Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
Leon Lura


__ADS_3

Minggu pagi, Lura menekan bel rumah Lily, dan yang muncul membukakan pintu adalah pria yang saat ini masih berstatus kekasihnya.


"Wah, aku kedatangan tamu," goda Leon yang tidak mendapatkan tanggapan dari wanita di hadapannya.


"Antarkan aku ke rumah Naura, aku takut sendirian," ucap Lura dengan raut wajah yang serius.


Leon tertegun, "untuk apa?" tanyanya.


"Aku khawatir pada Naura, dua hari kemarin dia tidak masuk kantor," ucap Lura.


Leon tampak santai menanggapinya, "mungkin sengaja mau libur, kau sudah menghubungi keluarganya?" tanya pria itu.


Lura mengangguk, ibunya bilang Naura hany sedikit tidak enak badan, tapi aku tidak percaya, dan saat ini aku ingin mengajakmu menemuinya, Kumohon Leon," pinta wanita itu.


Leon sejenak berpikir, melipat lengannya di depan dada, dan kemudian menarik wanita di hadapannya itu untuk masuk ke dalam rumah. "Kau sudah sarapan?" tanya pria itu saat menarik tangan Lura menuju dapur.


Lura menggeleng saat Leon menoleh ke arahnya, "aku belum sempat membuat sarapan, sulit tidur semalam, aku ingin sekali tau keadaan Naura, karena ponselnya tidak aktif sejak lama," ucapnya.


"Kalau begitu sarapan dulu," ucap Leon dengan memasukkan dua lembar roti ke mesin panggang, kemudian berbalik pada kekasihnya, dengan menyadarkan tubuh pada meja dapur, "pura-pura tegar butuh tenaga extra," imbuh pria itu yang mendapat cubitan di lengannya.


"Leon," omel Lura setengah tertawa, pria itu menangkap kedua tangannya. "Menurutmu apa Naura akan membenciku?" tanyanya.


Leon menarik wanita itu, untuk mendekat ke tubuhnya, "menurutmu?" ucapnya balik bertanya.


Lura berdecak sebal, mendorong pipi pria itu yang mendekat pada wajahnya. "Aku tidak suka jika Pertanyaanku justru dijawab dengan pertanyaan juga," omel wanita itu.


Leon tersenyum, "kurasa tidak, Naura orang yang bijaksana, meski terkadang saat emosi dia akan kehilangan kendali, tapi setelah itu dia pasti mengerti," ucapnya menjelaskan.


Dan entah kenapa raut wajah wanita di hadapannya itu tampak berbeda, namun terlihat lucu dan menggemaskan.


"Sepertinya kamu paham sekali dengan sifat Naura," ucapnya dengan melipat lengan di depan dada.


Leon malah tertawa, "cemburu Nona?" Sindirnya dengan mencolek dagu wanita itu, dan Lura yang menghindar, mati-matian menyangkalnya.


Keseruan keduanya teralihkan dengan makanan mereka yang telah matang, Lura berinisiatif menggantikan tugas kekasihnya menyiapkan sarapan.


"Lily kemana, kenapa tidak terlihat?" tanya Lura saat mereka duduk saling berhadapan di meja makan untuk sarapan.


Leon yang tengah mengunyah makanannya kemudian menjawab dengan santai, "ke apartemen suaminya mungkin, mereka kan butuh prifasi," ucapnya.


Lura mengangguk, "ooh, jadi kau sendirian di rumah sebesar ini? Apa tidak sepi," ucapnya dengan mengedarkan pandangannya pada penjuru dapur yang luasnya hampir duakali dari kamar apartemen wanita itu.


Ditanya seperti itu Leon justru malah tersenyum, "iyaa, kita hanya berdua di sini," ucapnya dengan mengangkat kedua alisnya menggoda.

__ADS_1


Lura nyaris melemparkan garpu di tangannya pada wajah mesum kekasihnya itu, dia kemudian mengomel.


"Aku hanya bercanda," ucap Leon dengan tertawa saat raut wajah kekasihnya itu terlihat kesal.


***


Selesai sarapan keduanya berangkat ke rumah Naura, Lura sudah menghubungi ibu wanita itu yang adalah tantenya dan menanyakan kabar tentang sang sepupu.


"Apa katanya?" tanya Leon yang sedang sibuk dengan kemudi, saat Lura mematikan sambungan telepon dengan tantenya.


"Dua hari ini Naura tidak mau keluar kamar, dia sudah tau  dari keluarganya, aku jadi tidak tega." Lura berucap lemah, tatapannya menerawang, meski sebelum amnesia mereka tidak pernah dekat, tapi tetap saja keduanya adalah saudara.


Leon tampak mengangguk, membelokkan mobilnya masuk ke perumahan elite kediaman Naura, mereka hampir sampai. "Coba saja kau hibur, bagaimanapun juga kalian cukup dekat akhir-akhir ini," ucapnya memberi saran.


Lura mengubah posisi duduknya menghadap Leon, "itu sebelum kau mengaku bahwa ada hubungan denganku, dan sekarang situasinya sudah berubah, aku benar-benar canggung," ungkapnya.


Leon mematikan mesin mobil saat keduanya sampai di depan rumah Naura, ketika sesaat tadi pak satpam membukakan pintu gerbangnya, "tidak apa-apa, Naura pasti mengerti posisi kamu," ucapnya dengan mengusap pipi wanita itu.


Keduanya turun dari mobil, Lura yang tampak ragu untuk menekan bel di sebelah pintu, membuat Leon kemudian merangkulnya.


"Bantu Naura untuk mengembalikan kepercayaan dirinya Ra, tante yakin kamu pasti bisa," bujuk ibu Naura saat mereka sudah saling menyapa dan sedikit bercerita.


Meski tidak yakin, Lura berusaha untuk mengangguk, wanita itu mengetuk kamar Naura dan mengatakan bahwa dirinya ingin berbicara.


Leon tentu merasa bersalah akan hal itu, sebab karenanya Naura jadi seperti ini," ini aku Naura, Simba, bukalah," ucap pria itu yang membuat kekasihnya menoleh, dan sebuah rangkulan ia dapatkan, hingga membuat wanita itu kemudian tersenyum.


Tidak begitu lama, suara pintu terbuka membuat mereka yang ada di sana sedikit terlonjak, Naura terdiam di tempatnya, wajahnya yang terlihat pucat menggambarkan kesedihan dari matanya.


Lura sedikit terkejut saat sepupunya itu menghambur di pelukannya, menangis tersedu-sesu hingga kemudian menular padanya. "Aku pembunuh Ra, aku pembunuh," rintih wanita itu.


Lura menggeleng, "tidak Na, kamu adalah korban, sudah seharusnya dirimu memberikan perlawanan, jika aku berada di posisimu aku juga akan melakukan hal yang sama," ucapnya mencoba menenangkan.


Naura melepaskan pelukannya, menatap telapak tangannya yang bergetar, "aku telah membunuh seseorang Ra," ucapnya ketakutan.


Lura kembali memeluk sepupunya, dan wanita itu terus menangis di dekapannya, "semua akan baik-baik saja, percayalah, kau tidak bersalah," ucap Lura, setelah wanita di pelukannya itu tampak mengangguk, dia menoleh pada Leon yang tersenyum pada dirinya, dia pun melakukan hal yang sama.


***


"Kau merasa lega?" Tanya Leon setelah menghentikan laju kendaraannya, kini mereka sudah sampai di parkiran apartemen Lura.


Wanita itu mengangguk, senyumnya mengembang, akhirnya sepupunya itu mau bangkit, dan juga sudah mau makan meski sedikit, dan yang lebih membahagiakannya lagi, Naura merestui hubungannya dengan Leon, dia benar-benar bahagia sekarang.


"Aku senang melihatmu tersenyum," puji Leon, tatapannya lekat pada Lura yang menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kau menggodaku?" ucap Lura mengangkat alis.


Namun Leon justru mengerutkan dahi, "tidak," sangkalnya dengan menggeleng, "justru kau yang menggodaku," ucapnya lirih, perlahan mendekatkan bibirnya untuk mencium kening wanita itu, dan tidak puas sampai di situ, Leon menyatukan bibir mereka setelah mencium kedua pipinya.


Lura mendorong tubuh pria itu, membuatnya sedikit menjauh, kemudian menetralkan deru napasnya yang memburu, tatapan pria itu terlihat menggebu, ada sedikit ragu, juga luka yang terpancar dari bola mata itu.


"Aku tidak suka kau menatapku seperti itu," ucap Lura yang sering kali merasa tidak nyaman dengan pandangan Leon terhadap dirinya.


Leon mengangkat kedua alisnya, merasa tidak mengerti dengan maksud wanita di sebelahnya "Kenapa?" tanya pria itu.


"Berhenti menatapku seperti itu Leon, jujurlah, apa yang selama ini kau pikirkan tentang aku?" tanyanya.


Sesaat Leon terdiam, menimang untuk mengatakannya atau tidak, "aku...," ucapnya ragu, "Maaf Lura, aku hanya benci membayangkan ada pria lain yang menyentuhmu, aku benci membayangkan itu, tapi bukan padamu, aku tidak membencimu, hanya saja–," ucapan Leon yang begitu hati-hati terputus saat menatap senyum di bibir wanita itu. "Kenapa?" tanyanya.


Lura menghela napas, meraih tangan Leon untuk ia genggam, "berhenti berpikiran bahwa aku adalah wanita panggilan, di tempat itu, aku hanya pemandu karaoke, yang memang terkadang merayu pria kaya agar banyak mendapatkan uangnya, tapi aku tidak menjajakkan diri, Leon, percayalah," ucapnya.


Pria di hadapannya itu mengerjap linglung,"tapi, kau," ucapannya kembali tercekat di tenggorokan, dia sedikit tidak percaya, karena banyak cerita mengatakan bahwa Lura adalah nona penghibur di sana.


"Aku memang sering ditawari, bahkan mungkin pernah menawarkan diri, dan penawaran pertama itu lima puluh juta, tapi aku menolaknya, ya meskipun mungkin ada saja yang mau membayarku lebih, tapi aku tidak suka," ucapnya menjelaskan.


Leon masih diam, "tapi kenapa Lily kau arahkan ke situ?" tanyanya tidak mengerti.


"Dulu aku hanya menawarkan, karena saat itu Lily begitu membutuhkan banyak uang untuk pengobatanmu, tidak kusangka dia justru malah dibeli oleh calon suaminya sendiri," ucap Lura, kembali mengenang masa lalunya.


"Berapa dulu dia dibayar?"


Lura sempat berpikir, "cukup untuk membuat luka bakar di tubuhmu benar-benar menghilang, kau dapat menerka sendiri berapa jumlahnya."


"Kenapa Lily taunya kau adalah nona penghibur di sana?"


"Karena aku yang mengatakan seperti itu, bagiku biarlah orang menilai aku apa saja, karena hanya diriku sendiri yang benar-benar dapat menghargainya."


Leon memejamkan mata, menarik jemari Lura kemudian mencium punggung tangannya, "aku mencintai kalian," ucapnya, karena saat dulu dia buta, hanya dua wanita itu yang selalu ada di dekatnya. "Jadi bagaimana kau merayu agar mendapatkan uang, coba lakukan padaku," godanya.


Lura mencebikkan bibir, "memangnya kau punya uang," ledeknya.


"Cukup untuk menahanmu seumur hidup," ucapnya dengan menarik lengan wanita itu untuk mendekat.


Lura meronta, "aku tidak mau," ucapnya setengah bercanda, keduanya kemudian tertawa.


.....


Kisang bang Leon cukup sampai di sini ya.. Sumbangkan vote terakhir kalian buat mereka 🤧🤧🤧 duh aku sedih, padahal aku sayang banget sama pasangan ini.

__ADS_1


__ADS_2