Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
PERTEMUAN


__ADS_3

Lily mendorong tubuh William hingga ciuman keduanya kemudian terlepas, perempuan itu bertanya, "apa maksudnya mati di tanganku, dan kenangan manis apa yang kamu maksud?"


William tersenyum, "itu hanya ungkapan saja, tidak bermaksud apa-apa," sangkalnya.


Lily tampak ber oh tanpa suara, kemudian mengangguk, "Will," panggilnya.


William yang tengah sibuk menggesek-gesekkan hidungnya pada pundak wanita itu kemudian mendongak, kedua tangannya ia lingkaran pada pinggang Lily yang menduduki meja dapur di depan ia berdiri. "Apa?" tanyanya lembut.


"Bisakah kau turunkan aku dari sini?" Lily menunjuk meja dapur yang ia duduki, dan mendapati pria yang menyandarkan tubuhnya di antara kedua kakinya itu menggelengkan kepala, dia jadi berdecak.


"Berikan aku ciumanmu dulu," goda William, dia ingin tau bagaimana rasanya jika wanita itu yang memulai duluan, namun bukannya menurut Lily justru menggeleng.


"Aku tidak mau," tolaknya.


William menunjukkan raut kecewa yang dibuat-buat, pria itu semakin erat menahan wanita yang duduk di hadapannya, untuk tetap diam saat mulai bergerak ingin turun. "Berikan yang kumau dulu," ucapnya mengajukan  syarat.


Lily berdecak, kemudian secara cepat mencium bibir pria di hadapannya dengan sekilas, "sudah," ucapnya.


William bergeming, "bukan begitu yang kumau," tolaknya.


Lily mendorong tubuh William dan turun dari meja dapur yang ia duduki, melangkah menuju kamar yang wanita itu tempati di apartemen mewah ini, dan dengan senyum yang tertahan William mengikuti langkah wanita itu kemudian menutup pintu.


***


William meraih jemari Lily yang berbaring di hadapannya, kemudian mencium punggung tangannya, "jika nanti kau hamil, dan aku sudah tidak ada, tolong jangan kamu bunuh anak itu, karena Bagaimana pun juga itu darah daging kamu," pesannya.

__ADS_1


Lily mengerutkan dahi, dia bingung kenapa William selalu membahas tentang kepergian nya, pria itu seolah tau rencana sang kakak yang ia tolok saat itu, tapi darimana William dapat mengetahuinya, Lily berada di dalam kamar dan menguncinya saat membicarakan masalah itu dengan sang kakak, dan itupun dengan suara yang amat pelan, tidak mungkin William mendengarnya.


"Kenapa kau selalu berkata seperti itu?" tanya Lily bingung.


William masih memainkan jemari lentik wanita itu di genggamannya, tatapan matanya teduh mengarah pada Lily yang raut wajahnya tampak penasaran, pria itu mengecup punggung tangan Lily lagi, dan kemudian menempelkannya di pipi.


"Mungkin hanya perasaanku saja, ada seseorang yang akan membunuhku esok atau lusa, dan bahkan jika orang itu menginginkan nyawaku saat ini juga, dia bisa melakukannya."


Lily menggeser kepalanya dari bantal untuk sedikit menjauhi William, dia ingin secara jelas menangkap raut wajah pria itu dengan matanya, "dari mana kau tau tentang hal itu?"


Pertanyaan itu membuat William diam saja, dan Lily semakin curiga. "Leon begitu membenciku, dan apakah kau juga sama?" tanya William.


"Aku." Kalimat Lily tercekat, setelah menolehkan pandangannya ke segala arah, dia kembali menatap mata William yang memancarkan luka dari dalamnya, raut wajah pria itu terlihat kecewa.


"Jika nanti aku harus mati di tangan kakakmu, perasaanmu bagaimana?" tanya William.


Tatapan teduh William mendatangkan air hujan yang seolah mengguyur hati Lily, wanita itu ingin menangis. Apakah benar dia mampu melihat pria itu mati di tangan sang kakak, atau bahkan tangannya sendiri yang akan menghabisinya.


"Jika kamu tau, kenapa kau tidak lari?" tanya Lily yang benar-benar tidak mengerti.


Sejenak William tertegun, namun kemudian tertawa, "aku hanya menebak saja mungkin kakakmu akan melakukan itu padaku, apa memang benar begitu?" tanyanya yang membuat Lily sempat kaku.


Wanita itu tentu tidak menyangka dirinya akan terpancing dengan kemana arah pembicaraan William, dia pikir pria itu sudah tau. "Will, kau benar-benar menyebalkan!" omel Lily dengan kembali memukul tubuh pria itu, William yang tidak tinggal diam membuat keduanya jadi bercanda, Lily tidak tau akan sampai sejauh mana hubungan mereka, bahkan dia sendiri tidak menyadari bahwa dengan William dia sudah begitu nyaman.


***

__ADS_1


Beberapa hari berlalu keduanya kian akrap, memasak bersama menjadi rutinitas paling menyenangkan setiap pagi, tapi entah kenapa kali ini Lily harus sedih, karena hari ini adalah untuk yang terakhir dirinya tinggal di sini, besok Leon akan pulang, dan tentu saja siang ini dirinya sudah harus ada di rumah.


"Nanti siang aku antarkan kamu pulang ke toko bunga, Davin sudah menyuruh orang untuk merapikan kekacauan di tempat itu," ujar William.


Lily tersenyum, "aku bisa pulang sendiri Will, Memangnya kau tidak bekerja?" tanyanya sembari mematikan kompor saat masakannya sudah matang.


William menggeleng, "tidak masalah, setelah itu baru aku ke kantor," ucapnya.


Lily tersenyum senang, entah sejak kapan dirinya merasakan bahwa William benar-benar perhatian.


Menjelang siang William mengantarkan Lily ke toko bunganya, pria itu menghentikan kendaraan yang ia bawa persis di depan halaman toko bunga Lily, namun yang membuat keduanya terkejut ternyata Leon sudah lebih dulu sampai di tempat itu.


Lily tentu saja gugup, selama ini dia bilang bahwa dirinya menginap di rumah Lura, tapi saat ini malah pulang bersama William, harus bagaimana dia menjelaskannya.


William melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya, tatapannya mengarah pada Leon yang tampak menunggu mereka di depan sana, dan saat pria itu bergerak membuka pintu, Lily langsung mencegahnya.


"Apa tidak sebaiknya kamu langsung pulang saja?" Lily mengajukan pendapat.


William menatap wanita itu dengan senyum, "lalu apa yang akan kau katakan pada Leon?" tanyanya.


Dan hal itu membuat Lily terdiam seribu bahasa. Jujur dia tidak menyangka akan bertemu kakaknya saat ini juga, pria itu tidak memberi kabar apa-apa, selain mengatakan pulang hari esok dan ternyata hari ini sudah ada di rumah.


William turun dari mobil, disusul dengan Lily yang kemudian menghampiri pria itu, Leon pun mendekati keduanya.


Hari ini Leon dapat melihat lagi, tapi yang tidak pria itu duga orang pertama yng ia temui di Negaranya, adalah orang yang paling ia benci keberadaannya.

__ADS_1


"William Handelson?"


__ADS_2