Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
ADA CINTA


__ADS_3

Lily sedikit merasa bosan saat William belum juga kembali dari kantornya, pria itu bilang bahwa siang ini akan pulang untuk makan bersama, tapi sampai mentari hampir beranjak keperaduan lelaki itu belum juga terlihat batang hidungnya.


Suara bel di apartemen pria itu membuat Lily nyaris terlonjak, entah kenapa suasana hatinya berubah senang, dia menebak pasti yang datang adalah William, dan harus kecewa saat membuka pintu ternyata orang lain lah yang menunggunya di sana.


Lily kembali menutup pintu setelah menerima paperbag pesanan atas nama William, dan saat ia buka ternyata isinya beberapa set baju untuk dirinya, tidak lupa juga satu box berisi makannan yang pria itu pesankan dari restoran ternama, terdapat secarik kertas di dalamnya.


Lily, maaf aku tidak bisa menemanimu makan siang kali ini, dan mungkin pulang pun akan sedikit lebih malam.


Lily sedikit mengulas senyum, dia tentu terharu, pria itu begitu memikirkan kebutuhannya, dan mengingat perkataannya pagi tadi dia jadi tidak enak hati.


Menjelang malam Lily sedikit was-was menunggu kepulangan William, pria itu sering kali berbuat macam-macam, dan apakah selama tinggal di sini dia akan terus melayani William.


Mungkin dia harus mengikuti saran Lura, memasang alat kontrasepsi agar tidak hamil karenanya, tapi jika begitu bukankah itu berarti dia menerima perbuatan William, karena seharusnya dia tentu menolaknya, entah kenapa Lily selalu lemah saat tatapan pria itu menginginkan dirinya.


Lily menggigit ujung kukunya dengan gusar, dari dalam kamar William yang pintunya terbuka saat ini, dia dapat mendengar seseorang memasuki apartemen yang ia tempati.


"Kukira kau sudah tidur, " ucap William saat mendapati Lily keluar dari kamarnya.


Lily tampak menggeleng, namun kemudian membahas hal yang berbeda, "Terimakasih bajunya, aku suka," ucap wanita itu, mengikuti William masuk ke kamar yang ia tempati.


William melepaskan dasi di lehernya yang memang sudah longgar, kemudian tersenyum, "apa itu pas di tubuhmu?" tanyanya.


Dengan sedikit malu Lily pun mengangguk, dia tidak berani menanyakan alasan pria itu.


"Kamu sudah makan?" tanya William lagi.


Kali ini Lily mengangguk, "makanan yang kamu kirimkan untuk kedua kalinya sore tadi, sudah aku makan," ucapnya.


William tampak ikut menganggukkan kepala, kemudian berkata bahwa ia ingin meminjam kamar mandi sebentar saja.


Selepas pria itu membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi, Lily masih menonton tv duduk di ranjang besar milik William, aroma sabun cair juga shampo yang pria itu kenakan membuat jantungnya berdebar-debar, dia sedikit terlihat takut.


"Aku ada di kamar sebelah jika kau membutuhkan apa-apa," ucap William setelah mengenakan baju tidurnya, kemudian pergi meninggalkan Lily begitu saja.


Pada awalnya Lily senang pria itu tidak lagi mengganggunya, tapi setelah beberapa hari terlewati dan sikap pria itu selalu sama, dia merasa ada sesuatu yang berbeda.


Sikap William terasa hangat juga dingin secara bersamaan, seperti itulah yang beberapa hari ini Lily rasakan, tapi bukankah tidak seharusnya dia merasa berduka, toh ini kan yang memang ia inginkan.


"Apa kamu merasa bosan?"


Pertanyaan itu membuat Lily menoleh, minggu pagi ini keduanya tengah menikmati sarapan di meja makan.

__ADS_1


"Ya, sedikit, aku sudah biasa berada di toko bunga, dan tiga hari ini malah tidak melakukan apa-apa," ucap wanita itu.


"Bagaimana jika nanti kita jalan-jalan, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucapnya.


Lily tentu terlihat senang, "Terimakasih Will."


"Ah iyah, bagaimana dengan keadaan kakakmu, kau sudah mendapat kabar?"


Sejenak Lily terdiam, kemudian mengangguk, dia menceritakan bahwa kakaknya itu akan segera dioperasi dua hari lagi, dan setelah pemulihan dia akan pulang, "Kenapa kamu menanyakan itu, apa kau ingin aku segera pergi dari sini?"


William tertawa kecil, kunyahan roti selai di mulutnya segera ia telan, "mana mungkin," ucapnya meyakinkan. "keputusanmu untuk tinggal denganku adalah satu-satunya hal mustahil yang ternyata dapat diwujudkan, aku senang kau ada di sini, dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, melihatmu adalah hal pertama yang begitu aku harapkan."


Lily sedikit tersenyum, "terimakasih, karena kau sudah merasa tidak terganggu dengan keberadaanku di apartemen ini," ucapnya.


"Siapa bilang tidak terganggu?"


Sejenak Lily tertegun karena kalimat itu, namun belum sempat menanyakan apa maksudnya, William kembali melanjutkan ucapannya.


"Kau selalu mengganggu pikiranku Ly, dan saat di kantor aku selalu ingin cepat pulang demi untuk melihat dirimu."


Lily diam saja, kalimat itu terdengar seperti sebuah ungkapan, dia membalasnya dengan sedikit senyuman. "Kau terlihat berbeda Will," ucapnya kemudian.


Ditanya seperti itu Lily jadi bingung, haruskah ia mengatakan bahwa pria itu telah berbeda karena tidak lagi menyentuhnya, ah, dia merasa sudah gila sekarang. "Ya berbeda saja," ucapnya canggung.


William tersenyum mengerti, "aku tidak menyentuhmu bukan berarti perasaanku terhadapmu sudah hilang," ucapnya.


Lily mengerjap terkejut, pria itu kenapa bisa tau dengan yang dia maksud, haruskah dirinya mengiyakan pernyataan pria itu.


"Kau pernah mengatakan padaku, untuk menganggap aktifitas bercinta antara kita hanya sebuah penyalur kebutuhan semata, dan aku tidak mau begitu." William menjelaskan.


Lily menunduk dalam, menusuk-nusuk roti selai jatah sarapannya di piring dengan garpu di tangannya, wanita itu merasa teramat hina, bagaimana bisa dia pernah berkata serendah itu, dan menjadikan William sebagai pemuas nafsunya, bukankah dia lebih buruk dari pria itu.


"Mungkin aku hanya asal bicara, maaf jika itu menyinggung perasaanmu," sesal Lily.


William tersenyum maklum, "jika aku membutuhkan seseorang yang hanya untuk menyalurkan kebutuhan, wanita itu pasti bukan kamu, karena denganmu aku benar-benar menaruh perasaan."


Sebagian pria, kalimatnya memang dibuat manis agar wanita yang mendengarnya bisa terjebak dengan akal bulus mereka, kau harus selalu berhati-hati.


Lily jadi ingat pesan Lura sahabatnya, benarkah William termasuk ke dalam pria yang memang mengandalkan kalimat manisnya untuk menjerat wanita, atau dia memang sungguh-sungguh mencintainya. Lily benar-benar dilema.


***

__ADS_1


Lily mengernyit bingung saat William mengajaknya ke sebuah lapangan, sore ini, pria yang mengatakan ingin mengajaknya jalan-jalan malah menuju ke tempat ini.


"Lapangan tembak?" tanya Lily pada pria yang berdiri di sebelahnya.


William menoleh, "Kau tau?" tanyanya tidak percaya.


Lily mengangguk, "Kak Leon pernah mengajak ke tempat seperti ini untuk dia latihan, tapi aku tidak berani ikut-ikutan, hanya menonton saja," ucapnya.


Dengan tiba-tiba William menarik pergelangan tangan Lily, dan membawanya menghampiri tempat itu.


Lily sedikit gemetar saat William meletakan pistol di tangannya, wanita itu sungguh takut memegang senjata.


"Tidak usah khawatir, ini tidak ada pelurunya," ucap pria itu yang seketika membuat Lily merasa lega.


William memasangkan pelindung mata juga telinga pada wanita itu, lalu mengajarkan cara-cara menembak untuk pemula, dari cara berdiri, hingga seberapa tinggi harus mengangkat tangannya, juga banyak hal yang memang perlu Lily pelajari, dan saat sudah dirasa mampu pria itu mengisi senjata di tangan Lily dengan peluru.


"Yang penting fokus," ucap William.


Wanita itu kecewa saat bidikkannya melenceng jauh dari sasaran. Namun tidak berhenti untuk mencoba lagi, lama-lama, olahraga menembak yang mereka tekuni terasa menyenangkan untuk Lily.


"Kenapa kau mengajariku hal seperti ini?"


Pertanyaan itu membuat William yang semula fokus dengan bidikkannya seketika menoleh, dan sedikit terkejut saat wanita itu mengacungkan senjata pada dirinya, jarak mereka yang hanya dua langkah tentu akan semakin mudah membuat Lily melumpuhkan sasarannya.


Tatapan keduanya saling bertemu, ada kebencian yang tersirat dari raut wajah wanita itu saat mengacungkan senjata pada dirinya, tapi ada satu hal berbeda yang dapat William tangkap dari sorot matanya.


"Lakukan saja Ly, lakukan jika itu dapat menghancurkan kebencianmu terhadapku," ucap William.


Lily sempat tertegun, ini mungkin kesempatan yang bagus untuk membalaskan dendam mereka, sang kakak tentu akan senang jika pria itu mati di tangannya.


Namun Lily kemudian tertawa. Menurunkan senjata di tangannya dan mengolok pria itu," Kau takut Will?" tanyanya.


William yang memang selalu terlihat tenang sedikit menyunggingkan senyum, "tidak," ucapnya.


Lily tentu merasa aneh, jika diperhatikan William memang tidak terlihat ketakutan, "Kenapa kau tidak takut?" tanyanya penasaran.


Tatapan teduh William membuat hati Lily tampak berdesir, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Ada cinta di matamu, dan itu untukku," yakin pria itu.


***

__ADS_1


__ADS_2