Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
NAURA


__ADS_3

Leon hanya tersenyum saat Naura melambaikan tangan pada sepupunya, kemudian pria itu kembali melajukan kendaraan menuju rumah wanita yang duduk di sebelahnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Leon setelah jauh dari gedung apartemen tempat Lura turun di sana.


"Rumah lamaku," ucap Naura, menyuruh Leon untuk mengikuti arahan dari wanita itu, tapi ternyata Leon justru tau di mana alamatnya.


Keduanya berhenti di rumah yang sepertinya memang tidak ada penghuninya, namun jika di lihat dari halamannya yang terawat mungkin tempat ini sering dibersihkan beberapa hari sekali.


"Rumah ini memang tidak ada yang menempati, tapi ibuku tidak mau menjualnya karena terlalu banyak kenangan." Naura bercerita tanpa Leon sempat bertanya, keduanya masuk ke dalam rumah itu setelah Naura membuka kuncinya.


Leon memang sering mengantarkan wanita itu pulang ke sini dulu, tapi hanya sebatas itu, bahkan ayah dan ibu Naura juga tidak terlalu mengenalnya. "Lalu apa yang akan kau tunjukkan padaku?" tanya Leon sembari mengedarkan pandangannya pada penjuru ruangan yang barang-barangnya ditutupi kain putih, dan fokus pada Naura saat wanita itu menarik tangannya menuju sebuah kamar.


Leon tertegun mendapati banyak foto yang tertempel di kaca rias, juga dinding-dinding kamar itu, foto dirinya juga Naura saat remaja dan kuliah dulu.


"Aku mengingat kamar ini Leon," ucap Naura terlihat senang, rumahnya yang sekarang memang terbilang baru mereka tempati, jadi tidak banyak kenangan di rumah itu. "Mami menyuruhku ke rumah ini jika ingin mengingat sesuatu, sebelum itu dia tidak berani karena aku selalu tidak sadarkan diri jika berusaha keras membongkar ingatanku, dan setelah konsultasi beberapa kali dengan kenalan Daniel itu, aku tidak pernah pingsan lagi," ucapnya panjang lebar, kedua sorot mata wanita itu menyapu hiasan-hiasan di atas dinding, mencoba mengingat kapan persisnya dia menempelkannya.


"Aku ikut senang dengan kemajuan itu," ucap Leon, mendekati dinding dan mengusap foto tiga anak kecil berusia sepuluh tahunan, yang dia tau anak lelaki yang berdiri di tengah itu adalah dirinya.


Naura mendekat, "apa kau ingat kapan foto itu diambil?" tanyanya penasaran.


Leon menoleh, "sepertinya saat kau ulang tahun," balasnya, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada foto, "tapi selain kamu aku tidak ingat gadis itu siapa," imbuhnya dengan menunjuk satu anak kecil yang berdiri di antara mereka.


Naura tampak berpikir, kemudian mengingat wajah itu saat dirinya membuka-buka album di kamar Lura, "ah, aku tau, itu foto Lura," ucapnya, kemudian menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu dia pernah membongkar album foto sepupunya itu.


Leon tersenyum, tidak menyangka ternyata dulu dia juga pernah bertemu Lura, seingatnya pertemuan dengan wanita itu adalah saat Lily mengenalkannya sebagai teman kuliah, dan Leon tampak tidak peduli waktu itu.


"Simba?"


Panggilan itu membuat Leon kemudian menoleh, dan sedikit terkejut dengan keberadaan Naura yang begitu dekat dengan dirinya, sepertinya dia terlalu fokus pada foto Lura saat kecil yang begitu menggemaskan, pikirnya.


Leon menelan ludah saat tatapan wanita di hadapannya terlihat begitu dalam, dan mengerjap bingung saat dirinya nyaris tenggelam. "Ada apa?" tanya Leon.


Naura tampak sedikit ragu, namun kemudian berucap juga. "Terakhir saat kau menciumku, aku dapat sedikit mengingat tentangmu," tuturnya, jeda sejenak, tatapan matanya tampak menghindar, namun kemudian kembali fokus pada wajah pria tampan di hadapannya. "Bisakah kau melakukannya lagi?" tanyanya lirih.


Sejenak Leon tampak tertegun, pria itu mengatupkan bibirnya yang sedikit terbuka, tatapannya tampak gusar. "Untuk apa?" Dia balik bertanya.


"Aku ingin mengingatmu Simba, dan ternyata kita sedekat ini, apakah mungkin kita tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Naura dengan menunjuk foto yang tertempel pada dinding kamar lamanya.

__ADS_1


Leon mengerjap gugup, ikut mengalihkan tatapannya pada foto-foto kedekatan mereka,"kita berteman Naura, sejak kecil memang begitu," ucapnya setelah menoleh, tatapannya tampak berusaha meyakinkan wanita itu. "Aku takut kau kembali tidak sadarkan diri," imbuh pria itu.


Naura menggeleng, "aku sudah siap menerima ingatan yang masuk, tolong bantu aku," pintanya begitu memohon.


Leon kembali ragu, sesaat hening, keduanya memilih untuk tetap terdiam dengan tatapan saling menghujam. "Kau yakin tidak akan apa-apa?" tanyanya memastikan.


Naura mengangguk, tatapannya tampak menunggu, hingga kemudian Leon mendekatkan mulutnya pada bibir wanita itu. Naura merasa dirinya terhempas ke dasar jurang, kelopak matanya yang tertutup menyeret tubuhnya ke dalam kegelapan.


Leon merasakan cengkraman wanita itu pada kausnya yang begitu kuat, Naura tampak begitu gelisah, hingga dia merasa tidak tega untuk tetap melanjutkan kegiatannya. Namun tarikan di tengkuk lehernya memaksa pria itu untuk terus bertahan pada posisinya.


Naura yang limbung membuat punggung wanita itu menabrak dinding di belakangnya, Leon menopangkan telapak tangannya pada permukaan tembok yang sama, ciumannya terlepas, dan Sorotย  dari kedua bolamata Naura yang menggelap perlahan meredup dan tertutup, Leon menyadarkannya dengan mengguncang tubuh wanita itu.


"Katakan sesuatu Naura?" tanya Leon agar wanita di hadapannya itu tetap terjaga.


Napas Naura tampak tersenggal, dengan tangan yang menyentuh keningnya wanita itu meneteskan airmata. "Ada seseorang yang membuatku benar-benar kecewa, aku merasa, dia memaksaku untuk melakukan sesuatu yang aku tidak suka," ucapnya dengan bibir yang bergetar. Leon menariknya ke dalam dekapan pria itu.


"Apa itu adalah aku?" tanya Leon yang membuat Naura dengan kuat menggeleng.


"Bukan, aku percaya itu bukan kamu," ucap Naura yang menolak ingatannya tentang siapapun seseorang dalam bayangannya itu.


"Tapi bagaimana kalau itu adalah aku." Leon berucap Lirih.


"I, itu...." Leon tampak ragu, dia belum siap jika harus menceritakan tentang hal itu.


***


"Jadi kau ceritakan tidak tentang sesuatu yang membuat dia meninggalkanmu?" tanya Daniel saat Leon mengunjunginya malam ini, pria itu menyuguhkan secangkir kopi pada si tamu yang menceritakan keresahannya beberapa saat yang lalu.


Leon memutar bibir cangkir dengan ujung jari, tatapannya terlihat ragu, pria itu menggeleng, "aku takut hal itu akan membuat aku terjebak," ucapnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Daniel yang memang sudah tau tentang apa yang membuat Naura meninggalkan pria itu, "Kau takut dia benar-benar meninggalkanmu?" tanyanya menyelidik.


Leon menatap wajah penasaran Daniel dengan seksama, "aku takut sebaliknya," ucap pria itu.


Daniel jadi bingung, mengusap wajahnya gusar, kemudian berpikir, "Sebenarnya kau ini takut pada ketakutan yang mana?" tanyanya gemas. "Sekarang begini," ucap Daniel dengan mengarahkan posisi duduknya pada Leon. "Bagaimana perasaanmu terhadap Naura?"


Tatapan Leon seolah meragu, "aku menyukai sepupunya," tutur pria itu.

__ADS_1


Daniel mengerjap tidak percaya, "Lura?" tanyanya memastikan.


Leon mengangguk, "aku menyukainya, mungkin sejak dia yang selalu diam-dim membantuku saat aku buta," ucapnya.


Pria di hadapannya itu tampak menghela napas, "Kau tentu tau siapa Lura, dan Naura tentu jauh lebih baik dari wanita itu, kenapa harus dia?" Daniel membandingkan keduanya, dan tentu saja Leon merasa tidak terima.


"Itu hanya masa lalu, dan kulihat Lura mau berubah dengan meninggalkan pekerjaannya yang dulu," ucap Leon, kemudian meminum kopi yang disuguhkan temannya itu yang sudah berubah dingin.


"Terserah kau saja," ucap Daniel pasrah. "Temanku yang menangani kasus Naura itu berkata, ada sesuatu yang membuat alam bawah sadar wanita itu menolak ingatannya untuk kembali muncul, mungkinkah itu ada hubungannya denganmu?" tanyanya kemudian.


Temannya itu menggeleng, "aku tidak tau, tapi sepertinya bukan, kurasa permintaanku dulu tidak semenakutkan itu, hingga diaย  menolak untuk mengingatnya," ucapnya meyakinkan.


"Tapi bisa saja itu kau," desak Daniel. "Katakan saja lah tentang apa yang membuat Naura meninggalkanmu, kurasa untuk saat ini wanita itu akan menerimanya, sebelum ingatan ya kembali sepenuhnya." Daniel memberi saran.


Leon beranjak berdiri dari sofa yang ia duduki, mengambil jaketnya kemudian pamit undur diri. "Naura biar untukmu saja, kau lebih pantas mendapatkan wanita yang terhormat," sindirnya.


Daniel berdecak sebal, "bekasmu? tidak terimakasih," ucap pria itu.


Leon tertawa, "suatu saat aku akan melihatย  kau menjilat ludahmu sendiri," tukasnya, kemudian melangkah pergi.


"Tidak akan!" balas Daniel dengan suara lebih tinggi.


***


Author : Udeh segini dulu ya kevalaku masih pusiang ๐Ÿ˜Œ


Netizen: kira kira yg bikin Naura ninggalin Bang Le apa sih thor, jan jangan mantap mantap ya ๐Ÿค”


Author: Ataga otaknya ๐Ÿ˜Œ


Netizen: ya abis gimana otak gw kan otak lu juga ๐Ÿ˜‚


Author: Waiyya juga ๐Ÿคง tapi nggak gitu ya Kang kredit panci, ikutin aja ceritanya, etapi besok mau fokus sama mbak Lily dulu ngidam bapperware kanjeng mami. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Vote dulu ya.


Netizen : tapi gw yakin si banyak yg sepemikiran sama tebakan gue ๐Ÿ˜Œ


Author : Sereh ๐Ÿ˜Œ

__ADS_1


Netizen: Seraaah oey ๐Ÿคง


__ADS_2