
Sebelum kembali ke kantor, William lebih dulu mengantar Leon juga Lily ke rumah besar kediamannya dulu, Lura juga ikut karena ingin membantu Lily untuk merapikan rumahnya di sana.
Lily yang duduk di kursi depan, menoleh ke belakang di mana Lura juga sang kakak tampak diam saja, wanita itu tersenyum.
"Sebenarnya rumah itu tidak perlu dibersihkan, karena dua hari sekali pasti ada asisten rumah tangga yang datang untuk merapikannya," ucap William saat Lura dan Lily membahas tentang bersih-bersih di rumah itu.
"Wah, bagus dong, barang-barang kalian juga sepertinya tidak ada yg hilang yah?" tanya Lura.
"Tidak ada yang berubah dari rumah itu," ucap Lily, karena beberapa waktu lalu dia juga William sempat berkunjung ke sana, dan mengingat itu dia jadi malu sendiri.
William tersenyum, mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Lily, sebelum membelokkan kemudi menuju perumahan mewah yang mereka hendak kunjungi.
Leon menghela napas, saat sudah berdiri di halaman rumah besarnya, banyak kenangan dengan sang ayah juga masa kecil pria itu di sana, dan Lily mengajaknya untuk segera masuk, saat pria itu justru terlihat diam saja.
"Di mana kamarmu?" tanya Lura pada pria di sebelahnya saat mereka sudah berada di dalam rumah besar yang tampak mewah.
Mendengar itu Leon menoleh, William dan Lily sudah naik ke lantai atas, dan tentu saja wanita di sebelahnya ini pasti bertanya pada dirinya, pria itu berdehem pelan, "Kau mau lihat?" tanyanya.
Lura yang mengangguk, kemudian mengikuti langkah pria itu menuju kamarnya yang terletak di lantai satu, dan masuk ke dalam saat pria itu membuka pintunya.
"Masih bersih, karena sudah lama tidak aku tinggali, jika satu minggu lagi kau datang ke sini pasti tidak akan percaya kamar ini pernah rapi," seloroh Leon.
Lura reflek tertawa, "ya, Lily sering bercerita tentang betapa malasnya dirimu," sindirnya dengan melipat lengan di depan dada.
Leon mengangkat alisnya, "aku memang butuh seorang wanita, karena aku bukan tipe pria yang selalu rapi isi kamarnya," ucap Leon yang seketika membuat Lura terdiam.
Wanita itu beranjak duduk di tepi ranjang, menilai seberapa empuknya tempat tidur pria itu, "setelah ini apa lagi tujuanmu?" tanyanya.
Sejenak Leon berpikir, "membangun kembali F grup dari nol, sesuai dengan berita yang tersebar selama ini," ucapnya.
__ADS_1
Sekilas Lura mengangguk, kemudian iseng membuka laci meja di sebelahnya, dan wanita itu menemukan sekotak kon*dom yang membuatnya mengerutkan dahi di sana, dia mengambilnya. "Kau?" ucap Lura curiga, saat dengan cepat Leon merebut benda itu dari tangannya.
"Masih utuh, aku mendapatkan ini dari temanku saat berulang tahun," ucap Leon beralasan, tentu saja Lura tidak sepenuhnya percaya, dan sepertinya pria itupun tidak terlalu merisaukannya.
Lura mengambil satu album di dalam laci, kemudian membukanya, melirik pada Leon yang tampak memeriksa isi lemari dan menaruh baju yang ia bawa di sana.
Wanita itu melihat foto-foto Leon dengan teman-temannya saat sma, mungkin kuliah juga, dan dia menemukan foto Naura di sana, tampak dekat dengan pria itu, sepertinya lebih banyak lagi album kenangan, saat wanita itu memilih untuk menutupnya kembali, dan meletakan ke tempat semula, dia bertanya-tanya, sedekat apa dulu Leon dan Naura, juga masalah berat apa yang membuat keduanya memilih untuk tidak saling berjumpa.
***
Di tempat yang berbeda Lily menaruh barang-barang miliknya yang ia bawa dari toko bunga, wanita itu menoleh saat William membuka pintu balkon dan beranjak ke sana.
Lily mengikutinya, memeluk William dari belakang dan menempelkan pipinya pada punggung lebar pria itu.
"Aku suka kamu yang sekarang," ucap William dengan memutar tubuhnya menghadap pada calon istrinya itu.
Pria itu tersenyum, "Kau tampak lebih manja," ungkapnya. "Mungkinkah karena kehamilanmu?" imbuhnya kemudian.
Lily sedikit berpikir, mungkin juga begitu, karena entah kenapa dia tidak ingin jauh-jauh dari William, belum sempat menanggapi, pria itu sudah merubah posisi mereka, kini Lily yang bersandar pada pagar balkon dengan kedua tangan kekar William yang mengurung tubuhnya.
Wajah William mulai mendekat, bersamaan dengan itu, ketukan di pintu sontak membuat mereka menoleh
"Ada tamu di bawah," ucap Lura saat pintu itu terbuka, dia menoleh pada William yang berdiri di belakang sahabatnya, kemudian tersenyum canggung, "apakah aku mengganggu kalian?" tanyanya menyesal.
Lily berdecak, menoleh pada William sekilas kemudian kembali pada wanita itu, "mengganggu apa," ucapnya, kemudian segera menarik lengan Lura untuk mengajaknya menuruni anak tangga. "Kami tidak melakukan apa-apa," imbuhnya sedikit berdusta.
Lura mencibir, "Kenapa wajahmu memerah," godanya.
Sembari menuruni anak tangga Lily memegang kedua pipinya, wanita itu kembali berdecak sebal, "mana tamu yang kau maksud?" tanyanya mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Lura tertawa pelan, dia terlalu malas jika harus menggoda sahabatnya lebih lanjut, "mungkin sedang mengobrol dengan kakakmu di ruang tamu," ucapnya.
Lily sedikit terkejut dengan tamu yang Lura maksud, ternyata dokter Daniel yang datang menemui mereka, pria itu beranjak berdiri saat Lily sudah sampai di hadapan keduanya.
"Lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Daniel setelah melepaskan jabatan tangan Lily, Sorot matanya memancarkan kerinduan pada wanita itu.
Lily lebih dulu menyuruh pria itu duduk, sebelum dirinya menjawab pertanyaan Daniel, dan bertanya ada perlu apa sampai jauh-jauh datang ke sini, dan ternyata ingin menyampaikan jadwal kontrol untuk mata Leon.
Keduanya masih asik mengobrol saat William menghampiri mereka, pria itu menoleh ke arah Daniel, memberikan tatapan datarnya pada pria itu.
"Tuan William anda di sini juga?" sapa Daniel yang sebenarnya sudah tau keberadaan pria itu, saat melihat mobilnya terparkir di halaman rumah.
William mencoba untuk tersenyum ramah, kemudian menyambut uluran tangan Daniel dan menjabatnya. "Bagaimana kabarmu Dokter Daniel? Lama tidak bertemu," ucapnya.
Basa-basi keduanya tidak sampai berlangsung lama, hingga William berpamitan pada semua untuk kembali ke kantornya, pria itu dengan sengaja mencium kening Lily, tersenyum hangat pada wanita itu dan berjanji akan mengabari jika ada apa-apa. Secara tidak langsung menunjukkan pada Daniel bahwa Lily adalah miliknya.
Tentu saja hal itu membuat Daniel sadar, bahwa hubungan mereka sudah lebih dari apa yang dirinya kira, dia tidak lagi ada harapan untuk dapat memiliki wanita yang ia cinta.
Leon yang menyadari raut kecewa yang tergambar di wajah tampan Daniel, tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin sebelum ini dia memang mendukung hubungan mereka, dan untuk sekarang tentu saja dia memilih untuk diam saja.
****iklan***
Author : enggak gantung dong ya inih 😆
Netizen: Thor Lagi viral pasangan suami istri muda yang katanya bininya gak bisa masak indomie 😌 gue udah bisa ceplok telor yang minyaknya nyiprat kemana-mana aja belum dapet jodoh ini gimana 🤧
Author: tetangga gw aja yang gak bisa bedain micin ama garem udah nikah 🙄
Netizen: Kumenagiiisss 😭😭
__ADS_1