
Kehamilan Lily yang semakin terlihat, membuat wanita itu bertambah manja pada suaminya, barangkali memang William yang begitu menuruti apapun keinginan sang istri atau memang hormon ibu hamil ternyata semenyebalkan ini, setidaknya itu yang dapat Leon tangkap dari pasangan merepotkan di hadapannya.
"Sebenarnya apa sih yang kalian masak?" Leon bertanya saat Lily menyuruhnya untuk menonton wanita itu berperang di dapur, entah sejak kehamilan minggu ke berapa adiknya itu jadi hoby mengacau ruangan ini, karena sepengalamannya, perempuan yang hamil muda sering kali benci pada aroma bawang dan sebangsanya, tapi tidak untuk Lily, wanita itu justru bertingkah sebaliknya.
William yang bertugas membantu sang koki tidak handal di sebelahnya itu menoleh, "sepertinya ini akan enak, tunggu saja," ucap pria itu dengan menyodorkan satu talenan berisi bahan masakan yang telah dipotong-potong pada istrinya, mereka berdiri di depan kompor, terlihat kompak hingga membuat Leon sedikit muak, pria itu melengos, duduk di depan meja makan dengan melipat kedua tangannya di depan dada, minggu pagi sepulang olah raga, dirinya diseret ke arah dapur, untuk menyaksikan acara masak-memasak, yang beberapa kali membuat bibir tipisnya selalu berdecak.
"Kakak lihatlah, ini akan menjadi masakanku yang paling spektakuler," ucap Lily dengan mengacungkan spatula, ke arah pria yang duduk di kursinya. "Bukan begitu sayang?" tanyanya pada sang suami di sebelahnya.
William tersenyum senang, "tentu saja," balasnya.
Yang Leon tau, beberapa hari yang lalu wanita itu juga mengumbar kalimat yang sama, saat dirinya dipaksa menghadiri pertunjukan memasak ala kadarnya, setidaknya itulah judul yang tidak bisa ia lupa.
Pria itu mengernyit saat satu piring besar berisi masakan yang entah apa judulnya disodorkan oleh sang adik ke hadapan wajahnya.
"Bukankah aromanya begitu harum?" tanya Lily, sebelum akhirnya meletakan piring di tangannya ke atas meja, William sudah duduk di kursinya, di sebelah sang istri dan saling berhadapan dengan Leon. "Ayo cobalah," ucap wanita itu.
William sudah memasukkan satu sendok nasi campur di piringnya dengan semangat, meski rasanya agak sedikit aneh dan berbeda dengan yang disebut nasi goreng pada umumnya, tapi dia tentu menghargai perjuangan sang istri untuk meracik masakan tersebut, sejak kehamilan wanita kesayangannya itu semakin kelihatan, tingkah perempuan itupun semakin menggemaskan.
"Kenapa rasanya agak sedikit aneh," tanya Leon setelah memasukkan satu sendok masakan sang adik ke dalam mulutnya, belum sempat ia kunyah, masih ragu dengan aromanya yng sedikit berbeda.
Lily tentu merasa bingung, dia mencoba mengingat bahan apa yang ia masukkan ke dalam masakannya, "berhubung aku tidak punya minyak wijen jadi aku menggantinya dengan minyak zaitun, mungkin karena hal itu rasanya jadi sedikit berbeda," ucapnya yang membuat kedua pria di meja makan itu menghentikan kunyahannya.
__ADS_1
William mengerjap bingung, berpikir apakah minyak zaitun dapat dikonsumsi, dan setaunya memang bisa, tapi dia melihat Leon sudah membuang makanan di dalam mulutnya, hingga membuat sang istri berubah sedih.
"Apakah rasanya begitu tidak enak?" Lily bertanya pada sang suami di sebelahnya.
William tersenyum, "enak Sayang, tidak masalah mau minyak apapun, selagi bukan minyak urut masih wajar," ucapnya menghibur.
Lily terlihat senang, dan pertanyaan sang kakak tentang apakah itu bisa dikonsumsi membuat wanita itu beranjak ke dapur.
Setelah adiknya pergi, Leon menoleh pada William yang terlihat masih makan,"Kau tidak takut keracunan," ucapnya berkomentar.
Sejenak William menghentikan kunyahannya, "minyak zaitun tidak terlalu buruk, masih dapat dikonsumsi, masih bagus bukan minyak rem, kehamilan Adikmu membuatnya jadi hobi memasak, kurasa itu lebih baik daripada tidak suka bau masakan," ucapnya menjelaskan.
Kedatangan Lily dengan mengacungkan benda di tangannya membuat kedua pria di meja makan seketika menoleh, "ini biasa kupakai sebagai pelembab kulit, tapi sepertinya aman untuk dikonsumsi," ucapnya yang membuat sang suami seketika memuntahkan makanan dalam mulutnya, pada tisu yang dengan cepat dia ambil, Leon nyaris tertawa karenanya, "Eh, apa tidak bisa ya," imbuh Lily dengan sedikit ragu, tatapannya terlihat menyesal, "Maaf," ucapnya lirih."
"Sudahlah Lily, kau itu tidak bisa memasak, cukup dengan uji coba yang dapat meracuni kami," tegur Leon yang mendapat tendangan dari William di bawah meja, Lily yang terduduk di sebelah suaminya menoleh pada William dengan menahan airmata, dan suaminya itu segera membawa kepala Lily ke dalam dekapannya.
Leon lupa, selain menyebalkan, adiknya itu bertambah cengeng dan semakin manja, tapi dia hanya mencoba berkata apa adanya, dan kalimatnya itu malah mendapat ancaman dari William, dengan memperagakan mencolok matanya sendiri menggunakan dua jari, apa-apaan, tidak mempan.
***
Siang hari, Leon yang berpamit pergi membuat William leluasa dan punya banyak waktu untuk berdua, jika ada sang kakak, pria itu selalu memberikan sindiran, ketika mereka kedapatan mesra-mesraan, sirik tanda tak mampu begitu biasanya pria itu membalas kejulidan sang kakak ipar, yang usianya lebih muda dari dirinya.
__ADS_1
"Lihat Sayang, bukankah ini sangat bagus," ucap Lily menunjuk sebuah majalah yang menampilkan beragam makanan dalam sebuah wadah.
William menoleh, "iya, sepertinya enak," balas pria itu sekenanya, dan kembali fokus pada laptop di hadapannya, keduanya tengah bersantai di sofa ruang keluarga.
"Bukan makanannya Sayang, tapi tempatnya," ucap wanita itu.
William kembali menoleh, "bapperware?" tanya pria itu.
Lily mengangguk antusias, "aku mau, ganti semua tempat masakan didapur dengan produk ini Sayang, aku suka, warnanya cantik-cantik," ucapnya sedikit memaksa.
William mengangguk, mengusap puncak kepala sang istri dengan sayang, kemudian beralih pada perut wanita itu yang sudah mulai membuncit, "nanti kita beli, pesan online saja," ucapnya memberi saran.
Lily mengerutkan dahi, wanita itu tampak mengingat sesuatu, "bukankan ibunya Serena menjualnya? Aku ingat waktu itu pernah mendapat brosur bapperware dari ibu teman kamu itu," ucap Lily mengingatkan, wanita itu memang beberapa kali bertemu dengan Justin juga istrinya, kedekatan sang suami dengan pria itu membuat Lily dekat juga dengan istrinya. "Ayo kita ke rumah Serena," ajaknya bersemangat.
William menggaruk rambut kepalanya yang tidak terasa gatal, menghela napas berat kemudian mengangguk, "baiklah," ucapnya yang membuat wanita kesayangannya itu berseru senang, kemudian bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.
***
Author : Ejempolnya tolong dicolek dulu, baru lanjut baca, komen next jan lupa 😌
Netizen: kenapa nama produknya Bapperware thor, kan namanya bukan itu. 🤔
__ADS_1
Author : entar dikiranya gue dagang 🙄
Netizen : yaiya juga si 😂