiam.
Lura berdehem, mengambil gelas berisi air putih miliknya kemudian ia minum. "Kau kenal dengan Naura?" tanyanya setelah meletakan benda di tangannya ke atas meja.
Sejenak Leon menerawang, kemudian tersenyum. "Kami sempat dekat dulu, tapi tidak sampai berpacaran," ucapnya.
Lura menghela napas, "percuma Kak, jika kau menemuinya dan menceritakan seberapa banyak kenangan diantara kalian berdua juga dia tidak akan mengingatnya," ucap wanita itu.
Namun anehnya Leon malah terlihat bahagia, dan tentu saja Lura jadi curiga, suasana hatinya semakin tidak enak saja.
"Ada satu masalah yang membuat kami saling menjauh dulu." Leon mulai bercerita, menoleh pada wanita di sebelahnya, "dan jika Naura dapat melupakan itu, lalu kami memulai berkenalan dari awal, bukankah itu bagus," ucapnya.
Lura berusaha untuk mengangguk, "Masalah apa?" tanyanya ingin tau.
Namun Leon hanya membalasnya dengan tersenyum, kemudian mencondongkan tubuhnya pada wanita itu, "rahasia," ucapnya.
Pria itu tidak pernah tau saat Lura menahan napas akan perbuatan Leon barusan, dan senyumnya yang menular membuat wanita itu ikut memamerkan deretan giginya. "Kau ternyata menyebalkan," ucapnya.
"Bagaimana dia sekarang? apa lebih cerewet dari dua tahun yang lalu," tanya Leon.
"Sejak kecelakaan itu dia jadi lebih pendiam," balas Lura.
Leon tampak terenyuh, pasti berat kehilangan ingatan dan melupakan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya, selama ini Naura mungkin hidup seperti orang asing, bahkan mungkin wanita itu tidak ingat namanya sendiri, bisa jadi.
"Tapi dengar-dengar Naura sudah dijodohkan sekarang."
Kalimat itu membuat Leon menghentikan kunyahan pada mulutnya, pria itu menoleh. "Benarkah?"
Raut kecewa yang terpancar dri Sorot mata Leon membuat Lura tidak tega, entah kenapa dia merasa telah mematahkan hati seorang pria di hadapannya. "Tapi kau tenang saja, Naura belum sepenuhnya setuju tentang perjodohan itu, karena sampai sekarangpun dia tidak tau calon suaminya itu siapa, bukankah itu lucu?" Lura tertawa sendiri, terdengar sumbang dan setengah hati, dia hanya ingin sedikit menghibur pria itu sebenarnya, dan Leon hanya menanggapinya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Berikan aku alamat Naura, dan ceritakan juga apa kegiatannya saat ini." Leon berubah semangat.
Belum sempat menanggapi, suara bel pintu apartemen Lura berbunyi dua kali, wanita itu menebak pasti Lily yang datang, dan dia berpamitan pada Leon untuk menemui tamunya.
Beberapa saat kemudian Leon mendongakkan kepala dari mangkuk di hadapannya saat merasakan langkah kaki menuju ke arahnya, pria itu sedikit terkejut dengan kedatangan sang adik, tatapannya beralih pada Lura yang seperti merasa bersalah.
"Kak Leon!" Lily menghampiri sang kakak dengan cepat saat pria itu beranjak akan pergi dari kursinya.
Leon menoleh sekilas, menatap sang adik yang sudah bercucuran air mata, dia kembali membuang muka, "untuk apa kau menemuiku," sinisnya.
Lily mendekat, merangkul lengan sang kakak dengan erat, "aku tau aku salah Kak, tapi kumohon jangan seperti ini, kakak adalah satu-satunya saudara yang aku miliki di dini ini," rintihnya.
Leon tampak tersentuh, tapi rasa kecewa membuat pria itu menarik lengannya hingga terlepas dari rangkulan wanita itu. "Kalian tidak membutuhkan aku, anggap saja aku sudah mati," ucapnya yang membuat Lily semakin tersedu.
Saat kakaknya itu memilih untuk beranjak pergi, Lily berucap lagi. "Apa Kakak mau anak dalam kandunganku ini lahir tanpa seorang ayah?"
Kalimat itu membuat Leon menghentikan langkahnya.
"Jawab Kak, haruskah aku meninggalkan William dan membesarkan anak ini sendiri?"
William mendekat, merangkul pundak Lily dan mengusap pipi wanita itu yang basah karena air mata, setelah itu mengalihkan pandangannya pada Leon yang belum membalikkan tubuhnya. "Kami akan segera menikah," ucap William.
Perlahan Leon menoleh, membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang adik yang tampak rapuh di pandangannya, "berbahagialah," ucap pria itu Lirih.
Lily menghentikan tangisannya, senyum di bibirnya yang tampak ragu, menunjukan betapa wanita itu amat terharu.
"Aku yakin kau pasti sudah melihat vidio itu," tebak William.
Sejenak Leon tertegun, kemudian mengangguk, "haruskah aku meminta maaf dan berterimakasih padamu," sindirnya.
William sedikit tertawa, "tidak perlu," balas pria itu. "Karena aku jauh lebih bersalah telah membuat adikmu seperti ini," imbuhnya kemudian.
__ADS_1
Tatapan kedua pria di ruangan itu seolah berkata-kata, Lura sedikit merasa ngeri dengan situasi saat ini dan kedepannya, akankah ada perkelahian di apartemennya ini? Begitu pikirnya.
"Jaga adikku dengan baik William, karena jika kau sampai menyakitinya, aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu," ancam Leon, dan Lily segera menghambur ke pelukan pria itu.