
Pukul tujuh pagi William masih saja berada di toko bunga Lily, pria itu bersandar pada meja dapur menunggu wanita di sebelahnya selesai memasak sarapan.
"Memangnya kau tidak bekerja?" tanya Lily, mengalihkan pandangannya dari nasi goreng di dalam wajan ke wajah pria di sebelahnya.
"Kau berjanji akan membuatkan aku sarapan, bagaimana aku bisa melewatkan itu," godaWilliam.
Lily berdecak, meski sebal, tapi dia senang ada yang menunggu masakannya selain sang kakak, apa seperti ini rasanya jika ia punya suami.
"Oh Lily?"
"Hmm?"
"Kenapa kalian tidak tinggal di rumah besar saja?" tanya William sembari menyodorkan piring, yang ia ambil dari rak yang terletak di samping, saat wanita itu memintanya.
Lily mematikan kompor, kemudian menuangkan masakannya ke atas piring. "Terlalu banyak kenangan di sana, terutama sosok sang ayah, beliau begitu sempurna bagi kami," ucapnya.
Sejenak William memilih diam, alih-alih menanggapi ucapan Lily, pembahasan soal ayahnya selalu menyiratkan tatapan kebencian dari wajah cantik perempuan itu, terlebih dari bola matanya saat mengarah pada dirinya.
"Ah iya Will?" Lily yang sudah selesai dengan masakannya itu menghadapkan tubuhnya pada pria di sebelahnya.
William menoleh, "iyah?" tanyanya dengan mengangkat sebelah alis.
Lily tampak ragu untuk bersuara, wanita itu hanya memberi tatapan tak terbaca pada pria yang kini saling berhadapan dengan dirinya.
"Katakanlah," desak William.
Lily tampak menelan ludah, "terimakasih untuk uang yang kau kirimkan, sungguh itu banyak sekali," ucapnya.
Sesaat hening, William yang memilih untuk diam saja, hanya mengangguk sebagai tanggapan, dan Lily kembali menekuni masakannya yang sudah dipindahkan ke atas piring.
"Coba lah," ucap Lily sembari menyodorkan masakan buatannya pada pria itu.
William tersenyum, "Kau dulu yang makan," ucapnya.
Lily berdecak sebal, "Kau takut mati keracunan ya?" omelnya dengan menyuapkan satu sendok makanan itu ke mulutnya sendiri.
William mengernyit saat Lily meludahkan makanan dari mulutnya, "Kenapa?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Jangan dimakan, ini tidak enak, aku memang tidak pandai memasak." Lily membawa piring di tangannya untuk ia buang ke tempat sampah, namun William mencegahnya.
Pria itu merebut piring dari tangan Lily kemudian duduk di kursi yang terletak di sana, toko Lily yang tidak terlalu luas ini membuat ruang makan dan dapur menjadi satu, dan Lily ikut duduk di hadapan pria itu dengan kedua tangan terlipat di atas meja, memperhatikan pria itu makan dengan lahapnya.
"Agak terlalu asin kan? Kenapa kau makan?"
William mendongak, nasi goreng buatan Lily ini memang tidak senikmat masakan chef luar negri, tapi selagi masih bisa di makan tak apa lah. "Aku lapar," jawabnya.
Lily melengos, dia menunggu kalimat romantis terlontar dari pria itu sebenarnya, semisal, dia bilang masakannya sangat enak karena dibuat dengan penuh cinta. Eh, apa-apaan.
"Kenapa kau diam?" William bertanya saat Lily tampak melamun.
Dan wanita itupun menggeleng, "jika tidak enak jangan dimakan, kau tidak usah memaksakan diri demi membuatku terkesan."
William tertawa kecil, "apa kau sudah terkesan?" tanyanya yang membuat Lily mengernyit.
"Tentu saja tidak."
Pria itu berhenti mengunyah, dan setelah menelan makanan dalam mulutnya dia pun berkata. "Katakan Ly, apa kau sudah mencintaiku?"
"Tidak," jawab Lily yang tidak pandai membohingi dirinya sendiri, bahkan jika ia mengatakan sudah jatuh cinta dia rasa pria di hadapannya itu tidak akan percaya.
Kelopak mata William berkedip lemah, dan hal itu tertangkap oleh Lily dengan rasa kecewa yang tergambar dari raut wajah pria itu. "Jika kau sudah mencintaiku, tolong katakan, aku menunggu balasan untuk itu."
Lily mendengus dengan tertawa, merasa tidak percaya dengan apa yang pria itu inginkan dari dirinya. "Kenapa aku harus bilang?" tanya Lily yang kemudian menopang dagu di atas meja, tatapannya lekat mengarah pada pria di hadapannya.
"Aku pernah terperangkap dalam jebakan rasa nyaman, dan saat menyadari dia telah pergi, ternyata kami tidak ada hubungan apa-apa."
Kalimat itu membuat Lily terdiam, "Jangan jatuh cinta padaku Will."
William mengerutkan dahi, "Bahkan jika aku jatuh cinta untuk yang ketiga kali pada orang yang sama yaitu dirimu, aku tidak akan menolak perasaan itu."
"Mencintaiku tidak akan mudah, kau akan terluka," ucap Lily, entah kenapa kalimat itu seperti terlontar dari hati.
William tersenyum, "Oh Lily aku tau, mencintaimu itu bagaikan ombak di lautan, akan ada pasang surut nantinya." William meraih tangan Lily dan menggenggamnya, "tapi yang harus kau tau, meskipun seperti itu, rasa airnya akan tetap sama, dan tidak akan pernah berubah, sama seperti perasaanku padamu."
Sesaat hening, keduanya saling diam, Lily sudah tenggelam pada tatapan pria bernama William yang sungguh begitu dalam, dia tidak dapat kembali ke permukaan.
__ADS_1
Suara kursi yang tertabrak oleh seseorang membuat keduanya menoleh, Leon datang dengan meraba-raba benda apapun yang mungkin berada di hadapannya.
"Kak, kau mau kemana?" tanya Lily, kemudian membantu Leon untuk duduk di kursi yang paling dekat dengan pria itu.
"Aku hanya ingin menemanimu makan,"
ucap Leon yang membuat Lily menoleh pada William yang tampak merapikan bekas makanannya.
"Aku harus pulang." William berkata tanpa suara.
Lily pun mengangguk, diam saja saat pria itu mendekat dan mencium keningnya, tidak puas sampai di situ, ciuman di bibir terjalin sedikit lebih lama, hingga Lily meronta dan memukul bagian tubuh pria di hadapannya, William yang tertawa tanpa suara, segera pergi dengan tidak mengucapkan apa-apa.
Tidak ada yang tau saat Leon mengepalkan tangannya, meski dia tidak dapat melihat, tapi pria itu tentu dapat merasakan kehadiran orang lain di antara mereka.
"Lily?" panggil Leon.
Lily yang masih duduk di sebelah pria itu setelah menyaksikan kepergian William kemudian menyahut. "Ada apa Kak?"
"Adakah orang lain selain kita berdua?"
Sejenak Lily terdiam, hingga sesaat kemudian lalu berkata, "tidak ada," ucapnya.
Dan pukulan pada meja dariĀ tangan Leon yang mengepal membuat piring di atasnya ikut berdenting nyaring, dan Lily amat terkejut akan hal itu.
"Kenapa kau bohong Ly?" tanya Leon, dan mendapati adiknya itu diam saj dia berucap lagi. "Kenapa kau berbohong!!" bentaknya marah.
Lily mulai menangis, dia bingung harus bagaimana menjawabnya. "Aku tidak bermaksud untuk begitu kak, tapi...."
"Katakan, siapa seseorang yang bersamamu sesaat tadi, apakah itu William?"
Lily mengangguk, namun menyadari bahwa sang kakak tidak dapat melihat itu, dia pun kemudian berucap, "iya, itu memang William," ucapnya, dan membuat raut wajah sang kakak di hadapannya itu terlihat murka.
"Aku memang buta Ly, tapi aku tidak tuli, aku dapat mendengar kau berbicara dengan seorang pria, dan aku juga hanya buta, tidak sebodoh yang kalian kira, aku juga dapat merasakan kehadiran orang lain di antara kita, Lily.... Kau telah masuk perangkap William, kau yang terseret ke dalamnya." Melontarkan kalimat sepanjang itu Leon tampak kesulitan mengatur napasnya, ditambah emosi dalam dirinya yang memuncak, membuat pria itu nyaris meledak.
Lily yang masih menangis, menatap wajah sang kakak dengan seksama, dan bayangan saat mereka masih kecil dulu ketika pria itu menggendongnya muncul begitu saja, benarkah yang dikhawatirkan kakaknya, benarkah dia telah terjebak ke dalam permainan lelaki itu?
"Hentikan semuanya, tinggalkan William, jangan biarkan dirimu terjatuh terlalu dalam.
__ADS_1