
Di dalam mobil yang suasananya begitu hening, Lily memilih untuk diam saja, perempuan itu menyandarkan kepalanya pada kaca, melihat jalan raya dengan pikiran yang menerawang pada kakaknya, apakah pria itu baik-baik saja, semoga tidak terjadi apa-apa, karena ia baru sadar pria yang kini bersamanya ternyata amat berbahaya.
William menghentikan kendaraannya di depan sebuah restoran, dan Lily yang menyadari hal itu tampak terlihat keheranan.
"Aku lapar," ucap William yang tidak mendapat tanggapan, pria itu pun sepertinya tidak peduli apakah perempuan di sebelahnya setuju untuk makan di sini atau tidak.
Lily melirik pria di sebelahnya yang tampak sibuk melepaskan sabuk pengaman, pintu mobil pun sudah dapat dibuka, dan perempuan itu memanfaatkan keadaan untuk kabur dengan segera.
William yang sempat terkejut, kemudian menyusul perempuan itu untuk menangkapnya.
"Lepaskan, aku tidak ingin ikut denganmu. Aku ingin ke rumah sakit." Lily meronta saat William menangkap pergelangan tangannya, keributan mereka yang mengundang kerumunan tampak menjadi pusat perhatian.
"Sudah kubilang tidak terjadi apa-apa dengan kakakmu, kenapa kau tidak mau percaya?"
Lily menggeleng, perempuan itu terus meronta, tentu saja dia tidak bisa percaya pada pria di hadapannya. "Kumohon, biarkan aku pergi," pintanya.
William menoleh ke sekeliling, pada wajah-wajah penasaran yang tampak ingin tahu, dan saat seseorang menghampirinya, pria itu kemudian tersenyum. "Tidak ada masalah apa-apa, istri saya memang sedang marah, kami terlibat sedikit kesalahpahaman," ucapnya saat orang itu bertanya ada apa.
Lily yang menggeleng dan tampak ingin meminta tolong langsung mendapat rangkulan dari William, telapak tangannya membungkam mulut Lily dan menariknya masuk ke dalam mobil.
Perempuan itu sedikit ketakutan saat pria di hadapannya bergerak mengunci pintu, Lily beringsut mundur saat tatapan dingin pria bernama William itu sedikit membuatnya waspada.
"Mau bermain-main denganku?" William membuka laci dashbord mobilnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana.
Lily sedikit terlonjak saat pria itu menarik tangan kanannya, "Kau mau apa?" tanya perempuan itu panik saat William menyangkutkan borgol di sana, dan ia satukan dengan tangan kirinya sendiri. Benar-benar sudah gila pria ini, begitu pikirnya.
"Kau tidak dapat kemana-mana sekarang," ucap William dengan mengangkat tangannya hingga pergelangan perempuan itu ikut tertarik.
"Kau gila," umpat Lily kesal, tidak menyangka pria itu akan melakukan hal seperti ini, dia hanya bisa meratapi nasib dirinya yang terasa buruk sekali.
William tidak menggubris omelan perempuan itu, malah kembali melajukan mobilnya menuju restoran baru.
Lily tentu saja teramat kesal, perempuan itu menarik tangannya untuk bersidekap, dan secara otomatis tangan kiri pria itu juga mengikutinya.
Sembari fokus berkendara, sesekali William menoleh pada perempuan di sebelahnya, tangannya yang menggantung di udara ia arahkan untuk mencolek dagu wanita itu, dan hal itu membuat Lily sedikit terlonjak.
William jadi tertawa, "bilang saja jika kau suka," ledeknya.
Bukannya menanggapi Lily malah terdiam, tawa renyah pria itu baru kali ini dia dengar, begitu ringan tanpa beban.
Lily menurunkan tangannya, mencoba untuk biasa saja meski jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
__ADS_1
Saat William menghentikan kendaraannya di depan sebuah restoran, Lily segera melepaskan sabuk pengaman kemudian membuka pintu, dan tidak sadar bahwa hal itu membuat pria di sebelahnya ikut terseret.
"Hey ayolah ini sebuah kekerasan," keluh William yang membuat Lily kembali duduk di tempatnya.
"Cept lepaskan, aku tidak akan kabur lagi, hanya menemani kamu makan dan setelah itu pulang kan?" tanyanya meminta kesepakatan.
"Tergantung," ucap William yang sibuk mencari kunci di dalam laci saat ia mengambil borgol itu tadi.
"Tergantung apa? Aku harus ke rumah sakit malam ini juga, kakakku butuh ditemani."
William tidak menanggapi, malah mungkin tidak mendengar ucapan perempuan itu, dia begitu sibuk mencari benda kecil yang tidak juga ia temui.
"Cepat buka borgol ini aku mau ke kamar mandi," omel Lily saat pria itu masih saja sibuk dengan urusannya.
William mendongakkan kepala, raut wajahnya tampak menyesal, "kuncinya tidak ada," ucapnya.
"Apah?"
***
Lily menyembunyikan borgol yang tersangkut di tangan kanannya ke balik punggung William saat mereka masuk ke dalam sebuah restoran, setelah perdebatan panjang di dalam mobil ketika pria itu menelepon asistennya yang mengabarkan bahwa borgol yang terletak di situ memang tidak ada kuncinya karena hilang, mau tidak mau mereka harus berdamai dengan keadaan.
"Tuan William, tidak kusangka bisa berjumpa dengan anda di sini."
Sapaan itu membuat William beranjak berdiri, dan mau tidak mau Lily juga reflek mengikuti gerakan pria itu, setelah sedikit berbasa-basi juga berbohong mengenai kedekatan mereka yang terlihat kompak sekali rekan bisnisnya itu kemudian pergi, dan keduanya mulai makan kembali.
"Mau kusuapi?" William menawarkan diri saat memperhatikan perempuan itu yang sedikit kesulitan saat makan.
Tentu saja Lily menolaknya, walau harus makan dengan kaki sekalipun dia sungguh tidak sudi jika harus disuapi oleh pria menyebalkan itu, hatinya sudah terlanjur kesal, dan hanya mendengar pria itu bernapas saja dirinya sudah begitu sebal, dan Lily baru sadar, begitu lengketnya jarak tubuh mereka bersanding, membuat keduanya nyaris dapat mendengar detak jantung masing-masing. Ya ampuun.
Sebenarnya William bisa saja mengutus Davin untuk menemui mereka, dan membawa alat untuk memutuskan borgol di tangannya, namun pria itu tentu ingin menikmati kedekatannya dengan Lily, wanita itu selalu mengingatkannya dengan mantan pacar yang sejak lama memilih pergi.
Secara tidak sadar, William belum bisa menerima, bahwa dirinya telah jatuh cinta pada sosok Lily yang berbeda.
"Tolong berhenti aku ingin buang air kecil," pinta Lily saat mereka sudah berada di dalam mobil, menuju toko bunga miliknya, suasana di luar sudah berubah gulita, pria itu seperti mengajaknya berputar-putar menyusuri jalan raya.
Menyetujui permintaan wanita itu William menghentikan kendaraannya di dekat toilet umum yang terdapat di sana, baru saja keluar tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya, dan beberapa pria bertubuh besar dengan cepat menghadang mereka.
Lily terlonjak ketakutan, saat William menariknya untuk bersembunyi di balik punggung pria itu.
"Mau apa kalian mengikutiku?" Tanya William dengan tenang, sejak mereka keluar dari restoran sore tadi pria itu memang menyadari bahwa ada seseorang yang terus membuntuti kemana mereka pergi, untuk itu William mengecoh dengan berputar-putar menyusuri jalan raya, namun mobil dibelakangnya itu tidak mau menyerah juga.
__ADS_1
Beberapa pria bertubuh besar itu kemudian tertawa, "kami diutus seseorang untuk memenggal kepalamu," ancamnya dengan berusaha menyeramkan suara.
Berbeda dengan Lily yang takut dan gemetaran, William malah tertawa, membuat perempuan itu ingin sekali memukul kepalanya, belum lagi kandung kemih yang memksanya untuk kencing di celana, ditambah dengan suasana yang begitu menakutkan membuat perempuan itu semakin kelimpungan. Ya Tuhan aku belum mau mati hari ini, pintanya dalam hati.
Entah bagaimana ceritanya, William yang menerima tantangan duel mereka membuat Lily ikut terlibat dalam perkelahian.
Perempuan itu memejamkan mata saat William mengangkat dan memutar tubuhnya hingga ujung sepatu wanita itu mengenai sebagian wajah dari lawannya.
Lily mungkin percaya jika seorang William memang pandai berkelahi, namun yang membuatnya takut setengah mati adalah keterlibatannya dalam situasi ini, dan saat wanita itu melihat salah satu dari mereka mengacungkan senjata tajam, dia berteriak ketakutan.
Kejadiannya begitu cepat saat William melakukan perlindungan terhadap Lily dengan tubuh kekarnya, hingga wanita itu melihat dengan jelas saat sabetan pisau mengenai lengan pria itu. Namun sepertinya hal itu tidak membuat William tumbang, karena setelahnya satu tendangan telak berhasil membuat lawannya itu tergeletak.
Keduanya berlari masuk ke dalam mobil, sedikit kesulitan dengan borgol yang melekat di tangannya namun tidak begitu lama kendaraan yang ia bawa melesat ke jalan raya.
Lily masih ketakutan, belum lagi kemeja lengan panjang pria itu yang berlumuran darah membuatnya semakin gemetaran, dan pria di sebelahnya itu malah tertawa.
"Bukankah tadi seru? Ini mungkin pengalamanmu yang pertama," ucap pria itu yang membuat Lily terus menggerutu.
"Kita hampir mati dan itu menurutmu lucu? Lihat lenganmu, cepat kita ke rumah sakit." Lily berucap dengan panik.
Bukan menuruti permintaan Lily, William malah diam, dan saat kendaraannya berhenti di lampu merah pria itu menoleh, menyerongkan duduknya menghadap wanita itu."Kau takut?" tanyanya dengan menyentuh pipi Perempuan itu dengan hati-hati, "Maaf," ucapnya lagi.
Lily mengerjap gugup, pria berwajah keras di hadapannya itu ternyata bisa bersikap lembut, dan hal itu malah membuatnya menjadi takut, takut untuk sadar bahwa jantungnya berdebar-debar.
"A, aku—" Lily berucap ragu, perempuan itu mencoba mengalihkan tatapannya ke mana saja asal bukan wajah tampan pria di hadapannya, "aku masih ingin ke kamar mandi," imbuhnya.
William tertawa, kembali menjalankan mobilnya saat lampu jalan berubah warna, "kupikir kau sudah kencing di celana," candanya.
"Enak saja." Lily bersungut sebal, pandangan wanita itu memperhatikan jalan raya yang tidak ia kenal, "kita mau kemana?" tanyanya.
"Apartemenku."
"Apah?"
***iklan***
Netizen: Waaa mereka mau ngapain thor ke apartemen Bang Buleee 😆😆
Author: Ya numpang kencing lah dia kan kebelet pipis 🙄
Netizen: apakah ada adegan dan mereka melakukannya 😆
__ADS_1