
"Jadi kalian pacaran?"
Pertanyaan itu berasal dari Lily, pasalnya wanita itulah yang memergoki keduanya berciuman tadi.
Leon tampak tenang di tempatnya, hanya Lura yang terlihat kikuk memikirkan kalimat apa yang akan ia sampaikan pada sahabatnya.
"A, aku," ucapan Lura terputus saat mendengar tawa dari Lily yang sepertinya geli sekali, dia jadi bingung sendiri.
"Sejak kapan Ra?" tanya Lily setelah tawanya mulai reda, hanya sisa cengiran di bibirnya yang sepertinya sulit untuk dikendalikan, "aku senang jika kalian akhirnya mau menjalin hubungan, tapi bagaimana dengan Naura?" imbuh wanita itu setelah menghilangkan senyum di bibirnya.
Leon yang semula bersandar pada sofa kemudian menegakkan duduknya, pria itu berkomentar, "nanti kami pasti akan memberitahunya," ucap pria itu.
"Tapi bukan sekarang," sambar Lura yang memang belum siap melihat kekecewaan sepupunya.
Lily tampak diam, wanita itu sejenak berpikir, "ya itu urusan kalian, sebaiknya segera diselesaikan, cepatlah dibicarakan sebelum nantinya Naura yang tidak sengaja memergoki kalian, lalu salah paham," ucap Lily menasihati.
Meski sedikit ragu, Lura tampak mengangguk, kemudian menoleh pada Leon yang melemparkan senyum pada dirinya."Aku tidak ingin mengecewakan Naura," ucapnya lirih.
Lily yang berada di hadapan wanita itu tampak ikut memikirkan solusi, "mungkin memang sebaiknya kita tunggu sampai ingatan Naura pulih kembali," ucapnya.
Leon tampak mengangguk, mengusap lengan Lura yang duduk di sebelahnya. "Setidaknya jika ingatannya kembali, dia mungkin akan sadar bahwa dia tidak mencintaiku," ucapnya.
Lura menoleh pada kekasihnya, tanpa berucap apa-apa tatapannya sudah mewakili semua perasaan wanita itu. Dan Leon mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyakiti saudaramu," janji pria itu.
***
Beberapa hari kemudian, Leon yang sudah kembali bekerja merasa bingung dengan tidak adanya pesan dari Lura, hanya Naura yang sesekali mengajaknya makan siang bersama, dan ia tolak dengan alasan masih sibuk bekerja.
Setelah panggilan kesekian akhirnya Lura mengangkatnya, Leon sampai terlonjak dari kursinya dan meletakan tangannya ke atas meja, "Kau ke mana saja?" tanyanya pada seseorang di balik telepon.
Suara Lura yang tampak berbeda saat menjawab pertanyaan darinya, membuat Leon menyimpulkan bahwa wanita itu tengah sakit.
"Aku demam," ucap wanita diseberang sana.
Leon malah tertawa, "sepertinya virusku berpindah padamu," ucap pria itu. "Aku ke sana sekarang," imbuhnya yang segera mendapat penolakan. Lura takut jika pria itu mengunjunginya maka akan menularkan virus yang sama, dan pria itu akan sakit lagi nantinya.
"Tidak usah, kamu kan juga baru sembuh," ucap Lura di seberang telepon.
Dan setelah beberapa percakapan berikutnya, sambungan itupun mereka akhiri, tidak lama Leon mendapat kunjungan tamu yang membuatnya mengerutkan dahi.
"Akhir-akhir ini kau sepertinya menghindariku," ucap wanita yang baru saja menutup pintu.
Leon memberikan tatapan tenang, Naura dengan masih mengenakan setelah kerjanya itu melangkah menghampirinya.
"Iya, aku baru selesai kerja," balas Leon dengan melirik tumpukan berkas di atas meja, dia memang sedang sibuk-sibuknya, mau bagaimana lagi, dua hari tidak bekerja membuat tugas-tugasnya kian menumpuk.
"Sore ini apa kita bisa pulang bersama?" tanya Naura dengan menyandarkan tubuhnya pada meja di hadapan Leon, tangannya menyentuh pundak pria itu agar menoleh pada dirinya. "Aku merindukanmu Simba," ucapnya lemah.
__ADS_1
Leon sejenak tertegun, membiarkan saja telapak tangan wanita itu beralih mengusap pipinya. "Apa ingatanmu sudah banyak kemajuan?" tanyanya dengan menangkap pergelangan tangan Naura untuk ia turunkan.
"Tentu saja aku semakin mengingat kebersamaan kita," ucapnya dengan tersenyum, sayangnya kau tidak pernah mengantarkan aku menemui dokter itu.
"Maaf," balas Leon, kemudian beranjak berdiri, menatap wanita di hadapannya itu kemudian menghela napas, "ada yang ingin kutanyakan padamu," ucapnya.
Naura yang memang sudah menatap wajah tampan pria di hadapannya itu tampak penasaran, "bertanya apa?"
"Kita tidak saling bertemu hampir dua tahun, dan kau kecelakaan hingga kemudian hilang ingatan itu satu tahun yang lalu, apa dalam satu tahun sebelumnya kau tidak menjalin hubungan dengan seseorang?" tanyanya panjang lebar.
Naura tertegun, dia kemudian mengaku tidak ingat akan hal itu, dan sepertinya memang tidak ada, begitu pikirnya.
Keduanya tidak lagi membahas masalah itu, hingga kemudian Naura berinisiatif mengajak Leon untuk menjenguk saudaranya.
"Lura tidak masuk kantor hari ini, katanya demam, maukah kau mengantarkan aku ke apartemennya?" pinta wanita itu.
Sejenak Leon tertegun, dia memang ingin menemui Lura, tapi tidak dengan Naura juga dia ke sana, berhubung niatan mereka sama, akhirnya Leon mengiyakan saja.
"Lura sakit demam setelah menjengukmu yang sakit beberapa hari lalu, sepertinya dia tertular olehmu," ucap Naura dengan nada bercanda saat mereka sudah sampai di parkiran apartemen Lura.
Leon tertawa pelan, "sepertinya bukan," sangkal pria itu, dia jadi mengingat ciumanya tempo lalu, dan mungkin karena itu.
Leon menekan bel sebanyak dua kali, kemudian menoleh pada Naura yang tampak kembali memeriksa kantong buah yang ia bawa. "Apa ada yang tertinggal?" tanyanya.
Naura menggeleng, bersamaan dengan itu, terbukanya pintu di hadapan mereka membuat keduanya menoleh.
"Naura," sapa Lura dengan sedikit bingung, kemudian menoleh pada Leon di sebelahnya.
"Kami datang ke sini untuk menjengukmu," ucap Naura saat mereka sudah dipersilahkan masuk.
Lura melirik Leon yang duduk di sofa bersebelahan dengan sepupunya, dan entah kenapa pria itu tidak banyak bicara. Hanya Naura yang kemudian mengatakan alasan kebersamaan mereka yang sekalian mengantar wanita itu pulang ke rumahnya.
"Suaramu tampak berbeda, sudah minum obat?" tanya Leon dengan sedikit mencondongkan tubuhnya.
Lura mengangguk, "hanya flu biasa," balas perempuan itu.
"Aku membawakan buah untukmu," ucap Naura yang mendapat balasan terimakasih dari sepupunya, wanita itu kemudian pamit sebentar untuk ke kamar mandi.
"Kenapa kamu bisa bersama Naura?" Lura bertanya saat siempunya nama tidak lagi terlihat dari pandangan mereka.
Leon tersenyum, "tadi dia ke kantor, meminta diantarkan pulang lalu mampir ke sini dulu, kenapa? Kau cemburu?"
Mendengar pertanyaan itu Lura mengerutkan dahi, kemudian berdecih, "sama sekali tidak," sangkalnya.
Leon mencebikkan bibir, kemudian berdiri menghampiri wanita itu dan duduk di sebelahnya.
"Kembalilah ke tempat dudukmu, Naura pasti sedang menuju ke sini," ucap Lura sedikit panik dengan mendorong lengan pria itu, saat hendak menyentuh keningnya, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, takut jika Naura ternyata melihatnya, dia merasa tengah berselingkuh sekarang.
"Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu," kekeh Leon yang kembali menempelkan punggung tangannya pada kening wanita itu.
__ADS_1
Lura akhirnya pasrah, dia diam saja saat buku jari pria itu beralih pada pipinya, "sudah?" tanyanya.
Leon mengusap kepala wanita di hadapannya, "banyak istirahat, nanti cepat sembuh, atau kucium saja agar virusnya berpindah padaku," godanya dengan mencondongkan kepala.
"Leoon," rengek Lura dengan mendorong pipi pria itu agar menjauh dari wajahnya, senyum wanita itu tampak mengembang.
Dengan berat hati Leon beranjak berdiri dan kembali pada posisinya, tidak lama kemudian, Naura yang sudah selesai dengan urusannya pun menghampiri mereka.
"Sebentar aku ambilkan minum dulu untuk kalian," ucap Lura dengan beranjak berdiri.
Naura mencegahnya, "Kau kan sedang sakit," ucap wanita itu, namun sepupunya itu tidak mengindahkan ucapannya, dan beranjak pergi menuju dapur.
Leon menyandarkan tubuhnya pada sofa, memikirkan bagaimana caranya dia mengatakan pada Naura tentang hubungan mereka.
"Sepertinya ada yang sedang kau pikirkan?"
Pertanyaan Naura membuat Leon kemudian menoleh, menegakkan duduknya dan sedikit menghadap pada wanita itu.
"Aku ingin jujur padamu Naura," ucap Leon dengan sedikit ragu, mau tidak mau dia memang harus mengatakan itu.
Naura tampak menunggu, "jujur tentang apa?" tanyanya, "apa tentang sesuatu yang membuat aku meninggalkanmu?" tebak wanita itu.
Leon mengerjap bingung, bukan itu yang ingin dia katakan, tapi tentang hubungannya dengan Lura, namun wanita itu terus mendesaknya.
"Katakan Simba, aku begitu penasaran tentang apa yang membuat aku sampai meninggalkanmu dua tahun yang lalu, sedangkan sepertinya kita sudah begitu dekat," desak Naura.
Leon terdiam, namun wanita itu terus memaksa. "A, aku," ucapnya terbata, dia takut untuk mengatakannya, dan wanita di hadapannya terus saja memaksa. "Dulu kita begitu dekat karena bersahabat, dan kita juga sepakat untuk itu, tapi aku melanggarnya," ucap Leon pelan.
Naura tampak menunggu, tatapannya yang penuh tanda tanya membuat pria itu melanjutkan kalimatnya.
"Aku memintamu untuk menjadi pacarku, dan kau ternyata begitu kecewa dengan permintaan itu, setelahnya kau pun meninggalkanku, " ucap Leon jujur.
Naura tertegun beberapa saat, mencerna setiap kalimat yang terlontar dari pria itu, kemudian tersenyum, "jadi aku menolakmu?" tanyanya yang membuat pria di hadapannya itu mengangguk, Naura menggelang tidak percaya, "Kau tidak akan mendapatkan penolakan kali ini," ucapnya.
Leon mengerjap bingung, "ma, maksudnya?"
Naura menggenggam tangan Leon hingga membuat pandangan pria itu mengarah pada jemarinya, kemudian berkata, "aku juga menyukaimu Simba, aku tidak tau kenapa dulu meninggalkanmu karena pernyataan itu, tapi aku tidak peduli, karena saat ini aku mau menerima perasaanmu."
Perhatian keduanya teralihkan dengan suara kegaduhan dari pintu penghubung ruang tamu, Lura tampak memunguti pecahan gelas yang tidak sengaja dijatuhkan olehnya,"Maaf aku tidak hati-hati," ucapnya dengan sedikit bergetar.
Naura menghampirinya, ikut berjongkok di hadapan sang sepupu , "kubilang juga apa, kau kan sedang sakit, tidak perlu mengambilkan minum untukku," omelnya, dengan ikut membantu memungut serpihan gelas dengan hati-hati, tidak mendapat respon dari wanita di hadapannya itu, Naura pun mendongak. "Kau menangis?" tanyanya merasa bersalah.
Lura menggosok hidungnya dengan tangan kiri, entah kenapa airmatanya itu sulit sekali berhenti, dia mendongak, "Maaf Naura, tapi tanganku sakit sekali," ucapnya dengan menunjukkan telapak tangannya yang berdarah, dengan sengaja dia membuat luka sebagai alasan tangisannya.
Naura sedikit panik, "ya ampun Lura, kau terluka," ucapnya.
***
Author : kuis ditutup ya, yg dateng ternyata mbak Lily, jawaban paling banyak c ternyata, alias kang kredit panci 😂, dan jawaban paling ngeselin yg dateng katanya aku sebagai tukang kredit panci 😌 Kurangajar 🤧aku kredit blender oey bukan panci.
__ADS_1
Netizen: 😑😑 makin kesini makin berkurang kewarasan ni otor satu.