
Lura berjalan ke arah pintu saat seseorang membunyikan bel apartemennya, dan terkejut dengan siapa yang datang mengunjunginya. "Naura?"
"Luraaa! Aku merindukanmu," ucapnya, kemudian berlari memeluk sepupunya itu.
Lura tersenyum, mengajak wanita itu untuk masuk, sebelum kecelakaan dulu dia tidak pernah seakrab ini dengan Naura, wanita itu juga dirinya punya teman masing-masing, mereka tidak pernah kedapatan jalan bersama, tapi sejak Naura kehilangan ingatannya, yang dia tau hanya Lura, yang adalah saudara dari ayahnya, dia lupa siapa saja teman-temannya, untuk itu hanya pada Lura dia berani bercerita.
"Jadi bagaimana dengan perjodohanmu, apakah pria itu tampan?" tanya Lura saat mereka duduk di sofa, wanita itu membukakan setoples camilan untuk saudaranya.
Naura tampak tersenyum, raut wajahnya seperti tersipu, "sangat tampan," ucapnya sungguh-sungguh, dan Lura ikut senang karena itu. "Tapi dia sudah punya calon istri," imbuhnya yang membuat Lura sedikit terkejut.
"Kenapa bisa begitu, bukankah kalian dijodohkan?"
Naura mengangguk, kemudian beranjak berdiri, menyusuri apartemen Lura yang baru kali ini ia kunjungi, biasanya mereka selalu bertemu di rumah ibu Lura, dan ternyata apartemen wanita itu nyaman juga. "Dia bilang ingin mengatakan pada keluarganya bahwa dia punya calon sendiri, berhubung tidak enak dengan keluarga kami jadi dia menundanya," ucap Naura kemudian mengambil satu bingkai yang tergeletak di meja, foto Lura entah dengan siapa.
"Bijaksana sekali orang itu," ucap Lura memuji, beruntung sekali calon istrinya," imbuh wanita itu lagi.
Naura setuju akan pendapat saudaranya, kemudian menanyakan wanita dalam foto yang jelas bukan dirinya.
"Itu sahabatku, kami berteman sejak kuliah," ucap Lura menjelaskan.
"Tidak adakah fotoku denganmu saat kuliah dulu, atau saat kita sma?" tanya Naura.
Lura sedikit tertawa, "kita tidak sedekat itu hingga sampai bisa foto bersama," ucapnya yang membuat Naura tidak percaya.
"Bagaimana aku bisa mengingat masalaluku jika tidak ada album tentang kita," ucap Naura terlihat sedih.
Lura tampak mengingat kemudian beranjak dari duduknya, "aku punya satu album sejak kecil, mungkin ada terselip dirimu di sana," ucapnya membuka laci kemudian memberikan album tebal pada saudaranya itu.
Naura tersenyum saat membuka-buka album kenangan saudaranya, dia juga punya album yang seperti ini dan tidak ada Lura di dalamnya, begitu pun dengan album Lura yang tidak ada foto dirinya di sana, benarkah dulu mereka tidak dekat, kenapa bisa begitu.
Wanita itu mengerutkan dahi saat tampak mengenali foto seseorang, "siapa pria ini?" tanyanya.
__ADS_1
Dengan cepat Lura merebut album foto itu kemudian menyembunyikannya, raut wajahnya terlihat malu, itu adalah foto Leon yang diam-diam ia ambil saat pria itu masih buta, dan Lura mengabadikannya.
Naura sedikit terkejut dengan tingkah saudaranya, "Kau menyukainya, benar kan?" tebaknya.
Lura memejamkan mata, kemudian menggeleng, "aku tidak berani menyukainya," ucap wanita itu.
"Kenapa?" tanyanya, dan mendapati Lura kembali menggeleng dia pun menghela napas, pasrah ketika saudaranya itu tidak mau berbagi cerita. "Ah iya aku tau pria ini, kita pernah bertemu dan dia mengaku temanku," ucap Naura bercerita.
Lura tertegun, secepat itukah mereka akan bertemu, dia jadi ragu akan bercerita tentang Leon atau tidak pada saudaranya itu.
"Lura?"
Panggilan itu membuat Lura sedikit terlonjak, dan saudara sepupunya itu bertanya apa yang sedang dilamunkan oleh dirinya. "Kau pasti kenal dengan pria itu," ucap Lura.
Naura tampak tertegun, "menurutmu begitu?" tanyanya.
Lura mengangguk, "dia punya banyak album kenangan tentang dirimu, foto kalian saat kuliah pun banyak, dan mungkin jika kau ingin kembali mengingat masa lalumu, jalan satu-satunya adalah Leon," ucap Lura mencoba untuk berbesar hati, biarlah dia kecewa kali ini, dia percaya, sakit di hatinya itu hanya akan terasa sementara, terkadang ia berharap agar dihilangkan ingatan juga, dan justru merasa bingung pada Naura yang ingin sekali mengingat semuanya.
Naura tampak berbinar, wanita itu seperti punya harapan untuk kesembuhannya, dia benar-benar terlihat bahagia, "Bagaimana aku bisa menemuinya lagi Ra," ucapnya semangat.
Naura mengerutkan dahi, "ah iya, pria yang dijodohkan denganku itu kenal juga dengan Leon, dia bilang Leon itu kakak dari calon istrinya," ucap Naura sedikit ragu, takut salah mengingat.
Lura tentu saja terkejut, "Kau dijodohkan dengan William?" tanyanya.
"Iya, namanya William, dan kekasihnya itu bernama," —
"Lily," ucap kedua wanita itu bersamaan.
***
Beberapa hari ini William benar-benar disibukkan dengan pekerjaan, mengejar cuti pernikahan dan bulan madu tentu mengharuskan pria itu menyelesaikan semua urusannya lebih awal, pertemuan-pertemuan dengan klien pentingpun ia laksanakan dengan segera, dan siang ini waktunya sedikit senggang, dia menelepon Lily dan sedikit kebingungan saat tidak mendapat jawaban dari kekasihnya itu.
__ADS_1
William memilih untuk langsung berkunjung ke rumah Lily, dan dipersilahkan masuk saat wanita itu kemudian membuka pintu.
"Apa kau ingin makan sesuatu? Ayo kita makan di luar," ajak William, namun wanita yang duduk di sofa sebelahnya itu terlihat berbeda. "Kau sakit?" tanyanya dengan berniat menyentuh kening Lily, namun wanita itu justru menghindar, dan William kebingungan karenanya.
"Beberapa hari ini kau tampak menghilang," ucap Lily tenang, tanpa menoleh pada pria di sebelahnya.
"Iya sayang, aku sibuk, maaf," ucap William tulus.
Lily menoleh, tatapannya tampak berbeda, "sibuk mempersiapkan pernikahan?" tanyanya sinis.
William sempat tertegun dengan sikap kekasihnya itu, namun kemudian tersenyum. "Iyah, pernikahan kita," ucapnya sungguh-sungguh.
"Kau bohong Will." Lily yang mulai meneteskan air mata membuat William terlihat takut, dia bingung dengan apa yang telah terjadi pada kekasihnya.
"Lily?"
Wanita itu menepis tangan William saat ingin menyentuh wajahnya, dia menggeleng kemudian beranjak berdiri. "Kau dijodohkan dengan wanita lain, benar begitu kan Will?" tanyanya tanpa melihat pria itu, dia memunggunginya, tidak sanggup menunjukkan raut kecewa yang melelehkan airmata membasahi kedua pipinya.
William ikut berdiri, memeluk tubuh Lily dari belakang dan memegang kedua langannya saat wanita itu meronta, dia semakin mengeratkan pelukannya. "Dengarkan aku, kumohon dengarkan dulu," ucapnya lirih.
Lily menangis dalam diam, hanya sedu yang tercekat dari tenggorokan wanita itu yang sesekali dapat terdengar, dan William tau kabar ini menyakitkan untuk Lily.
"Aku memang dijodohkan, tapi aku menolaknya, dan aku juga akan segera membicarakan pernikahan kita dengan keluarga papaku," ucapnya perlahan, berharap Lily akan mengerti keadaannya. "Percayalah Li, tolong percaya padaku," pintanya.
Lily membalikkan tubuhnya, membuat rangkulan pria itu terlepas, dari Sorot mata William yang tidak tampak kebohongan di dalamnya, Lily dapat mengerti perasaan pria itu.
"Aku janji akan segera menikahimu, demi anak kita, aku janji untuk mengurus semuanya." William menggenggam jemari Lily, "tolong berikan aku waktu sebentar lagi," imbuhnya.
Lily mengangguk, benar atau tidak ucapan pria di hadapannya itu, dia memilih untuk percaya. "Tolong jangan membuat aku kecewa, Will," lirihnya.
William menggeleng, menarik tangan Lily yang masih berada di dalam genggamannya itu menuju bibir, kemudian menciumnya sedikit lebih lama, "Kecewamu adalah luka dalam hatiku, dan mengecewakanmu membuat aku melukai diriku sendiri," ucapnya lirih, menarik tubuh ringkih Lily ke dalam pelukannya. "Percayalah bahwa menyakitimu dapat membuat diriku sendiri mati Lily, percayalah."
__ADS_1
Dalam dekapan William Lily mengangguk, saat mendengar kabar itu beberapa hari yang lalu dari Lura, hidupnya terasa hampa, dia seperti sudah tidak punya dunia, karena William adalah dunianya, wanita itu sudah menyerahkan seluruh hatinya untuk pria yang saat ini mendekap erat tubuhnya. "Aku mencintaimu," ucapnya lirih, dan mendapatkan ciuman dari William di puncak kepalanya.
***